Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
9. Mr and Mrs Lee


__ADS_3

“Siapa dia?” tanya Fikri sambil melihat ke belakang melalui rear-view mirror.


“Pacar kamu, ya?” tanya Fikri.


“Bukan. Dia orang tidak penting,” jawab Nessa sambil memasang sabuk pengaman.


“Kelihatannya dia kecewa melihat kamu pergi,” kata Fikri.


“Biarkan saja, Pak. Lagipula siapa yang mau ketemu sama dia,” jawab Nessa.


Fikri mengendarai mobilnya menembus keramaian lalu lintas di malam hari. Fikri membelokkan mobilnya ke sebuah hotel mewah di kota Bandung. Ia tidak menghentikan mobilnya ke lobby namun langsung ke tempat parkir yang berada di basement. Dari basement mereka menaiki liff menuju ke lantai sepuluh hotel itu. Mereka menuju ke restaurant Chinese yang berada di hotel itu. Mereka masuk ke dalam restaurant itu.


Fikri menghampiri sepasang pria dan wanita yang sudah paruh lanjut usia. Pria dan wanita itu tersenyum sumeringah ketika melihat Fikri datang. Mereka langsung berdiri dan menyambut kedatangan Fikri. Fikri menyalami tangan pria lanjut usia itu. Pria itu memeluk Fikri dan menepuk-nepuk punggung Fikri.


“Bagaimana keadaanmu, Fikri?” tanya pria itu dengan bahasa Indonesia yang lancar.


“Alhamdullilah saya dalam keadaan baik, Mr Lee,” jawab Fikri.


Lalu Fikri menyalami wanita lanjut usia di sebelah Mr Lee. Wanita itu langsung memeluk Fikri.


“Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya wanita itu sambil mengusap-usap punggung Fikri.


“Alhamdullilah saya dalam keadaan baik, Mrs Lee,” jawab Fikri.


Wanita itu melepaskan pelukannya.


“Apakah kamu makan dengan baik? Badanmu terlihat agak kurusan,” tanya wanita itu.


“Tentu saja saya makan dengan baik. Ini bukan kurus, tapi proposional. Kalau saya agak gendut nanti tidak ada perempuan yang mau dengan saya,” jawab Fikri dengan bergurau.


“Ah kamu, selalu saja perempuan menjadi nomor satu,” kata Mrs Lee.


“Tentu saja, Mrs Lee. Tanpa perempuan hidup tidak akan indah,” jawab Fikri.


Nessa hanya diam sambil memperhatikan mereka.


“Itu siapa?” tanya Mrs Lee menunjuk ke Nessa.


“Oh, saya lupa memperkenalkan. Ini Nessa sekretaris saya,” kata Fikri.


Nessa menyalami Mrs Lee dan Mr Lee.


“Sekretaris? Sejak kapan kamu suka membawa sekretarismu? Biasanya yang kamu bawa perempuan perempuanmu,” tanya Mrs Lee.


“Semenjak dia menjadi sekretaris saya, kemanapun saya pergi dia harus ikut. Kalau tidak ia akan dipecat oleh Papah dan namaku dicoret dari daftar ahli waris Papah,” jawab Fikri.


“Papahmu masih saja memperlakukanmu dengan keras. Lebih baik kau pindah ke Singapura dan menjadi anak kami,” kata Mrs Lee.


“Nanti Mamah menangis kalau saya pergi meninggalkan Mamah,” jawab Fikri.


“Kami juga kesepian tanpa kamu, Fikri,” kata Mrs Lee dengan sedih.

__ADS_1


“Tenang Mrs Lee, saya akan sering datang berkunjung ke Singapura,” kata Fikri.


“Sungguh? Kami akan tunggu kedatanganmu,” kata Mrs Lee.


“Sudah kangen-kangenannya. Sekarang kita makan, perutku sudah lapar,” kata Mr Lee.


Merekapun duduk dan mulai memesan makan malam. Sambil menunggu makan datang, mereka pun bercakap cakap. Percakapan mereka bukan soal bisnis, namun lebih seperti percakapan keluarga. Mereka terlihat seperti keluarga.


“Fikri itu sudah kami anggap seperti anak kami,” kata Mrs Lee ketika Fikri sedang berbincang-bincang serius dengan Mrs Lee.


“Kami sudah tidak memiliki anak. Anak kami satu-satunya meninggal karena kecelakaan,” kata Mrs Lee.


Nessa hanya diam mendengar perkataan Mrs Lee.


“Kami memiliki keponakan banyak, namun tak satu pun keponakan kami berbuat baik kepada kami. Mereka hanya menginginkan harta kami,” kata Mrs Lee.


“Hingga sewaktu kami membangun hotel di Bali, di situlah kami bertemu Fikri. Seorang pemuda yang bersikap sangat santun kepada orang yang lebih tua. Ia juga seorang pekerja keras. Walaupun ia memiliki orang tua yang kaya, tapi dia tidak terlena dengan harta yang dimiliki oleh orang tuanya,” kata Mrs Lee.


Oh, ya? Masa, sih? Kok selama ini ia tidak kelihatan seperti itu? Tanya Nessa di dalam hati.


