
Setelah sarapan pagi Fikri dan Nessa kembali ke kamar mereka. Fikri bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sedangkan Nessa hanya tidur-tiduran di atas tempat tidur sambil menonton televisi.
“Masih sakit kepala, nggak?” tanya Fikri sambil memakai dasi.
“Sudah berkurang,” jawab Nessa sambil memencet-mencet remote televisi.
“Istirahat di rumah saja, ya. Kalau mau apa-apa suruh Ima saja,” kata Fikri.
“Iya, A,” jawab Nessa.
Fikri mengambil suit yang tergantung di pintu lemari lalu memakainya. Kemudian ia mendekati istrinya.
“Aa kerja dulu, ya. Kalau ada apa-apa telepon Aa,” kata Fikri lalu mengecup kening dan mulut istrinya.
“Iya, A,” jawab Nessa.
Nessa mengantar suaminya sampai depan rumah. Mobil Fikri sudah siap di depan rumah. Pak Eno sudah berada di dalam mobil.
Nessa mencium punggung telapak tangan suaminya.
“Assalamualaikum,” ucap Fikri sebelum masuk ke dalam mobil.
“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.
Nessa melambaikan tangannya ketika mobil suaminya meluncur meninggalkan rumah.
Nessa menghela nafas.
Sekarang mau ngapain? tanya Nessa di dalam hati.
Bosan di kamar terus, kata Nessa di dalam hati.
Semenjak ia sering sakit kepala Fikri melarangnya untuk bekerja lagi. Fikri menyuruh Nessa untuk istirahat di rumah. Apalagi sekarang setelah ia dinyatakan hamil Fikri benar-benar protective kepadanya. Nessa berpikir mencari cara agar tidak merasa bosan di rumah.
***
Nessa turun dari taksi online, kemudian ia melangkah masuk ke dalam halaman sebuah gedung.
“Selamat siang, Bu,” ucap security yang berjaga di depan.
“Selamat siang Pak Ujang,” jawab Nessa.
Nessa terus berjalan menuju ke lobby kantor. Ia menghampiri meja resepsionis.
“Selamat siang Yolti,” ucap Nessa.
Yolti yang sedang menulis daftar surat masuk langsung mendongkakkan kepala.
“Eh, Teh Nessa,” kata Yolti kaget.
Yolti langsung berdiri.
“Maksud saya Ibu Nessa,” ralat Yolti.
“Selamat siang, Ibu Nessa,” ucap Yolti.
Nessa tersenyum melihat sikap kaku Yolti.
“Biasa saja, Yolti. Tidak usah kaku seperti itu. Panggil saya seperti biasa Teh Nessa,” kata Nessa.
“Sekarangkan Ibu sudah jadi istri Pak Fikri. Jadi sudah jadi ibu bos,” ujar Yolti.
“Yang jadi bos kan suami saya, bukan saya. Saya tetap teman kamu,” kata Nessa.
“Sudahlah jangan dipermasalahkan lagi,” lanjut Nessa.
“Kamu lihat Yatino, tidak?” tanya Nessa.
“Biasanya kalau jam segini ada di pantry,” jawab Yolti.
“Ibu ada perlu dengan Yatino? Saya panggilkan, ya?” tanya Nessa.
“Tidak usah. Saya ke pantry sendiri,” jawab Nessa. Nessa berjalan menuju pantry.
Tak lama kemudian Nessa kembali bersama Yatino.
“Yol, mau baso, tidak?” tanya Nessa.
“Mau, Bu,” jawab Yolti.
“No, tambah satu lagi untuk Yolti,” kata Nessa kepada Yatino.
“Baik, Bu,” jawab Yatino.
“No, saya seperti biasa,” sahut Yolti kepada Yatino.
“Iya, Teh,” jawab Yatino.
Kemudian Yatino keluar dari kantor untuk membeli baso.
“Yol, saya ke ruangan Bapak,” pamit Nessa.
“Baik, Bu,” jawab Yolti.
__ADS_1
Nessa pun berjalan menuju ke liff khusus untuk direksi.
Liff berhenti di lantai sembilan tempat ruangan Fikri berada. Ia melenggang menuju ke ruangan suaminya. Seorang perempuan cantik yang duduk di meja sekretaris menyambutnya.
