
Keesokan harinya setelah orang tua dan keluarganya pulang ke Bandung, Fikri ke rumah Nessa untuk menjemput Nessa.
“Apa tidak akan merugikan kamu jika menyewa pesawat terbang dan memyediakan hotel untuk saudara dan teman-teman Nessa?” tanya papah.
“Insyaallah tidak, Om. Kalau niatnya baik, akan mendapatkan pahalanya,” jawab Fikri.
Mamah datang membawa dua buah cangkir kopi beserta dengan camilan.
“Terima kasih, Tante. Tadi Fikri sudah minum kopi di hotel,” ucap Fikri.
“Tidak apa-apa minum kopi lagi. Kamu kan mau menyetir jauh, biar tidak mengantuk,” jawab mamah.
Mamah duduk di sebelah papah.
“Nessa belum turun, Pah?” tanya mamah.
“Belum, mungkin masih packing baju-bajunya,” jawab papah.
“Ayo diminum kopinya. Nanti keburu dingin,” kata mamah.
“Terima kasih, Tante,” jawab Fikri.
Fikri meminum kopi yang masih mengepul.
“Ayo dimakan kuenya. Ini kue dari mamah Fikri,” kata mamah.
Fikri menyiicipi kue yang telah disediakan mamah.
“Kuenya enak. Mamah Fikri beli dimana?” tanya mamah.
Fikri berpikir sejenak mengingat kembali dimana mamahnya membeli kue.
“Kalau tidak salah beli di hotel,” jawab Fikri.
“Pantesan enak,” kata mamah.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar di buka. Di lantai atas terdengar suara roda koper berjalan.
“Om Tante, Fikri permisi dulu mau membantu Nessa mengangkat koper,” kata Fikri.
“Iya, silahkan,” jawab papah.
Fikri naik ke atas tangga untuk menghampiri Nessa. Tak lama kemudian Nessa turun dari tangga, di belakangnya ada Fikri yang sedang mengangkat koper Nessa.
“Makan siang dulu sebelum berangkat. Sebentar lagi masakannya matang,” kata mamah.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
Fikri membawa koper Nessa untuk disimpan ke dalam mobilnya. Setelah menyimpan koper Nessa, Fikri kembali ke dalam rumah.
Ketika di dalam rumah semua anggota keluarga Nessa sudah duduk di kursi makan dan bersiap-siap hendak makan siang bersama.
“Fikri, ayo makan dulu,” panggil mamah.
“Iya, Tante,” jawab Fikri. Fikri ikut bergabung di meja makan.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang Fikri dan Nessa pamit untuk kembali ke Bandung.
“Hati-hati menyetirnya. Jangan ngebut!” kata papah.
“Iya, Om,” jawab Fikri.
Fikri dan Nessa mencium punggung telapak tangan papah dan mamah. Lalu mereka menyalami Ikhsan dan Dafa.
“Jangan lupa kabari mamah tentang perkembangan persiapan pernikahan kalian,” kata mamah.
“Siap, Mah,” jawab Nessa.
“Fikri. Titip Nessa, ya,” kata mamah.
“Iya, Tante,” jawab Fikri.
“Kami permisi dulu, Om Tante. Assalamualaikum,” ucap Fikri.
“Waalaikumsalam,” jawab mamah dan papah.
“Dadah Mamah. Dadah Papah. Assalamualaikum,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam,” jawab mamah dan papah.
Nessa dan Fikri keluar dari rumah Nessa menuju ke mobil Fikri yang diparkir di halaman rumah Nessa. Kemudian mobil Fikri pun meluncur meninggalkan rumah Nessa.
***
Hari terus berlalu. Nessa dan Fikri menyerahkan persiapan mereka kepada wedding organizer karena mereka tidak punya waktu untuk mengurus pernikahan mereka. Fikri sibuk untuk mengurusi bisnisnya, ia harus mundar mandir Bali Singapura Bandung. Nessa pun ikut kemana pun Fikri pergi, karena Nessa masih menjadi sekretaris Fikri.
“Kenapa harus dipingit?” tanya Fikri ketika Nessa dijemput oleh Dafa.
“Tidak tau. Itu memang sudah tradisi turun temurun,” jawab Nessa sambil memperhatikan Dafa memasukkan koper dan tas ke dalam bagasi mobil. Akhirnya semua tas dan koper milik Nessa ke sudah dimasukkan ke dalam bagasi.
“Masih ada lag. Kak?” tanya Dafa.
