
Seminggu sudah Fikri dan Nessa berada di Singapura. Selama mereka berada di Singapura, mereka tidak pernah jalan-jalan keluar untuk sekedar makan di luar ataupun shopping. Setiap hari mereka hanya menghabiskan waktu berada di dalam rumah. Fikri tidak ingin meninggalkan `orang tua angkatnya seddirian. Baginya selama ia berada di Singapura, ia ingin menghabiskan waktu bersama orang tua angkatnya.
Fikri menyuruh Nessa untuk berjalan-jalan keliling kota Singapura. Namun Nessa tidak berani jalan sendiri. Ia takut kesasar di negara orang.
Setelah kesehatan Mr. Lee dirasakan sudah membaik Fikri dan Nessa kembali ke Indonesia. Karena banyak pekerjaan yang mereka tinggalkan.
Mr. Lee dan Mrs. Lee melepas kepergian Fikri dengan sedih. Mereka ingin Fikri tetap di Singapura tinggal bersama dengan mereka.
“Ayah dan Ibu ikut Fikri ke Bandung, ya. Ayah dan Ibu bisa tinggal di apartment Fikri,” kata Fikri ketika hendak pamit pulang.
“Tidak, kami tetap di sini. Menunggumu di rumah ini,” kata Mr. Lee.
“Kau akan pulang ke rumah ini, kan?” tanya Mrs. Lee dengan sedih.
“Tentu saja. Fikri akan pulang ke rumah ini,” jawab Fikri.
Fikri mencium punggung tangan orang tua angkatnya satu-persatu. Lalu dipeluknya orang tua angkatnya.
“Fikri pergi dulu,” pamit Fikri.
Dengan perasaan sedih Ricky masuk ke dalam mobil. Ricky melambaikan tangannya kepada orang tua angkatnya hingga tidak terlihat lagi. Mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan rumah Mr. Lee.
Fikri menghapus air matanya. Nessa memperhatikan bossnya.
Dia bisa sedih juga, kata Nessa di dalam hati.
Akhirnya mereka sampai di airport Changi. Sebelum Fikri masuk ke dalam airport Fikri menitip pesan kepada supir Mr. Lee.
“Pak Sam, saya titip ayah dan ibu saya. Kalau ada apa-apa, telepon saya. Ini kartu nama saya,” Fikri memberikan kartu nama kepada Pak Sam.
“Baik, Tuan,” jawab Pak Sam.
“Saya pergi dulu,” Fikri dan Nessa masuk ke dalam tempat keberangkatan.
Ketika mereka hendak menuju boarding pass, tiba-tiba ada orang yang memanggil Nessa.
“Nessa.”
Fikri dan Nessa langsung menengok ke arah suara. Seorang pria yang mereka kenal mendekati mereka.
“Pak Doni?” tanya Nessa.
“Hai, tidak disangka saya bertemu kalian di sini,” kata Doni.
“Pak Doni sama siapa?” tanya Nessa.
“Sendiri,” jawab Doni.
“Pak Doni sedang apa di sini?” tanya Nessa.
“Biasalah sedang ada bisnis,” jawab Doni.
“Kalian ke sini sedang apa?” tanya Doni.
“Kamiiii,” Nessa belum selesai langsung dipotong oleh Fikri.
__ADS_1
“Kami sedang ada bisnis yang harus diurus,” jawab Fikri.
Merekapun bersama-sama menuju boarding pass.
“Pak Fikri, boleh tidak saya tukaran tempat. Saya duduk bersama Nessa. Kami mau berbincang-bincang,” kata Doni sebelum boarding pass.
“Tidak bisa! Selama sedang bekerja Nessa adalah tanggung jawab saya. Jadi dia harus duduk di sebelah saya,” kata Fikri.
“Lagipula kami di business class,” lanjut Fikri.
“Saya juga di business class,” kata Doni.
Saat ini mereka sudah berada di boarding pass. Mereka terpisah karena mengurus boarding pass. Nessa yang mengurus boarding pass Fikri.
“Kamu janjian sama dia?” tanya Fikri ketika Nessa sedang mengurus boarding pass.
“Tidak, Pak,” jawab Nessa.
“Kok dia bisa berada di Singapura?” tanya Fikri.
“Saya tidak tau, Pak. Saya baru bertemu dengan Pak Doni,” jawab Nessa.
“Kamu mau duduk di sebelah dia?” tanya Fikri.
“Heh?” Nessa bingung dengan pertanyaan Fikri.
“Kamu mau duduk di sebelah dia?” tanya Fikri sekali lagi.
“Tidak, Pak. Saya duduk di sebelah Bapak saja,” jawab Nessa.
Ternyata Doni duduk di sebelah kiri Nessa. Mereka terhalang oleh jalan. Sedangkan Fikri duduk di sebelah kanan Nessa.