“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu.
Nessa memandangi perempuan itu dari atas lalu ke bawah. Ia memandang sinis perempuan itu.
“Kamu siapa?” tanya Nessa dengan judes.
“Saya sekretaris Pak Fikri,” jawab perempuan itu dengan sopan.
“Kamu di sini mau kerja atau mau memikat suami saya?” tanya Nessa dengan ketus.
“Iiibu, istri Pak Fikri?” tanya perempuan kaget.
“Iya. Kenapa? Kamu pikir bosmu itu masih single?” Nessa malah balik bertanya.
“Dimana suami saya?” tanya Nessa.
“Di ruangannya, Bu. Sedang rapat dengan asistennya. Pak Guntur dan Pak Indra,” jawab perempuan itu.
“Kenapa kamu tidak ikut rapat? Kamu kan sekretarisnya,” tanya Nessa.
“Pak Fikri tidak mengijinkan saya masuk ruangannya, Bu. Saya di suruh menjaga meja, barangkali ada tamu datang dan telepon masuk,” jawab perempuan itu.
“Baguslah kalau kamu tidak boleh masuk ke ruangan suami saya. Berarti suami saya merasa risih punya sekretaris seperti kamu,” kata Nessa.
Nessa berjalan menuju ke ruang kerja Fikri.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika membuka pintu ruang kerja Fikri.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang berada di ruangan itu.
Nessa masuk ke dalam ruangan Fikri. Fikri menghampiri istrinya.
“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Fikri.
“Sendiri. Naik taksi online,” jawab Nessa.
Fikri membimbing Nessa menuju ke kursi sofa.
“Tunggu sebentar, ya. Sebentar lagi rapatnya selesai,” kata Fikri.
“Iya, tenang saja,” jawab Nessa. Fikri kembali ke mejanya, lalu melanjutkan rapatnya.
Sepuluh menit kemudian Fikri mengakhiri rapatnya. Para asisten Fikri keluar dari ruangan Fikri. Fikri menghampiri Nessa, ia duduk di sebelah Nessa. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk,” jawab Fikri.
“Ini basonya, Bu,” Yatino menaruh nampan dan uang kembalian di atas meja.
“Terima kasih, No,” ucap Nessa.
“Bapak mau makan siang dengan apa?” tanya Yatino.
“Dengan nasi bebek,” jawab Fikri.
Fikri memberikan uang seratus ribu rupiah kepada Yatino lalu Yatino keluar dari ruangan Fikri.
“Kamu beli apa?” tanya Fikri melihat bungkusan di dalam plastik hitam.
“Baso kuah sama mie ayam,” jawab Nessa.
Nessa menuangkan mie ayam dan baso, masing-masing ke dalam mangkok.
“Kenapa tidak beli baso di rumah saja?” tanya Fikri.
“Kenapa? Nggak boleh Nessa beli baso di dekat kantor Aa?” tanya Nessa dengan kesal.
“Boleh, Aa tidak melarang kamu beli baso di sini,” jawab Fikri.
“Tapi kan jauh. Kasihan nanti kamu kecapean,” kata Fikri.
“Anaknya yang mau makan baso di dekat kantor Papahnya,” jawab Nessa sambil memasukkan sambel ke dalam baso dan mie ayam.
“Yang mau mamahnya atau anaknya?” tanya Fikri sambil menggoda Nessa.
“Anaknya,” jawab Nessa lalu menyeruput kuah baso.
“Pedasnya pas,” kata Nessa.
Nessa memakan mie ayamnya. Fikri memperhatikan istrinya yang sedang makan mie ayan dan baso, kelihatannya enak sekali.
“Enak, nggak?” tanya Fikri.
Nessa mengacungkan jempolnya.
“Coba, dong,” kata Fikri.
Fikri memakan mie ayam Nessa.
Enak juga, kata Fikri di dalam hati.
__ADS_1
Lalu Fikri makan baso kuahnya. Fikri langsung kepedasan. Fikri menuju ke mejanya dan meminum air yang ada di gelas minumnya.
“Pedes banget,” kata Fikri yang masih kepedasan.
Ia mengisi kembali air minumnya lalu meminum kembali.
“Jangan banyak-banyak sambalnya. Kasihan anaknya,” kata Fikri.
