
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk,” kata Fikri.
Yatino masuk ke dalam ruang kerja Fikri sambil membawa nampan yang berisi mangkok dan plastik hitam.
“Ini basonya, Pak,” kata Yatino sambil menaruh nampan mangkok dan plastik hitam di atas meja.
“Ini kembaliannya,” Yatino menaruh uang kembalian di atas meja.
“Ambil saja kembaliannya,” kata Fikri.
Yatino tidak jadi menaruh uang kembaliannya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Yatino.
Kemudian Yatino pergi meninggalkan ruangan Fikri.
Nessa membuka plastik pembungkus mie ayam dan dan baso kuah lalu dituangkan di atas mangkok.
“Mau pakai sambal, nggak?” tanya Nessa.
“Pakai sedikti saja,” jawab Fikri.
Nessa menuangkan sambal sedikit ke bakso kuah dan mie ayam lalu dicicipinya.
“Tidak kerasa pedas,” kata Nessa sambil mengecap-ngecap mulutnya.
“Sudah ah. Segitu juga cukup,” kata Fikri lalu mengambil mangkok mie ayam dan mangkok baso kuah dari depan Nessa. Ia menaruh mangkok-mangkok itu ke depannya. Lalu ia memakan mie ayam dan baso.
Nessa menemani suaminya makan sambil memainkan ponselnya. Ia mencari inspirasi untuk toko onlinenya.
“A, mendingan menjual apa di toko online?” tanya Nessa sambil scroll ponselnya.
“Terserah kamu. Kamu mau jual apa?” jawab Fikri.
“Nessa mau jual kerudung, mukenah, baju muslim dan accessories wanita muslimah,” jawab Nessa.
“Bagus, Aa dukung,” jawab Fikri sambil menikmati makanannya.
“Tapi A, Nessa kan belum memakai hijab,” kata Nessa dengan nada kecewa.
Fikri menoleh ke istrinya lalu mengelap tangan dan mulutnya dengan tissue. Lau merangkul bahu istrinya.
“Kamu sudah siap belum untuk berhijab?” tanya Fikri sambil mengusap-usap lengan istrinya.
“Kalau Aa ijinkan, Nessa siap untuk berhijab,” jawab Nessa.
“Tentu saja Aa ijinkan. Itu kan untuk kebaikan kamu,” kata Fikri.
“Aa tidak ingin rambut kamu yang indah dilihat oleh laki-laki lain,” kata Fikri sambil membelai rambut Nessa.
“Lehermu yang jenjang, putih dan mulas dilihat oleh pria lain,” Fikri mengusap leher istrinya yang jenjang dengan jari telunjuknya. Kemudian ia mengecup leher istrinya.
“Apalagi ini,” Fikri mengusap dada istrinya.
“Rasanya tidak rela dilihat oleh laki-laki lain,” kata Fikri.
“Jadi Aa mengijinkan Nessa menggunakan hijab?” tanya Nessa dengan berbinar-binar.
“Tentu saja, sayang,” jawab Fikri.
“Terima kasih, A,” Nessa memeluk Fikri dan mengecup bi0bir suaminya.
“Rasa mie ayam,” kata Nessa sambil mengecap-ngecap mulutnya.
“Kan lagi makan mie ayam,” jawab Fikri.
__ADS_1
“Dah, Aa mau terusin lagi makannya. Nanti jadi nggak enak kalau sudah dingin,” kata Fikri.
Fikri melanjutkan makannya.
Nessa memandangi bungkus nasi bebek yang belum dibuka. Entah mengapa ketika melihat bungkus nasi bebek perutnya terasa lapar kembali.
Nessa menaruh bungkus nasi bebek ke atas piring lalu membuka bungkusnya. Nessa mennyicipi nasi bebek sedikit demi sedikit.
“Hmm enak,” puji Nessa ketika menyicipi nasi bebek.
Fikri menoleh ke istrinya.
“Kalau enak makan saja,” kata Fikri.
Nessa mengambil nasi bebek dengan tangannya lalu ia dekatkan ke mulut suaminya.
“Cobain deh, A. Aaaa,” Nessa hendak menyuapkan nasi bebek ke mulut suaminya.
Fikri menoleh ke tangan Nessa yang dekat dengan mulutnya.
“Nggak ah, sudah kenyang. Kamu saja yang makan,” jawab Fikri.
Bisa-bisa istrinya yang hamil tapi dia ikutan menjadi gendut karena kebanyakan makan.
“Cobain dulu,” kata Nessa dengan memaksa.
“Aa sudah sering makan nasi bebek,” jawab Fikri.
“Sesuap saja,” kata Nessa memohon.
Akhirnya Fikri mengalah, ia membuka mulutnya dan Nessa menyuapi nasi bebek ke mulut Fikri. Fikri mengunyah makanan di mulutnya.
“Bagaimana? Enak, kan?” tanya Nessa.
Fikri mengangguk. Kemudian Nessa melanjutkan makan nasi bebeknya.
Fikri memperhatikan istrinya yang sedang makan nasi bebek. Merasa diperhatikan oleh suaminya, Nessa menoleh ke suaminya.
