
Fikri keluar dari ruangannya. Ia menghampiri Nessa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Nessa, kamu masih sibuk?” tanya Fikri.
“Sedikit lagi, Pak,” jawab Nessa sambil fokus ke layar PC.
“Di simpan dulu. Nanti lagi diteruskan. Sekarang kita sholat dzuhur dulu,” kata Fikri.
Nessa menyimpan dokumen pekerjaannya lalu mematikan PC. Fikri menunggu Nessa dengan sabar. Nessa mengambil mukenah dari dalam lemari.
“Ayo, Pak,” kata Nessa. Fikri dan Nessa berjalan menuju ke liff.
Liff berhenti di lantai tujuh. Seluruh lantai tujuh digunakan khusus untuk mushola. Sengaja Pak Taufik membuatnya seperti itu agar para karyawannnya bisa leluasa untuk sholat tanpa harus bergantian dengan yang lain. Sebetulnya tempat itu lebih layak disebut dengan masjid karena tempatnya sangat luas bisa menampung banyak orang. Namun Pak Taufik lebih suka menyebutnya dengan mushola. Karena tempat ini disediakan khusus untuk karyawan kantor dan tamu yang datang ke kantor mereka, tidak dibuka untuk masyarakat umum. Pak Taufik juga menyediakan banyak mukenah dan sarung di mushola. Mukenah dan sarung selalu diganti dengan yang bersih setiap hari agar para karyawannya nyaman dalam beribadah. Ada karyawan khusus yang dipekerjakan untuk mengurus kebersihan mushola. Pak Taufik tidak lupa menyediakan Al Qur’an di mushola. Sengaja disediakan untuk karyawannya yang ingin membaca Al Qu’an setelah selesai sholat.
Nessa dan Fikri keluar dari liff. Para karyawan yang sedang berada di dalam mushola terkejut melihat Fikri datang ke mushola. Karena Fikri tidak pernah terlihat datang ke mushola, ia lebih sering sholat di ruang kerjanya. Fikri dan berpisah ketika menuju tempat wudhu.
Fikri lebih dahulu selesai sholat. Ia melihat Nessa masih wirit dan berdoa. Setelah selesai berdoa Nessa melipat mukenah dan merapihkan dandanannya. Nessa memakaikan bedak di wajahnya. Bedak di wajahnya luntur karena terkena air wudhu. Tiba-tiba Utami memanggilnya sambil berbisik, “Teh Nessa Teh Nessa.” Nessa menoleh ke Utami.
“Apa?” tanya Nessa.
“Tuh, ditungguin Pak Fikri,” jawab Utami.
Nessa menoleh ke depan, ternyata Fikri sedang berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sedang memperhatikan Nessa yang sedang berdandan.
“Sebentar, Pak. Saya betulkan dulu make up saya,” kata Nessa dengan cuek.
Nessa melanjutkan lagi memoles bedaknya. Setelah itu ia memoleskan lipstik di bi-birnya. Fikri masih berdiri di depannya sambil memperhatikan Nessa yang asyik berdandan.
“Sudah, tidak usah tebal-tebal! Nanti juga dihapus lagi,” kata Fikri.
Namun Nessa tetap saja cuek, ia melanjutkan memoles lipstiknya. Para karyawan perempuan memperhatikan Nessa yang sedang asyik berdandan walaupun sudah ditunggu oleh bosnya.
Akhirnya selesai juga Nessa berdandan. Ia membawa pouch make up dan mukenahnya.
“Ayo, Pak. Saya sudah selesai,” kata Nessa. Fikri dan Nessa meninggalkan musola.
“Bapak mau makan siang dimana?” tanya Nessa di dalam liff.
“Kamu mau makan dimana?” Fikri balik bertanya.
“Saya makan di kantor. Saya banyak pekerjaan,” jawab Nessa.
“Saya ikut kamu saja,” kata Fikri.
Mereka kembali ke lantai sembilan. Nessa menyimpan tas mukena dan pouchnya di atas meja kerja.
“Bapak mau makan apa?” tanya Nessa.
“Kamu mau makan apa?” Fikri balik bertanya.
__ADS_1
“Saya mau pesan mie tektek. Bapak mau apa?” tanya Nessa yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Cari makanannya di ruangan saya saja. Sambil duduk-duduk di sofa,” kata Fikri.
Fikri memegang tangan Nessa lalu menggandeng Nessa menuju ke ruang kerjanya. Ia menuntun Nessa menuju ke sofa dan menyuruh Nessa duduk di sofa.
“Kan enak kalau sambil duduk di sini,” kata Fikri yang duduk di sebelahnya.
“Ada makanan apa? Saya mau makan nasi,” tanya Fikri.
“Bapak lihat sendiri saja,” Nessa memberikan ponselnya ke Fikri.
“Kamu saja yang pegang ponselnya. Saya tidak tau cara menggunakan ponsel kamu,” jawab Fikri.
“Semua ponsel sama saja cara menggunakannya,” ujar Nessa.
“Sudah, kamu saja yang pegang. Saya lihat dari sini,” kata Fikri.
