
“Tapi kami hanya diberi sedikit, sedangkan kamu diberi banyak oleh kakak kami. Kamu cuma anak angkat, kamu tidak punya hak untuk mendapat warisan dari kakak kami,” kata adik Mr. Lee.
“Oh begitu, ya?” tanya Fikri.
“Saya juga pernah menanyakan hal yang sama kepada ayah dan inilah jawaban ayah dan ibu,” Fikri mengambil ponselnya dan memutarkan rekaman percakapan dia dengan kedua orang tuanya ketika mereka memberitahukan niat mereka untuk memberikan warisan.kepada Fikri. Mereka semua diam mendengarkan rekaman suara itu. Suara yang ada di rekaman itu persis seperti suara kakak mereka ketika sedang menelepon.
Namun mereka berusaha untuk menepisnya.
“Kami tidak percaya dengan rekaman itu. Bisa saja kamu yang membuat rekaman itu untuk menipu kami,” kata salah satu adik Mr. Lee.
“Silahkan saja kalian menuntu saya di pengadilan, saya tidak takut. Namun sebaliknya saya memiliki bukti jika kalian sering menipu ayah dan ibu saya,” kata Fikri.
“Saya juga mempunyai bukti dan saksi jika kalian sering memeras kedua orang tua angkat saya. And by the way, saya sedang menyelidiki kasus kematian Vincent putra ayah dan ibu. Kalau terbukti ada yang mencelakai Vincent atau berusaha membunuh Vincent, akan saya membawa kasus ini ke kepolisian,” kata Fikri.
“Vincent meninggal akibat kecelakaan. Dia mengemudi dalam keadaan mabuk,” sahut Antoni keponakan Mr. Lee.
“Oh ya? Bukankah dia mabuk karena habis menemuimu? Baiklah biar pihak kepolisian yang akan menyelidiki ini. Saya hanya menunggu jawaban dari pihak kepolisian. For your information semua bukti dan saksi sudah lengkap. Tinggal pihak kepolisian yang memprosesnya,” kata Fikri.
“Saya akan mempergunakan harta peninggalan orang tua angkat saya untuk menjebloskan ke dalam penjara orang-orang yang sudah menyakiti mereka. Mungkin orang tua angkat saya tidak mempermasalahkan ini. Tapi saya sebagai anak angkatnya tidak rela orang tua angkat saya disakiti oleh kalian semua. Saya akan balas rasa sakit hati orang tua saya,” kata Fikri.
“Silahkan kalian mencari pengacara karena semua bukti sudah saya berikan kepada pihak ke kepolisian,” kata Fikri.
Semua orang kaget mendengar perkataan Fikri.
“Hei Fikri! Kamu tunggu pembalasan saya!” seru Tuan Tan ayah dari Antoni.
“Silahkan Om, karena proses penyelidikan sudah berjalan dan tinggal penangkapan pelaku,” jawab Fikri.
“Sebelum saya ditangkap, kamu sudah lebih dulu mati. Menyusul Vincent dan orang tua angkatmu!” ancam Tuan Tan.
“Kalau begitu kecurigaan saya benar, Om. Om yang melakukan ini semua. Memeras ayah dan membunuh Vincent,” kata Fikri.
Mendengar kata-kata Fikri Tuan Tan semakin marah kemudian ia pergi meninggalkan areal pemakaman. Semua keluarga Mr. Lee dan Mrs. Lee pergi menyusul Tuan Tan dan Antoni.
__ADS_1
Fikri langsung melemparkan tubuhnya ke kursi. Akhirnya semua yang menganggu pikirannya keluar semua. Pak Taufik duduk di sebelah putranya.
“Kapan kamu mengetahui ini semua?” tanya Pak Taufik.
“Sewaktu pertama kali Fikri menginjakkan kaki di kantor ayah. Di dalam berangkas ayah, Fikri menemukan catatan-catatan aneh. Ketika Fikri melihat keuangan perusahaan Fikri menemukan kejanggalan-kejanggalan di dalam laporan keuangan. Ada beberapa transaksi mencurigakan,” kata Fikri.
“Sekarang Fikri mengerti mengapa mereka mengangkat Fikri sebagai anak angkat mereka. Karena secara tidak langsung mereka berlindung di belakang Fikri. Mereka meminta pertolongan kepada Fikri,” kata Fikri.
“Mereka berpikir karena Fikri anak orang kaya sehingga Fikri mampu untuk meneruskan usaha mereka. Dengan begitu kekayaan mereka tidak jatuh ke tangan para pelaku,” kata Fikri.
