
Setelah selesai makan Papah dan Mamah mengantar Nessa ke tempat kosnya.
“Wah, tempat kos kamu bagus juga,” kata Mamah ketika turun dari mobil.
Nessa mengambil kopernya dari bagasi mobil.
“Masuk yuk, Mah Pah,” ajak Nessa.
Papah dan Mamah masuk ke dalam tempat kos Nessa.
“Selamat siang, Teh Nessa,” sapa penjaga kos.
“Siang, Pak,” jawab Nessa.
“Orang tua saya mau lihat kamar kost saya,” kata Nessa.
“Silahkan, Teh,” kata penjaga kos.
Lalu merekapun masuk ke dalam kos Nessa. Nessa membuka pintu kamarnya. Mamah dan Papah melihat dalam kamar Nessa.
“Besar juga kamarnya,” kata Mamah ketika masuk ke dalam kamar Nessa. Namun kamar Nessa terlihat berantakan.
Nessa menyimpan kopernya di pojok kamarnya.
“Nes, ini kamar seperti kapal pecah begini,” kata Papah ketika melihat kamar anak perempuannya berantakan.
“Maklum, Pah. Waktu mau berangkat ke Singapura Nessa terburu-buru. Pak Fikri mendadak menyuruh Nessa siap-siap untuk berangkat ke Singapura,” jawab Nessa.
“Namanya juga tugas mendadak, Pah,” kata Mamah.
“Ayo Pah kita pulang. Nanti keburu malam,” ajak Mamah.
“Ayo,” jawab Papah.
“Mamah dan Papah pulang dulu, ya. Kamu hati-hati di sini. Kalau ada apa-apa beritahu Mamah dan Papah,” kata Mamah.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
Nessa mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
“Kalau tidur jangan lupa kunci pintu kamar!” kata Mamah.
“Iya, Mah,” jawab Nessa.
Nessa mengantar kedua orang tuanya keluar. Ia menunggu di depan pintu kos. Ia melambaikan tangannya ketika mobil orang tuanya meninggalkan tempat kosnya.
Nessa menghela nafas setelah mobil orang tuanya sudah tidak terlihat. Sekarang ia sendiri lagi. Ia pun masuk ke dalam kamar kosnya.
***
Keesokan harinya Nessa mulai masuk kerja. Seperti biasa ia pergi ke kantor dengan mengunakan ojek online. Kedatangan Nessa disambut oleh teman-teman di kantornya.
“Hebat euy Teh Nessa lama di Singapura. Kirain tidak akan kembali lagi ke Bandung, tinggal selamanya di sana,” puji Yolti.
“Tidak dong, Yol. Di sana kan saya kerja, saya harus ikuti perintah Pak Fikri. Kalau kata Pak Fikri pulang, ya saya pasti akan pulang ke Bandung,” jawab Nessa.
“Ngomong-ngomong oleh-olehnya mana?” tanya Elsi.
__ADS_1
Nessa menaruh paper bag di atas meja Yolti.
“Ini oleh-olehnya. Tapi maaf saya tidak bawa banyak. Di sana saya kerja bukan jalan-jalan,” kata Nessa.
“Tidak apa-apa, Teh. Walaupun cuma dapat sedikit yang penting dapat oleh-oleh,” kata Yolri.
“Kalian bagikan saja sendiri. Saya mau ke ruanganan saya,” kata Nessa.
“Terima kasih, Teh,” ucap teman-teman Nessa.
Nessa meningglkan meja resepsionis menuju ke liff. Nessa masuk ke dalam liff. Ketika sampai di lantai sembilan, nampak terlihat sepi sekali. Di lantai sembilan hanya di tempati oleh Nessa dan Fikri. Jadi kalau Fikri tidak ada di sini berarti dia harus bekerja sendirian di lantai sembilan.
Nessa mendekati meja kerjanya. Meja itu nampak bersih dan tertata rapih. Selama ia berada di Singapura para office girl dan office boy rajin membersihkan tempat ini. Nessa menaruh tasnya diatas meja, kemudian ia menuju ke ruang kerja Fikri. Nessa membuka pintu ruang kerja Fikri. Ruangan itu nampak gelap karena tirainya ditutup dan lampunya dipadamkan. Nessa masuk ke dalam ruang kerja Fikri dan membuka tirai agar sinar matahari pagi masuk ke dalam. Di atas meja Fikri ada sebuah bingkai kecil yang berisikan foto Fikri berdua dengan Nessa. Nessa mengambil bingkai foto itu.
“Bapak kemana, sih? Kok tidak membalas pesan saya?” tanya Nessa sambil mengusap foto Fikri.
