
Siang harinya Mrs. Lee datang. Ia membawa makan siang untuk Fikri dan Nessa.
“Kalian makan dulu. Biar Ibu yang menjaga Ayah,” kata Mrs. Lee.
“Kotak makannya ada di Nessa. Tadi Ibu berikan ke Nessa,” kata Mrs. Lee.
“Iya, Bu,” jawab Fikri.
Fikri keluar dari ruang ICU menghampiri Nessa yang sedang berada di ruang tunggu.
“Ayo kita makan dulu,” ajak Fikri.
Fikri dan Nessa menuju ke taman rumah sakit, mereka makan siang di taman rumah sakit. Mereka makan sambil memandangi pemandangan di sekitar rumah sakit.
“Nanti kita akan lebih sering ke Singapura,” kata Fikri.
Nessa menoleh ke Fikri sambil mengunyah makanannya.
“Tidak apa-apa kan kalau kita sering ke sini?” tanya Fikri sambil memandangi wajah Nessa.
“Tidak apa-apa. Namanya juga kerja, harus mau ditugaskan kemana saja,” jawab Nessa lalu menyuap kembali makanannya.
“Nanti kita akan sering membawa anak-anak kita ke sini untuk mengunjungi kakek dan neneknya,” kata Fikri.
Mendengar perkataan Fikri, Nessa langsung batuk-batuk.
“Kalau makan hati-hati. Jadi tersedak, kan,” Fikri memberi Nessa minum.
Nessa meminum minumannya sampai habis. Fikri mengusap-usap punggung Nessa.
“Bukan makanannya yang membuat saya tersedak, tapi perkataan Bapak membuat saya jadi tersedak,” kata Nessa.
“Loh memangnya kenapa?” tanya Fikri bingung.
“Bapak bicara seperti itu seolah-olah Bapak benar-benar akan menikah sama saya,” jawab Nessa.
“Memang saya akan menikah sama kamu, memangnya saya tidak boleh menikah sama kamu?” tanya Fikri.
“Tidak usah memberikan janji palsu. Kalau Bapak bertemu perempuan Indonesia yang cantik, Bapak pasti lupa sama saya. Pasti Bapak akan membuang saya begitu saja, seperti barang yang tidak berguna lagi,” kata Nessa.
“Kok kamu tidak percaya sama sekali dengan saya?” tanya Fikri.
“Bukannya saya tidak percaya sama Bapak, namun kelakuan Bapak sudah jelas seperti itu,” jawab Nessa.
“Sudah ah. Perkataan kamu membuat saya tidak nafsu makan,” Fikri meletakkan kotak makannya.
Nessa memandangi makanan Fikri yang masih banyak.
“Dimakan makanannya. Nanti Bapak cepat sakit kalau kurang makan,” kata Nessa.
“Tuduhan kamu bikin saya tidak nafsu makan,” jawab Fikri dengan wajah yang kesal. Fikri memalingkan wajah ke samping.
Nessa menghela nafas. Sebenarnya ia tidak asal menuduh, namun kenyataannnya kelakuan Fikri memang seperti itu. Tapi agar Fikri tidak marah Nessa terpaksa meminta maaf.
“Saya minta maaf. Sudah menuduh Bapak yang bukan-bukan,” ucap Nessa.
“Sekarang Bapak makan, ya,” bujuk Nessa.
Fikri menoleh ke Nessa.
__ADS_1
“Tapi disuapi sama kamu,” jawab Fikri.
“Malu dilihat orang,” bisik Nessa sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Di taman itu banyak orang yang sedang duduk-duduk sambil bercengkrama atau hanya sekedar bercakap-cakap biasa.
“Ya sudah, saya tidak mau makan,” Fikri memalingkan wajahnya lagi.
Nessa menghela nafas. Kelakuan bosnya persis seperti anak kecil yang sedang marah harus dibujuk dulu.
“Ya sudah, saya suapi,” Nessa mengambil kotak makan Fikri.
Fikri langsung menoleh ke Nessa.
“A,” Fikri membuka mulutnya. Nessa menyuapi Fikri, lalu Fikri mengunyah makanannya.
“A lagi,” kata Fikri setelah makanan di mulutnya habis.
“Haduh, ini anak manja Mamah dan Ibu,” kata Nessa sambil menyuapi Fikri.
Fikri mengunyah makanannya.
“Di Bandung jadi anak manja Mamah. Di Singapura jadi anak manja Ibu,” kata Nessa.
“Iya, dong. Siapa dulu, Fikri,” jawab Fikri sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
“Halah, jadi anak manja kok bangga,” gerutu Nessa.
“A lagi, nih. Biar cepat habis. Saya masih banyak pekerjaan,” kata Nessa sambil mendekatkan sendok ke mulut Fikri.
Fikri membuka mulutnya lalu Nessa menyuapinya.
