
Hari terus berlalu. Keadaan Mrs. Lee masih lemah. Mrs. Lee terkadang mau makan, terkadang tidak mau makan sama sekali. Terkadang Mrs. Lee mau makan jika disuapi oleh Fikri. Sedangkan Fikri sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sehingga ia tidak bisa menyuapi ibunya makan. Terpaksa Nessa yang harus pandai membujuk Mrs. Lee agar mau makan.
Nessa membawakan makanan ke kamar Mrs. Lee. Mrs. Lee sedang tidur di kamarnya.
“Bu. Bangun, Bu,” kata Nessa sambil menepuk lengan Mrs. Lee.
Mrs. Lee membuka matanya dan menoleh ke Nessa.
“Ibu makan dulu, ya,” kata Nessa.
“Ibu mau disuapi Fikri,” ujar Mrs. Lee.
“Pak Fikri sedang kerja, Bu. Nanti kalau Pak Fikri sudah pulang, Pak Fikri yang akan menyuapi Ibu,” jawab Nessa.
“Jam berapa Fikri pulang?” tanya Mrs. Lee.
“Nessa tidak tau. Nanti Nessa telepon Pak Fikri, agar Pak Fikri cepat pulang,” jawab Nessa.
“Sekarang Ibu makan disuapi Nessa,” kata Nessa.
Mrs. Lee mengangguk.
“Ibu bangun dulu. Nessa bantu, ya,” kata Nessa.
Nessa mengangkat tubuh Mrs. Lee agar bisa duduk. Lalu ia mengatur bantal di belakang punggung Mrs. Lee sebagai penyanggah tubuh. Setelah memastikan posisi duduk Mrs. Lee sudah benar, Nessa mulai menyuapi Mrs. Lee.
“Makan sama apa?” tanya Mrs. Lee melihat makanan ada di dalam piring terasa asing baginya. Seperti sop tapi berwarna kuning dengan kuah yang agak bening.
“Ini pindang gunung, makanan khas orang Pangandaran. Kebetulan tadi Nessa menemukan honje di supermarket, jadi Nessa memutuskan untuk membuat pindang gunung untuk makan siang,” jawab Nessa.
“Enak tidak rasanya?” tanya Mrs. Lee.
“Tentu saja enak,” jawab Nessa.
“Nih coba dulu kuahnya,” Nessa memberikan sesendok kuah pindang ke Mrs. Lee.
Mrs. Lee menyicipi kuah pindang.
“Enak, seger. Kamu pintar masaknya,” puji Mrs. Lee.
“Kalau enak, Ibu makan yang banyak. Agar Ibu sehat kembali. Kalau sudah sehat kita jalan-jalan,” kata Nessa.
“Ibu mau jalan-jalan kemana?” tanya Nessa.
“Ibu mau jalan-jalan ke makam Ayah,” jawab Mrs. Lee.
“Baiklah kita ke makam Ayah. Nanti kita bawakan bunga yang cantik untuk Ayah,” kata Nessa.
“Sekarang Ibu makan dulu,” ujar Nessa.
Nessa menyuapi Mrs. Lee. Kali ini Mrs. Lee mau menghabiskan makanannya.
Hari ini Fikri pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Tadi siang Nessa menelepon Fikri agar pulang cepat, karena Mrs. Lee mau disuapi oleh Fikri. Kalau Fikri pulang malam Mrs. Lee sudah tidur dan Mrs. Lee pasti kecewa karena tidak jadi disuapi oleh Fikri.
“Assalamualaikum,” ucap Fikri ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.
__ADS_1
“Ibu mana, Nes?” tanya Fikri.
“Ada di kamar sedang tidur,” jawab Nessa.
Fikri memberikan tasnya kepada Nessa lalu ua menuju ke kamar Ibunya.
“Pak, cuci dulu tangannya! Agar tidak menularkan penyakit ke Ibu. Badan Ibu sedang lemah, takutnya gampang tertular penyakit,” kata Nessa.
“Iya, calon istriku yang cerewet,” jawab Fikri.
Fikri berjalan menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Setelah selesai mencuci tangan ia baru pergi ke kamar ibunya.
Fikri membuka pintu kamar, ibunya sedang tidur. Fikri mengecup kening ibunya. Mrs. Lee membuka matanya.
“Kamu sudah pulang?” tanya Mrs. Lee.
“Sudah. Kata Nessa, Ibu mau disuapi Fikri,” jawab Fikri.
“Ibu tidak mau makan, masih kenyang. Tadi siang Ibu makan banyak dengan pindang gunung,” kata Mrs. Lee.
“Ibu harus makan lagi. Tadi kan makan siang, sekarang makan malam,” kata Fikri.
Nessa masuk ke dalam kamar Mrs. Lee dengan membawa makan malam untuk Mrs. Lee. Nessa menaruh mangkok dan gelas di atas nakas. Fikri melihat isi mangkok berisi bubur yang dicampur dengan berbagai macam sayuran.