Kok, bisa begini? tanya Nessa di dalam hati.
Selama di perjalanan Doni mengajak Nessa berbicara. Sedangkan Fikri lebih banyak diam sambil menutup matanya. Terlihat wajah Fikri tidak ramah. Ia sepertinya tidak suka Doni mengajak Nessa berbicara. Nessa jadi merasa serba salah. Kalau ia tidak menanggapi pembicaraan Doni, nanti dia dianggap sombong. Tapi kalau menanggapi pembicaraan Doni, wajah Fikri tidak sedap dipandang mata. Bagaimanapun juga Nessa harus menghargai bosnya.
Untung perjalanan Singapura-Jakarta tidak harus transit terlebih dahulu sehingga lama perjalanan hanya ditempuh dua jam. Ketika sampai di Bandara Soekarno-Hatta mereka berpisah dengan Doni. Doni pulang dengan menggunakan mobil sendiri. Ia dijemput oleh supir. Fikri dan Nessa juga dijemput oleh supir Fikri Pak Eno.
Setelah berpisah dengan Doni wajah Fikri masih saja belum berubah masih tetap tidak sedap di pandang mata.
“Pak, mampir ke restaurant, ya. Kita makan siang dulu,” kata Fikri ketika di dalam mobil.
“Ke restaurant mana, Pak?” tanya Pak Eno.
Fikri menoleh ke Nessa.
“Kamu mau makan siang dimana?” tanya Fikri kepada Nessa.
“Terserah Bapak,” jawab Nessa.
“Kita ke mall saja, Pak,” kata Fikri.
“Baik, Pak,” jawab Pak Eno.
Pak Eno menyetir mobil menuju ke mall Pasific Place. Ia menghentikan mobil di depan lobby mall. Nessa dan Fikri turun dari mobil. Namun ketika mereka hendak masuk ke dalam mall, Nessa melihat mamahnya sedang berdiri di depan pintu mall.
__ADS_1
“Mamah?” Nessa memanggil Mamahnya.
Mamah Ika menoleh.
“Nessa?” Mamah Ika tidak percaya siapa yang ia lihat.
Nessa langsung memeluk Mamahnya la;u mencium punggung tangan Mamahnya.
“Kamu kok bisa ada di sini?” tanya Mamah Ika bingung.
“Nessa baru pulang dari Singapura sama bos Nessa,” jawab Nessa.
“Oh ya, Mah. Kenalin ini Bos Nessa. Namanya Pak Fikri,” Nessa memperkenalkan Mamah kepada Fikri.
“Hallo, Tante. Saya Fikri,” Fikri menyalami Mamah Ika.
“Saya, Mamahnya Nessa,” kata Mamah Ika.
Mamah terpukau melihat wajah Fikri yang tampan.
“Ini bosmu? Ganteng banget, udah gitu masih muda,” bisik Mamah Ika.
“Mamah ah, malu-maluin aja,” bisik Nessa.
“Kamu dari Singapura bawa oleh-oleh nggak untuk Mamah?” tanya Mamah Ika.
“Nessa tidak bawa oleh-oleh, Nessa kan ke sana menemani bos bukan mau jalan-jalan,” kata Nessa.
“Iya, juga ya,” kata Mamah Ika.
“Mamah di sini lagi apa?” tanya Nessa.
“Lagi menunggu Papah parkir mobil. Nunggunya di sini aja biar gampang mencari. Kalau di dalam susah mencarinya,” kata Mamah Ika.
Nessa hendak masuk ke dalam mall. Namun ia bingung, ia tidak tega meninggalkan Mamahnya sendiri. Namun ia juga harus menemani Fikri makan. Tiba-tiba ia melihat Papahnya datang. Akhirnya Nessa bernafas lega.
“Nah, itu Papah datang,” Nessa menunjuk ke Papah yang sedang berjalan hendak menghampiri Mamah.
“Papah,” Nessa menghampiri Papahnya dan langsung mencium tangan Papahnya.
“Loh, kok ada Nessa di sini?” tanya Papahnya bingung.
“Dia baru pulang dari Singapura sama bosnya,” jawab Mamah Ika.
“Pah, kenalkan ini Pak Fikri bos Nessa,” kata Nessa.
Fikri menyalami Papah Dodi.
“Saya Fikri, Om. Atasan Nessa,” kata Fikri.
“Saya Papahnya Nessa,” kata Papah Dodi.
“Kalian ke sini mau apa?” tanya Papah.
“Kami mau makan siang di sini, Om,” jawab Fikri.
__ADS_1
“Kebetulan Om dan Tante juga mau makan siang di sini. Ayo kita makan siang bareng, ” kata Papah.