Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
28. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Di depan ruang ICU sudah ada Pak Sam dan Bibi yang sedang menunggu Mr Lee.


“Bagaimana keadaan Ayah sekarang?” tanya Fikri.


“Masih belum sadar,” jawab Pak Sam.


Fikri dan Nessa masuk ke dalam ruang ICU. Mrs Lee sedang duduk di sebelah tempat tidur suaminya sambil mengusap-usap tangan suaminya. Fikri mendekati Mrs Lee dan mengusap punggung Mrs Lee. Mrs Lee menoleh ke samping.


“Fikri,” Mrs. Lee langsung bangun dari tempat duduk dan memeluk Fikri.


“Ayahmu masih belum sadar. Ibu takut ia akan meninggalkan kita,” Mrs. Lee menangis dipelukan Fikri.


“Ibu sabar, ya,” kata Fikri sambil mengusap-usap punggung Mrs. Lee.


Mes. Lee melepaskan pelukannya dan memandang ke Nessa yang berdiri di belakang Fikri. Nessa menghampiri Mrs. Lee lalu menyalami Mrs. Lee.


“Terima kasih, sudah mau menemani Fikri,” ucap Mrs. Lee.


“Sama-sama Mrs. Lee. Memang sudah tugas saya menemani Fikri,” jawab Nessa.


Fikri menghampiri Mr. Lee yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Wajah Mr. Lee tidur dengan tenang. Di hidungnya menepel selang oksigen. Di tangannya menempel selang infus. Sedangkan di ibu jari sebelah kiri menempel alat untuk dihubungkan ke monitor kinerja organ tubuh. Fikri mencium punggung tangan Mr. Lee.


“Ayah, Fikri datang Ayah,” kata Fikri sambil mengusap telapak tangan Mr. Lee.


Airmata mengenang di mata Fikri.


“Bangun, Ayah. Anakmu yang nakal sudah pulang,” kata Fikri sambil menangis.


“Maafkan Fikri yang tidak bisa menemani Ayah dan Ibu,” Fikri pun menangis.


Tiba-tiba Mr. Lee siuman, ia membuka matanya. Ia melihat Fikri yang sedang menangis sambil memegang tangannya.


“Fikri,” terdengar suara Mr. Lee memanggilnya.


Fikri mendongkakan kepalanya. Ia melihat Mr. Lee membuka matanya.


“Alhamdullilah. Ayah sudah bangun,” ucap Fikri dengan bahagia.


“Ibu, Ayah sudah bangun,” Fikri memanggil Mrs. Lee yang sedang duduk di sofa bersama Nessa.


“Fikri mau panggil dokter jaga,” Fikri langsung keluar dari kamar.


Tak lama kemudian seorang dokter jaga dan suster datang untuk memeriksa Mr. Lee.


“Kami hendak memeriksa Mr. Lee. Satu orang saja yang berada di ruangan ini. Yang lain keluar,” kata dokter jaga.


Fikri dan Nessa keluar dari ruang ICU. Dan membiarkan Mrs. Lee yang berada di dalam. Seperempat jam kemudian dokter jaga dan suster keluar dari kamar. Fikri menghampiri dokter jaga.


“Bagaimana dengan keadaan Ayah saya?” tanya Fikri.


“Keadaanya sudah membaik. Biarkan ia istirahat,” jawab dokter.


“Teima kasih, Dok,” ucap Fikri.


Setelah dokter dan suster pergi Fikri dan Nessa masuk ke dalam kamar Mr. Lee.


“Bu, Ibu pulang saja dengan Nessa. Biar Fikri yang menemani Ayah,” kata Fikri.


“Ibu ingin di sini menemani Ayahmu,” kata Mrs. Lee.


“Jangan, Bu. Nanti Ibu kelelahan. Ibu tidak akan tidur dengan nyenyak,” bujuk Fikri.


“Baiklah. Ibu pulang dulu. Ibu titip Ayah, ya,” kata Mrs. Lee.

__ADS_1


“Iya, Bu,” jawab Fikri.


“Nessa, titip Ibu saya. Kalau ada apa-apa telepon saya!” kata Fikri.


“Baik, Pak,” jawab Nessa.


“William, aku pulang dulu,” pamit Mrs. Lee kepada suaminya.


“Iya,” jawab Mr. Lee dengan lemah. Nessa memapah Mrs. Lee meninggalkan kamar rawat inap.


Fikri membetulkan selimut Ayahnya.


“Ayah membutuhkan sesuatu?” tanya Fikri.


“Tidak. Kamu istirahat saja. Kamu pasti cape setelah menempuh perjalanan jauh,” jawab Mr. Lee.


Fikri menuju ke sofa. Ia merubah sofa menjadi tempat tidur, sehingga bisa istirahat dengan tenang.


Pagi-pagi sekali Fikri bangun untuk sholat subuh. Namun sebelum ia ke kamar mandi, ia mengecek dulu keadaan ayahnya. Setelah mengetahui keadaan ayahnya baik-baik saja, Fikri masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.


Fikri baru saja menyelesaikan sholat, Mr. Lee memanggilnya, “Fikri.”


Fikri langsung bangun menghampiri ayahnya.


“Ayah mau apa?” tanya Fikri.