Tanpa terasa air matanya menggenang di pelupuk mata. Nessa menyimpan kembali bingkai ke atas meja lalu ia keluar dari ruang kerja Fikri menuju ke meja kerjanya.
Nessa menyalakan PC. Ia harus kerja walaupun bosnya tidak ada. Apapun ia kerjakan jangan sampai ia dicap makan gaji buta oleh karyawan yang lain.
***
Seminggu sudah Nessa masuk kerja. Namun Fikri masih belum meneleponnya. Nessa mencoba mencari tau keberadaan bosnya. Nessa memutuskan untuk menghubungi Septi sekretaris Pak Taufik.
“Selamat siang, Mbak Septi,” ucap Nessa.
“Selamat siang, Nessa,” jawab Septi.
“Mbak, saya mau nanya apa Pak Fikri menghubungi Pak Taufik?” tanya Nessa.
“Saya kurang tau. Mungkin Pak Fikri menghubungi Pak Taufik melalui ponsel pribadinya. Kenapa kamu tanya begitu?” tanya Septi.
“Kamu sudah mencoba menghubungi Pak Fikri?” tanya Septi.
“Sudah, Mbak. Telepon saya tidak pernah dijawab, pesan saya tidak pernah dibalas,” jawab Nessa.
“Begitu, ya? Nanti saya coba tanya Pak Prima. Karena Pak Prima yang lebih tau keadaan Pak Fikri,” kata Septi.
“Tidak usah, Mbak. Nanti saya jadi merepotkan Pak Prima. Pak Prima pasti sibuk sekali,” ujar Nessa.
“Tidak apa-apa, Nes. Lagi pula bagaimana kamu mau bekerja kalau Pak Fikri tidak pernah menghubungi kamu?” kata Septi.
“Terima kasih, Mbak. Saya jadi merepotkan Mbak Septi,” ucap Nessa.
“Sama-sama, Nessa,” jawab Septi.
“Sudah dulu ya, Mbak. Selamat siang, Mbak Septi,” ucap Nessa.
Nessa menutup telepon. Inilah cara satu-satunya ia bisa menghubungi Fikri. Ia terpaksa meminta bantuan orang lain untuk dapat menghubungi Fikri.
***
Hari terus berlalu, namun Fikri masih belum juga menghubunginya.
Sebetulnya apa yang terjadi, sih? Kenapa Pak Fikri tidak mau menghubungi aku sama sekali? tanya Nessa di dalam hati.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara lagu dari pantry. Office girl sedang bekerja di pantry sambil mendengarkan lagu dari ponselnya. Lagu itu mengena di hati Nessa.
__ADS_1
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya (rindu untuknya)
( Sisa Rasa ; Mahalini )
Tangisan Nessa hampir pecah ketika mendengarkan lagu tersebut. Lagu itu mewakili suara hati Nessa. Fikri berhasil membuat Nessa bersedih.
Nessa mengusap ait matanya dengan tissue lalu ia membuka word di PC. Ia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Tambah lama ia berada di kantor ini, hatinya bertambah sedih. Banyak kenangan bersama Fikri di kantor ini.
Ketika Nessa mulai mengetik surat resign, tiba-tiba intercom di atas mejanya berbunyi. Nessa mengangkat horn telepon.
“Teh Nessa ada telepon dari Ibu Dira di line satu,” kata Yolti.
Nessa menekan line satu.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam, Nessa,” jawab Ibu Dira.
***
Nessa turun dari taksi konvensional. Ia memandangi rumah mewah yang berada di depannya. Ia teringat pembicaraannya dengan Ibu Dira setengah jam yang lalu.
“Fikri sudah pulang tiga hari yang lalu. Ia langsung pulang setelah Papahnya mengatakan kamu mencarinya. Namun ia belum bisa menemuimu karena mendadak ia sakit panas,” kata Ibu Dira.
Dan kini Nessa sedang berdiri di depan rumah Fikri. Nessa mendekati pintu pagar rumah Fikri.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa.
Seorang penjaga rumah menghampirinya.
“Waalaikumsalam,” jawab penjaga rumah.
“Saya Nessa, saya janji bertemu dengan Ibu Dira,” kata Nessa.
“Oh, Ibu Nessa sekretaris Pak Fikri?” tanya penjaga rumah.
“Iya, Pak,” jawab Nessa.
Penjaga itu membukakan pintu pagar.
__ADS_1
“Silahkan masuk, Bu. Ibu sudah ditunggu Ibu Dira,” kata penjaga itu.
“Terima kasih, Pak,” jawab Nessa.