“Ini apa, Nes? Apa ini pindang gunung?” tanya Fikri menunjuk ke mangkok.
“Bukan. Ini bubur Menado. Tadi siang ibu sudah makan dengan ikan, sekarang ibu makan dengan sayur. Jadi saya buatkan bubur Menado,” jawab Nessa.
“Oohh, saya kirain ini pindang gunung,” kata Fikri.
Fikri mengambil mangkok yang berisi bubur Menado.
Fikri mengambil sesendok bubur lalu di suapi ke mulut ibunya. Mrs. Lee mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Enak tidak makanannya?” tanya Fikri.
“Enak, Nessa pintar masak,” jawab Mrs. Lee.
“Kalau enak, makan yang banyak,” kata Fikri.
Fikri melanjutkan menyuapi Mrs. Lee hingga bubur habis.
“Akhirnya habis juga,” Fikri menyimpan mangkok di atas nakas lalu memberikan minum kepada Mrs. Lee.
“Vitaminnya sudah di makan?” tanya Fikri.
“Sudah tadi siang,” jawab Mrs. Lee.
“Fikri mau mandi dan sholat dulu. Ibu mau duduk di sini atau di luar?” tanya Fikri.
“Di sini saja,” jawab Mrs. Lee
“Ibu jangan tidur dulu. Tunggu sampai makanannya turun. Ibu nonton televisi aja,” Fikri memberikan remote tv ke Mrs. Lee. Lalu Fikri keluat dari kamar sambil membawa mangkok bekas makan Mrs. Lee
Ruang keluarga nampak sepi, sepertinya Nessa sedang sholat. Fikri menaruh mangkok di dapur lalu ia ke kamarnya untuk mandi dan sholat magrib.
Setelah selesai sholat magrib Fikri menuju ke ruang makan. Nessa sedang menyiapkan makan malam.
__ADS_1
“Makan sama apa?” tanya Fikri melihat hidangan yang ada di atas meja makan.
“Dengan ikan goreng,” jawab Nessa.
“Kok ikan goreng? Saya tidak dikasih pindang gunung?” tanya Fikri.
“Saya hanya masak sedikit. Takut Bapak tidak suka,” jawab Nessa.
“Saya juga mau mencicipi pindang gunung buatan kamu,” kata Fikri.
“Iya, nanti kapan-kapan saya buatkan,” jawab Nessa.
“Ayo makan dulu, Pak,” kata Nessa.
Fikri duduk di kursi makan, Nessa mengambilkan nasi untuk Fikri. Fikri menaruh ikan goreng beserta dengan sambel di atas piringnya.
“Pak,” panggil Nessa.
“Kenapa?” tanya Fikri.
“Ibu mau jalan-jalan ke makam Ayah,” jawab Nessa.
“Nanti kalau saya libur kita bawa Ibu ke sana,” jawab Fikri.
Lalu mereka makan malam dengan tenang.
***
Hari terus berlalu kesehatan Mrs. Lee mulai membaik. Hari ini Fikri hendak membawa ibu menuju ke makam ayah. Setelah selesai sholat subuh Fikri masuk ke kamar ibu, nampak Mrs. Lee sedang tidur nyenyak.
“Bu, bangun Bu,” kata Fikri menepuk-nepuk lengan Mrs. Lee.
Namun ibu tidak bangun.
“Bu, bangun. Sudah siang. Katanya mau ke makam ayah,” kata Fikri sekali lagi.
Namun tidak ada pergerakan dari Mrs. Lee.
“Bu,” Fikri menepuk lengan Mrs. Lee lebih keras lagi.
Tetap saja Mrs. Lee tidak juga bangun. Ia nampak tidur dengan tenang.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Fikri.
Fikri menempelkan jarinya di dekat lubang hidung Mrs. Lee Ia tidak merasakan ada pernafasan dari hidung Mrs. Lee. Ia juga mencek nadi di pergelangan tangan tidak terasa ada denyut nadi.
“Ibuuuuu,” pecahlah tangisan Fikri.
Mendengar suara Fikri semua orang langsung menuju ke kamar Mrs. Lee. Nessa membuka pintu kamar. Ia melihhat Fikri sedang memeluk tubuh ibunya sambil menangis.
“Bangun, Bu! Ini Fikri, Bu,” kata Fikri sambil menepuk-nepuk pipi ibunya.
“Pak Fikri,” panggil Nessa.
Namun Fikri masih saja menepuk-nepuk pipi Mrs. Lee. Fikri berharap ibunya bangun dari tidurnya. Pak Sam mendekati tubuh Mrs. Lee. Ia tidak merasakan ada nafas dari hidung Mrs. Lee dan juga tidak ada denyut nadi di leher dan pergelangan tangan.
“Pak Fikri, Nyonya sudah tidak ada. Beliau sudah meninggal,” kata Pak Sam.
__ADS_1
“Ibuuuu,” Fikripun menangis.