Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
12. Membuat Ulah Lagi


__ADS_3

Nessa menikmati kopi dan snack sambil berbincang-bincang dengan Fitri. Sedangkan Reza sedang berbincang-bincang dengan Doni. Namun tanpa Nessa sadari ada seseorang berdiri di sampingnya.


“Sayang, kok kamu minum kopi? Kamukan sedang hamil, kopi tidak baik untuk ibu hamil. Nanti anak kita kenapa-kenapa,” kata orang itu.


Semua orang menoleh ke arah suara. Fikri sedang berdiri di samping Nessa sambil tersenyum manis.


“Pak Fikri,” kata Nessa kaget.


Wah gawat, pengacau datang. Mau buat sandiwara apalagi? kata Nessa di dalam hati.


Fikri melihat Doni yang duduk di samping Nessa. Sepertinya ia pernah melihat pria itu tapi dimana? Ia sudah lupa.


“Sayang, kamu janjian sama dia? Kamu selingkuh sama dia?” tanya Fikri sambil menunjuk ke Doni.


Semua kaget mendengar pertanyaan Fikri. Semua orang yang mendengar menoleh ke Nessa.


“Nes, siapa dia?” bisik Fitri.


“Bosku yang pelit,” jawab Nessa sambil berbisik.


“Sebentar ya, Fit,” kata Nessa.


Nessa berdiri lalu menarik tangan Fikri. Ia membawa Fikri keluar dari coffee shop.


“Bapak lagi ngapain sih, di sini?” tanya Nessa.dengan kesal.


“Suka-suka saya dong, mau ngapain aja,” jawab Fikri.


“Tapi Bapak jangan gangguin saya,” kata Nessa.


“Kamu janjian ya, sama orang itu?” tanya Fikri.


“Siapa yang Bapak maksud?” tanya Nessa.


“Pria yang duduk di sebelahmu. Kalau tidak salah dia yang menemanimu waktu di hotel Sentania,” jawab Fikri.


“Oh, maksud Bapak Pak Doni?” tanya Nessa.


“Saya tidak tau namanya siapa,” kata Fikri.


“Pak Doni teman Mas Reza, suami sahabat saya,” jawab Nessa.


“Oh, jadi ceritanya kalian sedang double date? Terus Boyke mau kamu kemanakan?” tanya Fikri.


“Bukan kencan, Pak. Tapi kebetulan Mas Reza ada janji dengan Pak Doni,” jawab Nessa.


“Jangan terangi ke saya, dong. Saya kan bukan pacar kamu. Terangimya ke Boyke saudara kamu itu,” kata Fikri.


“Bapak ke sini sama siapa?” tanya Nessa sambil melihat ke dalam seolah mencari seseorang yang datang bersama Fikri.


“Sendiri,” jawab Fikri.


“Tumben Bapak sendiri. Mainannya tidak dibawa?” tanya Nessa.


“Siapa kamu maksud dengan mainan saya?” tanya Fikri.


“Perempuan yang biasa Bapak bawa-bawa,” jawab Nessa.

__ADS_1


“Tidak, saya sewa dia kalau saya lagi perlu,” jawab Fikri.


“Oh, jadi dia perempuan sewaan?” tanya Nessa.


“Iya, memangnya kamu kira siapa? Pacar saya? Selera saya bukan perempuan seperti itu. Lagi pula saya tidak punya pacar,” jawab Fikri.


“Vania bagaimana?” tanya Nessa.


“Saya tidak suka tipe perempuan seperti Vania,’ jawab Fikri.


“Tidak suka, tapi diajak check in ke hotel,” gumam Nessa.


“Tadi kamu bilang apa?” tanya Fikri seperti mendengar perkataan Nessa.


“Tidak bilang apa-apa,” jawab Nessa.


“Saya kembali ke teman saya, ya,” kata Nessa.


“Ya sudah, sana. Tadi kamu yang menarik-narik saya ke sini,” kata Fikri.


Nessa kembali menuju ke mejanya semula. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba terdengar suara, “Dadah sayang. Sampai ketemu di rumah, ya.”


Nessa berbalik sambil melotot dan marah. Fikri tertawa terbahak-bahak melihat Nessa marah.


“Nyebelin banget sih, tuh orang,” gerutu Nessa lalu kembali ke tempat duduknya.


“Kenapa, Nessa?” tanya Fitri,


“Biasa, orang yang tidak ada kerjaan. Seneng sekali ngegangguin karyawannya,” jawab Nessa.


“Jadi itu bosmu, Nes?” tanya Fitri.


Reza melihat jam yang melingakar di pergelangan tangannya.


“Sudah waktunya makan siang. Kita mau makan siang dimana?” tanya Reza.


“Nes, kamu tau restaurant yang bisa direkomendasikan nggak?” tanya Fitri.


“Aku tidak tau. Akukan baru pindah. Pak Doni pasti lebih tau restaurant yang enak,” jawab Nessa.


“Mau makanan apa?” tanya Doni.


Fitri berpikir sejenak.


“Mau yamin. Tapi yang enak,” jawab Fitri.


“Aku tau tempatnya,” kata Doni.


