Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
18. Pergi Ke Singapura.


__ADS_3

Nessa sedang berada di ruangan Fikri, tiba-tiba intercom di meja kerjanya berbunyi. Sayup-sayup terdengar sampai ke ruangan Fikri.


“Pak, saya mau angkat intercom dulu,” kata Nessa.


“Iya,” jawab Fikri sambil fokus ke dokumen di depannya.


Nessa keluar dari ruangan Fikri menuju ke meja kerjanya. Tak lama kemudian Nessa kembali masuk ke ruangan Fikri dengan tergesah-gesah.


“Pak, telepon dari Mrs Lee line satu. Penting!” kata Nessa.


Fikri menjawab telepon dari Mrs. Lee. Sememtara itu Nessa keluar dari ruangan Fikri kembali ke mejanya. Dina dari bagian HRD datang menghampiri Nessa.


“Teh Nessa, dokumennya sudah ditanda tangani belum sama Pak Fikri?” tanya Dina.


“Belum, Pak Fikri lagi ada telepon penting dari Singapura,” jawab Nessa.


“Nanti kalau sudah ditanda tangani kasih tau aku, ya!” kata Dina.


“Iya,” jawab Nessa.


Lama juga Fikri berbicara dengan Mrs Lee. Tak lama kemudian Fikri keluar dari ruangannya.


“Nes, tolong carikan tiket ke Singapura secepatnya!” kata Fikri.


“Baik, Pak,” jawab Nessa.


Fikri kembali masuk ke ruangannya, namun ia keluar lagi dari ruangannya.


“Kamu punya passport, tidak?” tanya Fikri.


“Punya, Pak,” jawab Nessa.


“Masih berlaku?” tanya Fikri.


“Masih, Pak,” jawab Nessa.


“Kalau begitu kamu ikut saya ke Singapura. Mr. Lee masuk ke rumah sakit,” kata Fikri.


“Baik, Pak,” jawab Nessa.


***


Pak Taufik memperhatikan putranya yang sedang makan. Tadi sebelum makan malam Fikri memberithu kalau besok ia akan pergi ke Singapura selama beberapa hari.


Apa dia pergi ke Singapura untuk menemui orang tua angkatnya? Tanya Pak Taufik di dalam hati.


Pak Taufik ingat beberapa hari yang lalu Prima memberitahu kepadanya tentang hubungan Fikri dengan penguasaha asal Singapura. Prima mengatakan bahwa pengusaha itu menjadikan Fikri sebagai anak angkatnya. Mula-mula ia tidak percaya dengan apa dikatakan Prima, itu pasti hanya candaan Fikri kepada Prima. Memang Fikri sudah menganggap Prima seperti kakaknya sendiri. Wajarlah kalau mereka bercanda. Tapi ia merasa penasaran juga, akhirnya ia menyuruh Prima untuk menyelidikinya. Dan hasilnya sama dengan apa yang Fikri katakan kepada Prima. Pengusaha dari Singapura yang bernama Mr. Lee sudah tidak memiliki anak. Anaknya meninggal sepuluh tahun yang lalu akibat kecelakaan. Mr. Lee memiliki anak angkat di Indonesia. Namun identitasnya disembunyikan, karena Mr. Lee tidak ingin keluarganya mengganggu anak angkatnya yang akan menjadi ahli waris kekayaannya.


Anak ini selalu saja membuat ulah dan membuat pusing orang tua. Tapi di sisi yang lain ada sepasang suami istri yang menganggapnya sebagai anak yang manis, bahkan mereka mengangkatnya sebagai anak. Dan mereka juga menggantungkan harapan yang besar kepada anak ini. Benar-benar sulit untuk dimengerti, kata Pak Taufik di dalam hati.


Setelah selesai makan Pak Taufik masuk ke ruang kerjanya. Ia menunggu kabar dari Prima. Ketika Fikri mengatakan akan pergi ke Singapura, Pak Taufik langsung mengirim pesan kepada Prima. Ia meminta Prima mencari tahu apa yang terjadi di Singapura.


Tiba-tiba terdengar notifikasi panggilan masuk. Pak Taufik menjawab panggilan itu.


“Ya, Prim. Apa yang kau dapat?” tanya Pak Taufik.


“Mr. Lee sedang sakit. Beliau di rawat di rumah sakit ME,” jawab Prima.

__ADS_1


“Sakit apa dia?” tanya Pak Taufik.


“Menurut informasi yang saya dapat Mr. Lee sakit karena kelelahan,” jawab Prima.


“Oke, terima kasih atas informasinya,” ucap Pak Taufik.


Pak Taufik mengakhiri pembicaraannya.


“Cuma sakit kelelahan saja sampai memanggil Fikri. Dasar orang tua manja,” ujar Pak Taufik dengan kesal.