“Mamah bangga padamu, Nak. Ternyata anak Mamah sudah besar dan sudah bisa berpikiran secara dewasa,” kata Ibu Dira sambil mengusap punggungnya.
“Dari dulu juga dia dia sudah dewasa. Hanya Mamah saja yang selalu memanjakannya sehingga dia berbuat sesuka hatinya,” kata Pak Taufik.
“Tapikan karena didikan Mamah, Fikri bisa dipercaya oleh orang lain,” kata Ibu Dira dengan bangga.
“Iya. Tapi dia jadi terlibat masalah besar di negara orang,” ujar Pak Taufik.
“Bagaimana sih, Papah? Bukannya support anaknya malah dimarahin,” kata Ibu Dira.
“Mamah dengar sendiri orang tua angkatnya Fikri tidak bisa apa-apa ketika diganggu oleh keluarganya,” kata Pak Taufik.
“Sudahlah Fikri, kasihkan saja warisanmu kepada keluarganya. Toh Mr. dan Mrs. Lee sudah tidak ada. Mereka sudah tenang di sana,” kata Pak Taufik.
“Papahmu bukan orang miskin, Papah masih sanggup memberi perusahaan dan warisan untuk kamu,” lanjut Pak Taufik.
“Tidak bisa, Pah. Fikri sudah janji akan menjalankan amanah mereka. Bukankah seorang laki-laki yang dipegang adalah janjinya?” kata Fikri.
“Ah kamu, kalau soal warisan aja bisa dipegang janjinya. Tapi kalau soal perempuan, susah dipegang janjinya,” ujar Pak Taufik.
“Papah, ada Nessa,” bisik Ibu Dira.
“Biar Nessa tau seperti apa calon suaminya,” jawab Pak Taufik sambil berbisik.
__ADS_1
Lalu Pak Taufik berdiri.
“Ayo kita pulang. Papah sudah lapar,” kata Pak Taufik.
“Nessa, Bibi masak apa hari ini?” tanya Pak Taufik.
“Masak masakan chiness food,” jawab Nessa.
“Ayo kita pulang sekarang,” kata Pak Taufik.
Kemudian mereka meninggalkan areal pemakaman.
***
Keesokan harinya Pak Taufik, Ibu Dira dan Prima kembali ke Indonesia. Tinggallah Fikri dan Nessa di rumah. Mereka ditemani oleh Bibi dan Pak Sam.
Fikri kembali bekerja di kantor dan Nessa ikut juga bekerja di kantor. Banyak dokumen-dokumen yang harus dirapihkan. Fikri masih belum bisa kembali ke Indonesia karena ia belum bisa meninggalkan perusahaannya. Ditambah lagi banyak surat dari pengadilan yang di layangkan kepadanya. Adik-adik Mr. Lee melayangkan surat gugatan kepada Fikri.
Jika hanya untuk menghadapi gugatan tidak masalah bagi Fikri. Namun mulai ada gangguan terror yang ditujukan kepadanya. Entah siapa yang menerornya. Fikri tidak ingin Nessa yang menjadi korban. Jadi ia memutuskan agar Nessa kembali ke Indonesia. Namun ia berpikir siapa yang bisa menjemput Nessa ke sini? Yang jelas harus orang yang bisa dipercaya yang menjemput Nessa.
“Nes, apakah Papah kamu punya passport?” tanya Fikri ketika mereka sedang makan malam di rumah.
“Punya. Memangnya kenapa?” jawab Nessa sambil mengunyah makanan.
“Bisa tidak Papah kamu menjemput kamu ke sini?” tanya Fikri.
“Bapak menyuruh saya pulang?” tanya Nessa.
“Saya khawatir mereka akan mengincar kamu. Saya takut mereka akan menyakiti kamu. Karena kamu adalah kelemahan saya,” jawab Fikri.
“Saya tidak masalah kalau Bapak menyuruh saya pulang. Tapi nanti Bapak bagaimana? Siapa yang akan menemani Bapak?” tanya Nessa.
“Kamu tidak usah khawatir. Ada Bibi dan Pak Sam yang menemani saya di rumah. Di kantor ada Hassan yang membantu saya. Lagipula calon suamimu salah satu konglomerat di Singapura, jadi kamu tidak usah khawatir,” kata Fikri.
__ADS_1
“Bukan soal itu yang saya khawatirkan. Saya mengkhawatirkan keselamatan Bapak,” ujar Nessa.
“Jangan khawatir, saya akan menjaga diri saya dengan baik,” jawab Fikri.