Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
39. Kesal


__ADS_3

Nessa masuk ke dalam rumah Fikri melalui pintu garasi.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika masuk ke ruang keluarga.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Dira.


“Masuk sini, Nes. Tante lagi masak di dapur,” kata Ibu Dira.


Nessa masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur. Ibu Dira sedang sibuk mengaduk-aduk isi panci di atas kompor. Ibu Dira sedang memasak bersama dengan para asisten rumah tangga.


Nessa menghampiri Ibu Dira hendak mencium tangan Ibu Dira.


“Haduh, tangan Tante kotor bekas masak,” cegah Ibu Dira.


Ibu Dira menuju ke tempat cuci piring lalu mencuci tangannya hingga bersih. Setelah mengelap tangannya barulah ibeliau memperbolehkan Nessa mencium punggung tangannya.


“Apa kabar, Nes?” tanya Ibu Dira sambil cipika cipiki Nessa.


“Alhamdullilah baik, Tante,” jawab Nessa.


“Kelihatannya kamu agak kurus. Kamu sakit, ya?” tanya Ibu Dira yang memperhatikan tubuh Nessa.


“Tidak, Tante. Nessa tidak sakit,” jawab Nessa.


“Badan Fikri juga jadi kurus. Dia seperti orang yang tidak keurus. Padahal di sana ada bibi yang memasak untuknya setiap hari,” kata Ibu Dira.


“Apa karena kalian saling berjauhan satu sama lain sehingga membuat kalian menderita?” tanya Ibu Dira.


Nessa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ibu Dira.


“Bi, tolong teruskan masaknya! Saya mau antar Nessa ke kamar Fikri,” kata Ibu Dira.


“Iya, Bu,” jawab bibi.


“Ayo, kita ke kamar Fikri,” kata Ibu Dira sambil merangkul pinggang Nessa.


Ibu Dira mengajak Nessa ke kamar Fikri yang berada di lantai atas. Ibu Dira berhenti di depan sebuah kamar.


“Tadi Fikri sedang tidur,” kata Ibu Dira.


Ibu Dira membuka pintu perlahan. Terasa hawa dingin dari pendingin ruangan di kamar itu. Fikri sedang tidur memunggungi mereka.


“Kamu masuk saja,” kata Ibu Dira.


“Tapi Pak Fikri sedang tidur,” ujar Nessa.


“Tidak apa-apa. Dia pasti bangun kalau kamu yang datang,” jawab Ibu Dira.


Dengan ragu Nessa masuk ke dalam kamar Fikri.


“Tante tinggal, ya. Tante lagi masak bubur untuk Fikri,” bisik Ibu Dira.

__ADS_1


Ibu Dira menutup kembali pintu kamar Fikri meninggalkan Nessa di kamar Fikri. Pelan-pelan Nessa mendekati tempat tidur Fikri. Terdengar suara dengkuran halus dari mulut Fikri. Nessa memandangi wajah Fikri yang sedang tidur dengan nyenyak. Wajahnya terlihat tirus. Pipi, dagu dan di atas mulutnya penuh dengan bulu-bulu kasar. Sepertinya Fikri tidak pernah mencukur jenggotnya. Kelopak matanya terlihat seperti orang yang kurang tidur.


Pelan-pelan Nessa mengambil kursi meja kerja Fikri, kemudian ditaruh di sebelah tempat tidur Fikri. Nessa duduk di kursi sambil memperhatikan wajah bosnya. Ternyata jauh dari bayangannya selama ini. Selama ini ia menyangka Fikri sedang bersenang-senang dengan perempuan lain. Namun kenyataannya yang ia lihat Fikri seperti orang yang menderita.


Nessa memegang kening Fikri terasa sangat panas.


Panasnya tinggi sekali, kata Nessa di dalam hati.


Tiba-tiba tangan Nessa dipegang oleh Fikri. Kemudian Fikri mencium telapak tangan Nessa lalu di taruh di dada dan dipeluknya. Fikri tidak membuka matanya sama sekali.


“Bapak sudah bangun?” tanya Nessa sambil memperhatikan wajah Fikri.


“Kapan kamu datang?” Fikri bukan menjawab pertanyaan Nessa, tapi malah balik bertanya.


“Beberapa menit yang lalu,” jawab Nessa.


Fikri membuka matanya dan menatap Nessa, perempuan yang selama ini ia rindukan. Fikri memegang pipi Nessa.


“Kenapa wajah kamu begitu mengkhawatirkan?” tanya Fikri.


“Kenapa Bapak tidak tanya pada diri Bapak sendiri?” jawab Nessa dengan kesal.


“Kamu marah sama saya, ya?” tanya Fikri.


“Bagaimana menurut Bapak?” Nessa balik bertanya.


Fikri bangun dari tidurnya lalu ia bersandar pada headboard.


“Takut kangen atau lagi asyik bersenang-senang dengan perempuan lain?” tanya Nessa dengan tajam.


“Perempuan yang mana?” tanya Fikri bingung.


