Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
25. Dijemput


__ADS_3

Nessa melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Ia harus sudah siap-siap berangkat ke kantor. Ketika ia hendak memasukkan dompet ke tas, tiba-tiba ponselnya berdering. Nessa mengambil ponsel yang berada di atas meja. Tertulis nama Fikri di layar ponselnya.


Mau apa tuh orang? Pagi-pagi sudah nelepon, kata Nessa di dalam hati.


Kemudian ia menjawab telepon dari Fikri.


“Hallo. Selamat pagi, Pak,” ucap Nessa.


“Kok sama calon suami jawabnya seperti itu? Assalamualaikum. Begitu dong,” kata Fikri.


“Assalamualaikum,” Nessa mengulangi ucapannya.


“Waalalikumsalam,” jawab Fikri.


“Kamu sedang apa?” tanya Fikri.


“Sedang siap-siap mau berangkat ke kantor,” jawab Nessa sambil memasukkan dompet dan pouch make up ke dalam tas.


“Jangan berangkat dulu! Saya jemput. Sekarang saya sedang dalam perjalanan,” kata Fikri.


“Tidak usah, Pak. Saya naik ojek saja,” kata Nessa.


“Jangan suka membantah perkataan calon suami! Sebentar lagi saya sampai,” kata Fikri.


Baru jadi calon suami suami sudah sombong, kata Nessa di dalam hati.


“Baiklah, saya tunggu Bapak sampai datang,” kata Nessa.


“Nah, begitu dong. Sabar, ya! Sebentar lagi saya sampai,” kata Fikri.


“Assalamualaikum,” ucap Fikri lalu mengakhiri pembicaraannya.


“Waalaikumsalam,” Nessa mematikan ponselnya.


Nessa pun bersiap-siap, takut Fikri keburu datang.


Sepuluh menit kemudian ponselnya berdering kembali. Nessa mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Di layar ponselnya tertulis nama Fikri.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa.


“Waalaikumsalam. Saya sudah sampai di depan tempat kos kamu,” kata Fikri.


“Iya, Pak. Sebentar Nessa keluar,” jawab Nessa.


Nessa memakai sepatu dan mengambil tasnya, kemudian ia keluar dari kamar kosnya. Nessa melihat mobil Fikri yang berhenti di depan tempat kosnya. Nessa membuka pintu belakang,


“Selamat pagi, Pak,” ucap Nessa.


“Selamat pagi,” jawab Fikri.


Nessa masuk ke dalam mobil, ia duduk di sebelah Fikri. Setelah Nessa masuk mobil pun berjalan meninggalkan tempat kos Nessa.


“Kamu sudah sarapan, belum?” tanya Fikri.


“Belum, Pak. Tadi saya harus mencuci baju, jadi tidak sempat untuk sarapan,” jawab Nessa.


“Kenapa tidak mencuci di laundry?” tanya Fikri.


“Tidak ah, Pak. Saya mencucinya setiap hari jadi cuma sedikit baju yang harus dicuci. Lagi pula saya harus mengirit untuk bayar kos, makan sehari-hari dan transport,” jawab Nessa.


“Gaji kamu kan besar. Dibandngkan sekretaris yang lain, gaji kamu paling besar,” kata Fikri.

__ADS_1


“Tetap saja tidak cukup, Pak. Saya harus mengirim uang untuk orang tua saya dan adik-adik saya. Walaupun Papah saya masih mengajar, tapi saya sebagai anak ingin membantu meringankan beban orang tua,” kata Nessa.


“Ya sudah, nanti saya naikkan gajimu,” kata Fikri.


“Jangan, Pak! Bisa geger kalau Bapak menaikkan gaji saya,” ujar Nessa.


“Kata kamu gaji yang saya kasih masih kurang. Jadi saya naikkan lagi,” kata Fikri.


“Tidak usah, Pak. Saya masih punya tabungan. Saya habis menjual mobil saya,” ujar Nessa.


“Kenapa mobil kamu dijual?” tanya Fikri.


“Karena mobil itu bukan dipakai sama saya, tapi dipakai oleh mantan pacar saya. Dia pakai untuk pacaran dengan perempuan lain,” kata Nessa.


“Breng-sek juga mantan kamu. Dia manfaatin kamu cuma untuk pacaran dengan perempuan lain,” kata Fikri.


“Bagaimana caranya kamu mengambil mobilmu kembali?” tanya Fikri.


“Bukan saya yang mengambil, tapi mantan bos saya yang mengambil dari mantan pacar saya. Dengan berbekal BPKB yang ada ditangan saya, mantan bos saya berhasil mengambil mobil saya. Kemudian beliau jual dan uangnya ditransfer ke rekening saya,” jawab Nessa.


“Baik sekali mantan bos kamu,” kata Fikri.


“Iya, Pak. Susah cari bos yang baik seperti beliau. Tapi saya terpaksa resign dari sana, karena ingin menghindar dari gangguan mantan pacar,” kata Nessa.


