
Sore harinya Nessa pamit pulang kepada orang tua Fikri. Fikri mengantar Nessa pulang. Selama di perjalanan Nessa memperhatikan Fikri yang sedang menyetir dengan tenang. Di luar jalanan nampak basah karena hujan baru saja berhenti.
“Kenapa? Kamu terpukau dengan ketampanan kekasihmu, ya?” tanya Fikri sambil fokus menyetir.
“Iiihhhh ge-er,” jawab Nessa.
“Buktinya kamu dari tadi memperhatikan saya terus,” kata Fikri lalu menoleh sebentar ke Nessa sambil tersenyum.
“Saya masih bingung sama Bapak. Bapak kenapa tiba-tiba mau jadi pacar saya?” tanya Nessa.
“Kemarin sewaktu di kantor Bapak masih biasa-biasa saja,” kata Nessa.
“Ya sudah, mulai besok kita pacaran di kantor,” kata Fikri.
“Bukan begitu maksud saya,” sahut Nessa.
“Terus kamu maunya bagaimana?” tanya Fikri.
“Bapak jawab dulu pertanyaan saya,” kata Nessa.
“Pertanyaan yang mana, ya?” tanya Fikri.
Mendengar pertanyaan Fikri, Nessa langsung menghela nafas.
Masih muda kok pelupa, kata Nessa di dalam hati.
Nessa mengalihkan pandangannya menuju ke jendela. Ia kesal kepada Fikri yang tidak menjawab pertanyaannya.
Fikri menoleh ke Nessa. Perempuan itu sedang memperhatikan pemandangan di luar.
Fikri menghentikan mobilnya di depan sebuah taman kota. Taman itu nampak sepi. Fikri mematikan mesin mobilnya dan membuka sedikit kaca jendelanya. Ia membiarkan udara segar setelah turun hujan, masuk ke dalam mobil.
“Kenapa berhenti?” tanya Nessa.
“Tadikan kamu bertanya, sekarang saya akan menjawab pertanyaan kamu,” kata Fikri.
“Kalau sulit untuk menjawab, tidak usah dijawab saja,” kata Nessa sambil memalingkan wajahnya ke jendela.
“Kamu kenapa, sih? Kok seperti marah sekali sama saya?” tanya Fikri.
“Karena Bapak bersikap aneh. Nggak ada hujan dan nggak ada angin tiba-tiba mau jadi pacar saya. Nggak jelas, sangat membingungkan,” jawab Nessa.
Fikri menghela nafas.
“Saya tidak suka melihat kamu sedang berduaan dengan laki-laki lain. Ketika saya melihat kamu sedang berduaan dengan kerabat kamu, saya kesal melihatnya. Makanya saya mengganggu kamu. Dan ketika melihat kamu sedang berkumpul dengan teman –teman kamu, saya juga tidak suka. Ketika kita bertemu dengan Doni di Singapura, saya mengira kamu janjian dengannya. Apalagi sewaktu di pesawat terbang kalian terlihat begitu akrab. Saya kesal kamu lebih memilih berbicara dengan Doni daripada berbicara dengan saya,” kata Fikri.
Nessa diam, ia mendengarkan perkataan Fikri.
“Sewaktu kita makan siang dengan orang tuamu dan mereka membicarakan anak teman mereka, terus terang saja saya tidak suka. Dan tadi siang ketika saya hendak mengajakmu keluar, saya melihat kamu berdandan cantik sekali dan naik taksi online. Seolah-olah kamu hendak bertemu dengan seseorang yang special,” kata Fikri.
“Kamu tidak pernah dandan secantik itu di depan saya,” Fikri protes.
“Kalau saya berdandan cantik ke kantor, nanti saya disangka mau menggoda bos sendiri,” jawab Nessa.
“Saya ingin kamu berdandan yang cantik hanya untuk saya. Bukan untuk laki-laki lain!” ujar Fikri.
__ADS_1
“Ya sudah, mulai besok saya berdandan cantik untuk Bapak. Tapi saya tidak mau dicampakkan ketika Bapak menemukan perempuan cantik lain,” kata Nessa.
“Kapan saya mencampakkan perempuan? Malah saya yang dicampakkan oleh perempuan,” kata Fikri.
“Bapak dicampakkan perempuan? Kapan?” tanya Nessa kaget.
“Sudahlah. Itu cerita masa lalu. Sekarang saya mau sama kamu,” jawab Fikri.
“Bapak tau kan berapa umur saya?” tanya Nessa.
“Tau. Kamu lebih tua tiga tahun dari saya,” jawab Fikri.
“Dan Bapak tidak malu pacaran sama saya?” tanya Nessa tidak percaya.
“Kenapa harus malu? Kamu cantik dan pintar. Kamu pantas menjadi pendamping saya,” jawab Fikri.
