
Nessa sedang mengetik dokumen, tiba-tiba Fikri datang sambil merangkul pinggang seorang wanita. Wanita itu bukan Vania dan bukan juga wanita yang pernah dibawa oleh Fikri. Fikri membawa wanita berbeda ke kantornya.
Yah, dia bawa mainan. Banyak sekali ceweknya, kata Nessa di dalam hati.
Nessa cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya.
“Selamat pagi, Pak,” ucap Nessa.
“Pagi, Nessa,” jawab Fikri.
Fikri membuka pintu ruangannya.
“Nessa, saya tidak ingin diganggu, ya!” kata Fikri sebelum masuk ke dalam ruangannya.
“Tapi sebentar lagi Bapak ada rapat,” sahut Nessa.
“Batalkan saja. Pokoknya saya tidak mau diganggu!” kata Fikri lalu maasuk ke ruangannya.
“Baik, Pak. Saya akan memberitahukan hal ini kepada Mbak Septi,” jawab Nessa.
Mendengar perkataan Nessa, Fikri keluar lagi dari ruangannnya.
“Apa tadi kamu bilang?” tanya Fikri.
“Saya akan memberitahu Mbak Septi,” jawab Nessa dengan tenang.
“Kamu mengancam saya?” tanya Fikri dengan kesal.
“Saya tidak mengancam Bapak. Tapi kemarin sore Mbak Septi menghubungi saya, kalau hari ini Bapak ada rapat dengan direktur utama,” jawab Nessa dengan tenang.
Septi adalah sekretaris Pak Taufik, ayah Fikri.
“Tadi pagi Papah tidak bilang apa-apa sama saya,” kata Fikri.
“Waduh, saya kurang tau, Pak. Yang saya tau siang ini Bapak ada rapat dengan direktur utama di restaurant Garden hotel Lotus,” jawab Nesa.
“Ya sudah, nanti kamu ingatkan saya kalau saya harus berangkat rapat. Sekarang saya tidak ingin diganggu,” kata Fikri.
“Tapi banyak dokumen yang harus Bapak tanda tangan. Kata staf devisi humas ditunggu tanda tangannya. Ada juga dokumen dari devisi keuangan yang harus Bapak tanda tangan. Kata manager keuangan penting sekali, karena menyangkut gaji karyawan bulan depan,” sahut Nessa.
“Kapan saya bersenang-senangnya? Kamu senang sekali mengganggu saya,” kata Fikri dengan kesal.
Emangnya gue pikirin? Bo-do amat lu keganggu, yang penting pekerjaan gue lancar, kata Nessa di dalam hati.
“Nanti saya tanda tangan. Sekarang saya mau bersenang-senang dulu,” kata Fikri.
Susah dah, kalau sudah berurusan dengan naf-su. Nggak yang kaya nggak yang miskin, kalau naf-su sudah memuncak harus dituntaskan sekarang juga. Kita mah ngalah saja, kata Nessa di dalam hati.
__ADS_1
Fikri masuk ke ruangannya lalu mengunci pintunya. Nessa melanjutkan pekerjaannya. Sejam kemudian pintu ruangan Fikri terbuka. Fikri dan wanita itu berdiri di pas pintu, mereka saling berci-uman sebentar. Nessa hanya melirik sebentar dan kembali fokus ke pekerjaannya.
“Nanti kalau aku butuh kamu, aku kabari lagi,” kata Fikri kepada wanita itu.
“Oke, aku tunggu. Dah, sampai ketemu lagi,” kata wanita itu.
Kemudian wanita itu pergi meninggalkan ruangan Fikri. Fikri menoleh ke arah Nessa yang sedang fokus ke layar PC, lalu masuk ke ruangannya.
Setengah jam kemudian staff dari devisi keuangan dan staff dari devisi humas datang menghampiri Nessa.
“Teh, Pak Fikri masih ada tamu?” tanya Hera dari devisi keuangan.
“Sudah pulang tamunya,” jawab Nessa.
“Alhamdullilah,” jawab Hera.
Tiba-tiba intercom Nessa berbunyi.
“Ya, Pak,” jawab Nessa.
“Panggil manager keuangan ke sini!” kata Fikri.
“Baik, Pak,” jawab Nessa.
“Manager kamu dipanggil Pak Fikri,” kata Nessa kepada Hera.
“Oke, Teh,” Hera langsung menuju ke liff untuk kembali ke ruangannya.
“Sepertinya belum, deh,” jawab Nessa.
“Ya, sudah nanti aku balik lagi,” kata Elsi.
Tiba-tiba pintu ruangan Fikri terbuka.
