
Fikri menggeser duduknya.
“Duduk, sini,” Fikri menepuk-nepuk tempat yang kosong di sebelahnya.
“Tidak, ah. Jaga jarak, bukan mahram!” kata Nessa.
Nessa beranjak dari tempat duduknya hendak mengambil makanan untuk Fikri. Namun dengan cepat Fikri memegang tangan Nessa dan menarik Nessa ke pangkuannya. Nessa langsung hilang keseimbangan dan jatuh di atas tempat tidur, kepalanya berada di atas pangkuan Fikri. Fikri mengusap-usap kepala rambut Nessa. Nessa merasa risih.
“Sayang, saya kangen sama kamu,” kata Fikri.
“Iya, saya tau. Tapi bukan begini caranya. Kita belum menikah,” kata Nessa sambil berusaha bangun dari tempat tidur. Fikri membiarkan Nessa bangun, namun ketika Nessa hendak berdiri Fikri langsung memeluk Nessa dari belakang. Membuat Nessa kesulitan untuk berdiri.
“Lepaskan, Pak,” Nessa memberontak agar Fikri melepaskan pelukannya.
“Biarkan saya memelukmu kali ini saja. Hanya beberapa menit,” kata Fikri dengan memohon. Nessa tidak kuasa untuk menolaknya. Dibiarkannya Fikri memeluknya.
Fikri memeluk Nessa sambil mencium rambut Nessa.
“Kamu tau, setelah kamu pulang ke Indonesia hari-hari saya terasa sepi tanpa kamu. Membuat saya tidak ingin melakukan apa-apa. Saya bagaikan robot yang hanya bekerja tanpa ada keinginan untuk melakukan apapun. Di pikiran saya hanya satu, menyelesaikan ini semua dan pulang kembali ke Indonesia,” kata Fikri.
Fikri memutar tubuh Nessa agar menghadap ke arahnya.
“Menemui kekasih saya dan meminta kepada orang tuanya untuk menjadi kekasih halal saya,” kata Fikri lalu merapihkan rambut Nessa dan menyelipkan rambutnya di telinga. Nessa hanya diam mendengar perkataan Fikri.
“Mungkin dulu saya seorang playboy. Mungkin dulu saya seorang bajingan. Entah mengapa setelah bertemu denganmu yang saya inginkan hanya kamu seorang. Kamu menyadarkan saya tidak semua perempuan mudah untuk saya sentuh dan saya permainkan. Kamu membuat saya ingin setia pada satu orang perempuan, yaitu kamu. Karena kamu, saya ingin membina rumah tangga. Seperti papah dan mamah saya, serta seperti ayah dan ibu saya,” lanjut Fikri.
“Nanti kalau saya sudah sembuh, kita ke Jakarta. Saya akan melamar kamu secepatnya,” bisik Fikri.
“Secepat itu?” tanya Nessa tidak percaya.
“Iya, biar kamu ada kepastian,” jawab Fikri.
“Baiklah, Pak,” kata Nessa.
“Kalau bukan di kantor jangan panggil, Pak!” kata Fikri.
“Panggil apa, dong?” tanya Nessa bingung.
“Panggil akang atau aa atau abang atau mas. Terserah kamu saja. Asal jangan panggil bapak!” jawab Fikri.
“Panggilan seperti itu untuk orang yang lebih tua dari saya. Bapak lebih muda dari saya. Apa saya panggil dek atau panggil Fikri aja?” ujar Nessa dengan polos.
“Tidak sopan panggil calon suami seperti itu,” kata Fikri.
“Habis bingung, mau panggil apa?” jawab Nessa.
Nessa berpikir sejenak.
“Panggil Aa saja, ya,” kata Nessa.
“Iya, boleh,” jawab Fikri.
“Sekarang Aa makan dulu. Nanti buburnya keburu dingin,” kata Nessa.
Nessa beranjak dari tempat tidur dan mengambil bubur yang berada di atas meja kerja Fikri.
“Tuh kan, buburnya sudah dingin. Saya panaskan dulu, ya,” kata Nessa.
__ADS_1
“Tidak usah. Tidak apa-apa, sudah dingin juga,” jawab Fikri.
Nessa membawa bubur dan duduk di kursi.
“Makannya disuapi,” kata Fikri.
Fikri membuka mulutnya, kemudian Nessa menyuapi Fikri dengan bubur.
***
Keesokan harinya Fikri masuk kantor. Nessa terkejut ketika melihat Fikri keluar dari liff.
“Kenapa Bapak sudah masuk? Bukankah Bapak masih sakit?” tanya Nessa.
“Sudah mendingan. Lagi pula di rumah bosen cuma di dalam kamar terus, tidak boleh kemana-mana,” jawab Fikri.
Fikri masuk ke dalam ruang kerjanya. Nessa mengikuti Fikri dari belakang.
“Nes, apa jadwal saya hari ini?” tanya Fikri.
