
“Kalau dia tidak mau sama kamu. Kamu ikut saja dengan saya,” kata Fikri enteng.
“Kemana?” tanya Nessa dengan kesal.
“Ke rumah saya. Untuk saya perkenalkan ke orang tua saya sebagai pacar saya,” jawab Fikri dengan tenang.
“Pacar? Sejak kapan saya jadi pacar Bapak?” tanya Nessa.
“Sejak sekarang,” jawab Fikri dengan tenang.
“Saya tidak mau jadi pacar pura-pura Bapak,” ujar Nessa.
“Kata siapa jadi pacar pura-pura? Kamu jadi pacar saya yang sungguhan,” jawab Fikri.
Nessa kaget mendengarnya. Fikri hendak menjadikannya sebagai kekasih.
“Bapak tidak sedang mabokkan?” tanya Nessa curiga.
“Saya nggak mabok, kalau nggak percaya coba cium,” Fikri membuka mulutnya dan didekatkan ke wajah Nessa.
Nessa langsung mundur menghindar dari Fikri.
“Nggak mau, ah. Bau,” kata Nessa sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
Fikri tersenyum melihat apa yang dilakukan Nessa.
“Ayo, kita pergi dari sini,” Fikri langsung memegang tangan Nessa.
“Eh, nanti dulu. Kata siapa saya mau jadi pacar Bapak?” Nessa berrusaha menepis tangan Fikri.
“Daripada kamu harus kencan buta terus menerus. Mendingan kamu jadi pacar saya,” jawab Fikri.
“Saya tidak cari pacar. Saya sedang cari suami. Saya tidak mau hidup melajang terus menerus,” ujar Nessa.
“Oke, kita menikah. Kamu tidak akan melajang lagi,” kata Fikri.
Nessa menghela nafas mendengar perkataan Fikri.
Ini orang kenapa, sih? Tiba-tiba mengajak pacaran. Tiba-tiba mengajak nikah. Kepalanya habis kejedot tembok kali, ya? kata Nessa di dalam hati.
“Pak, saya tidak mau punya suami seperti Bapak. Bapak sering gonta-ganti perempuan, saya tidak mau punya suami tukang selingkuh,” kata Nessa.
“Kata siapa saya tukang selingkuh?” tanya Fikri.
“Bapak sering bawa cewek-cewek ke kantor,” kata Nessa.
“Oh, itu. Itu kan karena saya tidak punya pacar, jadi saya bayar cewek-cewek untuk menemani saya. Kalau saya sudah punya pacar atau istri, yang saya bawa ke kantor pacar atau istri saya,” jawab Fikri.
__ADS_1
“Kok saya nggak percaya dengan omongan Bapak,” kata Nessa.
“Kamu nggak percaya karena kamu belum menjalani. Kalau kamu sudah menjalani, kamu pasti akan tau saya sepeti apa,” kata Fikri.
Nessa diam bepikir sejenak. Namun tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Nessa.”
Nessa menoleh ke arah suara. Zamzam sedang berdiri di dekat mereka.
.
.
Nessa duduk di depan Zamzam. Wajah Zamzam kecewa mendengar perkataan Nessa. Nessa memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan ini, karena Fikri akan selau menggangunya. Fikri duduk di meja sebelah sambil memperhatikan Nessa dan Zamzam.
“Jadi kamu mau membatalkan perjodohan ini?” tanya Zamzam.
“Terpaksa, Bang. Kalau tidak, mahluk astral yang satu ini akan terus mengganggu,” jawab Nessa sambil menunjuk ke Fikri.
“Kenapa kamu tidak resign saja? Mencari pekerjaan yang lain. Atau kalau kamu tidak mau bekerja juga tidak apa-apa. Penghasilan saya cukup untuk kita berumah tangga, bahkan lebih,” kata Zamzam.
Nessa diam tidak bisa berkata apa-apa. Percuma saja dia resign, Fikri akan melakukan seribu satu macam cara untuk mengganggunya. Cara satu-satunya mengikuti kemauan Fikri, Kalau ketahuan Fikri selingkuh, barulah kesempatan untuk Nessa menjauhi Fikri.
Fikri mendengar perkataan Zamzam jadi emosi.
“Saya sudah tertarik sama kamu sejak pertama kali Papah memperlihatkan foto kamu. Tadinya saya berfikir kamulah yang akan menjadi istri saya. Tapi ternyata saya salah, kamu lebih memilih dia,” kata Zamzam sambil melirik ke arah Fikri.