“Sudah semuanya,” jawab Nessa.
“Ayo, Kak nanti keburu sore. Mamah menyuruh kita beli oleh-oleh dulu,” kata Dafa.
“Saya antar, ya,” sahut Fikri.
“Tidak usah diantar. Dafa sudah hafal jalan di Bandung,” jawab Nessa.
“Saya masih mau bersama kamu,” kata Fikri.
“Nanti juga ketemu di Bali,” jawab Nessa.
“Tapi saya tidak boleh bertemu sama kamu,” ujar Fikri.
“Kita bisa video call,” kata Nessa.
“Memang mamah mengizinkan video call?” tanya Dafa.
Karena setau Dafa kalau sedang dipingit tidak boleh bertemu satu dengan yang lain.
__ADS_1
“Boleh. Asal kameranya diarahkan ke tembok,” jawab Nessa dengan tenang.
Mendengar jawaban Nessa, Fikri langsung cemberut. Ia kesal karena tidak bisa melihat wajah kekasihnya.
“Nessa pulang dulu ya, A,” pamit Nessa.
“Hmm,” jawab Fikri.
“Jangan nakal, ya!” kata Nessa.
Fikri hanya mengangguk.
“Aa, Dafa pamit dulu,” Dafa menyalami Fikri.
“Titip Nessa. Kalau ada laki-laki yang mendekati Nessa langsung pelototin!” kata Fikri.
“Siap, A,” jawab Dafa.
Fikri membukakan pintu mobil lalu Nessa masuk ke dalam mobil.
“Kalau sudah sampai telepon saya, ya!” kata Fikri.
“Iya, A,” jawab Nessa.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam,” jawab Fikri.
Kemudian Fikri menutup pintu mobil. Mobil pun meluncur meninggalkan tempat kos Nessa. Fikri melihat mobil kekasihnya hingga tidak terlihat lagi.
***
Tak terasa waktu terus berlalu sekarang adalah hari pernikahan Fikri dan Nessa. Keluarga besar Nessa dan Keluarga besar Fikri sudah berada di ballroom hotel. Papah Dodi, Fikri, penghulu dan para saksi sudah siap di tempat akad nikah. Mereka sedang menunggu mempelai wanita masuk ke dalam ballroom.
Akhirnya mempelai wanitapun datang. Fikri langsung menoleh ke arah mempelai wanita. Sudah seminggu ia tidak melihat wajah Nessa. Nessa menggunakan kebaya encim berwarna putih. Baru kali ini Fikri melihat Nessa menggunakan kebaya dengan rambut disanggul cepol. Dimata Fikri Nessa terlihat sangat cantik. Fikri hampir tidak berkedip ketika melihat Nessa.
Nessa berjalan dengan diampit oleh mamah dan tantenya. Nessa duduk di sebelah Fikri. Fikri mencium bau harum parfum Nessa. Parfum yang ia belikan ketika mereka sedang berada di Singapura. Nessa duduk di sebelah Fikri sambil menunduk.
“Bagaimana saudara Fikri? Apakah sudah bisa kita mulai ijab qobul?” tanya penghulu.
“Siap, Pak,” jawab Fikri.
Lalu dimulailah ijab qobul. Dengan satu tarikan saja terdengar suara sah dari para tamu yang menyaksikan.
“Alhamdullilah,” ucap Fikri dan Nessa.
Resmilah sudah Nessa menjadi istri Fikri. Setelah menandatangani buku nikah, Fikri memakaikan cincin kawin di jari manis Nessa. Begitu juga Nessa memakaikan cicin nikah di jari manis Fikri.
Dan sekaranglah moment yang sudah lama ditunggu oleh Fikri yaitu Nessa mencium tangan Fikri. Fikri tersenyum ketika Nessa mencium tangannya. Kemudian Fikri mencium kening Nessa. Namun tidak hanya berhenti di situ saja. Secara tiba-tiba Fikri mengecup bibir Nessa. Terdengar suara riuh dari para tamu yang menyaksikannya. Nessa malu dilihat oleh banyak orang.
“Aa,” bisik Fikri sambil melotot.
Fikri menanggapinya dengan tersenyum.
Setelah selesai akad nikah Nessa dan Fikri kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Namun di dalam kamar Fikri benar-benar tidak bisa mendekati Nessa apalagi sampai menyentuhnya. Karena Nessa di kelilingi oleh penata rias yang merubah tampilan Nessa. Fikri hanya bisa memandangi istrinya dari jauh.
__ADS_1