Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
45. Pesta Pernikahan


__ADS_3

Sebuah lagu dinyanyikan oleh para penyanyi menyambut tamu yang datang di pesta pernikahan Fikri dan Nessa. Nessa dan Fikri berdiri di atas pelaminan menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang. Salah satu tamu yang datang adalah Pak Fredy mantan bos Nessa, Nessa memang mengundang mantan bosnya.


“Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Pak Fredy


“Terima kasih, Pak,” jawab Nessa dan Fikri.


“Jaga Nessa baik-baik. Dia anak yang baik dan karyawan yang pekerja keras. Kamu sungguh beruntung bisa memilikinya,” kata Pak Fredy kepada Fikri sambil menepuk-nepuk bahu Fikri.


“Baik, Pak,” jawab Fikri.


Lalu Pak Fredy beralih ke Nessa.


“Akhirnya penantianmu berbuah manis. Semoga kalian bahagia,” ucap Pak Fredy kepada Nessa.


“Aamiin ya robbalaalamin. Terima kasih, Pak,” jawab Nessa.


Teman-teman rekan kerja Nessa memberikan ucapan selamat kepada Nessa dan Fikri.


“Selamat ya, Nes. Sekarang sudah menjadi ibu bos,” ucap Yolti.


“Terima kasih, Yolti,” jawab Nessa.


“Selamat ya, Nes sudah berhasil menaklukan Pak Fikri,” ucap Hera.


“Memangnya saya binatang liar sampai harus ditaklukan,” protes Fikri yang pura-pura kesal.


“Bukan binatang liar, tapi playboy cap kampak, Pak,” sahut Elsi.


“Huss, kalau itu jangan bilang begitu di depan Nessa! Bisa-bisa nanti malam saya tidak dapat jatah,” kata Fikri.


“Sengaja. Biar Bapak disuruh tidur di sofa,” kata Yolti.


Lalu merekapun cepat-cepat pergi sambil tertawa. Fikri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan para karyawannya.


Namun tiba-tiba Fikri dan Nessa mendapat surprise dari para karyawannya itu. Mereka menyanyikan lagu Kekasih Halalmu.


Jangan coba coba sentuh hatiku


Kalau kau tak niat serius


Bila ku benar benar jatuh cinta


Apa kau mau tanggung jawab


Bukan berarti ku tak suka kau dekati aku


Tapi aku takut kau hanya memberiku harapan palsu


Woo.hu.huu.


Apakah kau menaruh hati padaku


Dan berniat untuk menjadikan aku


Kekasih halalmu


Only one for you


Only one for you


[ Kekasih Halalmu ; Noura ]


Nessa tersenyum mendengar lagu yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Lagu itu seperti cerita cinta mereka berdua.


Fitri dan Reza juga hadir di acara pernikahan Nessa. Fitri dan Reza ikut ke dalam rombongan yang mendapatkan fasilitas pesawat dan hotel dari Fikri. Karena Nessa ingin Fitri hadir di acara akad nikah. Namun ketika resepsi ada seseorang yang ikut bersama mereka yaitu Doni.


“Mas Doni jauh-jauh datang ke sini untuk memberikan selamat kepadamu,” bisik Fitri.


“Tapi aku tidak mengundangnya,” jawab Nessa dengan berbisik.


“Mas Reza yang memberitahu kepadanya kalau Mas Reza akan pergi ke Bali untuk menghadiri acara pernikahan kamu,” bisik Fitri.

__ADS_1


Nessa menghela nafas.


“Ya sudahlah, tidak apa-apa,” kata Nessa.


Mudah-mudahan Aa tidak marah, kata Nessa di dalam hati.


Doni menghampiri Nessa dan Fikri.


“Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia,” ucap Doni.


“Terima kasih,” jawab Fikri.


“Terima kasih, Pak Doni,” jawab Nessa.


Kemudian Doni berlalu dari hadapan mereka.


“Baguslah dia hadir ke sini. Setidaknya dia tau kalau kamu sudah menjadi milik Aa,” kata Fikri.


“Jadi Aa tidak marah?” tanya Nessa.


“Tidak, siapa yang marah?” tanya Fikri.


“Justru Aa bangga bisa menunjukkan kepada Doni kalau Aa lah yang menjadi pemenangnya,” jawab Fikri. Mendengar perkataan Fikri, Nessa langsung bernafas lega. Karena suaminya tidak marah.


Di antara para tamu undangan hadir pula Boyke bersama dengan istrinya Hanna. Perut Hanna sudah semakin membesar, namun ia masih terlihat cantik.


Ketika Boyke bersalaman dengan kedua orang tua Nessa.


“Maafkan Boyke, Om Tante. Boyke tidak bermaksud mempermainkan Nessa,” ucap Boyke.


“Tidak apa-apa. Kamu tidak bersalah. Lupakan saja yang lalu. Sekarang kalian sudah bahagia dengan pasangan masing-masing,” jawab Mamah.


“Ini istrimu?” tanya mamah menunjuk ke Hanna.


“Iya,” jawab Boyke.


Hanna menyalami mamah dan papah.


“Cantik sekali istrimu. Sudah hamil berapa bulan?” tanya mamah.


“Berarti sebentar lagi, ya?” tanya mamah.


“Iya, Tante,” jawab Boyke.


Kemudian Boyke dan Hanna menghampiri Nessa dan Fikri.


“Selamat ya, atas pernikahan kalian,” ucap Boyke.


