Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
30. Sampan


__ADS_3

Nessa terkagum-kagum ketika masuk ke dalam The Shoppes At Marine Bay Sands karena arsitekturnya yang mewah. Dan ketika ia melihat kanal di dalam mall, Nessa tertarik untuk mencoba menaik perahu kayu di kanal tersebut. Maklumlah ia baru melihat ada kanal di dalam mall.


“Pak, saya mau naik perahu itu,” kata Nessa sambil menunjuk ke perahu yang lewat di kanal.


“Boleh, ayo kita ke konternya,” Fikri menggandeng tangan Nessa dan membawanya ke wahana sampan rides.


Fikri membeli tiket sampan di konter seharga tiga belas dollar Singapore perorang. Setelah membeli tiket Fikri dan Nessa langsung naik ke atas sampan. Mereka beruntung karena hari itu sampan rides sedang kosong. Sampanpun berjalan menyusuri kanal yang ada di The Shoppes AT Marine Bay Sands. Nessa pun berfoto dari atas sampan kayu. Melihat Nessa yang sedang berpose Fikri menggeser duduknya agar bisa ikut berpose bersama Nessa.


“Jangan foto sendirian saja. Harus berdua, nanti orang mengira kamu masih single,” kata Fikri yang menempelkan tubuhnya di belakang Nessa.


“Memang saya masih single. Siapa bilang saya sudah menikah?” ujar Nessa sambil memperhatikan hasil cepretannya.


“Biar semua orang tau kalau kamu sudah punya pacar. Pokoknya foto berdua!” kata Fikri.


Nessa terpaksa foto berdua bersama Fikri dengan menggunakan ponsel Fikri. Pengambilan gambar dilakukan beberapa kali. Lalu di foto berdua dengan menggunakan ponsel Nessa.


“Foto sekali lagi,” kata Fikri yang sudah bersiap-siap berpose dengan menggunakan ponselnya.


“Tadikan sudah banyak. Nanti penyimpanannya penuh,” ujar Nessa.


“Tidak apa-apa. Nanti tinggal dipindahkan ke laptop,” jawab Fikri.


“Ayo lihat ke kamera, and smile,” kata Fikri setelah mengatur timer kamera.


Nessa melihat ke kamera ponsel Fikri. Ketika mulai foto Fikri merubah pose yaitu mencium pipi Nessa. Dan cekrek, otomatis terfoto oleh kamera.


“Iiihhhh, Bapak kok gitu sih? Pokoknya hapus!” protes Nessa. Ia merasa Fikri menciumnya ketika di foto.


“Jangan, buat kenang-kenangan,” kata Fikri.


“Nggak bisa. Pokoknya hapus!” kata Nessa yang berusaha untuk mengambil ponsel Fikri.


Fikri berusaha menjauhkan ponselnya dari jangkauan Nessa. Tiba-tiba sampan menjadi oleng ke samping.


“Nessa, perahunya mau terbalik,” kata Fikri.


Cepat-cepat Nessa kembali ke posisi semula, perahu pun lurus kembali. Nessa melirik Fikri sambil cemberut.


“Mau foto yang tadi? Nih, saya kasih,” Fikri mengirim foto tersebut ke ponsel Nessa.


“Nggak usah. Saya maunya foto tadi dihapus,” kata Nessa sambil cemberut.


“Jangan, dong. Sayang kan kalau dihapus. Itu untuk kenang-kenangan kita,” kata Fikri.


Nessa membuka ponselnya sambil cemberut. Ia membuat status di ponselnya dengan menggunakan foto yang tadi dia ambil. Tak lama kemudian ponselnya berdering.


“Assalamualaikum, Mah,” ucap Nessa ketika menjawab telepon.


“Waalaikumsalam. Nessa, kamu dimana?” tanya Mamah.


“Nessa sedang di Singapura bersama Pak Fikri,” jawab Nessa.


“Jangan luoa oleh-oleh untuk Mamah, ya,” kata Mamah.


“Iya. Nessa sedang mencari oleh-oleh untuk Mamah,” jawab Nessa.


“Bagus. Sudah dulu, ya. Mamah mau berangkat ke pengajian. Assalamualaikum,” ucap Mamah.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


Nessa menyimpan ponselnya ke dalam tas.


“Mamah nelepon, ya?” tanya Fikri.


“Iya. Mengingatkan untuk beli oleh-oleh,” jawab Nessa.


Akhirnya mereka sampai ke tempat semula. Fikri dan Nessa turun dari perahu. Fikri mengajak ke sebuah konter toko kosmetik branded.


“Mau apa ke sini?” tanya Nessa ketika Fikri mengajaknya masuk ke dalam toko kosmetik tersebut.

__ADS_1


“Beli parfume untuk Mamah kamu,” jawab Fikri.


“Jangan di sini. Di sini harganya mahal,” bisik Nessa.


“Tidak apa-apa. Kamu tenang saja,” jawab Fikri.


Seorang pramuniaga berparas cantik mendekati mereka.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya sang pramuniaga.


“Saya sedang mencari parfume untuk ibu mertua saya,” jawab Fikri.


Nessa langsung melirik ke Fikri sambil melotot.