Nessa menoleh ke Fikri, ia terlihat sedang berbicara serius dengan Mr Lee.


“Semenjak itulah kami menganggap Fikri sebagai anak kami,” kata Mrs Lee.


“Kami pernah mengajak Fikri untuk ikut kami pindah ke Singapura, namun ia tidak mau. Katanya nanti Mamah akan menangis kalau ia tinggal di Singapura,” kata Mrs Lee.


“Anak itu sangat sayang pada Mamahnya. Saya merasa iri, saya ingin juga diperlakukan demikian,” kata Mrs Lee dengan sedih.


“Tenang saja Mrs Lee, nanti saya akan ingatkan Pak Fikri untuk sering berkunjung ke Singapura,” kata Nessa.


“Benarkah? Terima kasih, Nessa. Kamu mau mengingatkan anak kesayangan kami untuk mengunjungi kami,” kata Mrs Lee.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang.


“Sekarang kita makan. Perutku sudah keroncongan dari tadi,” kata Mr Lee.


“Ayo, silahkan makan,” kata Mrs Lee mempersilahkan Fikri dan Nessa makan.


Nessa tidak merasa ragu untuk mengambil makanan itu. Karena tadi ia melihat label halal di depan restaurant. Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan mereka melanjutkan perbincangan mereka. Cukup lama  uga mereka berbincang-bincang. Layaknya seperti orang tua yang melepas rindu pada anaknya.


Hingga waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sudah waktunya mereka pulang. Mrs Lee juga sudah terlihat letih.


“Jangan lupa sering-sering mengunjungi kami,” kata Mrs Lee ketika Fikri pamit untuk pulang.


“Tentu saja Mrs Lee,” jawab Fikri.


“Jangan lupa ajak Nessa. Nanti dia dipecat oleh Papahmu kalau dia tidak ikut denganmu ke Singapura,” kata Mrs Lee.


“Kalau dia masih menjadi sekretaris saya, tentu saja akan saya bawa,” jawab Fikri.


Lalu Mrs Lee memeluk Fikri.

__ADS_1


“Kami akan sangat merindukanmu,” kata Mrs Lee.


“Saya juga akan merindukan anda, Mrs Lee,” jawab Fikri.


“Jaga dirimu baik-baik,” kata Mrs Lee sambil mengusap punggung Fikri.


“Tentu saja, Mrs Lee,” jawab Fikri.


Kemudian Mrs Lee memeluk Nessa.


“Nessa, tolong jaga anak kami,” kata Mrs Lee.


“Baik, Mrs Lee,” jawab Nessa.


Kemudian Fikri menyalami Mr Lee. Mr Lee memeluk Fikri.


“Baik-baik kamu di sini. Kalau ada kesulitan telepon saya,” kata Mr Lee.


“Baik, Mr Lee,” jawab Fikri.


Nessa pun menyalami Mr Lee.


“Kalau Fikri berbuat nakal, beritahu saya,” kata Mr Lee.


“Baik, Mr Lee,” jawab Nessa.


Mereka pun bersama-sama pergi meninggalkan restaurant. Mereka berpisah ketika di dalam liff. Mr Lee dan Mrs Lee keluar di lantai tujuh sedangkan Fikri dan Nessa menuju ke lantai basement. Di dalam liff tak sengaja Nessa melihat Fikri mengelap ait matanya. Mungkin ia merasa terharu ketika harus berpisah dengan Mr dan Mrs Lee. Nessa melihat Fikri bersikap dan berbicara santun kepada Mr dan Mrs Lee seperti seorang anak yang patuh kepada orang tuanya.


“Terima kasih sudah mau menemani saya malam ini,” ucap Fikri ketika di dalam mobil.


“Sama-sama, Pak,” jawab Nessa.


“Memang ini bukan pertemuan bisnis. Karena mereka sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri,” kata Fikri.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti,” jawab Nessa.


“Sengaja saya membawa kamu, karena ke depannya saya akan sering mundar-mandir ke Bali dan Singapura. Mr Lee ingin saya untuk mengambil alih perusahaannya. Namun saya menolaknya, karena saya tidak mungkin menghandel banyak perusahaan. Saya hanya bisa membantu dengan memantau saja,” kata Fikri.


“Sungguh malang nasib Mr dan Mrs Lee. Sudah anaknya meninggal, kerabatnya tidak ada yang bisa dipercaya,” kata Nessa.


“Kok, kamu tau?” tanya Fikri.


“Tadi Mrs Lee yang bercerita kepada saya,” jawab Nessa.


“Semuanya menjadi dilema untuk saya. Di satu sisi saya ingin membantu mereka. Namun di sisi lain saya juga tidak bisa mengacuhkan kedua orang tua saya,” kata Fikri.


“Bantulah Mr dan Mrs Lee semampu Bapak. Karena kewajiban Pak Fikri adalah berbakti pada orang tua Pak Fikri. Bagaimanapun juga orang tua menjadi nomor satu dibandingkan orang lain,” kata Nessa.


“Itulah yang saya pikirkan,” kata Fikri.


Kemudian Fikri pun melajukan mobilnya meninggalkan basement hotel.

__ADS_1


__ADS_2