Merekapun keluar dari coffee shop menuju ke tempat parkir.


“Nes, kamu ikut  mobil Mas Doni,” kata Fitri.


“Yah, aku ikut mobil kamu aja deh,” kata Nessa.


“Jangan! Kasihan Mas Doni sendirian,” kata Fitri.


“Tapi aku tidak enak sama Pak Doni,” ujar Nessa.

__ADS_1


“Sudah, sana masuk,” Fitri mendorong Nessa agar masuk ke dalam mobil Doni.


Akhirnya Nessa terpaksa ikut ke mobil Doni. Sebetulnya Nessa tidak enak kepada Doni. Bagaimanapun juga mereka belum kenal dengan akrab.


“Tenang saja, aku tidak akan gigit,” kata Doni melihat Nessa yang ragu-ragu masuk ke dalam mobilnya.


“Maaf ya, Pak. Saya jadi menyusahkan Bapak,” ucap Nessa.


“Ah, tidak menyusahkan. Kan kita mau pergi ke tempat yang sama,” kata Doni.


Doni pun mengendarai mobilnya. Doni mengarahkan mobilnya menuju ke alun-alun kota Bandung., lalu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Doni membuka kaca mobilnya.


“Rez, kita parkir di sini saja. Kalau di dalam susah parkirnya dan jalannya sempit,” kata Doni kepada Reza yang parkir di sampingnya.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Reza.


Setelah mematikan mesin mobilnya Doni dan Nessa turun dsri mobil. Mereka bergabung dengan Reza dan Fitri.


“Restaurantnya ada di dalam jalan itu,” Doni menunjuk ke jalan yang berada di seberang jalan.


“Ayo kita menyeberang,” kata Doni.


Merekapun menyeberang bersama-sama lalu masuk ke jalan yang ditunjuk oleh Doni. Doni berhenti di sebuah restaurant baso yang sederhana. Temboknya bercat hijau tosca. Di depan restaurant berjejer mobil-mobil bagus. Kalau dilihat dari mobil yang parkir di depan restaurant, yang makan di restaurant itu orang-orang dari kalangan menengah ke atas.


Merekapun masuk ke dalam restaurant itu. Di dalam restaurant penuh dengan pembeli dari kalangan etnis tertentu. Reza menjadi ragu untuk masuk ke dalam.


“Don,” kata Reza.


“Tenang saja. Pemiliknya China muslim,” kata Doni seolah mengerti keraguan Reza.


Mereka mencari tempat duduk yang kosong. Seorang pelayan memberikan mereka daftar menu dan kertas kosong untuk mencatat. Fitri dan Nessa membaca menu.


“Semua makanan di sini enak dan tidak mengecewakan,” kata Doni. Nessa jadi penasaran dengan rasanya.


Mereka pun memesan makanan mereka. Tidak berapa lama, makanan yang mereka pesan datang. Nessa menyicipi yamin spesial. Rasanya enak. Nessa jadi tau tempat makan baso yang enak. Selama ini Nessa jajan baso di dekat tempat kos atau di dekat kantor. Tidak pernah jajan baso kemana-mana. Karena Nessa tidak hafal dengan jalanan kota Bandung.


Setelah selesai makan baso merekapun berpisah. Nessa kembali ke tempat kos diantar oleh Fitri dan Reza. Sedangkan Doni pulang ke rumahnya. Padahal Doni menawarkan diri untuk mengantar Nessa pulang ke tempat kos, namun Fitri ingin tau tempat kos Nessa.


“Buat apa kamu ingin tau tempat kosku? Semua tempat kos sama, begitu-begitu saja,” kata Nessa ketika berada di dalam mobil.


“Aku mau laporan ke Mamah kamu. Mamah kamu harus tau keadaanmu selama di Bandung,” jawab Fitri.


“Tidak usah dikasih tau. Mamah pasti tau sendiri,” kata Nessa.


Akhirnya mereka sampai di tempat kos Nessa.


“Kelihatannya tempat kos kamu bersih,” kata Fitri ketika melihat kos Nessa dari depan.


“Mas, Fitri mau masuk ke kos Nessa. Sebentar, kok. Nggak lama,” kata Fitri.


“Iya, boleh,” jawab Reza.


Nessa dan Fitri turun dari mobil, sedangkan Reza menunggu di mobil.


“Mau ngapain kamu masuk ke tempat kosku?’ tanya Nessa sewaktu mereka turun dari mobil.


“Mau sidak. Barangkali saja diam-diam kamu menyimpan laki-laki di dalam kamar kosmu,” jawab Fitri.

__ADS_1


“Buat apa nyimpan laki-laki? Cuma bikin sakit kepala aja. Mendingan juga nyimpan uang dan barang-barang berharga, biar bisa jadi kaya raya,” kata Nessa.


Nessa pernah mengalaminya. Ia pacaran dengan Anggoro tanpa di ketahui oleh orang tua Nessa. Bahkan Nessa yang membiayai hidup Anggoro dan membelikan mobil untuk Anggoro. Namun apa yang Nessa dapat? Hanya kekecewaan yang mendalam.


__ADS_2