Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
41. Mengantar Nessa


__ADS_3

Hari terus berlalu, kesehatan Fikri mulai pulih kembali. Seperti yang sudah Fikri janjikan setelah ia sembuh ia akan segera melamar Nessa. Sabtu malam Fikri akan datang ke rumah Nessa bersama dengan keluarganya untuk melamar Nessa. Hari ini setelah pulang kerja Nessa pulang ke Jakarta. Ia ke Jakarta diantar oleh Fikri. Fikri memaksa untuk mengantar Nessa ke Jakarta, walaupun sudah berkali-kali dilarang oleh Nessa, tapi Fikri tetap saja memaksa untuk mengantar Nessa pulang. Dengan alasan takut ada yang menculik Nessa.


Sekarang mereka baru saja berangkat dari tempat kos Nessa menuju ke tol Pasteur.


“Pak, mampir dulu ke toko oleh-oleh. Mamah minta dibelikan oleh-oleh untuk para tetangga,” kata Nessa.


“Baik, Bu Bos,” jawab Fikri.


Pertama mereka menuju ke toko kue di jalan Riau. Toko kue yang terkenal dengan roll cakenya. Nessa membeli roll cake dalam jumlah banyak dengan berbagai macam rasa. Ketika Nessa mengambil dompetnya di dalam tas untuk membayar, Fikri sudah lebih dahulu menyodorkan kartu saktinya kepada petugas kasir.


“Eh, kenapa jadi Bapak yang bayar?” tanya Nessa.


“Tidak apa-apa, sama saja kok. Mau bayar pake kartu saya atau uang kamu, tetap saja sama-sama bayar,” jawab Fikri.


Akhrirnya Nessa mengalah daripada ribut-ribut di toko kue. Nanti kelamaan di toko kue. Sedangkan ia masih harus ke toko kue lainnya.


Dari jalan Riau mereka menuju ke jalan Purnawarman, Papah minta dibelikan soes yang ada di jalan Purnawarman. Nessa membeli bermacam rasa soes dan pastry untuk orang tua dan adik-adiknya. Serta untuk bekal mereka di jalan.


Sebelum menuju ke kasir, Nessa sudah mempersiapkan dompetnya terlebih dahulu agar ia bisa cepat membayar. Tapi Fikri tetaplah Fikri. Miliarder Singapura itu selalu saja mempunyai berbagai macam jurus agar ia bisa membayar semua apa yang dibeli oleh Nessa. Tetap saja Fikri lebih dulu membayar belanjaan Nessa.


Nessa melototkan matanya ke Fikri, Fikri hanya bisa nyengir saja.


“Nanti di toko kue yang lain tidak boleh lagi membayar pakai kartu Aa!” bisik Nessa dengan nada intimidasi.


“Iya, sayang,” jawab Fikri dengan tenang.


Dari jalan Purnawarman mereka langsung ke toko kue yang berada di seberang stasiun kereta api. Mereka membeli oleh-oleh khas Bandung di sana. Ketika Nessa hendak membayar, petugas kasirnya tidak menyebutkan jumlahnya.


“Silahkan tekan nomor pin, Pak,” kata kasir.


Dengan tenang Fikri menekan nomor pin kartu kraditnya. Nessa melirik ke Fikri, namun Fikri bersikap tenang seolah tidak punya dosa.


Setelah selesai pembayaran merekapun menuju ke mobil. Di dalam mobil Nessa diam dengan wajah cemberut.


“Kenapa cemberut?” tanya Fikri sambil menyalakan mesin mobil.


“Tanyakan saja pada diri sendiri,” jawab Nessa dengan kesal.


“Iya deh, saya minta maaf. Saya kerja cari uang untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu,” kata Fikri.


“Nessa belum jadi istri Aa. Jadi Aa belum wajib untuk membayar semua yang Nessa. Nanti kalau kita sudah nikah baru Aa wajib membayar semuanya yang Nessa beli,” kata Nessa.


“Tidak apa-apa. Simpan saja uang kamu untuk kamu jajan, ya. Sudah jangan marah lagi,” kata Fikri.


Nessa menghela nafas, calon suaminya benar-benar susah untuk dibantah.


Perjalanan dari Bandung ke Jakarta cukup ramai sehingga mereka sampai di Jakarta pukul setengah sembilan malam.


“Kita cari makan dulu,” kata Nessa ketika mobil Fikri sedang melaju di tol dalam kota.

__ADS_1


“Mau makan dimana?” tanya Fikri.


