Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
8. Dijodohkan.


__ADS_3

Nessa sedang tidur-tiduran di dalam kamar kosnya. Pekerjaannya sebagai sekretaris membuatnya letih, karena harus menemai bosnya kemanapun bosnya pergi. Tiba-tiba ponsel Nessa berdering. Di layar ponselnya tertera nama Mamah. Nessa manjawab panggilan telepon dari mamahnya.


“Assalamualaikum, Mah,” ucap Nessa.


“Waalaikumsalam,” jawab Mamah.


“Bagaimana kabarmu di sana?” tanya Mamah.


“Baik, Mah,” jawab Nessa.


“Syukurlah kalau kamu dalam keadaan baik,” kata Mamah.


“Begini Nes, ua Iin kamu mau menjodohkan kamu dengan keponakan ua Yusup,” kata Mamah.


Mendengar perkataan Mamahnya, Nessa langsung menghela nafas. Kenapa sih orang tua senang sekali menjodohkannya dengan laki-laki yang belum ia kenal sama sekali. Apa mereka menganggapnya tidak mampu mencari jodoh sendiri? Lagi pula usianya baru tiga puluh dua tahun, belum tua-tua banget.


“Itu loh, Nes yang rumahnya di sebelah rumah ua Iin. Waktu ua Iin masih tinggal di Bandung. Dulu waktu kamu masih kecil sering main sama Boyke. Kalau kamu lagi berlibur ke rumah Ua Iin,” kata Mamah.


Nessa melayangkan ingatannya kembali ke masa lalu.


“Oh, itu? Iya Nessa ingat,” jawab Nessa.


“Sekarang dia sudah menjadi dokter loh, Nes. Boyke sekarang ganteng. Nanti Mamah kirimkan fotonya ke kamu,” kata Mamah.


“Iya, Mah,” jawab Nessa.


“Tadinya Ua Iin dan Ua Yusup mau ke Bandung untuk mempertemukan kamu dengan Boyke. Tapi sayang Ua Yusup sedang sakit, jadi tidak jadi ke Bandung. Jadi ua Iin memutuskan membuat janji agar kalian bertemu di suatu tempat. Ya, seperti kencan buta lah,” kata Mamah.


Nessa berpikir sebentar. Ia sebenarnya malas untuk kencan buta, karena seperti perempuan yang tidak laku. Tapi kalau ia menolak keinginan Mamah dan Ua Iin, mereka pasti tidak berhenti menyuruhnya untuk bertemu dengan Boyke. Sudahlah ikuti saja daripada ia dicerewetin terus. Perkara tertarik tidaknya itu urusan belakangan. Jodoh sudah ada yang mengatur, manusia hanya berusaha dan berdoa.


“Baiklah. Kapan pertemuannya?” tanya Nessa.


“Alhamdulliah. Pertemuannya hari sabtu. Nanti Mamah kirim alamatnya,” kata Mamah.


“Oh iya, Nes. Mamah sampai lupa kasih tau ke kamu. Beberapa hari yang lalu ada aeorang laki-laki datang ke rumah, dia menanyakanmu. Dia bilang dia teman kamu di SMA. Dia kehilangan jejakmu karena ponselnya hilang, makanya ia datang ke rumah,” kata Mamah.


“Siapa namanya?” tanya Nessa.


“Namanya Ruby,” jawab Mamah.


“Ruby? Perasaan Nessa tidak punya teman namanya Ruby,” kata Nessa.


“Dia minta alamat kantor kamu dan alamat kos kamu. Mamah kasih saja alamat kantor dan alamat tempat kos kamu,” kata Mamah.


“Kenapa dikasih? Bagaimana kalau dia berniat jahat ke Nessa?” tanya Nessa.


“Tampangnya seperti orang baik-baik,” jawab Mamah.


Jangan-jangan orang itu Anggoro, kata Nessa di dalam hati.

__ADS_1


“Lain kali jangan kasih alamat kantor dan alamat tempat kos Nesa kepada sembarang orang,” kata Nessa.


“Iya, Mamah minta maaf,” ucap Mamah.


“Sudah ya. Mamah sudah ngantuk. Assalamualaikum,” Mamah mematikan ponselnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


***


Nessa sedang mengetik dokumen, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk.


Mamah :


[Nes, pertemuannya tidak jadi sabtu minggu ini. Boyke sedang ada seminar. Diundur jadi hari sabtu minggu depan.]


Alhamdullilah. Mudah-mudahan diundur terus, kalau perlu tidak jadi, kata Nessa di dalam hati.


Sore harinya ketika Nessa pulang kerja, Nessa melihat sesorang yang selama ini ingin ia hindari. Anggoro sedang berdiri di depan lobby kantor.