“Maafkan Nessa, Bang. Tadinya Nessa berpikir sama seperti Abang. Tapi mahluk astral satu itu selalu mengganggu Nessa. Sepertinya dia tidak suka jika Nessa bahagia,” jawab Nessa.
“Kalau kamu sudah resign dan berpisah dengan bos kamu, kamu telepon saya. Saya masih berharap bisa menikah dengan kamu,” kata Zamzam.
Jangan harap bisa mendapatkan Nessa. Nggak bakal gue lepasin, kata Fikri di dalam hati.
“Baiklah, Bang. Doakan semoga Nessa bisa terlepas dari mahluk astral satu ini,” jawab Nessa.
Zamzam berdiri lalu mengulurkan tangannya mengajak Nessa bersalaman. Nessa menyambut tangan Zamzam.
“Sampaikan salam dan permohonan maaf Nessa kepada Om Tendi dan Tante Jujuh,” ucap Nessa.
“Nanti Abang sampaikan,” jawab Zamzam.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam,” jawab Zamzam.
Nessa pergi meninggalkan Zamzam, Zamzam memperhatikan kepergian Nessa. Fikri mengikuti Nessa dan hendak merangkul punggung Nessa. Namun Nessa mengelak, ia tidak ingin Fikri menyentuhnya. Terpaksa Fikri hanya mengikuti Nessa dari belakang.
__ADS_1
.
.
Nessa berdiri si samping mobil Fikri sambil melipat tangannya di depan dada. Wajahnya nampak kesal sekali. Fikri mendekati mobilnya dan membukakan pintu untuk Nessa.
“Darimana Bapak tau saya ada di sini?” tanya Nessa dengan judes.
“Saya mengikuti kamu,” jawab Fikri.
“Bapak stalker saya?” tanya Nessa.
“Bukan stalker kamu. Tapi saya ke kos kamu mau menjemput kamu. Tapi saya lihat kamu masuk ke dalan taksi online,” jawab Fikri.
“Kamu benar-benar niat sekali kencan sama dia. Kamu berdandan cantik sekali dan wangi. Udah begitu kamu pergi naik taksi online lagi. Biasanya kalau kamu menemani saya dandannya biasa-biasa saja dan perginya naik ojek. Sampai tercium bau knalpot dari badan kamu,” kata Fikri.
“Saya berdandan biasa-bisa saja dan bau knalpot, sudah ada klien yang mengajak kencan. Apalagi saya berdandan cantik dan wangi, bisa-bisa langsung diajak bobo bareng sama klien,” jawab Nessa.
Nessa langsung masuk ke dalam mobil Fikri dan menutup pintu dengan kencang. Fikri langsung menghela nafas.
Sabar Fikri, sabar. Perempuan memang begitu kalau lagi marah, kata Fikri di daril hati.
Fikri masuk ke dalam mobil. Ia menoleh ke samping. Nessa duduk sambil melipat tangan di depan dada dan kaki menyilang. Wajahnya masih terlihat kesal.
Fikri menghela nafas lalu menyalakan mesin mobilnya. Ia pun jalankam mobilnya meninggalkan pelataran parkir café.
Fikri menghentikan mobil di depan rumah mewah. Seorang penjaga rumah membukakan pintu pagar. Fikri memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Ketika melewati penjaga rumah Fikri membuka kaca jendela.
“Pak Olen. Papah dan Mamah ada, nggak?” tanya Fikri.
“Ada, Den” jawab Pak Olen.
Fikri langsung memajukan mobilnya sampai ke depan garasi lalu mematikan mesin mobilnya. Fikri menoleh ke samping Nessa masih saja diam dengan wajah kesal.
“Sudah dong, sayang. Jangan ngambek aja,” kata Fikri yang berusaha membujuk Nessa.
Nessa masih tetap diam.
“Saya cium, ya,” kata Fikri sambil mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Nessa.
Nessa langsung menjauhkan wajahnya dari Fikri.
“Nggak usah cium-cium. Saya nggak mau dici-um sama Bapak. Bi-bir Bapak bekas perempuan lain,” kata Nessa yang masih kesal.
“Sekarang bi-bir saya jadi milik kamu seorang,” kata Fikri yang mencoba merayu.
“Udah dong marahnya. Masa kamu pasang tampang seperti itu di depan orang tua saya?” bujuk Fikri.
__ADS_1