
Nessa duduk di sebelah mamah dan papahnya. Fikri terus saja memandangi kekasihnya. Nessa tersenyum kepada Fikri.
“Nessa, Fikri dan keluarganya datang jauh-jauh dari Bandung ke sini untuk melamar kamu,” kata papah.
“Apakah lamaran Fikri diterima atau tidak?” tanya papah.
Nessa menoleh sebentar ke Fikri. Wajah laki-laki itu nampak begitu tegang menunggu jawaban dari Nessa. Lalu Nessa kembali menoleh ke papahnya.
“Nessa terima, Pah,” jawab Nessa.
“Alhamdullilah,” ucap semua orang yang berada di ruangan itu.
Selanjutnya pemasangan cincin pertunangan oleh Ibu Dira. Ibu Dira memakaikan cincin di jari manis Nessa. Sebuah cincin berlian yang diikat oleh emas putih, nampak cantik berada di jari manis Nessa. Resmi sudah Nessa menjadi calon istri Fikri.
“Kapan tanggal pernikahan kalian?” tanya papah.
“Secepatnya, Om. Paling lambat sebulan dari sekarang,” jawab Fikri.
“Apa tidak terlalu terburu-buru?” tanya papah.
“Tidak, Om. Karena pekerjaan Fikri banyak. Dan Fikri ingin Nessa selalu mendampingi Fikri kemanapun Fikri pergi,” jawab Fikri.
“Baiklah kalau kamu maunya begitu,” kata papah.
“Lalu kalian akan menikah dimana? Jakarta? Bandung? Bali? Atau Singapura?” tanya papah.
“Nessa maunya dimana?” Fikri malah bertanya kepada Nessa.
“Nessa maunya di Jakarta, agar teman-teman dan rekan-rekan kerja bisa hadir ke acara pernikahan kita,” jawab Nessa.
“Tapi terserah Aa saja. Mungkin Aa punya rencana yang lain,” kata Nessa.
“Bagaimana Fikri? Kata Nessa terserah Aa Fikri,” tanya papah.
“Fikri ingin diadakan di Bali. Di hotel milik kami, Om,” jawab Fikri.
“Oh, jadi kamu maunya di Bali? Di hotel kalian, begitu?” tanya papah.
“Iya, Om,” jawab Fikri.
“Begini, Fik,” sela Pak Taufik.
“Maaf, Pak Dody saya sela dulu,” ucap Pak Taufik.
“Tidak apa-apa. Silahkan saja,” jawab papah.
“Fik, kamu boleh mengadakan resepsi pernikahan di hotel milik kalian. Tapi kamu harus menyewa pesawat untuk membawa saudara dan rekan-rekan kerja Nessa ke Bali. Bahkan kamu juga harus menyediakan penginapan untuk mereka,” kata Pak Taufik.
“Oke. Tidak masalah,” jawab Fikri dengan enteng.
“Aa,” bisik Nessa sambil melotot.
Walaupun Fikri kaya raya dan memiliki banyak uang tetap saja tidak boleh berfoya-foya seperti itu.
Terdengar suara riuh dari keluarga Nessa setelah mendengar perkataan Fikri.
“Kelihatannya Nessa kurang setuju. Begini saja, nanti kalian bicarakan dulu berdua. Kami sebagai orang tua menyerahkan semuanya kepada kalian. Kami hanya menunggu jawabannya, dimana dan kapan kalian akan menkah,” kata papah.
“Bagaimana, Pak Taufik?” tanya papah.
__ADS_1
“Saya setuju. Biar mereka yang mengambil keputusan. Apalagi Fikri, dia sudah menjadi pengusaha besar. Dia harus pintar mengambil keputusan,” jawab Pak Taufik.
“Ya sudah kalau begitu jawabannya. Sekarang lebih baik kita makan malam dulu. Kasihan pasti semuanya sudah lapar,” kata papah.
“Silahkan semuanya menyantap hidangan yang sudah kami siapkan!” seru papah.
Semua tamu yang hadir langsung beranjak menuju ke tempat hidangan makan malam di sajikan. Berbagai bagai macam makanan disajikan di atas meja prasmanan.
Sekarang tinggallah calon pengantin di ruangan itu. Fikri mendekati Nessa.
“Kenapa wajah kamu cemberut seperti itu?” tanya Fikri melihat Nessa duduk sambil cemberut.
“Mestinya berseri-seri kalau sudah resmi dilamar,” kata Fikri.
“Kesal sama Aa. Untuk apa Aa hambur-hamburkan uang seperti itu?” tanya Nessa dengan kesal.
“Tidak apa-apa. Itu bagian dari strategi bisnis,” jawab Fikri dengan santai
“Maksud Aa apa?” tanya Nessa.
“Kita sekalian mempromosikan hotel kita. Yang hadir di pesta pernikahan kita bukan cuma teman-teman kamu dan saudara kamu, tapi ada teman papah kamu, teman mamah kamu, relasi bisnis papah saya, teman mamah saya. Pokoknya masih banyak lagi yang hadir ke pernikahan kita,” kata Fikri.
