Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
52. Tasyakuran Rumah Baru


__ADS_3

Selama di Singapura Nessa hunting barang-barang untuk menambah koleksi tokonya. Nessa pergi ditemani oleh bibi dan Pak Sam.


Ketika Fikri pulang dari kantor, ia kaget melihat rumahnya penuh dengan barang-barang.


“Ini nggak salah belanjaan kamu sebanyak ini?” tanya Fikri.


“Nggak dong. Kan untuk menambah koleksi toko. Apalagi nanti ada toko offlinenya, jadi koleksinya harus banyak,” jawab Nessa sambil memasukkan barang-barang ke dalam karung.


“Bagaimana caranyanya dibawa ke Bandung?” tanya Fikri.


“Kirim pakai jasa paket. Jadinya tidak ribet,” jawab Nessa.


“Kita pulang kalau paket-paket ini sudah dikirim,” kata Nessa sambil mengikat karung dengan tali.


“Aa sudah makan, belum?” tanya Nessa.


“Belum,” jawab Fikri.


“Nessa juga belum makan. Ayo kita makan,” kata Nessa. Ia meninggalkan pekerjaannya dan makan malam bersama dengan suaminya.


***


Setelas seminggu lamanya berada di Singapura, Nessa dan Fikri kembali ke Bandung, karena rumah mereka sudah selesai direnovasi.


Nessa mengadakan tasyakuran rumah baru dan kandungan Nessa. Serta grand opening toko baru Nessa. Nessa mengundang para kerabat, karyawan Fikri dan juga para tetangga.


Mamah dan Papah juga datang dari Jakarta.


“Masyaallah, Pah. Besar sekali rumah anak kita. Rumah kita kalah dengan rumah Nessa,” kata Mamah yang tercengang ketika baru pertama kali melihat rumah Nessa.


Papah dan Mamah masuk ke dalam rumah.


“AssalamualIkum,” ucap Mamah ketika masuk ke dalam rumah Nessa.


“Waalalikumsalam,” jawab Fikri.


Fikri langsung mencium punggung tangan mamah dan papah.


“Mana Nessa?” tanya mamah.


“Ada di dalam, Mah. Ayo masuk, Mah Pah,” kata Fikri.


Fikri membawa kedua orang tua Nessa ke ruang keluarga.


“Masyaallah, Pah. Luas sekali rumah Nessa,” kata Mamah ketika masuk ke dalam ruang keluarga.


Fikri menghampiri Nessa ke ruang makan. Ia sedang menata kue-kue di atas meja.


“Sayang, Mamah dan Papah sudah datang,” bisik Fikri sambil mengecup pipi istrinya.


Nessa menoleh ke belakang.


“Mamah. Kapan datang?” tanya Nessa.


Nessa menghampiri kedua otrang tuanya kemudian mencium punggung tangan mereka.


“Anak Mamah sudah menjadi nyonya besar, ya,” kata mamah.


“Mamah bisa aja. Nessa tetap anak Mamah,” ujar Nessa.


“Mana Ikhsan dan Dafa? Kenapa tidak ikut?” tanya Nessa.


“Dafa biasa mau main sama teman-temannya. Ikhsan dan Chika nanti menyusul ke Bandung,” jawab mamah.


"Bagaimana keadaan cucu Mamah?" tanya mamah sambil mengelus perut Nessa.


"Alhamdullilah sehat, Mah," jawab Nessa.


“Duduk dulu, Mah Pah. Nessa mau suruh bibi buatkan minum,” kata Nessa.


Mamah dan Papah duduk di atas karpet. Semua kursi di singkirkan karena ruang tamu dan ruang keluarga akan dipakai untuk pengajian.


Nessa pergi ke dapur.


“Bi, tolong buatkan kopi dan teh untuk orang tua saya,” kata Nessa.

__ADS_1


“Baik, Bu,” jawab Bibi.


Kemudian Nessa kembali ke ruang keluarga.


“Ayo, Mah Pah. Kita lihat toko Nessa,” kata Nessa.


Mamah dan papah berdiri mengikuti Nessa dan Fikri menuju ke toko Nessa yang berada di ruang paviliun.


Pukul sepuluh para tamu mulai berdatangan. Mereka hendak mengikuti pengajian di rumah nessa.Diantara para tamu karyawan Fikri hadir pula Sarah sekretaris Fikri. Sarah tidak jadi dipecat oleh Fikri karena ia mau merubah pakaianya menjadi pakaian yang lebih sopan.


Sarah datang dengan menggunakan pakaian muslim. Perempuan itu nampak cantik dengan pakaian balutan muslim, menarik perhatian lelaki yang hadir di sana.


Acara pengajianpun dimulai. Ketika pengajian sedang berlangsung perhatian Sarah tertuju kepada Prima yang duduk di sebelah Fikri.


Siapa dia yang duduk di sebelah Pak Fikri? Tampan sekali, tanya Sarah di dalam hati.


Prima tidak tahu kalau Sarah sedang memperhatikannya. Karena perhatian Prima tertuju pada seorang gadis yang duduk di sebelah Nessa yaitu Ima.


Setelah acara pengajian selesai, para tamu dipersilahkan untuk menyicipi hidangan yang telah disediakan. Namun Prima bukannya makan bersama dengan tamu yang lain, ia pergi menuju ruang makan. Ia sedang menikmati secangkir kopi sambil memperhatikan Ima yang sedang membantu Nessa.


Fikri menghampiri Prima yang sedang duduk di ruang makan.


“Ngapai Akang di sini? Tidak makan?” tanya Fikri.


