
Fikri dan Nessa berjalan dengan terburu-buru menuju ke ruang ICU tempat Mr. Lee dirawat, namun ruangan itu sudah sepi hanya ada suster yang sedang membereskan ruang ICU.
“Sus, jenasah pasien yang bernama Tuan Lee dimana?” tanya Fikri.
“Dibawa ke kamar jenasah, Pak," jawab suster.
“Terima kasih, suster,” ucap Fikri.
Namun ketika Fikri hendak pergi, suster itu memanggil Fikri, “Tuan.”
Fikri berbalik dan menghampiri suster.
“Tuan keluarga Tuan Lee?” tanya suster.
“Iya, saya anaknya,” jawab Fikri.
“Barang-barang Tuan Lee masih ada di sini. Kamar ini harus segera dikosongkan,” kata suster.
“Baik, Sus,” Fikri dan Nessa masuk ke dalam ruang ICU untuk membereskan barang-barang milik Mr. Lee yang tertinggal. Setelah selesai mereka membawa barang-barang itu menuju ke ruang jenasah.
Di depan kamar jenasah Mrs. Lee sedang duduk sendirian sambil menangis. Fikri menghampiri Mrs. Lee.
“Ibu,” Fikri langsung memeluk Mrs. Lee.
Mrs. Lee menangis dipelukan Fikri.
“Fikri, ayahmu meninggalkan kita,” kata Mrs. Lee.
“Ibu tenang saja, Fikri di sini akan menemani Ibu,” kata Fikri sambil mengusap-usap punggung Mrs. Lee.
Fikri melepaskan pelukan Mrs. Lee.
“Ibu di sini dulu dengan Nessa. Fikri mau melihat ayah,” kata Fikri.
Mrs. Lee mengangguk.
“Nessa, saya titip Ibu,” kata Fikri.
“Iya, Pak,” jawab Nessa.
Fikri masuk ke kamar jenasah, ia membuka kain putih yang menutupi wajah ayahnya. Wajah Mr. Lee terlihat tenang, seolah sudah tidak ada lagi beban yang harus ia tanggung. Airmata Fikri mulai mengalir.
“Selamat jalan Ayah, semoga engkau tenang di sana. Biar Fikri yang menemani Ibu,” ucap Fikri.
Seorang petugas pemulasaran datang dan bersiap-siap untuk memulasaran jenasah Mr. Lee. Fikri keluar dari ruang jenasah. Mrs. Lee sedang bersadar pada Nessa, wanita itu terlihat lemah.
__ADS_1
Fikri menelepon seseorang.
“Hallo, Hassan. Saya Fikri putra Tuan Lee. Tuan Lee baru saja meninggal. Tolong bantu saya untuk persiapan persemayaman jenasah dan pemakaman Tuan Lee. Semua biayanya saya yang bayar. Saya tunggu segera,” kata Fikri.
“Baik, Tuan,” jawab Hassan.
Fikri menyimpan ponsel di saku celananya.
Fikri menghampiri Mrs. Lee lalu merangkul ibunya. Wanita itu bersandar di bahu Fikri.
“Ibu tenang saja. Biar Fikri yang urus semuanya,” kata Fikri.
***
Fikri berdiri di samping Mrs. Lee, sedangkan Nessa berdiri di samping Mrs. Lee. Mereka menyambut tamu yang datang melayat jenasah Mr. Lee. Para keluarga Mr. dan Mrs. Lee bertanya-tanya siapa pemuda yang berdiri di samping Mrs. Lee. Mereka belum pernah melihat Fikri. Namun akhirnya mereka mengetahui kalau pemuda yang berdiri di samping Mrs. Lee adalah anak angkat Mr. dan Mrs. Lee yang akan mewariskan semua harta kekayaan Mr. dan Mrs. Lee. Mereka kaget sekaligus geram karena seluruh harta kekayaan Mr. dan Mrs. Lee akan jatuh ke tangan anak angkat tidak jatuh ke tangan keluarga Mr. dan Mrs. Lee. Mereka memandangi Fikri dengan kesal.
Hari terus berlalu hingga waktunya pemakaman Mr. Lee. Fikri meminta jenasah Mr. Lee untuk dimakamkan. Ketika pemakaman Mr. Lee kesehatan Mrs. Lee mulai melemah sehingga jalannya pun harus dipapah oleh Nessa dan Fikri. Pak Taufik dan Ibu Dira hadir di pemakaman. Mereka ditemani oleh Prima. Mereka melihat putra mereka sedang bersedih.
Mrs. Lee menangis terseduh-seduh ketika peti jenasah Mr. Lee masuk ke dalam liang kubur. Tangisan Mrs. Lee pecah ketika liang kubur mulai ditutup.
“Ibu, sabar Ibu. Relakan Ayah pergi,” bisik Fikri sambil mengusap bahu Mrs. Lee.