“Kita makan di restaurant di daerah Pancoran,” jawab Nessa.


Mereka makan malam di restaurant di daerah Pancoran. Nessa memilih menu yang aman untuk dimakan oleh Fikri. Ia tidak ingin penyakit Fikri kambuh kembali karena salah memilih menu. Apalagi malam ini Fikri tidur di hotel sendirian tidak ada yang menemani. Ia takut kalau malam-malam Fikri tiba-tiba badannya panas, nanti tidak ada yang bisa menolong.


Nessa menjauhkan sambel dan acar dari meja mereka. Fikri cuma melongo melihat sambel dana car yang disingkirkan oleh Nessa.


“Kok dipindahin?” tanya Fikri.


“Aa tidak boleh makan pakai sambel dan acar!” jawab Nessa.


“Nanti kurang enak,” protes Fikri.


“Bagaimana kalau nanti malam tiba-tiba demam lagi?” tanya Nessa.


“Aa kan sendirian di hotel tidak ada yang menemani,” kata Nessa.


“Ya sudah, kamu ikut menginap tidur di hotel menemani saya,” kata Fikri dengan tenang.


“Nanti kalau sudah halal,” ujar Nessa.


“Kalau begitu besok langsung dihalalin. Tidak usah pakai acara lamaran,” kata Fikri.


Nessa menghela nafas. Kekasihnya kalau sudah ada maunya suka mengada-ngada.


“Sudah makan dulu. Nanti keburu masuk angin,” kata Nessa. Kemudian merekapun makan.


“Aa mau menginap di rumah saya?” tanya Nessa.


“Boleh, tidak?” tanya Fikri.


“Tentu saja boleh. Ada kamar kosong untuk tamu,” jawab Nessa.


“Alhamdullilah,” ucap Fikri.


“Saya bukakan dulu pintu pagarnya,” kata Nessa.


Nessa turun dari mobil, namun tiba-tiba tangannya dipegang oleh Fikri.


“Kenapa kamu menawari saya menginap di rumah kamu?” tanya Fikri.


“Karena saya khawatir kalau tiba-tiba penyakit Aa kambuh tidak ada orang yang tau,” jawab Nessa.


“Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah mengkhawatirkan saya,” ucap Fikri.


Nessa jawab dengan senyuman, kemudian turun dari mobil Fikri. Ia membuka pintu pagar rumahnya. Fikri memasukkan mobilnya ke halaman rumah Nessa.


Fikri turun dari mobil dan membuka bagasi mobilnya. Nessa mengambil kopernya dan belanjaannya dari bagasi.

__ADS_1


“Tapi parkirnya di halaman. Garasinya penuh sama mobil Papah dan mobil Ikhsan,” kata Nessa.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Fikri.


Tiba-tiba pintu ruang tamu ada yang membuka dari dalam.


“Nessa,” panggil mamah.


Nessa menghampiri mamahnya.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa lalu mencium punggung tangan mamah.


“Waalalaikumsalam,” jawab mamah.


Fikri ikut menghampiri mamah dan mencium punggung tangan mamah.


“Bagaimana kabarmu?” tanya mamah.


“Alhamdullilah sudah mendingan, Tante,” jawab Fikri.


“Syukurlah,” kata mamah.


“Mah, malam ini Fikri menginap di sini,” kata Nessa.


“Iya boleh, Mamah sudah siapkan kamar untuk Fikri,” jawab mamah.


“Ayo masuk Fikri,” ajak mamah.


Nessa dan Fikri masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu sudah ada papah dan adik-adiknya Nessa. Fikri mencium punggung tangan papah.


“Bagaimana perjalanannya?” tanya papah.


“Jalan tolnya ramai, Om. Jadi tidak bisa ngebut,” jawab Fikri.


“Jangan suka ngebut, bahaya. Nyetirnya santai saja,” kata Papah.


“Iya, Om,” jawab Fikri.


“A, ini adik-adik Nessa. Ikhsan dan Dafa,” Nessa memperkenalkan adik-adiknya kepada Fikri.


Fikri menyalami mereka satu persatu.


“Kalian sudah makan, belum?” tanya mamah.


“Sudah, Tante,” jawab Fikri.


“Sekarang Fikri istirahat dulu. Pasti Fikri cape menyetir dari Bandung,” kata mamah.


“Ayo A, Nessa antar ke kamar Aa,” kata Nessa.

__ADS_1


Nessa mengajak Fikri menuju ke kamar tamu.


__ADS_2