“Sekarang kamu calon istri saya. Tidak akan ada yang mengganggu kamu lagi,” kata Fikri.


Tak terasa mobil sudah berhenti di depan lobby kantor.


“Tolong buka bagasinya, Pak,” kata Fikri kepada Pak Eno.


“Baik, Pak,” jawab Pak Eno.


“Apa itu, Pak?” tanya Nessa menunjuk goodie bag yang dipegang oleh Fikri.


“Sarapan untuk kita berdua. Saya juga belum sarapan,” jawab Fikri.


“Saya bawakan, Pak,” kata Nessa.


Fikri memberikan goodie bag kepada Nessa lalu mereka berjalan masuk ke dalam kantor.


Para karyawa kaget melihat Fikri datang pagi-pagi. Biasanya Fikri datang di atas jam sepuluh. Namun sekarang jam delapan kurang ia sudah berada di kantor.


“Selamat pagi, Pak,’ ucap para karyawan ketika berpas-pasan dengan Fikri.


“Pagi,” jawab Fikri.


Fikri dan Nessa menaiki lift khusus direksi. Di dalam lift Fikri langsung meranggkul pinggang Nessa.


“Jangan, Pak! Nanti ada yang melihat,” ujar Nessa sambil berusaha melepaskan tangan Fikri yang melingkar di pinggangnya.


“Tenang saja. Tidak ada yang melihat,” jawab Fikri.


“Itu,” Nessa menunjuk ke cctv yang berada di dalam liff.


Fikri menghela nafas. Ia mengepalkan tangannya lalu di arahkan ke cctv. Agar karyawannya yang melihat cctv tidak berani membicarakan mereka berdua.


“Mereka tidak akan berani membicarakan kita,” kata Fikri.


Liff berhenti di lantai sembilan. Mereka keluar dari liff.


“Kita sarapan dulu di ruangan saya,” kata Fikri.

__ADS_1


Fikri masuk ke ruang kerja. Nessa mengikuti Fikri dari belakang. Ketika Nessa sedang menyimpan goodie bag di meja, Fikri langsung mengunci pintu ruang kerja. Mendengar suara pintu dikunci, Nessa langsung menoleh ke Fikri.


“Mengapa pintunya dikunci?” tanya Nessa.


Fikri mendekati Nessa lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nessa.


“Jangan, Pak. Ini kantor!” kata Nessa.


“Morning kiss nya mana?” tanya Fikri sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nessa.


“Cup,” Fikri mengecup bi-bir Nessa.


“I like you and I love you,” ucap Fikri.


“Saya tidak ingin hanya kata-kata. Saya ingin bukti kalau Bapak mencintai saya,” kata Nessa.


“Akan saya buktikan kalau saya mencintaimu,” jawab Fikri.


Kemudian ia mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Nessa. Ia hendak mencium kembali bi-bir Nessa. Tiba-tiba perut Nessa berbunyi karena kelaparan. Nessa tertawa sambil menutup mulutnya menahan malu.


“Aahahh, kamu tidak bisa di ajak romantis,” protes Fikri.


“Maafkan saya, Pak. Perut saya lapar,” jawab Nessa.


Fikri menghela nafas lalu melepaskan pelukannya.


“Ya sudah, ayo kita makan,” kata Fikri.


Fikri duduk di sofa. Nessa juga duduk di sofa, namun agak ke pinggir menjauh dari Fikri.


“Duduknya di sebelah saya, dong. Jangan jauh-jauh! Seperti orang yang sedang marahan saja,” kata Fikri.


Mau tidak mau akhirnya Nessa menggeserkan badannya mendekati Fikri.


“Nah, begitu dong,” kata Fikri.


Fikri membuka goodie bag dan mengeluarkan satu kotak makanan dan ditaruh di depan Nessa.


“Ini untuk kamu,” kata Fikri.


“Mamah yang memasak. Katanya special untuk calon menantu,” lanjut Fikri.


Nessa membuka kotak makan yang diberikan oleh Fikri. Di dalamnya ada nasi putih, chicken katsu dan cah sayuran dengan menggunakan udang. Nessa menyicipi sedikit chicken katsu.


“Enak,” kata Nessa.


Lalu ia menyicii sedikit cah sayuran.


“Enak juga. Ibu Dira pinter masak juga,” puji Nessa.


“Iya, dong. Mamah siapa dulu,” jawab Fikri dengan bangga.


“Kapan-kapan saya juga mau mencoba masakan kamu,” kata Fikri.


“Saya tidak pinter masak. Mamah saya yang pinter masak. Saya menghabiskan waktu saya bekerja di kantor. Kalau weekend waktunya istirahat. Jadi hampir tidak pernah masak,” jawab Nessa.


“Pokoknya kapan-kapan saya mau makan masakan kamu. Tidak enak juga tidak apa-apa. Yang penting kamu yang masak,” kata Fikri.


“Bener, ya? Jangan protes kalau tidak enak!” ujar Nessa.


“Iya, saya tidak akan protes,” jawab Fikri.

__ADS_1


__ADS_2