“Jauh begitu dan ongkosnya mahal siapa yang mau datang?” tanya Nessa.
“Udah begitu pas weekend, harga sewa hotelnya juga naik,” kata Nessa.
“Kamu tenang saja. Mereka pasti datang,” kata Fikri dengan yakin.
“Sudah jangan cemberut lagi, ya,” ujar Fikri.
“Kamu cantik sekali malam ini,” puji Fikri sambil tersenyum memandang kekasihnya.
Tiba-tiba ada yang berteriak dari depan rumah.
“Nessa!”
Nessa dan Fikri menoleh ke arah suara. Fitri sedang berjalan dengan cepat ke arah mereka. Perutnya yang membuncit tidak membuat Fitri bergerak dengan cepat. Sedangkan di belakangnya suaminya Reza mengikuti Fitri dengan tergopoh-gopoh.
“Sayang, jalannya jangan cepat-cepat,” kata Reza.
Nessa menghampiri Fitri. Nessa langsung memeluk Fitri.
“Aku kangen sama kamu, Nes,” kata Fitri sambil memeluk erat Nessa.
“Aku juga kangen sama kamu,” jawab Nessa sambil mengusap-usap punggung Fitri.
Sedangkan Reza memandang mereka berdua dengan ngeri. Karena Fitri memeluk Nessa dengan begitu erat.
“Sayang, meluknya jangan terlalu erat. Kasihan babynya, nanti ketekan,” ujar Reza.
“Iiihhh, Mas cerewaet amat sih. Aku kan kangen sama Nessa,” protes Fitri.
Nessa melepas pelukannya.
“Apa kabarnya dengan keponakanku?” tanya Nessa sambil mengusap perut Fitri.
“Alhamdullilah sehat, Nes,” jawab Fitri.
“Sudah berapa bulan?” tanya Nessa.
__ADS_1
“Mau jalan lima bulan,” jawab Fitri.
Fitri memandangi wajah Nessa yang sedang mengusap-usap perut Fitri.
“Nes, kamu cantik banget, sih,” puji Fitri.
“Ah, kamu pinter memuji,” ujar Nessa.
“Iiihhh, bener. Kalau tidak percaya tanya sama Pak Fikri,” kata Fitri.
“Eh, salah. Aa Fikri,” ralat Fitri.
“Aa Fikri. Nessa cantik, tidak?” tanya Fitri kepada Fikri.
“Cantik sekali,” jawab Fikri.
“Tuh, kan. Kata Aa Fikri, kamu cantik sekali,” kata Fitri.
“Sudah ah mujinya. Kamu sudah makan belum?” tanya Nessa.
“Belum. Tadi dari rumah mamah mas Reza langsung ke sini. Takut keburu selesai acara lamarannya,” jawab Fitri.
“Ayo kita makan dulu,” kata Nessa lalu merangkul punggung Fitri.
“Ayo A. Ayo Mas Reza. Kita makan dulu,” ajak Nessa.
Nessa dan Fitri berjalan menuju ke tempat makan sambil merangkul punggung satu sama lain. Sementara di belakang Fikri dan Reza mengikuti mereka dari belakang.
Setelah acara makan malam selesai para tamu berkumpul lagi di ruang tengah rumah Nessa. Namun kali ini Fikri yang berbicara langsung kepada keluarga.
“Kami sudah memutuskan tempat pernikahan kami. Kami akan mengadakannya di Bali. Di hotel milik kami. Dan waktunya satu bulan dari sekarang, ada kemungkinan maju beberapa hari. Tapi tidak mungkin mundur, karena saya sibuk sekali dan Nessa harus ikut bersama dengan saya kemanapun saya pergi,” kata Fikri.
“Untuk akomodasi dan hotel akan kami sediakan. Jika ada yang mau ikut ke Bali silahkan hubungi sekretaris saya,” kata Fikri.
Namun tiba-tiba Fikri diam seperti sedang berpikir.
“Saya lupa kalau sekretaris saya adalah Nessa,” kata Fikri sambil tersenyum.
“Untuk keluarga yang mau ikut ke Bali, silahkan hubungi Nessa. Karena tempatnya terbatas. Itu saja pengumuman dari kami,” lanjut Fikri.
“Jadi keputusannya menikah di Bali?” tanya papah.
“Iya, Om,” jawab Fikri.
“Kamu sudah berhasil meyakinkan Nessa, ya?” tanya papah.
“Tentu saja, Om,” jawab Fikri.
“Syukurlah jika kalian sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Om dan Tante merestui dan memberikan dukungan,” kata papah.
Setelah itu Fikri dan keluarga pamit pulang karena hari sudah malam. Tidak lupa mamah memberikan buah tangan untuk keluarga Fikri.
Nessa mengantar Fikri sampai depan pagar.
“Besok pagi aku jemput, ya. Kita sama-sama pulang ke Bandung,” kata Fikri sebelum menuju mobil.
“Iya, A,” jawab Nessa.
Fikripun berjalan menuju ke mobilnya sambil melambaikan tangan ke Nessa. Nessa membalas lambaian tangan Fikri.
__ADS_1