“Yang mana saja. Mungkin mantan Bapak, atau staf Bapak atau kenalan Bapak,” jawab Nessa dengan kesal.


“Kamu cemburu?” tanya Fikri.


“Tidak, untuk apa saya cemburu? Saya kan bukan siapa-siapa Bapak,” jawab Nessa.


“Kata siapa kamu bukan siapa-siapa saya? Kamu calon istri saya,” kata Fikri.


“Kalau saya calon istri Bapak kenapa Bapak tidak menjawab telepon saya dan tidak membalas pesan saya? Bagi saya itu adalah pertanda Bapak sudah mengakhiri hubungan kita. Dan Bapak sudah tidak ingin saya bekerja di sana. Jadi kedatangan saya ke sini untuk mengantarkan surat pengunduran diri saya,” Nessa membuka tasnya lalu memberikan sebuah ampop putih kepada Fikri.


Fikri menerima amplop yang diberikan Nessa. Lalu ia menatap perempuan di depannya, perempuan itu benar-benar marah kepadanya. Nessa mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya. Ia benar-benar merasa dipermainkan oleh Fikri.


“Maafkan saya, saya tidak pernah mempermainkan kamu. Saya serius sama kamu. Saya cinta sama kamu. Saya tidak membalas pesanmu dan menjawab teleponmu karena saya takut rindu padamu sehingga membuat saya ingin pulang ke Bandung. Sedangkan di sana banyak sekali masalah yang harus saya selesaikan,” ucap Fikri.


“Saya tidak pernah berpaling darimu, cuma kamu yang ada di hati saya,” kata Fikri sambil menatap lembut kekasihnya.


“Lalu kenapa Bapak baru pulang setelah Pak Taufik menelepon Bapak?” tanya Nessa


“Kebetulan sewaktu Papah menelepon semuanya masalah baru selesai. Pelaku pembunuh Vincent sudah ditangkap dan keluarga ayah dan ibu tidak bisa menuntut warisan lagi. Karena ada bukti yang menyatakan kalau mereka sudah menerima warisan dari ayah dan ibu,” kata Fikri.

__ADS_1


“Jadi benar Vincent dibunuh?” tanya Nessa.


“Iya,” jawab Fikri.


“Siapa pembunuhnya?” tanya Nessa penasaran.


“Pembunuhnya adalah Antonio,” jawab Fikri.


“Untuk apa Antonio membunuh Vincent?” tanya Nessa.


“Agar kekayaan ayah dan ibu diwariskan kepadanya sebagai keponakan yang dekat dengan ayah dan ibu. Namun tanpa sepengetahuan siapapun ayah menyelidiki kematian Vincent. Dan ayah mempunyai buktinya. Semua bukti ayah simpan di berangkas kamar ayah,” jawab Fikri.


“Astagfirullahaladzim. Kejam sekali dengan saudara sendiri,” ucap Nessa.


“Begitulah kalau orang sudah silau dengan harta warisan,” kata Fikri.


“Padahal mereka menerima warisan yang cukup banyak dari ayah dan ibu. Kalau dikurskan ke mata uang rupiah sekitar satu milyar per orang,” lanjut Fikri.


“Waw, banyak juga,” ujar Nessa.


“Lalu bagaimana dengan Tuan Tan?” tanya Nessa.


“Om Tan malu, setelah mendengar Antonio yang membunuh Vincent. Padahal apa yang diminta oleh Om Tan dan Antonio minta, selalu ayah berikan. Sekarang Om Tan diam tidak berani lagi berbicara apapun,” jawab Fikri.


“Bagaimana kalau Tuan Tan balas dendam? Bapak kan sudah memenjarakan anaknya,” tanya Nessa.


“Dia tidak akan berani. Kalau dia macam-macam akan saya penjarakan dengan kasus lain,” jawab Fikri.


“Kasus apa lagi?” tanya Nessa penasaran.


“Adalah. Buktinya masih ada di berangkas kamar ayah. Tapi saya tidak perkarakan, karena beliau adalah adik ayah. Jadi case close,” jawab Fikri.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ibu Dira berdiri di depan pintu.


“Fikri sudah bangun?” tanya Ibu Dira.


“Sudah, Mah,” jawab Fikri.


Ibu Dira masuk ke dalam kamar. Di belakang Ibu Dira ada dua orang asisten rumah tangga, masing-masing membawa nampan berisi piring. Para asisten rumah tangga menyimpan nampan di atas meja kerja Fikri.


“Kamu makan dulu! Terus makan obat,” kata Ibu Dira.


“Iya, Mah,” jawab Fikri.


“Nessa, kamu juga makan! Kamu pasti belum makan siang,” kata Ibu Dira.


“Terima kasih, Tante. Nessa jadi merepotkan Tante,” ucap Nessa.


“Sudah, ya. Tante belum sholat dzuhur. Kalau kamu mau sholat, sholat saja di mushola,” kata Ibu Dira.


“Iya, Tante,” jawab Nessa.

__ADS_1


“Tante tinggal dulu,” Ibu Dira menutup kembali pintu kamarnya.


__ADS_2