“Terima kasih, Kang,” jawab Nessa.


Hadir pula Om Tendi dan Tante Juju, orang tua Zamzam. Namun Zamzam tidak datang karena sedang dinas ke luar kota.


“Selamat ya atas pernikahan kalian,” ucap Om Tendi.


“Sayang Zamzam sudah keduluan orang lain. Kalau tidak mungkin Om dan Tante bisa besanan dengan papah dan mamahmu,” kata Om Tendi.


“Papah, tidak boleh bilang begitu! Tidak enak kedengaran sama suaminya Nessa,” bisik Tante Juju.


“Loh, memang benarkan? Kalau saja Zamzam tidak keduluan orang lain, pasti kita sudah besanan dengan Dodi dan Ika,” jawab Om Tendi.


“Maafkan Om Tendi. Dia memang suka begitu,” kata Tante Juju kepada Nessa dan Fikri.


“Tidak apa-apa, Tante,” jawab Nessa.


Kemudian Tante Juju menarik tangan Om Tendi agar cepat turun dari atas pelaminan sebelum membuat kekacauan.


***


Acara resepsi sudah selesai, Nessa dan Fikri kembali ke kamar mereka. Sekarang mereka tinggal berdua di kamar pengantin mereka.


Nessa berjalan menuju ke kopernya untuk mengambil baju, namun ditahan oleh Fikri. Fikri merangkul pinggang Nessa.

__ADS_1


“Eits, mau kemana?” tanya Fikri.


“Mau mandi terus ganti baju. Badannya sudah lengket dan gatal,” jawab Nessa.


“Nanti dulu dong, sayang,” kata Fikri.


Fikri memutar badan Nessa agar menghadap kepadanya. Fikri memandangi wajah istrinya.


“Aa, badan Nessa bau keringat,” kata Nessa.


“Nggak ah, kata siapa?” sanggah Fikri.


Nessa mengangkat lengannya lalu mencium kedua ketiaknya.


“Tuh bau ketekkan,” kata Nessa.


Namun Fikri tidak memperdulikan perkataan Nessa. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nessa lalu megecup bi0bir istrinya dalam-dalam. Tangannya memeluk tubuh istrinya lalu mengusap punggung istrinya. Nessa membalas setiap sentuhan yang suaminya berikan di mulutnya. Fikri sekarang sudah resmi menjadi suaminya, sehingga ia harus melayani semua keinginan suaminya.


Ketika Fikri mulai berusaha membuka resleting gaun pengantin Nessa, Nessa langsung menghentikan kecupannya.


“Nessa mandi dulu. Belum sholat ashar,” kata Nessa.


Fikri menghela nafas karena kecewa. Nessa mendekatkan wajahnya ke telinga Fikri.


“Nanti diteruskan kalau sudah sholat ashar,” bisik Nessa.


Wajah Fikri yang kecewa berubah menjadi ceria lagi.


“Aa bantuin mandinya, ya,” kata Fikri.


“Eh, jangan! Nanti tidak jadi sholat ashar,” cegah Nessa.


“Ya sudah, sana mandi dulu,” kata Fikri.


Nessapun masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai sholat ashar berjamaah dengan Fikri, Nessa menepati janjinya untuk menyenangkan suaminya. Mereka menghabiskan waktu di dalam kamar.


Malam harinya badan Nessa terasa cape sekali, karena harus melayani suaminya berkali-kali. Mereka berhenti ketika waktunya sholat dan dilanjutkan kembali setelah selesai sholat. Bahkan kepala Nessa terasa sakit karena harus mandi junub berkali-kali.


Sekarang sudah waktunya untuk makan malam, namun Nessa terkapar di atas tempat tidur.


“Makan malamnya di kamar aja, ya. Badan Nessa cape sekali. Yang di bawah juga perih, jadi susah jalannya,” kata Nessa.


“Iya, kita makan di kamar saja,” jawab Fikri.


“Kamu mau makan apa?” tanya Fikri sambil memperhatikan buku menu restaurant di hotelnya.


“Apa sajalah. Yang penting enak,” jawab Nessa.


“Oke, Aa pilihkan yang special,” kata Fikri.


***


Keesokan harinya Nessa masih belum bisa keluar dari kamar, karena tadi malam Fikri minta dilayani lagi. Nessa tidak bisa menolak karena sudah menjadi kewajibannya untuk melayani suami. Sehingga mereka sarapannya di dalam kamar.


Setelah selesai sarapan Nessa beristirahat di dalam kamar. Ia tidak bisa keluar dari kamar karena badannya sakit semua dan bagian bawahnya masih perih.


“A, hari ini mamah dan papah pulang. Tapi Nessa tidak bisa menemui mereka,” kata Nessa yang berbaring lemah di atas tempat tidur.


“Sudah kamu tidur saja. Biar Aa yang menemui papah dan mamah,” kata Fikri.


“Tapi Nessa merasa tidak enak. Masa orang tuanya mau pulang anaknya tidak mau menemui,” kata Nessa.


“Tidak usah khawatir. Mereka pasti mengerti,” jawab Fikri.


Fikri mendekati Nessa lalu mencium keningnya.


“Aa keluar dulu, ya. Mau menemui papah mamah,” kata Fikri.


“Iya. Salam ya untuk semuanya,” ujar Nessa.

__ADS_1


“Oke,” jawab Fikri.


Kemudian Fikri keluar dari kamar.


__ADS_2