
Setelah sholat magrib Fikri dan Nessa pergi dokter kandungan. Mereka belum memberitahu kepada siapapun mengenai kehamilan Nessa. Mereka harus ke dokter obgin terlebih dahulu untuk memastikan kalau Nessa benar-benar hamil.
“Mah Pah, Fikri antar Nessa ke dokter,” kata Fikri pamit kepada Pak Taufik dan Ibu Dira.
“Nessa masih sakit?” tanya Ibu Dira dengan khawatir.
“Masih, Mah,” jawab Nessa.
“Ya sudah, ke dokter saja. Biar ketahuan kamu sakit apa,” kata Ibu Dira.
Fikri dan Nessa mencium punggung telapak tangan Ibu Dira dan Pak Taufik.
“Kami pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Fikri sebelum pergi.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Dira dan Pak Taufik.
Fikri dan Nessa pun keluar dari rumah melalui garasi.
Sepanjang perjalanan Nessa memandangi penjual makanan kaki lima.
“Kepalanya masih sakit?” tanya Fikri sambil fokus menyetir mobil.
Nessa menoleh ke Fikri.
“Masih,” jawab Nessa.
“Kalau begitu tidur saja. Nanti kalau sudah bangun Aa bangunkan,” kata Fikri sambil menoleh sebentar ke arah Nessa.
“Belum ngantuk,” jawab Nessa.
Ketika berhenti di stopan lampu merah Fikri memijat sebentar kepala Nessa.
“Sudah agak mendingan?” tanya Fikri sambil memijat kepala Nessa.
“Jadi ngantuk,” jawab Nessa.
“Ya sudah, tidur saja dulu,” kata Fikri lalu mengusap kepala Nessa.
Tiba-tiba lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Fikri fokus meenyetir lagi. Akhirnya mereka sampai di tempat praktek dokter obgin. Fikri dan Nessa menunggu sampai Nessa dipanggil.
***
Fikri memperhatikan layar televisi yang berada di kamar periksa dokter. Ia ingin melihat anaknya seperti apa.
“Janinnya masih kecil. Masih sebesar biji,” kata dokter sambil menunjuk janin dengan menggunakan kursor.
“Usianya baru empat minggu,” lanjut dokter.
“Ada pantangannya nggak, Dok?” tanya Fikri.
“Tidak ada. Makan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup. Jangan lupa minum susu ibu hamil dan minum vitamin. Nanti saya kasih resep vitamin,” jawab dokter.
Setelah dokter memberikan resep, merekapun keluar dari kamar periksa.
Fikri dan Nessa menuju ke apotik yang berada di tempat praktek dokter untuk menebus resep dokter.
“Tuh ada susu ibu hamil. Beli, ya,” kata Fikri sambil menunjuk ke arah susu ibu hamil.
“Boleh,” jawab Nessa.
“Mau rasa apa?’ tanya Fikri sambil memperhatikan varian rasa yang ada.
“Apa sajalah. Macam-macam rasa saja biar tidak bosan,” jawab Nessa.
__ADS_1
Fikri membeli susu ibu hamil dengan berbagai varian rasa. Setelah membeli vitamin dan susu ibu hamil merekapun pulang.
Di sepanjang jalan pulang Nessa memperhatikan penjual makanan kaki lima.
“A, Nessa mau seafood,” kata Nessa.
Fikri menoleh ke Nessa.
“Restaurantnya sudah tutup. Ini sudah pukul sembilan malam,” jawab Fikri.
“Bukan beli seafood di restaurant,” ujar Nessa.
“Terus beli dimana?” tanya Fikri sambil fokus menyetir.
“Di pinggir jalan, di tenda kaki lima,” jawab Nessa.
“Jangan. Besok saja kita beli di restaurant,” kata Fikri sambil menoleh ke Nessa.
“Mau sekarang! Biarin di tenda kaki lima juga,” ujar Nessa.
Semenjak ia berpacaran dengan Fikri, Nessa tidak pernah makan di pinggir kaki lima lagi. Fikri selalu mengajaknya makan di restaurant. Nessa rindu makan di pinggir jalan.
“Nanti kamu sakit perut,” kata Fikri.
“Tidak akan sakit perut. Nessa sudah biasa makan di pinggir jalan,” jawab Nessa.
Fikri menghela nafas. Nessa susah dilarang kalau ada maunya.
“Dimana penjual seafoodnya?” tanya Fikri.
“Nanti di depan setelah perempatan,” jawab Nessa dengan senang.
Akhirnya mereka sampai di penjual seafood. Fikri memarkirkan mobilnya di dekat tenda penjual seafood.
“Tidak mau, nanti tidak enak karena sudah dingin,” jawab Nessa dengan cemberut
“Ya sudah, kita makan di sini,” akhirnya Firi mengalah.
Mendengar perkataan suaminya, Nessa langsung tersenyum senang.
“Bawa hand sanitizer, kan?” tanya Fikri sebelum turun dari mobil.