“Tidak ada jadwal apa-apa. Bapak kan sedang sakit,” jawab Nessa.
“Ada dokumen yang harus saya tanda tangan?” tanya Fikri.
“Semua dokumen dikirim ke kantor Pak Taufik, karena Bapak sedang sakit,” jawab Nessa.
“Jadi?” tanya Fikri.
“Bapak tidak ada pekerjaan. Lebih baik Bapak pulang saja, deh!” usir Nessa.
“Ya sudah, saya pulang ke rumah saya di Singapura. Di sana pekerjaan saya setumpuk,” kata Fikri.
“Jangan marah, dong. Saya kan cuma bercanda,” kata Fikri.
“Saya ke sini biar dekat sama kamu,” lanjut Fikri.
“Ya sudah. Sekarang Bapak tidur saja di sofa. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan,” kata Nessa.
“Banyak email yang masuk dari hotel di Bali dan pabrik di Singapura. Hadeuh, memangnya di sini kantor pusat, ya? Mentang-mentang bos nya sedang ada di Bandung,” gerutu Nessa.
“Kalau kamu kewalahan, saya akan mempekerjakan seorang assisten untuk membantu kamu,” kata Fikri.
“Tidak usah, Pak. Saya masih bisa mengatasi sendiri,” jawab Nessa.
“Sudah ya, Pak. Saya harus menjawab email dulu,” kata Nessa.
Nessa keluar dari ruangan dan menutup pintu. Namun tiba-tiba Fikri memanggilnya, “Nessa.”
Nessa membuka kembali pintu.
“Ya, Pak,” jawab Nessa.
“Terima kasih ya, sayang,” ucap Fikri.
Nessa menjawab dengan tersenyum, kemudian menutup pintu kembali.
Pukul sebelas siang Nessa masuk ke ruang kerja Fikri untuk mengecek keadaan Fikri. Fikri sedang tidur di sofa tanpa menggunakan suit. Nessa menempelkan telapak tangannya di atas kening Fikri. Kening Fikri terasa panas sekali.
__ADS_1
Masih sakit kok ke kantor, kata Nessa di dalam hati.
Nessa keluar dari ruang kerja Fikri untuk mencari handuk kecil. Nessa menemukan handuk kecil di dalam tasnya.
Untung bawa handuk kecil, kata Nessa di dalam hati.
Nessa membawa handuk kecil ke kamar mandi untuk dibasahi. Nessa mengompres kening Fikri dengan handuk kecil. Lalu ia membuka lemari mencari sesuatu untuk bisa menyelimuti Fikri. Kalau menggunakan suit kurang panjang untuk menutupi tubuh Fikri. Nessa menemukan selimut di dalam lemari. Selimut itu masih dibungkus plastik laundry, berukuran besar cukup untuk menyelimuti dua orang. Pikiran Nessa langsung traveling kemana-mana.
Untuk apa dia menyimpan selimut begitu besar ini di kantor? Apa jangan-jangan? Nessa langsung berpikiran negatif.
Sudahlah Nessa, jangan berpikiran negatif. Itu kan masa lalu. Semua orang berhak mendapat kesempatan untuk berubah, kata Nessa di dalam hati.
Nessa menyelimuti tubuh Fikri dengan selimut, kemudian ia keluar dari ruangan Fikri.
Setengah jam kemudian Nessa masuk kembali ke ruang kerja Fikri sambil membawa plastik berisi kotak makanan. Nessa duduk di sebelah Fikri.
“Pak, bangun. Makan dulu!” kata Nessa sambil menepuk lengan Fikri.
Fikri membuka matanya.
“Jam berapa sekarang?” tanya Fikri.
“Jam setengah dua belas,” jawab Nessa.
Nessa mengambil handuk kecil yang menempel di kening Fikri. Fikri melihat selimut yang menyelimuti tubuhnya.
“Ini,” Fikri tidak bisa melanjutkan perkatannya.
Nessa tersenyum.
“Saya menemukannya di lemari. Bapak nampak kedinginan,” kata Nessa.
“Maaf,” hanya itu yang keluar dari mulut Fikri.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti. Itu masa lalu Bapak. Yang penting sekarang Bapak tidak mengulangi lagi,” kata Nessa.
“Sekarang Bapak makan dulu, lalu makan obat,” kata Nessa.
Fikri membuka selimut kemudian duduk di sofa.
“Bawa tidak obatnya?” tanya Nessa.
“Bawa ada di kantong suit saya,” jawab Fikri.
“Sekarang makan, ya!” ujar Nessa.
“Suapi,” kata Fikri dengan manja.
“Iya,” jawab Nessa.
Nessa menyuapi Fikri makan bubur.
“Pakai sambel biar tambah enak,” kata Fikri sambil mengunyah buburnya.
“Jangan! Nanti lama sembuhnya,” ujar Nessa.
“Sedikit aja, biar ada sensasi pedas-pedasnya,” kata Fikri.
__ADS_1
“Tidak boleh!” jawab Nessa.