Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
50. Pegawai Baru


__ADS_3

Ketika sedang makan malam bersama, Fikri menceritakan keinginan Nessa untuk membeli rumah yang berada di sebelah rumah Pak Taufik.


“Oh, itu rumah Pak Irwan. Sekitar beberapa minggu yang lalu anak Pak Irwan pernah datang ke sini menemui Papah dan Mamah. Ia menawarkan rumah peninggalan orang tuanya. Mereka mau membagikan warisan orang tuanya. Mamah mau bilang kepadamu, siapa tau kamu berminat untuk membeli. Tapi Mamah keburu lupa,” kata Ibu Dira.


“Papah sih, tidak mengingatkan Mamah,” ujar Ibu Dira kepada Pak Taufik.


“Loh kok, jadi Papah yang disalahin? Kan Mamah yang pelupa,” jawab Pak Taufik.


“Bantuin mengingatkan Mamah, dong,” kata Ibu Dira.


“Sekarang tidak usah diingatkan Fikri sudah tau kalau rumah itu mau dijual,” jawab Pak Taufik.


“Mamah punya nomor telepon anak Pak Irwan?” tanya Fikri.


“Punya. Nanti Mamah cari dulu. Mamah lupa simpan dimana,” jawab Ibu Dira.


“Bukannya nomor telepon yang dicanttumkan di depan rumahnya nomor telepon anak Pak Irwan?” tanya Nessa kepada Fikri.


“Belum tentu itu nomor telepon anaknya. Siapa tau itu nomor telepon orang disuruh menjual rumah Pak Irwan. Lebih baik menelepon anak Pak Irwan langsung,” jawab Fikri.


“Sudah jangan membahas rumah lagi. Lebih baik sekarang kita makan dulu,” kata Pak Taufik agar mereka tidak berbicara ketika sedang makan. Akhirnya mereka melanjutkan makan malam mereka.


***


Keesokan harinya ketika sarapan pagi Ibu Dira memberikan nomor telepon anak Pak Irwan.


“Namanya Sandi,” kata Ibu Dira setelah memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor telepon kepada Fikri.


“Terima kasih, Mah. Nanti Fikri telepon di kantor,” ucap Fikri lalu melanjutkan sarapannya.


“Kalian kenapa mau cepat-cepat pindah? Kalian tidak betah tinggal di sini, ya?” tanya Ibu Dira dengan sedih. Rumahnya akan sepi jika Nessa dan Fikri pindah. Maklum saja karena Fikri anak bungsu.


“Kami betah tinggal di sini. Hanya saja Nessa butuh tempat untuk membuka toko online,” jawab Fikri.


“Kalau di rumah ini takut tidak boleh sama Mamah,” kata Fikri.


“Kata siapa tidak boleh? Tentu bolehlah. Banyak kamar kosong di atas. Kamu bisa pakai salah satu kamar. Kalau toko online tidak harus di depan rumah,” kata Ibu Dira.


Mendengar perkataan Ibu Dira membuat Nessa menjadi senang.


“Terima kasih, Mah,” ucap Nessa.


“Apa kamu sudah punya pegawai?” tanya Ibu Dira.


“Belum, Mah. Nessa mau pinjam pembantu Mamah,” jawab Nessa.


“Siapa?” tanya Ibu Dira.


“Pembantu baru Mamah, Namanya Ima,” jawab Nessa.


“Ima?” tanya Ibu Dira sambil mengerut kening.


“Perasaan Mamah tidak punya pembantu baru. Apalagi yang namanya Ima,” jawab Ibu Dira.


“Nessa pernah menyuruh dia ke apotik. Nesa kira dia pembantu baru Mamah,” kata Nessa.


Ibu Dira berpikir sebentar.

__ADS_1


“Oh, yang kamu maksud Ima keponakan bibi?” tanya Ibu Dira.


“Nessa tidak tau. Sewaktu Nessa mencari orang untuk disuruh ke apotik, bibi datang membawa Ima,” jawab Nessa.


“Ima itu keponakan bibi. Ia datang ke Bandung untuk mencari kerja. Tapi sayang dia cuma tamatan SMA. Sedangkan di kantor Papah dan di kantor Fikri tidak ada lowongan pekerjaan untuk tamatan SMA,” kata Ibu Dira.


“Nanti kamu tanya ke Ima, mau tidak dia bekerja di toko online kamu,” kata Ibu Dira.


“Iya, Mah,” jawab Nessa.


“Mamah sudah mengijinkan kamu membuka toko online di sini. Kamu juga sudah dapat calon pegawai. Lalu rumah di sebelah jadi beli, tidak?” tanya Fikri kepada Nessa.


“Jadi dong, A. Sudah menjadi kewajiban Aa membelikan Nessa rumah,” jawab Nessa.


“Iya sayang. Nanti Aa belikan rumah Pak Irwan,” kata Fikri sambil membelai kerudung istrinya. Nessa sudah mulai memakai kerudung jika keluar dari kamar.