“Bawa,” jawab Nessa. Nessa membuka tasnya dan mengeluarkan hand sanitizer dan tissue basah.
“Tissue basah juga ada,” kata Nessa sambil memperlihatkan hand sanitizer dan tissue basah.
“Ayo kita turun,” kata Fikri.
Nessa dan Fikri turun dari mobil. Mereka menghampiri tenda penjual seafood. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Penjual seafood memberikan daftar menu kepada Nessa. Nessa membaca daftar menu dan menulis pesanannya.
Satu persatu pesanan Nessa datang. Fikri melongo melihat pesanan Nessa yang begitu banyak. Tidak henti-hentinya penjual mengantarkan makanan yang sudah matang ke meja mereka. Sehingga meja meraka penuh dengan makanan.
“Kamu yakin bisa menghabiskan ini semua?” tanya Fikri sambil menunjuk ke makan yang ada di depan mereka.
“Aa tenang saja. Nessa pasti bisa menghabiskan semuanya,” jawab Nessa.
Nessa memakan pesanannya satu persatu tanpa menggunakan nasi. Fikri juga ikut makan bersama Nessa, hanya saja Fikri menggunakan nasi.
Setelah nasinya habis Fikri berhenti makan. Nessa masih makan menghabiskan pesanan mereka.
“Sayang, kalau sudah kenyang berhenti saja. Nanti perut kamu sakit,” kata Fikri dengan khawatir melihat Nessa seperti memaksakan menghabiskan semuanya.
“Nessa belum kenyang. Perut Nessa masih lapar,” jawab Nessa sambil mengunyah makanan.
__ADS_1
“Hah?” tanya Fikri kaget.
Fikri tidak menyangka kalau istrinya kuat makan banyak.
Akhirnya Nessa berhasil menghabiskan semua makanan yang di sajikan di atas meja.
“Sudah kenyang?” tanya Fikri ketika melihat Nessa selesai makan.
“Sudah,” jawab Nessa sambil membersihkan tangannya.
Kemudian Fikri membayar semua makanan dan mereka kembali ke dalam mobil mereka.
“Ngantuk, A,” kata Nessa ketika di dalam mobil.
“Tidur saja. Nanti kalau sudah sampai Aa bangunkan,” kata Fikri.
Nessa pun memejamkan matanya lalu tertidur.
Ketika sampai di rumah Fikri hendak membangunkan istrinya. Namun ketika melihat istrinya tidur dengan nyenyak, ia tidak tega untuk membangunkannya.
Fikri menggendong istrinya menuju ke kamar mereka. Walaupun badan Nessa berat ia tahan, ia tidak ingin istrinya yang sedang tidur terusik.
Perlahan Fikri menurunkan tubuh Nessa di atas tempat tidur. Nessa masih tertidur dengan lelap. Fikri memandangi wajah Nessa. Dulu ia melakukan berbagai cara agar Nessa dipecat dari pekerjaannya. Namun sekarang Nessa menjadi istrinya, bahkan sebentar lagi akan menjadi ibu anaknya. Fikri merapihkan rambut-rambut yang menutupi wajah istrinya lalu ia mengecup kening istrinya.
***
Keesokan harinya ketika sedang sarapan pagi Fikri mengumumkan tentang kehamilan Nessa.
“Mah Pah, Fikri mau mengatakan sesuatu,” kata Fikri sebelum sarapan.
“Katakan saja,” jawab Pak Taufik sambil mengunyah makanannya.
Fikri menoleh ke Nessa lalu memegang tangan Nessa.
“Nessa hamil,” kata Fikri.
“Alhamdullilah,” ucap Ibu Dira dan Pak Taufik setelah mendengar perkataan Fikri.
“Selamat ya, sayang,” ucap Ibu Dira kepada Nessa.
“Terima kasih, Mah,” jawab Nessa.
“Jaga kesehatanmu baik-baik,” kata Ibu Dira.
“Baik, Mah,” jawab Nessa.
“Kalau ingin makan sesuatu bilang ke bibi. Biar nanti bibi buatkan,” kata Ibu Dira kepada Nessa.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
“Kemarin malam Nessa makan seafood banyak. Dia pesan makanan banyak sekali sampai meja penuh dengan makanan,” kata Fikri.
“Kalian makan seafood dimana?” tanya Ibu Dira.
“Di tenda kaki lima di pinggir jalan,” jawab Fikri.
“Boleh makan banyak. Tapi tidak boleh kebanyakan. Ibu hamil harus dijaga makanannya. Tidak boleh terlalu banyak, juga tidak boleh terlalu sedikit. Sedang-sedang saja. Nanti akan memperburuk kesehatanmu. Bagaimanapun juga kamu harus memperhatikan kesehatanmu,” nasehat Ibu Dira kepada Nessa.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
“Sekarang kamu sarapan dulu. Jangan lupa minum vitamin dan susu ibu hamil!” kata Ibu Dira.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
__ADS_1