“Nes, kasihkan ini ke devisi humas. Kalau manager keuangan datang langsung masuk saja ke ruangan saya,” kata Fikri.
“Baik, Pak,” jawab Nessa.
Mendengar perkataan Fikri, Elsi balik lagi.
“Nih, dokumennya,” Nessa memberikan dokumen kepada Elsi.
“Terima kasih, Teh,” ucap Elsi.
Elsi pun meninggalkan tempat Nessa.
Pukul setengah dua belas siang Fikri keluar dari ruangannya.
__ADS_1
“Kamu ikut saya!” kata Fikri.
“Oh, saya kira saya tidak usah ikut rapat,” jawab Nessa.
“Kamu mau saya dimarahi sama Papah saya?’ tanya Fikri dengan kesal.
“Barang kali saja, saya tidak usah ikut. Biasanya juga saya tidak boleh ikut Bapak kemana-mana,” jawab Nessa.
“Kamu cerewet sekali. Sering membantah kata-kata saya,” kata Fikri dengan kesal.
“Baiklah, Pak,” jawab Nessa.
Nessa memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tidak lupa ia memasukkan notebook ke dalam tas.
“Cepetan! Nanti kita kesiangan,” seru Fikri melihat Nessa yang memasukkan barang-barangnya dengan santai. Fikri langsung berjalan menuju liff. Nessa cepat-cepat menyelempangkan tasnya dan menyusul Fikri.
Fikri memasuki restaurant Garden. Sebuah restaurant Chinese yang berada di hotel Lotus. Nessa mengikuti Fikri dari belakang. Fikri menghampiri seorang pria yang sudah lanjut usia dan seorang wanita lanjut usia. Fikri mencium punggung tangan pria dan wanita itu. Di dekat mereka ada beberapa orang pria yang usia lebih tua dri Fikri dan beberapa orang wanita yang usianya juga lebih tua dari Fikri. Jika diperhatikan wajah mereka mirip dengan Fikri. Sepertinya mereka adalah orang tua dan kakak-kakak Fikri.
“Nessa,” tiba-tiba seorang wanita menyapa Nessa.
Nessa menoleh ke belakang. Seorang wanita berdiri di belakangnya dengan gaya yang elegant mirip seorang wanita karier.
“Kenalkan saya Septi,” wanita itu mengulurkan tangannya. Nessa membalas dengan menyalaminya.
“Ayo kita duduk di sebelah sini,” Septi mengajak ke sebuah meja yang tak jauh dari meja Pak Fikri. Di meja itu sudah ada beberapa orang laki-laki dan perempuan. Septi memperkenalkan mereka satu persatu. Ternyata mereka adalah para asisten dan sekretaris kakak-kakak Fikri. Nessa bergabung bersama mereka.
Ternyata ini bukanlah acara rapat dengan direktur utama, tapi acara makan siang keluarga. Hari ini adalah hari ulang tahun Ibu Dira, Ibunya Fikri. Ibu Dira ingin makan siang bersama dengan suami dan anak-anaknya. Agar anak-anaknya mau hadir di acara makan siang, Pak Taufik sengaja menyuruh Septi untuk mengatakan kepada anak-anaknya kalau mereka ada rapat dengan direktur utama.
Seorang pelayan datang membawakan makanan untuk mereka dan menghidangkannya di atas meja. Nessa memandangi hidangan itu, ia ragu untuk menyantapnya.
“Jangan takut, ini halal. Restaurant ini menyajikan masakan Chinese yang halal,” kata Septi seperti mengerti keraguan Nessa.
“Iya, Mbak,” jawab Nessa.
“Ayo silahkan dinikmati makanannya,” kata Septi mempersilahkan.
Nessa bersama sekretaris dan asisten yang lainnya menikmati makanan yang dihidangkan.
Acara makan keluarga ini menghabiskan waktu yang cukup lama. Mereka baru kembali ke kantornya masing-masing setelah pukul setengah tiga.
“Setelah ini jadwal saya apa lagi?” tanya Fikri ketika berada di dalam mobil.
“Bapak ada acara makan malam dengan perusahaan Bintang Jaya mengenai pembangunan hotel bintang lima,” jawab Nessa.
Fikri menghela nafas.
“Kamu ikut, ya. Kalau kamu bisa berhasil mendapatkan proyek ini, kamu saya kasih bonus,” kata Fikri.
__ADS_1
“Baik, Pak,” jawab Nessa.
Lebih baik ia ikut makan malam dengan bosnya, daripada harus sendirian di kamar kos. Lumayankan dapat makan malam gratis.