“Sudah makannya?” tanya Nessa.
“Sudah habis, tuh,” jawab Fikri sambil menunjuk ke mangkok yang sudah kosong.
Nessa mengambil nasi bebek dengan tangannya lalu di dekatkan ke mulut suaminya. Fikri menutup mulutnya.
“Sudah kenyang,” jawab Fikri sambil menutup mulutnya.
“Sesuap lagi,” kata Nessa.
“Nggak ah. Kamu saja yang menghabiskan,” jawab Fikri.
“Iiihhh a, nggak!” kata Nessa dengan memaksa.
“Satu kali lagi aja, ya,” ujar Fikri.
“Iya,” jawab Nessa.
Akhirnya Fikri membuka mulutnya, lalu Nessa menyuapi Fikri dengan nasi bebek. Fikri mengunyah makanan di mulutnya.
Setelah Nessa selesai makan mereka pun sholat dzuhur berjamaah di ruang kerja Fikri. Selesai sholat Nessa tidak langsung pulang. Ia memutuskan untuk pulang bersama dengan suaminya.
Nessa menghabiskan waktunya dengan browsing barang-barang yang akan mengisi tokonya. Melihat istrinya sedang asyik dengan ponselnya, Fikri membiarkan saja. Yang penting istrinya tidak rewel.
Setelah sholat ashar Fikri mengajak Nessa pulang.
“Kenapa sudah pulang? Ini kan baru jam setengah empat,” tanya Nessa.
Fikri mengambil suitnya yang menggantung di hanger.
__ADS_1
“Kita ke mall dulu. Katanya kamu mau memakai hijab,” jawab Fikri.
“Nanti saja belanja hijabnya,” ujar Nessa.
“Niat baik harus disegerakan,” jawab Fikri. Fikri menggendeng tangan istrinya lalu mengajaknya keluar dari ruang kerjanya.
“Sarah, kalau ada yang mencari saya bilang saya sudah pulang,” kata Fikri kepada sekretarisnya.
“Baik, Pak,” jawab Sarah.
“Guntur Indra, saya pulang,” kata Fikri kepada kedua asistennya.
“Baik, Pak,” jawab Guntur dan Indra.
“Ayo, sayang,” Fikri merangkul pinggang Nessa dan membawa Nessa menuju ke liff untuk direksi.
***
Fikri mengajak Nessa menuju ke sebuah mall mewah yang berada di Bandung. Nessa memilih pakaian muslim yang berada di tenant mall tersebut. Nessa melihat baju muslim satu persatu.
“Beli yang banyak biar kamu punya baju untuk ganti,” kata Fikri sambil memperhatikan istrinya yang sedang memilih baju muslim.
“Iya,” jawab Nessa sambil memperhatikan baju muslim yang ada.
Setelah membeli beberapa potong baju muslim lengkap dengan hijabnya merekapun pulang ke rumah. Ketika hendak sampai ke rumah tak sengaja Nessa menoleh ke rumah yang berada di samping rumah mertuanya. Di rumah itu terpampang tulisan “Rumah Ini Dijual”.
Setelah mobil berhenti di halaman rumah Nessa cepat-cepat turun dari mobil. Kemudian ia berjalan keluar rumah.
“Nessa, kamu mau kemana? Ini sudah magrib,” panggil Fikri.
Nessa memberi tanda kepada suaminya agar mengikutinya. Fikri mengikuti istrinya. Nessa berdiri di depan rumah yang berada di sebelah rumah mertuanya. Fikri menghampiri Nessa.
“Kenapa?” tanya Fikri.
Nessa menunjuk ke rumah tersebut. Fikri menoleh ke rumah itu.
“Rumah ini dijual,” Fikri membaca tulisan yang menempel di rumah itu.
“Aa punya uangnya, nggak?” tanya Nessa lalu menoleh ke suaminya.
“Kamu mau beli rumah?” tanya Fikri.
“Kalau Aa ada uangnya,” jawab Nessa.
“Kalau kamu mau kita beli rumah ini,” kata Fikri.
“Punya uangnya, nggak?” tanya Nessa sekali lagi.
Karena rumah di sekitar rumah mertuanya harganya mahal. Karena kawasan perumahan mewah.
“Ada, sayang,” jawab Fikri sambil mengusap rambut Nessa.
“Yang bener?” tanya Nessa dengan tidak yakin.
“Masa kamu tidak percaya? Suami kamu ini kan termasuk salah satu miliarder di Singapura,” kata Fikri dengan bangga.
“Tapi itukan berupa asset,” ujar Nessa.
“Tidak semuanya berupa asset. Uang cash juga ada,” jawab Fikri.
“Jadi kita bisa beli rumah ini?” tanya Nessa.
“Iya, sayang,” jawab Fikri.
“Asyik bisa beli rumah,” ujar Nessa girang.
“Sekarang kita pulang, kita belum sholat magrib. Besok kita hubungi pemilik rumah,” kata Fikri.
__ADS_1
Fikri merangkul pinggang Nessa dan membimbingnya menuju ke rumah orang tuanya.