“Anaknya yang mau pedas,” jawab Nessa sambil mengunyah baso.
“Itu sih kemauan mamahnya,” kata Fikri.
Fikri kembali ke tempat duduknya.
“A, sekretaris Aa tidak kurang aduhai? Udah seperti ulat keket saja,” tanya Nessa sambil mengunyah mie ayam.
“Tau, tuh. Padahal Aa sudah menegur dia berkali-kali agar ia berpskaian lebih sopan. Tapi dia masih saja bandel memakai pakaian seperti itu,” jawab Fikri.
“Katanya belum punya uang untuk membeli baju baru,” kata Fikri.
“Apa maksudnya dia bilang begitu? Minta dibelikan baju sama Aa? Kurang ajar banget tuh perempuan!” seru Nessa dengan kesal.
“Kalau besok dia masih pakai baju seperti itu, Aa pecat saja,” kata Nessa.
“Iya. Aa sudah menyuruh Pak Warino untuk mencari penggantinya,” jawab Fikri.
Nessa menikmati kembali mie ayam dan baso kuahnya. Fikri memperhatikan makanan istrinya yang sangat menggugah selera. Ia ingin mminta lagi makanan istrinya. Tapi ia merasa kasihan, karena porsi makanan istrinya berkurang.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerja Fikri.
“Masuk,” seru Fikri.
Yatino masuk dengan membawa pesanan Fikri.
“No, tolong belikan saya baso kuah dan mie ayam yang seperti Ibu,” kata Fikri.
Nessa menoleh ke suaminya. Tidak biasanya suaminya makan baso.
“Baik, Pak,” jawab Yatino.
Yatino menaruh nasi bebek di atas meja lalu keluar dari ruangan Fikri.
“Nasi bebeknya siapa yang makan?” tanya Nessa.
“Kamu mau? Makan saja,” jawab Fikri.
“Nanti saja. Mau habiskan baso dan mie ayam,” kata Nessa lalu memakan basonya.
Akhirnya Nessa menghabiskan boso dan mie ayamnya.
“A,” Nessa memanggil suaminya yang sedang fokus ke ponsel.
Fikri meletakkan ponselnya.
“Ada apa?” tanya Fikri.
“Nessa mau cari kegiatan biar nggak kesal,” jawab Nessa.
“Maksud kamu kegiatan apa?” tanya Fikri.
“Nessa mau buka toko online,” jawab Nessa.
“Kenapa harus toko online? Kenapa tidak buka toko biasa saja?” tanya Fikri.
“Kalau jualan online bisa dikerjakan di rumah. Kalau toko biasa, nanti setiap hari Nessa harus pergi ke toko. Nessa mau usaha yang bisa dikerjakan di rumah, tanpa harus pergi kemana-mana,” jawab Nessa.
“Oke, boleh. Selama tidak merepotkankamu dan membuat kamu kecapean,” kata Fikri.
“Tapi boleh nggak sama mamah? Nessa perlu tempat untuk menyimpan barang dagangannya,” kata Nessa.
“Nanti kita bicarakan sama mamah. Kalau misalkan dilarang sama mamah, kita beli rumah sendiri biar kamu bisa leluasa,” jawab Fikri.
“Terima kasih, A,” ucap Nessa sambil memeluk suaminya. lalu mengecup mulut suaminya.
“Kamu perlu modal berapa?” tanya Fikri.
“Tidak usah. Nessa punya uang sendiri,” jawab Nessa.
“Simpan saja uang kamu. Modal usaha dari Aa saja,” kata Fikri.
Nessa berpikir sejenak.
“Oke, deh. Terima kasih ya, A,” ucap Nessa. Kemudian ia kembali mengecup mulut Fikri.
.
.
Pembaca yang budiman. Saya sedang berduka, karena 4 novel saya di plagiat oleh sebuah aplikasi. Mereka tidak mengganti nama pena saya. Tapi tetap saja namanya plagiat. Mereka mencari keuntungan tanpa mau menggaji saya.
Semoga saja mereka mendapatkan pembalasan dari Allah SWT. Setiap kata yang saya susun hasil dari saya berpikir keras.
Mereka tidak tau perjuangan saya ketika menulis.
__ADS_1
Semoga aplikasinya ditakedown