
Mereka bersama-sama masuk ke dalam mall.
“Om dan Tante mau makan apa?” tanya Fikri ketika sedang berjalan di dalam mall.
“Kalau Om yang penting makan nasi,” jawab Papah.
“Kalau makan makanan Malaysia, Om dan Tante mau tidak?” tanya Fikri.
“Om dan Tante belum pernah mencoba makanan Malaysia,” jawab Mamah.
“Makanannya macam-macam ada makanan melayu dan makanan china,” kata Fikri.
“Bagaimana, Mah? Mau coba, nggak?” tanya Papah kepada Mamah.
“Boleh,” jawab Mamah.
“Boleh, Pak Fikri. Om dan Tante mau coba,” jawab Papah Dodi.
“Jangan panggil Pak Fikri. Panggil saya Fikri. Saya masih muda,” kata Fikri.
“Baik, Fikri,” kata Papah Dodi.
Fikri membawa Nessa dan orang tua Nessa menuju ke sebuah restaurant Malaysia. Fikri mengajak mereka duduk di meja yang cukup untuk berempat. Seorang pelayan restaurant menghampiri mereka dan memberikan buku menu. Mereka memilih makanan yang ada di buku menu.
Makanan Malaysia biasanya makanan melayu dan makanan china, sehingga mereka tidak kesulitan untuk memilih makanan. Setelah memesan makanan merekapun berbincang-bincang sejenak.
“Nes, Papahmu mau mempekenalkan kamu dengan anak teman Papah,” kata Mamah.
“Coba Papah yang bicara ke Nessa,” kata Mamah menyuruh Papah bicara langsung ke Nessa.
“Begini, Nes. Papah dan teman Papah mau memperkenalkan kamu dengan anak teman Papah. Namanya Zamzam. Dia sarjana tehnik mesin. Dia kerja di perusahaan BUMN di Bandung. Nanti Papah dan teman Papah yang mengatur pertemuan kalian,” kata Papah.
“Bagaimana? Kamu mau kami kenalkan sama Zamzam?” tanya Mamah.
“Mau, Mah. Asalkan bukan suami orang, pacar orang atau tunangan orang,” jawab Nessa.
“Kamu tenang saja. Kalau sampai Zamzam sudah punya istri, Papah tidak boleh tidur di kamar! Mamah suruh Papah tidur di luar sama nyamuk,” kata Mamah dengan menggebu-gebu.
“Nanti Papah pastikan kalau Zamzam belum menikah,” kata Papah.
“Itu harus! Jangan sampai anak kita diperlakukan seenaknya oleh orang lain,” seru Mamah.
Tanpa mereka sadari Fikri dari tadi diam sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
Makanan yang mereka pesan datang. Mereka menghentikan pembicaraan lalu makan bersama dengan tenang.
__ADS_1
Setelah selesai makan mereka menuju ke musholah untuk sholat dzuhur. Mereka terpisah ketika masuk ke tempat wudhu. Papah dan Fikri masuk ke tempat wudhu pria. Sedangkan Nessa dan Mamah masuk melalui tempat wudhu khusus untuk wanita.
Ketika di dalam mushola Nessa melihat Papah dan Fikri sholat berjamaah berdua. Papah yang menjadi imamnya. Banyak orang yang menyusul ikut bergabung menjadi makmum.
“Hei! Jangan melihat ke depan saja! Cepat sholat dulu! Nanti waktu sholat dzuhur keburu habis,” kata Mamah mengngagetkan Nessa.
“Iya,” jawab Nessa.
Nessa cepat-cepat menggunakan mukenahnya lalu sholat dzuhur.
Setelah selesai sholat dzuhur, Nessa dan Fikri pamit untuk kembali ke Bandung. Papah dan Mamah mengantar mereka sampai ke depan lobby. Mereka menunggu di depan lobby sampai mobil Fikri datang.
Akhirinya mobil Fikri sampai di depan lobby. Nessa berpamitan pada orang tuanya. Ia mencium punggung tangan orang tuanya satu persatu. Fikri menyalami Papah dan Mamah Nessa.
“Nessa pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam,” jawab Papah dan Mamah.
Nessa dan Fikri masuk ke dalam mobil, lalu mobil Fikri pergi meninggal mall.
Papah dan Mamah memperhatikan mobil Fikri dari kejauhan.
“Kok, rasanya seperti melepas kepergian anak dan menantu,” kata Mamah sambil memandangi mobil Firas yang mulai menjauh.
“Huss, jangan menghayal yang tidak-tidak. Kita harus sadar diri Fikri itu siapa? Nanti jadi kecewa,” kata Papah.
“Sudah ah, kita pulang. Papah sudah cape,” kata Papah.
