
Setelah makan malam Nessa menelepon Papahnya dan meminta Papahnya untuk menjemputnya ke Singapura. Tentu saja Papah Dodi menyanggupi untuk menjemput putrinya.
Namun Mamah Ika ribut ingin ikut juga ke Singapura.
“Nessa, kenapa cuma Papah saja yang pergi? Mamah kok tidak diajak?” tanya Mamah dengan cerewet.
“Sebentar Nessa tanya ke Pak Fikri. Soalnya Pak Fikri yang membelikan tiketnya,” kata Nessa.
Nessa menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Pak Fikri,” Nessa memanggil Fikri yang sedang fokus dengan laptopnya.
Fikri menoleh ke Nessa.
“Kenapa?” tanya Fikri.
“Boleh tidak Mamah saya ikut?” tanya Nessa.
“Boleh. Tambah banyak yang menjemput kamu, saya merasa lega. Karena banyak orang yang menjaga kamu,” jawab Fikri.
Nessa melanjutkan pembicaraannya dengan Mamah.
“Kata Pak Fikri, Mamah boleh ikut,” kata Nessa kepada Mamahnya.
“Alhamdullilah. Bilang terima kasih ke Fikri,” ucap Mamah.
“Iya, nanti Nessa sampaikan,” jawab Nessa.
“Sudah, ya. Mamah mau menyiapkan baju yang akan Mamah bawa,” kata Mamah.
“Jangan bawa baju banyak-banyak. Kan cuma menginap semalam,” kata Nessa.
“Iya, Mamah tidak bawa baju banyak-banyak,” jawab Mamah.
“Assalamualaikum,” ucap Mamah mengakhiri pembicaraannya.
“Waalalaikumsalam,” jawab Nessa.
Nessa menghela nafas panjang lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
“Kenapa?” tanya Fikri ketika mendengar hela nafas Nessa.
“Tidak apa-apa,” jawab Nessa.
Nessa menoleh ke layar laptop Fikri.
“Bapak sedang apa?” tanya Nessa.
“Balas email ke klien perusahaan yang di Bandung,” jawab Fikri.
“Nessa bantu mengetik, ya,” kata Nessa.
“Tidak usah. Sebentar lagi selesai,” jawab Fikri.
Fikri meneruskan mengetik email.
***
Nessa sedang menunggu di depan terminal kedatangan di bandara Changi. Ia sedang menjemput orang tuanya. Di belakang Nessa berdiri seorang bodyguard yang bertugas untuk menjaganya. Tak lama kemudian orang tuanya keluar dari bandara kedatangan. Nessa melambaikan tangannya kepada orang tuanya. Papah Dodi dan Mamah Ika menghampiri Nessa. Nessa langsung mencium tangan Mamah Ika dan memeluk Mamah Ika.
“Anak Mamah sayang. Sudah lama Mamah tidak ketemu kamu. Sekarang sudah jadi orang Singapura,” kata Mamah Ika.
Mamah Ika melepaskan pelukannya.
“Apa kabarnya?” tanya Mamah Ika sambil memandangi putri sulungnya.
“Alhamdullilah, Nessa baik-baik saja,” jawab Nessa.
__ADS_1
Kemudian Nessa beralih ke Papahnya. Nessa mencium tangan Papah Dodi.
“Kamu sudah jadi orang Singapura, ya?” tanya Papah Dodi.
“Tidaklah, Pah. Nessa tetap jadi orang Indonesia,” jawab Nessa.
Lalu mereka menuju ke depan bandara menunggu Pak Sam datang menjemput mereka. Pak Dod imelirik ke belakang ia merasa seperti ada orang yang mengikuti mereka.
“Nessa, sepertinya ada yang mengikuti kita,” bisik Papah.
Nessa menoleh ke belakang, ia melihat bodyguard yang sedang mengikuti mereka dari belakang.
“Itu bodyguard, Pah,” kata Nessa.
“Bodyguard? Hebat anak Papah dikawal oleh bodyguard,” ujar Papah.
“Terpaksa, Pah. Karena keadaannya sedang tidak kondusif,” jawab Nessa.
“Makanya Nessa disuruh pulang ke Indonesia, karena Pak Fikri takut Nessa menjadi korban,” kata Nessa.
“Apa sampai segitu bahayanya keadaan di sini?” tanya Papah.
“Biasalah, Pah. Karena berebutan warisan, orang jadi gelap mata. Mereka menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan harta warisan,” jawab Nessa.
Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan Pak Sam pun datang. Sebuah Mercedes Benz V Class berhenti di depan Nessa dan orang tuanya. Bodyguard membukakan pintu mobil. Nessa dan orang tuanya masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobil barulah bodyguard masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah Pak Sam. Mobilpun meluncur meninggalkan bandara.
Mereka menikmati perjalanan menuju ke rumah Fikri sambil berbincang-bincang.
