
Ricky dan Nessa makan siang di dining room. Nessa tidak merasa khawatir kalau makan di dining room karena di sana system makanannya secara buffet. Pasti tidak akan ada yang berani menyimpan racun di makanan. Namun ketika ada seorang pelayan mengantarkan segelas air bening untuk Fikri, Nessa melarang Fikri minum. Nessa mengambil sendok bersih untuk menyicipi air minum Fikri.
“Ya ampun, Nessa. Apa air bening juga harus kamu cicipi?” tanya Fikri.
“Sssstttt jangan ribut! Saya takut ada menaruh racun di gelas Bapak,” jawab Nessa sambil berbisik.
Fikri geleng-geleng kepala melihat kelakuan sekretarisnya. Begitu pula ketika Fikri meminta segelas kopi, Nessa harus menyicipi terlebih dahulu dengan sendok bersih sebelum diminum oleh Fikri.
“Kalau kamu mau kopi pesan saja. Tidak usah mencicipi kopi saya,” kata Fikri dengan kesal.
“Kalau kopi Bapak dimasuki sianida, bagaimana? Bisa-bisa saya habis dimarahi orang tua Bapak, Mr. dan Mrs. Lee,” bisik Nessa.
Fikri berpikir sejenak, benar juga dengan apa yang yang dikatakan Nessa. Bisa saja ada pihak yang tidak suka dengannya. Apalagi dengan terang-terangan Mr. Lee menunjukkan pada semua pegawainya, kalau Fikri adalah orang kepercayaannya.
“Nanti bilang pada management hotel kalau kamar Bapak dan kamar saya tidak usah dibersihkan oleh housekeeping. Biar saya yang membersihkan kamar Bapak dan kamar saya,” kata Nessa.
“Ya ampun, Nessaaaa. Tidak sampai harus begitu. Biar kan saja mereka yang membersihkan,” kata Fikri dengan gemas.
“Bapak mau ada yang menyelipkan obat terlarang di kamar Bapak, lalu tiba-tiba kamar Bapak digrebek pihak yang berwajib?” tanya Nessa.
“Kedatangan Bapak sekarang ini sedang mengusik kenyamanan seseorang. Ia merasa posisinya tidak aman, dia pasti akan melakukan apa saja agar Bapak pergi dari sini,” jawab Nessa dengan berbisik.
“Sekalian saja di kamar kita minta dipasang cctv,” sahut Fikri dengan kesal.
“Kedengarannnya boleh juga. Nanti Bapak minta sama pihak hotel untuk pasang cctv di kamar kita berdua,” kata Nessa.
“Kamar saya aja, kali. Kamu tidak usah!” kata Fikri.
“Kamar saya juga. Bagaimana kalau mereka berusaha mengusir Bapak melalui saya? Kalau saya kenapa-kenapa, Bapak juga yang repot,” kata Nessa.
“Ya sudah, nanti saya suruh mereka pasang cctv di kamar kita,” kata Fikri.
Akhirnya acara makan siang mereka telah selesai. Sekarang waktunya mereka mulai bekerja. Fikri mengumpulkan semua management hotel di ruang rapat. Mulai dari general manager sampai para staf. Mereka harus melaporkan perkembangan hotel sampai kendala yang di hadapi oleh hotel.
__ADS_1
“Saya minta laporannya disiapkan sekarang juga. Terutama laporan keuangan, saya ingin melihat keuangan hotel. Saya jug minta nama-nama perusahaan yang menjadi rekanan kita,” kata Fikri kepada bagian keuangan dan bagian purchasing.
“Baik, Pak,” jawab mereka.
“Saya ingin secepatnya laporan diberikan kepada saya, tanpa ada yang ditutupi. Kalian pasti tau sanksi yang akan diberikan kalau berani menutup-nutupi. Saya tidak akan segan-segan memecat kalian,” kata Fikri.
Semua di ruangan itu kaget mendengarnya.
“Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya berani memecat kalian? Sekarang saya katakan, saya adalah anak angkat Mr. Lee yang ditugaskan untuk memantau hotel ini dan juga perusahaan Mr. Lee yang lain. Jadi kalau ada yang coba-coba membangkang kepada saya, saya tidak akan segan-segan untuk memecat orang itu,” kata Fikri.
“Mengerti?” tanya Fikri.
“Mengerti, Pak,” jawab semua orang yang di ruangan itu.