“Nanti saja makannya masih ngantri. Akang mau balas pesan dulu,” jawab Prima berbohong. Ia pura-pura melihat ke ponselnya.


“Ada yang nanyain, tuh,” kata Fikri lalu duduk di sebelah Prima.


“Siapa?” tanya Prima.


“Sarah, sekretaris baru Fikri,” jawab Fikri.


“Ngapain dia nanyain saya?” tanya Prima.


“Pengen ngajak kenalan katanya,” jawab Fikri.


“Lagi nggak pengen kenalan sama cewek,” kata Prima acuh. Ia fokus pada ponselnya.


“Tapi kalau sama yang itu, maukan?” tanya Fikri.


Prima menoleh ke Fikri.


“Siapa?” tanya Prima.


“Ah, kamu bisa aja,” ujar Prima.


“Namanya Ima. Dia asistennya Nessa, tamatan SMA. Dia keponakan bibi di rumah mamah,” kata Fikri.


“Kok saya tidak pernah melihat kalau ke rumah Pak Taufik?” tanya Prima.


“Akang tidak pernah masuk ke dapur, mana tau kalau ada Ima di rumah Papah,” jawab Fikri.


Fikri bangun dari tempat duduknya.


“Kalau mau kenalan sama Ima, sering-sering aja main ke toko,” kata Fikri kemudian menepuk bahu Prima.


“Udah ah, Fikri keluar dulu,” kata Fikri.


Fikri meninggalkan Prima sendiri. Prima memainkan ponselnya sambil melirik ke Ima.


“Ngapain Akang duduk di sini? Akang tidak makan?” tanya Nessa.


Prima kaget tiba-tiba Nessa sudah berdiri di sampingnya.


“Eh, Nessa. Akang numpang ngadem di sini. Di depan panas banyak orang,” jawab Prima.


“Ya sudah, selamat mengadem ria. Nessa ke depan dulu ya, Kang,” ujar Nessa.


“Iiiya,” jawab Prima dengan grogi. Bagaimana Prima tidak grogi kalau Ima sedang berdiri di samping Nessa sambil ikut memperhatikannya.


“Ayo, Ma,” kata Nessa kepada Ima.


Ima dan Nessa berjalan menuju ke depan rumah sambil membawa kue yang akan di taruh di meja depan.


Setelah makan semua tamu langsung menuju ke toko  yang berada di sebelah kiri rumah Nessa. Toko Nessa penuk dengan para tamu.

__ADS_1


“Teh Nessa bajunya bagus-bagus, dapat dari mana?” tanya Rahma kepada Nessa.


“Ada yang beli di Pasar Tanah Abang. Ada juga beli di Singapura,” jawab Nessa.


“Teh Nessa, aku mau beli baju. Tapi tidak punya uang. Boleh kas bon, nggak? Nanti potong gaji,” tanya Elsi kepada Nessa.


“Boleh,” jawab Nessa.


“Asyik boleh,” ujar Elsi kegirangan.


Mendengar Nessa mengijinkan Elsi kas bon, karyawan yang lain juga mau. Mereka menghampiri Nessa.


“Aku juga mau kas bon, Teh,” kata Hera kepada Nessa.


“Iya, boleh,” jawab Nessa.


“Aku juga, Teh,” kata Yolti.


“Iya, boleh,” jawab Nessa.


Akhirnya para karyawan perempuan membeli baju di toko Nessa dengan cara kas bon.


Prima membawa sepiring makanan lalu duduk di sebelah Ima. Ima sedang makan sendirian. Tadi Nessa menyuruh Ima makan karena Ima belum makan siang.


“Hai. Sendirian saja. Boleh ikut gabung? tanya Prima.


Ima menoleh ke sebelahnya, namun tidak ada orang. Ia bingung Prima mengajak bicara siapa?


“Bapak bicara dengan saya?” tanya Ima.


“Iya, saya bicara sama kamu. Masa bicara sama nyamuk,” jawab Prima.


“Boleh kenalan, nggak?” tanya Prima.


Prima mengulurkan tangannya.


“Kenalkan saya Prima, asistennya Pak Taufik,” kata Prima.


Namun Ima tidak membalas uluran tangan Prima.


“Maaf, tangan Ima kotor,” kata Ima sambil memperlihatkan tangannya yang penuh dengan minyak.


“Tidak apa-apa,” jawab Prima.


“Jadi nama kamu Ima?” tanya Prima.


“Iya,” jawab Ima.


“Kamu kerja dengan Nessa?” tanya Prima.


“Iya,” jawab Ima.


“Kamu tinggal di rumah Ibu Dira?” tanya Prima.


“Tadinya Ima numpang tinggal di rumah Ibu Dira. Tapi sekarang Ima tinggal di rumah Teh Nessa,” jawab Ima.


“Kok saya tidak pernah lihat kamu di rumah Ibu Dira?” tanya Prima.


“Ima di belakang bantu-bantu bibi,” jawab Ima.


“Oh iya, ya,” ujar Prima.


“Maaf, Pak. Ima ke belakang dulu mau menaruh piring,” kata Ima.


“Silahkan,” jawab Prima.


Ima pun beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Prima melanjutkan makannya.


Fikri datang lalu duduk di sebelah Prima.


“Bagaimana? Sudah kenalan sama Ima?” tanya Fikri.


“Sudah,” jawab Prima sambil mengunyah makanannya.


“Tapi Akang mesti ingat! Ima itu keponakan bibi. Kalau Akang berani macam-macam, nanti kopi Akang dikasih sianida sama bibi,” kata Fikri.

__ADS_1


Tiba-tiba.


“Uhuk uhuk uhuk,” Prima terbatuk-batuk karena keselek makanan.


__ADS_2