Mau ngapai tuh orang datang ke sini? tanya Nessa didalam hati.


Nessa berjalan ke luar dari gedung kantornya. Ia berpura-pura tidak melihat Anggoro. Namun ketika ia melewati Anggoro, Anggoro melihat Nessa.


“Nessa,” panggil Anggoro.


“Mau ngapain kamu di sini?” tanya Nessa dengan ketus.


“Nessa, aku ingin bicara sama kamu,” kata Anggoro.


“Tidak ada yang harus kita bicarakan,” kata Nessa.


“Nes, plis Nes. Kasih aku kesempatan sekali lagi,” ujar Anggoro.


Mereka menjadi tontonan karyawan yang hendak pulang kerja, apalagi mereka berdiri di tengah jalan.


“Plis, Nes kasih aku kesampatan,” Anggoro memohon.


“Maaf saja tidak ada lagi kesempatan untuk kamu. Lagipula yang menjadi sekretaris bukan cuma gue doing. Di luar sana masih banyak orang yang bekerja menjadi sekretaris yang bisa lu pacarin, terus lu porotin deh hartanya,” kata Nessa. Nessa langsung pergi meninggalkan Anggoro sendiri.


Kebetulan ojek online yang ia pesan sudah menunggu di depan kantor, sehingga ia bisa meninggalkan kantor secepatnya.


Nessa sedang melipat mukenahnya, ia baru selesai sholat magrib. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nessa mengambil ponselnya di atas meja. Di layar ponsel tertulis nama Bos Re-se.


“Mau ngapain dia nelepon jam segini?” tanya Nessa.


Nessa menjawab panggilan Fikri.


“Hallo,” ucap Nessa ketika menjawab telepon Fikri.

__ADS_1


“Kamu dimana, sekarang?” tanya Fikri.


“Di kamar kos, Pak,” jawab Nessa.


“Sekarang kamu siap-siap! Setengah jam lagi saya jemput kamu,” kata Fikri.


“Ada acara apa, Pak?” tanya Nessa.


Setau Nessa, Fikri tidak ada acara makan malam.


“Temani saya makan malam dengan tamu dari Singapura,” jawab Fikri.


“Tapi saya tidak mau menjadi alat untuk mencari klien,” kata Nessa.


“Tidak, Nessa. Mr Lee adalah klien lama saya. Kebetulan ia sedang berada di Indosesia, ia mengajak saya untuk makan malam bersama,” jawab Fikri.


“Yang bener?” tanya Nessa.


“Bener. Kamu curigaan amat sih sama saya,” jawab Fikri.


“Ya sudah, saya siap-siap sekarang. Saya harus pakai baju apa?” tanya Nessa.


“Yang seperti kemarin. Santai setengah resmi. Mr Lee orangnya santai tidak suka formal,” jawab Fikri.


“Baiklah, Pak,” jawab Nessa. Fikri mengakhiri teleponnya.


Nessa melanjutkan melipat mukenahnya lalu mengganti bajunya. Setengah jam kemudian Nessa sudah selesai berdandan. Nessa menggunakan celana panjang baggy dan kemeja lengan pendek yang femini. Sengaja ia menggunakan celana panjang agar kejadian kemarin malam tidak terjadi lagi. Ia juga tidak di kuncir kuda. Rambutnya di biarkan menggerai begitiu saja. Ia tudak ingin menarik perhatian kaum pria dengan memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Di layar ponselnya tertulis Bos Re-se. Nessa menjawab panggilan tersebut.


“Saya sudah di depan kosan kamu,” kata Fikri.


“Baik, Pak. Sebentar lagi saya keluar,” jawab Nessa.


Nessa langsung keluar dari kamar kosnya. Ketika keluar dari tempat kosnya Nessa melihat mobil Fikri yang terparkir di depan tempat kosnya. Ketika Nessa hendak menghampiri mobil Fikri, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya, “Nessa.”


Nessa menoleh, seorang laki-laki keluar dari mobilnya dan menghampiri Nessa.


Mau apa lagi tuh orang? tanya Nessa di dalam hati.


“Nes, kamu mau kemana?” tanya Anggoro.


“Gue mau pergi sama bos gue,” jawab Nessa.


“Pergi dengan bos? Malam-malam begini? Mau ngapain?” tanya Anggoro curiga.


“Bukan urusan lu!” jawab Nessa.


“Sorry gue udah telat. Bos gue sudah menunggu,” Nessa langsung meninggalkan Anggoro dan masuk ke dalam mobil Fikri.

__ADS_1


__ADS_2