Nessa tidak jadi memberikan ponselnya kepada Fikri.
“Nasinya mau pakai apa?” tanya Nessa.
“Hmm enaknya pakai apa, ya?” Fikri berpikir sejenak.
“Pakai ikan saja. Tadikan sarapannya makan pakai ayam. Jadi sekarang makan ikan,” jawab Fikri.
“Ikannya mau digoreng? bakar? atau pepes?” tanya Nessa.
Nessa mengetik ponselnya mencari ikan bakar. Fikri menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan Nessa. Ia meletakkan tangannya di atas sandaran sofa, sehingga ia bisa lebih rapat lagi dengan Nessa. Ia memperhatikan Nesa yang sedang mencari menu ikan bakar. Sesekali Fikri menci-um rambut Nessa.
“Kalau yang ini mau?” Nessa menunjukkan gambar ikan bakar yang menggugah selera.
“Boleh,” jawab Fikri.
Lalu Fikri menci-um kembali rambut Nessa. Nessa baru sadar kalau rambutnya dici-um-ci-um oleh Fikri.
“Iiihhh, Bapak kenapa menci-um rambut saya terus,” kata Nessa sambil menggeser duduknya agar menjauh dari Fikri. Namun Fikri menahan bahu Nessa agar tidak bergeser.
“Rambut kamu wanginya enak,” puji Fikri.
“Ya sudah, mulai besok saya tidak akan rajin keramas lagi. Biar Bapak tidak mencium-cium rambut saya,” kata Nessa.
“Jangan begitu, dong. Menyenangkan hati calon suami itu ibadah,” kata Fikri.
“Bukan calon suami, tapi suami. Sedangkan Bapak masih jadi calon suami,” Nessa meralat perkataan Fikri.
“Sebentar lagi saya jadi suami kamu,” kata Fikri.
“Pokoknya harus halal dulu baru boleh pegang-pegang, peluk-peluk apalagi ci-um ci-um,” ujar Nessa.
__ADS_1
Nessa melepas tangan Fikri yang menempel pada bahunya. Lalu ia bergeser menjauh dari Fikri.
“Kamu galak sekali sama calon suami,” protes Fikri.
“Bapak dari tadi menci-um-ci-um rambut saya. Kalau Bapak tidak menci-um-ci-um rambut saya, saya tidak akan marah,” jawab Nessa.
“Sudah dong, jangan marah saja. Sini duduk lagi di sini, saya tidak akan menci-um- ci-um rambut kamu,” kata Fikri sambil menepuk-nepuk sofa di dekatnya.
“Nggak ah, jaga jarak,” jawab Nessa sambil merentangkan tangan kanannya melarang Fikri untuk mendekat.
“Saya mau pesan makanan dulu,” Nessa melanjutkan pesan makanan.
Fikri cuma bisa memandangi Nessa. Akhirnya Nessa selesai memesan makanan.
“Sudah saya pesan. Tinggal menunggu pesanan datang,” kata Nessa lalu meletakkan ponselnya di meja.
“Semuanya berapa?” tanya Fikri sambil mengambil dompetnya dari saku celana.
“Sudah saya bayar pake saldo aplikasi saya,” jawab Nessa.
“Loh kok kamu yang bayar? Mestinya saya yang bayar,” Fikri protes.
“Nggak apa-apa, biar cepat,” jawab Nessa.
“Nanti saya kasih kamu uang belanja,” kata Fikri.
“Untuk apa uang belanja?” tanya Nessa bingung.
“Untuk pesan makanan lewat aplikasi kamu,” jawab Fikri.
“Bapak download sendiri saja aplikasinya. Nanti Bapak isi saldonya. Jadi kalau kita mau pesan makanan pakai aplikasi Bapak,” kata Nessa.
“Nggak ah, ribet. Pesan makanannya dari aplikasi kamu saja. Nanti saya yang isikan saldo,” jawab Fikri.
“Saya minta no rekening kamu,” kata Fikri sambil memegang ponselnya.
“Untuk apa, Pak?” tanya Nessa.
“Saya mau transfer uang ke kamu,” jawab Fikri.
“Tidak usah, Pak. Sekali-sekali saya traktir Bapak,” kata Nessa.
Walaupun Nessa membutuhkan uang namun sebagai perempuan ia harus menjaga harga diri. Ia tidak mau meminta-minta kepada laki-laki. Sekalinya ia meminta-minta kepada laki-laki seumur hidup laki laki itu akan meremehkannya. Walaupun status Fikri yang kata Fikri sebagai calon suami, tapi ia tidak mau meminta-minta kepada Fikri. Ia masih bisa hidup mandiri.
“Kalau begitu uang belanja kamu saya masukkan ke dalam gaji kamu,” kata Fikri.
“Jangan, Pak!” seru Nessa.
“Begini saja. Kalau pesan makanan online bayar pakai uang kas saja,” kata Nessa.
__ADS_1
“Oke. Saya setuju. Tapi saya yang bayar, ya!” kata Fikri yang masih teguh dengan pendiriannya.
“Iya, Bapak yang bayar,” jawab Nessa.