Papah dan Mamah berjalan menuju ke basement menuju ke tempat parkir.
***
Seminggu telah berlalu. Seperti yang Papah katakan, hari ini Nessa ada janji dengan Zamzam, anak teman Papah Dodi. Kemarin Papah mengirim foto Zamzam. Di fotonya Zamzam terlihat tampan. Wajahnya teduh seperti orang penyabar dan rajin beribadah. Ia berusia tiga puluh enam tahun. Benar-benar type calon suami yang ideal. Papah dan temannya mengatur agar Nessa dan Zamzam bertemu di sebuah café di kota Bandung.
Nessa berdandan dengan sangat cantik. Ia berharap perjodohannya kali ini membuahkan hasil. Ia juga tidak ingin terus menerus hidup sendiri selama di Bandung. Jika ia menikah dengan Zamzam, ia akan menjadi penduduk kota Bandung.
Kali ini Nessa pergi tidak menggunakan ojek online, tapi ia memilih taksi online. Ia tidak ingin penampilannya menjadi berantakan karena terkena angin dan debu.
Taksi online yang ditumpangi oleh Nessa berhenti di depan sebuah café. Nessa masuk ke dalam café. Dengan berbekal foto yang diberikan Papah, Nessa mencari Zamzam di dalam café.
Nessa mengedarkan pandangannya ke sekeliling café. Akhirnya Nessa menemukan Zamzam. Ketika Zamzam melihat Nessa, ia langsung berdiri dan tersenyum kepada Nessa.
“Bang Zamzam?” tanya Nessa.
Sengaja Nessa memanggil Zamzam dengan sebutan abang, karena Zamzam orang pulau seberang.
__ADS_1
“Nessa, ya?” Zamzam balik bertanya.
“Iya, saya Nessa anak Pak Dodi,” jawab Nessa.
“Apa kabar?” sapa Zamzam sambil mengajak Nessa salaman.
“Baik,” jawab Nessa.
“Silahkan duduk,” kata Zamzam.
Nessa duduk di depan Zamzam.
“Mau minum apa?” tanya Zamzam sambil memberikan daftar menu.
“Atau mau pesan makanan langsung?” tanya Zamzam.
“Nanti saja, Bang. Kita ngobrol dulu, aja,” kata Nessa.
“Baiklah,” jawab Zamzam.
Nessa memilih minum yang berada di buku menu. Ia memilih ice lemon tea minuman ringan, menyegarkan dan tidak mengenyangkan. Karena sebentar lagi ia akan makan siang bersama Zamzam. Namun sebelum makan siang, mereka akan berkenalan terlebih dahulu. Agar mereka bisa akkrab satu dengan yang lain.
Mereka mulai pembicaraan mereka. Mulai dari sekolah dimana, kuliah dimana, kerja dimana, hobi dan lain-lain. Ketika pembicaraan mereka mulai akrab, tiba-tiba Fikri datang dan duduk di sebelah Nessa. Nessa kaget melihat Fikri yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.
Wah, bisa gawat ini, kata Nessa di dalam hati.
“Sayang, pinggangku sakit. Kamu sih, tidak cukup satu ronde minta nambah terus. Aku kan jadi kewalahan memu-askan kamu,” kata Fikri sambil mengusap pinggangnya.
Zamzam kaget mendengar perkataan Fikri. Nessa langsung malu mendengar perkataan Fikri.
Dasar pengganggu! Selalu saja mengganggu orang lagi kencan, kata Nessa di dalam hati.
“Ini siapa, Nes?” tanya Zamzam sambil menunjuk ke Fikri.
“Atasan Nessa, Bang,” jawab Nessa.
“Atasan? Tapi kok bicaranya seperti itu?” tanya Zamzam curiga.
“Dia memang senang mengganggu Nessa,” jawab Nessa.
“Sebentar ya, Bang,” Nessa berdiri lalu menarik tangan Fikri dan membawa Fikri pergi dari tempat itu.
“Sayang, kamu mau bawa aku kemana?” tanya Fikri mengikuti Nessa yang terus menarik tangan Fikri.
Nessa terus menarik Fikri keluar dari café. Ia membawa Fikri ke tempat parkir.
__ADS_1
“Bapak maunya apa, sih? Senang sekali mengganggu saya,” kata Nessa dengan kesal.
“Seenaknya saja Bapak ngomong begitu di depan Bang Zamzam. Dia anak teman Papah saya. Nanti disangkanya saya perempuan nakal yang kum-pul ke-bo dengan laki-laki. Mau dikemanakan muka saya dan muka orang tua saya?” tanya Nessa yang hampir menangis karena kesal pada Fikri.