***


Setelah Fikri pergi kerja Nessa memanggil Ima untuk diajak bicara. Mereka duduk di teras kebun belakang.


“Saya dengar dari Mamah kamu sedang mencari pekerjaan?” tanya Nessa kepada Ima.


“Iya, Non,” jawab Ima.


“Jangan panggil saya ‘Non’. Panggil saya Teh Nessa,” kata Nessa.


“Nanti Ibu marah kalau saya panggil Non dengan sebutan Teteh,” jawab Ima.


“Tidak, Mamah tidak akan marah,” kata Nessa.


“Kamu mau kerja dengan saya, tidak?” tanya Nessa.


“Saya mau buka toko online. Saya butuh karyawan untuk membantu saya. Kalau kamu mau, kamu akan menjadi karyawan pertama saya,” jawab Nessa.


“Mau, Teh. Ima mau kerja apa saja, asalkan halal,” ujar Ima.


“Kalau kamu mau. Mulai sekarang kamu bekerja dengan saya,” kata Nessa.


“Terima kasih, Teh,” ucap Ima.


Setelah Ima setuju bekerja dengan Nessa, Nessa mulai mepersiapkan toko online. Nessa dibantu oleh Ima membereskan salah satu kamar di lantai atas yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan gudang tempat penyimpanan barang sekaligus sebagai kantor toko online.


Ketika malam hari Fikri memijati kaki dan tangan istrinya karena kecapean sudah membereskan kantor barunya.


“Hati-hati jangan terlalu kecapean dan jangan angkat barang-barang yang berat! Kasihan bayi kita kalau mamahnya terlalu capean,” kata Fikri sambil memijat kaki istrinya.


“Iya,” jawab Nessa.


“A, katanya Aa mau memberikan Nessa modal usaha. Kapan Aa mau memberikan modalnya?” tanya Nessa.


“Kamu butuhnya kapan?” tanya Fikri sambil mengusap-usap telapak kaki istrinya.


“Kalau bisa besok, A. Besok Nessa mau belanja bersama Ima,” jawab Nessa.


“Nanti Aa transfer uangnya. Tapi jangan besok belanjanya. Karena besok kita ada janji dengan Pak Sandi, anak Pak Irwan. Kita mau lihat rumah Pak Irwan,” kata Fikri.


“Aa sudah menelepon Pak Sandi?” tanya Nessa.

__ADS_1


“Sudah, makanya besok kita bisa melihat rumah Pak Irwan,” jawab Fikri.


Fikri berhenti memijat kaki istrinya lalu merebahkan dirinya di samping istrinya.


“Sudah lama Aa tidak menengok bayi kita,” Fikri berbisik di telinga Nessa.


“Bukannya kemarin sudah?” tanya Nessa.


“Kapan? Belum, ah. Terakhir minggu yang lalu,” jawab Fikri.


“Iya deh, boleh nengok bayi. Tapi pelan-pelan, ya!” kata Nessa.


“Iya, sayang,” jawab Fikri.


Fikri mulai melancarkan aksinya.


***


Keesokan harinya setelah selesai sarapan, Fikri tidak langsung ke kantor. Ia menunggu sampai Sandi datang. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan masuk dari ponselnya. Fikri menjawab panggilan itu.


“Assalamualaikum,” ucap Fikri.


“Waalaikumsalam. Pak Fikri saya sudah berada di depan rumah orang tua saya,” ucap Sandi.


“Baiklah, saya keluar sekarang,” kata Fikri.


Fikri menutup teleponnya. Kemudian ia menghampiri Nessa yang sedang berada di ruang kerja barunya.


“Nes, Pak Sandi sudah datang. Ayo kita ke sana,” kata Fikri kepada Nessa.


Nessa menoleh ke suaminya.


“Sebentar, A,” jwab Nessa.


“Ima. Saya ke rumah Pak Irwan,” pamit Nessa.


“Iya, Teh,” jawab Ima.


Nessa keluar dari ruang kerjanya lalu merekapun pergi menuju ke Pak Irwan.


“Bagaimana Ima? Rajin nggak dia?” tanya Fikri ketika mereka berjalan ke rumah Pak Irwan.


“Alhamdullilah, dia anak yang rajin. Dia kerja dengan semangat,” jawab Nessa.


“Syukurlah. Kalau tidak rajin nanti kamu yang cape kerja,” kata Fikri.


Akhirnya mereka sampai di rumah Pak Irwan. Pintu gerbang rumah Pak Irwan terbuka lebar. Sebuah mobil sedan terparkir di halaman rumah Pak Irwan.


“Assalamualaikum,” ucap Fikri dan Nessa ketika mendekati teras rumah Pak Irwan.


“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam rumah.


Seorang laki-laki berusia empat puluh tahubn keluar dari rumah.


“Pak Fikri?” tanya laki-laki itu.


“Iya, saya Fikri,” jawab Fikri.

__ADS_1


“Saya Sandi,” kata Sandi lalu menjabat tangan Fikri.


“Silahkan masuk, Pak Fikri,” ujar Sandi.


__ADS_2