Setelah selesai makan mereka kembali ke ruangan Mr. Lee. Nessa tidak masuk ke dalam, seperti biasa ia menunggu di ruang tunggu. Fikri masuk ke ruangan Mr. Lee, didalam ruangan ada seorang laki-laki muda berpakaian rapih. Sepertinya ia pegawai kantor Mr. Lee. Sedangkan Mr. Lee sedang membaca dokumen. Fikri mendekati Mr. Lee.
Mr. Lee menoleh ke Fikri.
“Fikri, kenalkan ini Hassan. Dia asisten Ayah,” kata Mr. Lee.
“Apa kabar, Tuan? Senang berkenalan dengan anda.” Hassan membungkukkan badannya memberi salam kepada Fikri. Fikri membalas dengan anggukan kepala.
“Fikri akan menggantikan saya. Dia lah ahli waris saya satu-satunya. Kamu bantu dia, ya!” kata Mr. Lee.
“Baik, Tuan,” jawab Hassan.
Mr. Lee menanda tangani dokumen yang telah ia baca lalu diberikan kepada Hassan.
“Saya pamit dulu, Tuan,” pamit Hassan.
“Hmm,” Mr. Lee mengangguk.
“Saya pamit, Nyonya Lee Tuan Fikri,” ucap Hassan sambil membungkukkan
“Iya,” jawab Fikri.
Hassan pergi meninggalkan ruangan Mr. Lee.
“Tadi kata dokter besok Ayah sudah bisa dipindahkan ke kamar inap biasa,” kata Mrs. Lee.
“Syukurlah,” ucap Fikri.
“Fikri, kamu pulang saja ke rumah. Biar Ibu yang menunggu Ayah. Kamu pasti cape sekali,” kata Mrs. Lee.
__ADS_1
“Ibu saja yang pulang bersama Nessa. Biar Fikri yang menjaga Ayah,” ujar Fikri.
“Biar Ibu saja yang menunggu Ayah. Ayahmu sudah tidak apa-apa. Tinggal pemulihan saja,” kata Mrs. Lee.
“Ajak Nessa jalan-jalan. Kasihan ia selama di Singapura, ia tidak pernah jalan-jalan,” kata Mrs. Lee.
“Baiklah, Bu. Besok Fikri kembali lagi ke sini,” ujar Fikri.
Fikri mencium punggung tangan orang tuanya.
“Fikri pulang ya, Bu Yah,” pamit Fikri.
“Iya,” jawab Mr. Lee dan Mrs. Lee.
Fikri keluar dari ruang ICU lalu menghampiri Nessa yang sudah bersiap-siap membuka laptopnya.
“Simpan lagi laptopnya. Kita pulang ke rumah sekarang,” kata Fikri.
“Loh kok pulang?” tanya Nessa.
“Kasihan Ibu menunggui Ayah sendirian,” kata Nessa.
“Ibu mau menunggu Ayah. Sudah biarkan saja. Mungkin Ibu kangen sama Ayah. Nanti juga kalau kita sudah tua merasakan hal yang sama,” jawab Fikri.
Nessa memasukkan laptopnya ke dalam tas. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit.
“Kita jalan-jalan dulu. Kamu mau kemana?” tanya Fikri.
“Tadi pagi saya sudah jalan-jalan. Waktu ke rumah sakit jalannya muter, jadi bisa melihat-lihat kota Singapura di pagi hari,” jawab Nessa.
“Itukan cuma terlihat selintas. Sekarang kita kita lihat dari dekat,” ujar Fikri.
“Kamu mau kemana?” tanya Fikri.
“Saya mau beli oleh-oleh saja untuk Mamah,” jawab Nessa.
“Oke, kita cari oleh-oleh untuk Mamah kamu,” kata Fikri.
Ketika mereka sampai di lobby rumah sakit, mobil Mr. Lee sudah berada di depan lobby. Sepertinya Mrs. Lee sudah menelepon Pak Sam untuk siap-siap di depan lobby rumah sakit. Fikri membukakan pintu belakang untuk Nessa. Setelah Nessa masuk ke dalam mobil, Fikri masuk ke dalam mobil melalui pintu sebelah. Mobil pun jalan meninggalkan rumah sakit
“Kamu mau beli apa untuk Mamah kamu?” tanya Fikri.
“Apa, ya?” tanya Nessa sambil berpikir.
“Kalau makanan takut tidak tahan lama,” kata Nessa.
“Bagaimana kalau beli parfume atau tas atau sepatu atau baju atau apa saja yang disukai oleh wanita?” tanya Fikri.
“Barang seperti itu di mall Jakarta juga banyak,” jawab Nessa.
“Iya, tapikan ini beda. Belinya di Singapura,” kata Fikri.
“Ya sudah, beli parfume saja,” jawab Nessa.
“Pak. ke The Shoppes at Marina Bay Sands,” kata Fikri kepada Pak Sam.
“Baik, Tuan,” jawab Pak Sam.
“Jangan ke tempat yang mahal-mahal, Pak!” kata Nessa.
__ADS_1
“Kamu pasti suka ke sana. Kita bisa belanja sambil berekreasi,” jawab Fikri.