“Singapura sudah banyak berubah. Mamah sudah lama tidak ke Singapura. Terakhir Mamah ke sini sewaktu kalian masih kecil,” kata Mamah mengenang masa lalu.
“Ketika kalian sudah besar, Mamah paling cuma bisa berangkat haji. Kalau ada rejeki paling pergi umroh,” kata Mamah.
“Terakhir Mamah umroh setahun yang lalu,” kata Mamah.
“Tahun ini Mamah tidak umroh, tapi jalan-jalan ke Singapura,” kata Mamah dengan wajah senang.
“Iya, Mamah juga tau,” jawab Mamah.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Fikri. Mamah memandang rumah Fikri dari dalam mobil dengan takjub.
“Besar sekali rumahnya Fikri,” puji Mamah.
Bodyguard membukakan pintu mobil. Mereka keluar dari mobil.
“Ya ampun, Nes. Ini rumah apa istana? Besar sekali,” kata Mamah.
Nessa tersenyum melihat Mamahnya yang terkagum-kagim melihat rumah Fikri.
“Ayo kita masuk,” kata Nessa.
Nessa memecet bel yang menepel di pintu rumah. Walaupun di luar dijaga ketat oleh penjaga, tetap saja pintu rumah dikunci dari dalam. Tak lama kemudian bibi membukakan pintu.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Bibi.
“Bi, ini orang tua saya,” Nessa memperkenalkan orang tuanya kepada Bibi.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya,” ucap Bibi.
“Terima kasih, Bi,” ucap Mamah.
“Ayo masuk. Nessa tunjukkan kamar Mamah dan Papah,” kata Nessa.
Nessa membawa orang tuanya ke lantai atas.
“Nes, ini rumah atau hotel? Besar sekali,” kata Mamah.
__ADS_1
Nessa membuka pintu kamar orang tuanya.
“Ya ampun, Nes. Kamarnya besar sekali,” puji Mamah ketika melihat kamar mereka.
“Biar Mamah dan Papah betah menginap di sini,” kata Nessa.
“Nes, apa benar Fikri jadi konglomerat di Singapura?” tanya Mamah.
“Mamah tau dari mana?” Nessa balik bertanya.
“Kata Papah,” jawab Mamah.
“Iya, Mah. Pak Fikri jadi orang terkaya ke sepuluh di Singapura,” jawab Nessa.
“Wah, hebat. Sudah jadi anak orang kaya, punya orang tua angkat yang kaya raya pula. Fikri betul-betul beruntung,” puji Mamah.
“Sebentar, Mah. Nessa mau ke kamar dulu mumpung Nessa belum lupa,” kata Nessa.
Nessa meninggalkan kamar orang tuaya menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa paper bag.
“Apa tu, Nes?” tanya Mamah menunjuk ke paper bag.
“Ini oleh-oleh untuk Mamah dan Papah dari Pak Fikri,” Nessa memberikan paper bag kepada Mamah.
Mamah membuka paper bag yang diberikan oleh Nessa.
“Alhamdullilah. Kita punya parfum baru, Pah,” ucap Mamah.
“Ini untuk Papah,” Mamah menberikan kotak parfum untuk pria kepada Papah.
Papah memperhatikan kotak parfume itu.
“Ini asli, Nes?” tanya Papah.
“Iya, asli. Nessa beli di konternya yang ada di The Shoppes At Marine Bay Sands,” jawab Nessa.
“Apa itu The Shoppes At Marine Bay Sands?” tanya Mamah.
“Itu nama Mall yang ada di Singapura,” jawab Nessa.
“Berarti mahal sekali,” kata Papah.
“Sudah pasti, Pah,” jawab Nessa.
Nessa tidak menyebutkan nominal harganya. Orang tuanya pasti kaget kalau tau harganya.
Tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk. Nessa membuka pintu kamar. Bibi berdiri di depan pintu kamar.
“Non, makan siang sudah siap,” kata Bibi.
“Iya. Terima kasih ya, Bi,” ucap Nessa.
Bibi pun pergi meninggalkan kamar.
“Makan siang sudah siap. Ayo kita makan dulu,” kata Nessa.
“Kamu di sini jadi Nyonya ya, Nes?” tanya Mamah.
“Ah, tidak. Nessa sama saja seperti mereka, karyawannya Pak Fikri,” jawab Nessa.
“Tapi mereka memperlakukanmu dengan sopan. Seolah-olah kamu nyonya di rumah ini,” kata Mamah.
“Mungkin karena Nessa memperlakukan mereka dengan baik, jadi mereka segan kepada Nessa,” jawab Nessa.
Nessa tidak memberitahu kepada orang tuanya, kalau semua pegawai di rumah ini sopan kepadanya karena Nessa adalah calon istri Fikri.
Nessa belum memberitahu kepada orang tuanya kalau ia adalah calon istri Fikri. Nessa baru akan memberitahu orang tuanya jika Fikri datang melamar ke rumah orang tuanya. Untuk sementara ini biarlah menjadi rahasianya. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada orang tuanya.
__ADS_1