“Oh ya, satu lagi. Saya ingin kamar saya dan kamar asisten saya dipasang cctv. Untuk memantau bahwa tidak ada satupun yang masuk ke kamar saya dan kamar asisten saya,” kata Fikri.
“Baik, Pak,” jawab Leo.
“Oke, sekarang kalian boleh bubar untuk melanjutkan pekerjaan kalian,” kata Fikri.
Fikri dan Nessa kembali ke kamar mereka. Mereka akan bekerja di kamar mereka. Ketika mereka sedang berada di kamar beberapa orang tehnisi hotel datang untuk memasang cctv. Kemudian datang pula beberapa staf dari berbagai devisi mengantarkan laporan. Fikri dan Nessa mulai bekerja memeriksa semua laporan.
Pukul tujuh malam Fikri dan Nessa menuju ke dining room. Mereka akan makan malam di sana. Sekarang mereka sedang menunggu liff yang turun ke lantai bawah. Ketika pintu liff terbuka Nessa melihat Boyke berada di dalam liff, merangkul mesra seorang wanita muda yang sedang hamil. Senyum Nessa yang sempat mengembang melihat Boyke, tiba-tiba langsung sirna.
“Kita naik liff yang lain saja,” kata Nessa kepada Fikri.
Kebetulan pintu liff sebelah terbuka, namun liff itu menuju ke lantai atas. Nessa langsung masuk ke liff yang di sebelahnya. Boyke keluar dari dalam liff dan menghampiri Nessa.
“Nessa.”
Boyke hendak ke liff yang dimasuki Nessa namun dicegah oleh Fikri.
“Biarkan dia sendiri dulu,” kata Fikri.
__ADS_1
Akhirnya Boyke berhenti dan tidak jadi masuk ke dalam liff. Fikri mengikuti Nessa masuk ke dalam liff. Boyke hanya bisa memandangi Nessa dari luar liff. Nessa menunduk, ia tidak ingin melihat wajah Boyke. Pintu liff pun tertutup dan liff naik ke lantai atas. Di dalam liff Nessa hanya diam. Air matanya mulai mengalir di pipinya.
“Di lantai atas ada restaurant rooftop, bagaimana kalau kita makan malam di sana?” tanya Fikri.
Nessa mengangguk. Fikri memencet lantai restaurant rooftop. Liff berhenti di restaurant rooftop. Fikri dan Nessa mmemasuki sebuah restaurant. Nessa menuju ke teras restaurant, ia memandangi kota Denpasar di malam hari. Fikri membiarkan Nessa sendiri untuk menenangkan pikirannya.
Nessa membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Fikri berdiri di sampingnya.
“Apakah kamu kecewa karena Boyke sudah mempunyai wanita lain?” tanya Fikri sambil memandang kota Denpasar dari atas.
“Tidak,” jawab Nessa tanpa menoleh ke Fikri.
“Sejak awal saya sudah tidak ingin dijodohkan dengannya,” jawab Nessa.
Fikri menoleh ke Nessa.
“Lalu mengapa sekarang kamu bersedih?” tanya Fikri.
“Saya sedih karena Mamah saya dan Ua saya tega menjodohkan saya dengan pria yang sudah beristri. Apakah perempuan yang seumur saya akan menjadi hina karena belum menikah? Sehingga mereka menjodohkan saya dengan pria yang telah memiliki istri,” jawab Nessa. Pandangannya terus saja ke depan menikmati kota Denpasar dari atas.
“Mereka pasti punya alasan tersendiri, menjodohkanmu dengan Boyke,” kata Fikri.
Nessa menoleh ke Fikri.
“Tapi istrinya sedang hamil, Pak. Saya lebih baik seumur hidup menjadi perawan tua, daripada harus menjadi pelakor,” kata Nessa.
“Belum tentu wanita itu adalah istrinya,” kata Fikri.
“Bagaimana mungkin wanita itu bukan istrinya? Dia sedang hamil,” kata Nessa.
“Come on, Nessa. Jangan naif! Belum tentu wanita hamil adalah istri sah seseorang. Bisa saja ia hanya istri siri, kekasih atau simpanan seseorang,” sahut Fikri.
“Saya tidak peduli dia istri siri, kekasih atau wanita simpanan Kang Boyke. Yang jelas saya tidak mau menjadi pelakor,” jawab Nessa.
__ADS_1
“Saya sudah sering merasakan kekasih saya direbut oleh pelakor. Rasanya sangat menyakitkan,” kata Nessa.