“Ayah mau minum,” jawab Mr. Lee.


Fikri menaikkan tempat tidur bagian kepala agar ayahnya bisa minum.


“Pusing tidak, Yah?” tanya Fikri.


“Tidak,” jawab Mr. Lee.


“Sudah,” kata Mr. Lee setelah selesai minum.


Fikri menyimpan kembali gelas ke atas nakas.


“Ayah mau tidur lagi?” tanya Fikri.


“Iya,” jawab Mr. Lee.


Fikri menurunkan kembali ke posisi semula.


“Kamu sedang apa?” tanya Mr. Lee.


“Fikri baru selesai sholat,” jawab Fikri.


“Ayah mau ke kamar mandi?” tanya Fikri.


“Tidak. Ayah mau tidur lagi,” jawab Mr. Lee.


Fikri membetulkan selimut Mr. Lee. Setelah Mr. Lee tidur, Fikri kembali ke tempat tidurnya karena badannya masih terasa cape.


Pukul setengah delapan Nessa datang ke rumah sakit membawa baju ganti untuk Fikri dan sarapan untuk Fikri.


“Selamat pagi,” ucap Nessa ketika masuik ke dalam kamar Mr. Lee


“Selamat pagi, Nessa,” jawab Fikri.


Fikri sedang menyuapi Mr. Lee. Nessa menyimpan tas yang ia bawa di atas meja sofa.


“Bisa menyuapinya?” tanya Nessa sambil memperhatikan cara Fikri menyuapi ayahnya.

__ADS_1


“Bisa,” jawab Fikri.


Fikri terlihat kaku ketika sedang menyuapi ayahnya.


“Biar saya yang menyuapi Mr. Lee. Bapak mandi dulu, lalu sarapan,” kata Nessa.


Fikri memberikan piring berisi bubur kepada Nessa. Lalu ia membawa baju ke kamar mandi. Seperempat jam kemudian Fikri selesai mandi. Ia duduk di sofa dan membuka kotak makan yang dibawa oleh Nessa. Sedangkan Nessa baru selesai menyuapi Mr. Lee.


“Pak, ini obat punya Mr. Lee?” tanya Nessa menunjuk ke obat yang berada di atas nakas.


Fikri mendekati nakas dan melihat obat yang ditunjuk oleh Nessa.


“Iya. Tadi suster yang memberi obatnya,” jawab Fikri.


Fikri kembali ke sofa dan mulai makan sarapannya. Ia menyuap sesendok nasi goreng dan menikmati rasanya. Fikri mengerutkan keningnya ketika merasakan rasa nasi goreng yang Nessa bawa.


“Nes, ini siapa yang masak?” tanya Fikri.


“Saya, Pak,” jawab Nessa.


“Kenapa? Tidak enak, ya?” tanya Nessa sambil memberikan obat ke Mr. Lee.


“Enak. Rasanya beda dengan masakan Bibi,” jawab Fikri.


“Kasihan Bibi kecapean. Semalaman menunggu di rumah sakit. Jadi saya yang masak sarapan,” kata Nessa.


“Kamu pintar masak juga, ya,” puji Fikri.


“Biasa saja. Yang penting masakan saya layak untuk dimakan,” kata Nessa merendah.


“Akhirnya saya bisa mencoba masakan kamu,” kata Fikri. Fikri melanjutkan makannya.


“Fikri sarapan dengan apa?” tanya Mr. Lee kepada Nessa.


“Dengan nasi goreng, Mister. Masakan yang paling gampang dan nggak ribet,” jawab Nessa.


“Saya mau coba,” kata Mr. Lee.


“Jangan, Mister. Mr. Lee belum boleh makan yang keras-keras dan yang pedas-pedas. Mr. Lee harus makan yang lembek dulu. Nanti kalau sudah sembuh akan saya buatkan nasi goreng khusus untuk Mr. Lee,” kata Nessa.


“Saya tidak dibuatkan?” tanya Fikri yang mendengarkan percakapan Nessa dan Mr. Lee.


“Iya, nanti saya buatkan juga untuk Bapak,” jawab Nessa.


“Panggil saya Ayah dan panggil istri saya Ibu. Biar sama seperti Fikri,” kata Mr. Lee.


“Baik, Ayah,” jawab Nessa.


Setelah selesai memberi obat, Nessa menunggu di luar kamar, karena di ruang ICU hanya boleh ditunggu oleh satu orang saja.


“Pak, saya tunggu diluar. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan,” kata Nessa.


“Kamu kalau mau jalan-jalan pergi saja. Suruh Pak Sam mengantar kamu,” kata Fikri.


“Tidak, Pak. Sekarangkan hari kerja. Jadi saya juga harus bekerja,” jawab Nessa.


“Singapura jauh dari kantor. Tidak ada yang tau kalau kamu di sini cuma jalan-jalan,” kata Fikri.


“Tidak ah, Pak. Nanti perkerjaan saya malah tambah numpuk. Lebih baik saya kerjakan sedikit demi sedikit,” kata Nessa.


Nessa membawa laptopnya keluar dari ruang rawat ICU.


“Sekretaris kamu rajin,” puji Mr. Lee.

__ADS_1


“iya. Rajin dan galak,” kata Fikri.


__ADS_2