Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
54. Belum Ada Tanda-Tanda


__ADS_3

Hari terus berlalu. Setiap sebulan sekali Ima datang ke Singapura untuk menemani Nessa berbelanja. Tentu saja Ima datang ditemani oleh Prima. Namun ketika usia kandungan Nessa menginjak sembilan bulan. Ima berbelanja berdua dengan Prima. Mereka dikawal oleh Pak Sam.


Setelah memdekati hari perkiraan lahir Mamah datang ke Singapura untuk menemani Nessa yang akan melahirkan.


“Mau menemani anak melahirkan Mamah harus naik pesawat terbang dulu, pakai paspor lagi,” kata Mamah ketika datang ke rumah Nessa.


“Mau gimana lagi, Mah. Nessa kan sudah tidak boleh bulak balik naik pesawat terbang,” jawab Nessa.


“Iya, tidak apa-apa. Tapi kedengarannya seperti gaya, pergi ke Singapura untuk menemani Nessa melahirkan. Orang-orang ngomongin kalau anak Mamah sok sokan jadi orang kaya, melahirkannya di Singapura.,” kata Mamah


“Tapi memang benar menantu Mamah orang kaya,” ujar Mamah.


“Sudahlah, Mah. Biarkan saja mereka mau ngomong apa, nggak usah di dengerin.,” kata Nessa.


“Ayo kita makan dulu, Mah. Bibi baru selesai masak,” kata Nessa.


“Wah, bibi masak apa?” tanya Mamah.


“Masak makanan yang special untuk Mamah,” jawab Nessa. Lalu merekapun berjalan menuju ke ruang makan.


Hari terus berlalu dan sekarang adalah hari perkiraan lahir, namun Nessa tidak mengalami kontraksi sama sekali. Nessa menjadi cemas.


“Nggak apa-apa. Memang kalau baru pertama kali melahirkan, suka lebih dari hari perkiraan lahir,” Mamah menghibur Nessa agar tidak cemas


“Kata dokter kalau belum ada tanda-tanda melahirkan hari ini harus check-up lagi ke dokter,” kata Nessa.


“Kedokternya dengan siapa? Mau dengan Mamah atau dengan Fikri?” tanya mamah.


“Dengan Aa Fikri aja,” jawab Nessa.


Nessa pun pergi check-up di temani oleh Fikri.


“Posisi bayi sudah d bawah. Denyut jantungnya bagus bayi dalam keadaan sehat. Kita tinggal menunggu waktu dia lahir,” kata dokter ketika sedang USG kandungan Nessa.


“Apa tidak apa-apa jika bayi terlalu lama di dalam kandungan?” tanya Fikri dengan cemas.


“Tidak apa-apa. Lebih sehari dua hari dari perkiraan lahir itu wajar bagi ibu-ibu yang baru pertama kali melahirkan,” jawab dokter.


“Apa tidak harus dengan operasi, Dok?” tanya Fikri.


“Tidak usah dulu. Kita tunggu sampai dua hari. Kalau sudah lebih dari dua hari masih belum lahir juga, terpaksa harus dengan jalan operasi,” jawab dokter.


Setelah selesai pemeriksaan merekapun keluar dari ruangan dokter.

__ADS_1


“Kang, bilang sama Pak Sam tidak usah ke lobby rumah sakit untuk menjemput kita. Biar kita yang ke tempat parkir,” kata Nessa.


“Loh kenapa?” tanya Fikri bingung.


“Nggak apa-apa. Nessa mau jalan-jalan agar lancar melahirkannya,” jawab Nessa.


“Ya sudah, kalau kamu maunya begitu,” kata Fikri.


Kemudian merekapun berjalan menuju tempat parkir. Namun bukannya menuju ke tempat parkir tapi Nessa malah berjalan berputar-putar di dalam rumah sakit.


“Ini kenapa jalannya berputar-putar begini? Perasaan dari tadi tidak sampai ke tempat parkir?” tanya Fikri bingung.


“Sengaja, biar Nessa banyak jalan,” jawab Nessa.


“Nanti kamu kecapean,” kata Fikri.


“Tidak apa-apa,” jawab Nessa.


Setelah tiga puluh menit berputar mengelilingi rumah sakit akhirnya mereka menuju ke tempat parkir mobil.


***


Sore harinya ketika Nessa bangun tidur, ia merasa kakinya terasa sakit sekali. Kakinya terasa berat ketika hendak berjalan menuju ke kamar mandi. Dengan susah payah Nessa menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Bahkan ketika sedang sholat setelah sujud Nessa kesulitan untuk berdiri. Nessa terus berusaha untuk melanjutkan sholatnya walaupun terasa sakit.


“Mah,” panggil Nessa sambil berjalan perlahan-lahan.


“Mamah sedang di dapur,” jawab Mamah.


Nessa berjalan menuju ke dapur menghampiri mamah.


“Mah,” panggil Nessa.


“Ada apa?” tanya mamah yang sedang sibuk masak untuk makan sore.


“Kaki Nessa sakit,” jawab Nessa.


Mamah menoleh ke Nessa.


“Sakit kenapa?” tanya Mamah.


“Kalau digerakin sakit sekali,” jawab Nessa.


“Oh, itu tandanya bayi sedang mencari jalan keluar,” jawab mamah.

__ADS_1


“Keluar flek, nggak?’ tanya Mamah.


“Nggak ada flek,” jawab Nessa.


“Berarti jangan ke rumah sakit dulu. Sekarang kamu jalan-jalan keliling rumah,” kata mamah.


“Tapi susah jalannya, kakinya sakit,” ujar Nessa.


“Memang begitu kalau mau melahirkan. Sekarang kamu muter keliling rumah. Pelan-pelan saja jalannya,” kata mamah.


Akhirnya Nessa mengikuti perkataan mamahnya. Ia jalan-jalan keliling rumah.


Malam harinya Nessa mengadu kepada suaminya mengenai kakinya yang sakit


“Sabar ya, sayang. Demi anak kita,” kata Fikri sambil memijat kaki Nessa.


“Tapi Nessa nggak kuat kakinya sakit sekali,” kata Nessa sambil menangis.


Fikri memeluk Nessa lalu mengusap-usap kepala dan punggungnya agar istrinya tenang.


***


Keesokan harinya Nessa mulai merasakan mules pada perutnya. Dan ketika ia sedang ke kamar mandi ia melihat flek pada pakaian dalamnya. Nessa keluar dari kamar mandi.


“A, Nessa keluar flek,” kata Nessa kepada Fikri.


Fikri yang sedang menonton berita menoleh ke Nessa.


“Kalau begitu kita siap-siap ke rumah sakit. Aa mandi dulu,” kata Fikri.


Fikri beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Sedangkan Nessa keluar dari kamar mencari mamah. Nessa berjalan menuju dapur.


“Mah,” panggil Nessa.


“Iya,” jawab mamah yang sedang masak di dapur.


Nessa menghampiri Mamahnya.


“Nessa keluar flek,” kata Nessa.


“Kalau begitu kita bersiap-siap ke rumah sakit,” kata mamah.


“Bi, tolong teruskan masaknya. Saya mau antar Nessa ke rumah sakit,” kata Mamah.

__ADS_1


“Baik, Nya,” jawab bibi.


__ADS_2