“Silahkan sebelah sini, Tuan,” kata pramuniaga.


Nessa dan Fikri mengikuti pramuniaga itu.


“Ini parfumenya, Tuan,” Pramuniaga itu menunjuk ke estalase tempat menyimpan parfume.


“Ibu mertua Tuan suka wangi yang bagaimana?” tanya pramuniaga itu.


“Sayang, Mamah suka wangi yang bagaimana?” tanya Fikri  ke Nessa dengan mesra.


Nessa menghela nafas.


Ini orang bener-bener nyebelin, kata Nessa di dalam hati.


“Mamah suka wangi yang lembut,” jawab Nessa.


Pramuniaga mengambil botol taster lalu disemprotkan ke kertas berbentuk stik.


“Coba yang ini. Ini wanginya lembut,” pramuniaga memberikan kertas ke Nessa.


Nessa mencium taster yang diberikan. Bau parfume itu enak dan lembut.


“Bagaimana?” tanya Fikri.


“Berapa harganya?” tanya Nessa.


“Tiga ratus lima puluh ribu US dollar,” jawab pramuniaga.


Nessa berpikir sejenak menghitung dollar ke rupiah menggunakan kalkulator di ponselnya. Begitu selesai ia langsung kaget.


“Mahal sekali,” bisik Nessa ke Fikri.


“Kamu tidak usah khawatir. Saya yang bayar,” bisik Fikri.


“Jangan. Saya bayar sendiri,” bisik Nessa.


“Saya mau yang ini,” kata Nessa.


“Baik, Nyonya,” jawab pramuniaga.


“Miss, tolong pilihkan parfume untuk Ayah mertua saya,” kata Fikri.


“Baik, Tuan,” pramuniaga mengambil botol taster parfume laki-laki lalu disemprotkan ke kertas taster.


“Ini, Tuan,” pramuniaga memberikan kertas ke Fikri.


Fikri mencium wangi parfume.


“Enak, wanginya,” kata Fikri.


“Sayang, Papah suka tidak wangi seperti ini?” Fikri memberikan kertas taster kepada Nessa.


Nessa mencium baunya.


Wanginya enak, tapi pasti mahal, bisik Nessa di dalam hati.

__ADS_1


“Suka, tapi Papah baru beli parfume,” jawab Nessa.


“Tidak apa-apa. Ini kan oleh-oleh dari kita,” kata Fikri.


“Saya ambil yang ini juga,” kata Fikri kepada pramuniaga.


“Silahkan bayar di kasir, tuan,” kata pramuniaga.


“Pak, saya ambil uang dulu di ATM,” bisik Nessa.


“Tidak usah! Saya yang bayar,” jawab Fikri.


Fikri berjalan menuju ke kasir. Ia membayar menggunakan kartu kredit. Melihat jumlah totalnya membuat Nessa mau pingsan.


“Terima kasih, Tuan dan Nyonya,” ucap pramuniaga sambil memberikan paper bag yang berisi parfume.


Merekapun keluar dari toko itu.


“Sekarang kita cari ATM,” kata Nessa.


“Buat apa?” tanya Fikri.


“Saya mau membayar semuanya ke Bapak,” jawab Nessa.


“Nessa, saya ikhlas kok. Ini kan oleh-oleh dari kita,” kata Fikri.


Akhirnya Nessa mengalah. Mau protes juga percuma, Fikri tidak mau dibantah.


“Terima kasih, Pak,” ucap Nessa.


“Sama-sama, sayang,” jawab Fikri.


“Ada lagi yang mau kamu beli?” tanya Fikri.


“Tidak ada. Kita pulang saja. Kasihan Pak Sam sudah menunggu terlalu lama,” kata Nessa.


Merekapun keluar dari mall.


***


Fikri sedang tidur nyenyak, tiba-tiba ponselnya berdering.


“Hallo,” ucap Fikri dengan masih mengantuk.


Terdengar suara tangisan Mrs. Lee.


“Fikri, Ayah sudah tidak ada,” kata Mrs. Lee sambil menangis.


“Apa? Ibu, Ayah kenapa?” tanya Fikri kaget.


“Ibu juga tidak tau. Ibu sedang tidur. Tiba-tiba Ibu mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar. Dokter dan suster sedang berusaha untuk menolong Ayahmu. Namun Ayah tidak tertolong. Dia pergi meninggalkan kita,” kata Mrs. Lee sambil menangis.


“Ibu, Ibu tenang dulu. Fikri akan segera ke sana,” kata Fikri.


Fikri mematikan ponselnya lalu keluar dari kamar menuju ke kamar Nessa. Ia mengetuk kamar Nessa. Ia mengetuknya sampai berkali-kali. Namun Nessa belum membuka pintunya.


“Iya,” terdengar suara dari dalam kamar Nessa.


Nessa menbuka pintu kamar.


“Ada apa, Pak? Malam-malam mengetuk pintu,” tanya Nessa yang masih ngantuk.


“Ayah sudah meninggal,” kata Fikri.


Nessa langsung kaget mendengarnya.


“Kapan?” tanya Nessa.


“Tidak tau. Baru saja Ibu menelepon,” jawab Fikri.

__ADS_1


“Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Fikri.


__ADS_2