Akhirnya pemakamanpun selesai. Semua pelayat membubarkan diri. Pak Taufik dan Ibu Dira berserta Prima menghampiri Fikri dan Mrs. Lee.
Pak Taufik memeluk anaknya dan menepuk punggung anaknya.
“Terima kasih, Pah,” ucap Fikri.
Bergantian Ibu Dira yang memeluk anaknya.
“Mamah turut berduka cita ya, sayang,” ucap Ibu Dira sambil mengusap-usap punggung anaknya.
“Terima kasih, Mah,” jawab Fikri.
Giliran Prima yang menyalami Fikri.
“Akang turut berduka cita,” ucap Prima.
“Terima kasih, Kang,” ucap Fikri.
Pak Taufik dan Ibu Dira menyalami Mrs. Lee.
“Kami turut berduka cita,” ucap Pak Taufik.
“Terima kasih,” jawab Mrs. Lee.
__ADS_1
Pak Taufik dan Ibu Dira menghampiri Nessa.
“Saya titip Fikri. Kalau ada apa-apa telepon saya,” kata Pak Taufik.
“Baik, Pak,” jawab Nessa.
“Tante titip Fikri, ya,” kata Ibu Dira.
“Baik, Tante,” jawab Nessa.
Kemudian Ibu Dira menci-um pipi kanan dan pipi kiri Nessa sebelum pergi.
Prima menghampiri Nessa.
“Nes, kamu jaga Fikri baik-baik! Saya merasa keluarga Mr. Lee tidak akan dengan keputusan Mr. Lee. Kalau situasinya mulai membahayakan kamu telepon saya!” kata Prima.
“Baik, Pak Prima,” jawab Nessa. Kemudian Prima, Pak Taufik dan Ibu Dira meninggalkan pemakaman.
Semua pelayat sudah pulang, tinggallah Fikri, Mrs Lee dan Nessa yang masih berada di pemakaman. Mrs. Lee masih belum mau pulang.
“Bu, kita pulang. Kalau kelamaan di sini nanti Ibu akan sakit. Ibu harus istirahat. Ibu sudah kecapean,” bujuk Fikri.
“Ibu mau di sini saja. Ibu mau menemani ayahmu,” jawab Mrs. Lee.
“Bu, ayah sudah tenang di sana. Ibu tidak usah khawatir. Ayah akan bersedih kalau melihat Ibu seperti ini,” kata Fikri pelan-pelan.
Mrs. Lee menoleh ke Fikri.
“Kamu tetap tinggal di Singapura menemani Ibu?” tanya Mrs. Lee.
“Iya, Fikri akan tetap tinggal di sini menemani Ibu,” jawab Fikri.
“Sekarang kita pulang, ya,” bujuk Fikri.
Akhirnya Mrs. Lee pun mengangguk. Fikri membantu Mrs. Lee berdiri lalu memapah Mrs. Lee menuju ke mobil. Nessa berjalan di belakang Fikri dan Mrs. Lee sambil memayungkan mereka dari belakang.
Pak Sam membukakan pintu mobil untuk Mrs. Lee. Fikri membantu ibunya duduk di dalam mobil. Nessa duduk di sebelah Mrs. Lee, sedangkan Fikri duduk di depan. Mobilpun berjalan meninggalkan pemakaman.
***
Semenjak kepergian Mr. Lee kesehatan Mrs. Lee mulai menurun. Mrs. Lee tidak mau makan walaupun Fikri sudah berusaha membujuk ibunya agar mau makan. Namun Mrs. Lee hanya makan sedikit. Jadi terpaksa harus diinfus. Beruntung dokter tidak menyuruh Mrs. Lee dirawat di rumah sakit. Sehingga bisa diinfus di rumah.
Fikri mulai kerja di perusahaan milik Mr. Lee, karena ia harus menggantikan kedudukan ayahnya. Sedangkan Nessa di rumah bertugas untuk menemani Mrs. Lee.
Ketika Fikri sedang berada di kantor banyak saudara mendiang Mr. Lee datang ke rumah, mereka meminta hak waris mereka. Namun Fikri berpesan tidak boleh ada siapapun yang datang untuk bertemu dengan Ibunya. Fikri ingin ibunya tenang tanpa ada gangguan dari siapapun. Bagi yang ingin mengetahui pembagian warisan dari mendiang Mr. Lee disuruh menghubungi pengacara Mr. Lee.
__ADS_1
Tentu saja keluarga Mr. Lee marah setelah mengetahui siapa yang menerima warisan mendiang Mr. Lee. Mereka datang ke kantor untuk menemui Fikri. Mereka menyangka Fikri yang sudah memalsukan surat wasiat.
“Silahkan saja tuntut saya ke pengadilan dan buktikan kalau saya memang seorang penipu yang sudah memalsukan surat warisan Ayah Lee,” kata Fikri.