Akhirnya Nessa menyerah, begitu gigihnya Fikri untuk menjadi kekasihnya. Nessa hanya bisa berdoa mudah-mudahan Fikri setia kepadanya dan tidak mempermainkan perasaannya.
“Baiklah, saya menerima Bapak menjadi kekasih saya,” kata Nessa.
“Bukan hanya sekedar kekasih. Tapi calon suami juga,” ujar Fikri.
“iya, menjadi calon suami saya,” jawab Nessa.
“Terima kasih sudah mau menerima saya menjadi calon suami kamu,” Fikri memegang telapak tangan Nessa lalu mencium punggung tangannya lalu mencium kening Nessa. Ketika hendak mencium bibir Nessa, tiba-tiba Nessa langsung mendorong dada Fikri.
“Tidak boleh, belum jadi suami! Nanti saja kalau sudah resmi jadi suami baru boleh,” kata Nessa.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Aku sabar menunggu menjadi suami kamu,” kata Fikri.
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Fikri.
“Mamah pasti marah besar. Saya harus bilang apa ke Mamah?” tanya Nessa bingung.
“Ceritakan saja yang sebenarnya. Di loudspeaker,” jawab Fikri.
“Bismillahirrohmannirrohim,” ucap Nessa.
Lalu ia menjawab panggilan telepon dari Mamah.
“Assalamualaikum, Mah,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam. Nessa…,” Mamah mulai berbicara panjang lebar mengungkapkan kekecewaannya atas apa yang dilakukan Nessa kepada Zamzam.
Fikri mendengarkan apa yang Mamah Ika katakan.
“Nessa minta maaf, Mah. Tapi ini semua ulah Pak Fikri,” kata Nessa.
Nessa menceritakan semuanya kepada Mamahnya apa yang sudah Fikri lakukan kepadanya.
“Dia serius sama kamu atau cuma main-main?” tanya Mamah.
Fikri mengambil ponsel Nessa.
“Assalamualaikum, Tante. Saya Fikri,” ucap Fikri.
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Oh, Pak Fikri sedang bersama Nessa, ya?” tanya Mamah.
“Panggil saya Fikri, tidak usah pakai ‘Pak’,” kata Fikri.
“Iya, Tante. Saya sedang bersama Nessa. Nessa baru pulang dari rumah orang tua saya. Saya memperkenalkan Nessa kepada orang tua saya,” jawab Fikri.
“Saya memperkenalkan Nessa sebagai kekasih saya,” kata Fikri.
“Fikri serius dengan Nessa?” tanya Mamah.
“Saya serius Tante. Saya akan menikahi Nessa. Bulan depan sepulang kami dari Singapura, kami akan mampir ke rumah Om dan Tante,” kata Fikri.
“Kalian mau ke Singapura lagi?” tanya Mamah.
“Iya, Tante. Saya setiap bulann ke Singapura untuk menjenguk orang tua angkat saya. Sekalian mengecek perusahaan di sana,” jawab Fikri.
“Alhamdullilah kamu kamu serius dengan Nessa. Tapi yang kami butuhkan adalah bukti, bukan janji!” kata Mamah.
“Baik, Tante. Akan saya buktikan kesungguhan saya kepada Nessa,” ucap Fikri.
“Kami tunggu buktinya. Tante mau bicara dengan Nessa lagi,” kata Mamah.
Fikri memberikan ponselnya kepada Nessa.
“Nessa, kalau kamu ke Singapura jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Mamah!” kata Mamah.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
“Bagaimana sikap orang tua Fikri kepadamu?” tanya Mamah.
“Mereka baik kepada Nessa,” jawab Nessa.
“Alhamdullilah kalau mereka baik kepadamu,” ucap Mamah.
“Ya sudah, Mamah mau membicarakan hal ini kepada Papah. Biar tidak ada kesalah pahaman dengan Om Tendi dan Tante Jujuh,” kata Mamah.
“Assalamualaikum,” Mamah menutup teleponnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.
Nessa bernafas lega karena Mamah mau mengerti.
Fikri menyalakan mesin mobil. Ia pun mengendarai mobilnya meninggalkan taman kota.
Fikri menghentikan mobinya di depan tempat kos Nessa.
“Terima kasih sudah mengantarkan saya pulang. Assalamualaikum,” Nessa membuka pintu mobil dan hendak turun dari mobil namun dicegah oleh Fikri.
“Sayang, yang ini belum dicium,” Fikri menunjuk ke pipi sebelah kirinya.
Nessa mendekati pipi Fikri, namun yang menempel bukan bi-birnya. Tapi jemari tangannya yang dibentuk seperti moncong bebek.
“Cup. Sudah ya,” Nessa cepat-cepat keluar dari mobil.
“Sayang,” panggil Fikri.
__ADS_1
Namun Nessa berlari masuk ke dalam tempat kosnya. Fikri tertawa melihat Nessa. Kemudian ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat kos Nessa.