***


Pagi-pagi sekali Fikri dan Nessa sudah berada di Bandara Soekarno Hatta. Mereka harus naik pesawat dari Jakarta. Karena di Bandung tidak ada pesawat menuju ke Singapura. Mereka naik pesawat pagi dan baru siang sampai di Singapura. Karena harus transit dulu di Kuala Lumpur.


Sesampainya di bandara Fikri dan Nessa dijemput oleh supir Mr. Lee. Mereka langsung menuju ke rumah sakit ME.


Fikri membuka pintu kamar rawat inap Mr. Lee. Melihat siapa yang datang Mrs. Lee langsung senang.


“Anakku,” seru Mrs Lee dengan gembira.


Fikri dan Nessa menghampiri Mrs. Lee. Mrs Lee langsung memeluk Fikri.


“Anakku, apa kabarnya?” sapa Mrs. Lee.


“Baik, Bu,” jawab Fikri.


“Kamu memanggilku ‘Ibu’?” tanya Mrs. Lee tidak percaya.


“Iya, Ibu,” jawab Fikri.


“William, anak kita memanggilku ‘Ibu’,” ujar Mrs. Lee.


Lalu Mrs. Lee beralih ke Nessa.


“Apa kabar, Nessa?” Mrs. Lee memeluk Nessa.


“Baik, Mrs. Lee,” jawab Nessa.


Fikri menghampiri Mr. Lee.


“Ayah,” Fikri memeluk Mr. Lee yang sedang meduduk di atas tempat tidur.


“Apa kabarmu?” tanya Pak Lee sambil menepuk bahu Fikri.


“Baik, Ayah,” jawab Fikri.


Fikri melepaskan pelukannya.


“Ayah sakit apa?” tanya Fikri khawatir.


“Ayah hanya kelelahan,” jawab Mr. Lee.


“Sudah waktunya Ayahmu untuk beristirahat. Kau harus menggantikan Ayahmu,” kata Mrs. Lee.


“Maafkan Fikri, Ibu. Fikri belum bisa menggantikan Ayah. Fikri masih harus mengurus perusahaan Fikri. Belum lagi hotel di Bali harus terus Fikri pantau,” jawab Fikri.


Mrs. Lee kecewa dengan jawaban Fikri.

__ADS_1


“Tapi Fikri janji, Fikri meluangkan waktu untuk mengunjungi Ayah dan Ibu,” kata Fikri.


“Benarkah?” tanya Mrs. Lee.


“Tentu saja, Bu,” jawab Fikri.


“Nessa, kau catat di jadwal Fikri. Ia harus sering-sering mengunjungi kami,” kata Mrs. Lee.


“Baik, Mrs. Lee,” jawab Nessa.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka seorang pria paruh baya dengan berpakaian seperti dokter masuk ke dalam kamar.


“Selamat siang,” sapa pria itu.


“Siang, Dok,” jawab Mr dan Mrs Lee.


“Wah, sepertinya sedang ada tamu,” kata dokter.


“Iya, Dok. Anak kami yang tinggal di Indonesia datang berkunjung,” jawab Mr. Lee.


“Oh, yang mana anak Mr. Lee?” tanya dokter.


“Saya, Dok,” jawab Fikri.


“Dan ini menantumu?” tanya dokter menunjuk ke Nessa.


“Bukan, Dok. Dia sekretaris anak saya,” jawab Mrr. Lee.


“Oh, saya kira dia menantumu,” kata dokter.


“Bagaimana kabar anda, sekarang? Tidak ada keluhan?” tanya dokter.


“Tidak ada, Dok,” jawab Mr. Lee.


“Saya periksa dulu,” kata dokter.


Dokter memeriksa Mr. Lee.


“Bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda sudah bisa pulang sekarang,” kata dokter.


“Terima kasih, Dokter,” ucap Mrs. Lee.


“Tapi anda harus ingat, anda harus banyak istirahat. Jangan sampai kelelahan!” kata dokter.


“Baik, Dok,” jawab Mr. Lee.


Setelah dokter memperbolehkan Mr. Lee pulang, Mrs. Lee membereskan semua barang-barang dibantu oleh Nessa. Sedangkan Fikri mengurus pembayaran rumah sakit. Setelah Fikri membayar tagihan rumah sakit. Mereka membawa Mr. Lee pulang ke rumah.


Sesampai di rumah, Fikri menuntun Mr. Lee menuju ke kamarnya. Fikri membantu Mr. Lee naik ke atas tempat tidurnya. Fikri menyelimuti ayahnya.


“Duduk di sini. Ayah ingin berbicara denganmu,” kata Mr. Lee.


Fikri duduk di sisi tempat tidur.


“Bagaimana dengan keadaan hotel kita?” tanya Mr. Lee.


Fikri menceritakan semuanya kepada Mr. Lee.

__ADS_1


“Syukurlah kalau sudah kau atasi semuanya,” kata Mr. Lee.


__ADS_2