
Nessa beralih ke Hanna. Dari tadi wanita cantik itu diam tidak terdengar suaranya.
“Teteh tidak mual?” tanya Nessa melihat Hanna makan dengan tenang tanpa mual-mual.
“Awalnya sih mual berat. Sampai harus dirawat ke rumah sakit. Tapi sekarang sudah berkurang,” jawab Hanna.
“Iiihh nggak enak jadi ibu hamil. Nggak bisa makan,” kata Nessa sambil merinding.
“Tidak semua Ibu hamil mengalami mual-mual. Ada juga yang tidak mual-mual. Bisa makan banyak,” kata Boyke.
“Nessa mau yang seperti itu. Nggak mual-mual dan bisa makan banyak. Bisa nggak, Kang?” tanya Nessa.
Boyke tertawa mendengar pertanyaan Nessa. Kerabatnya yang satu ini dari dulu memang polos sekali. Persis seperti waktu masih kecil.
“Mana bisa, Nessa. Itu mah sudah ada yang mengatur. Mana bisa manusia pilih-pilih,” sahut Fikri.
“Barang kali saja bisa dengan cara sugesti,” kata Nessa.
“Tidak bisa,” jawab Boyke sambil tertawa.
“Kamu belum pernah merasakan hamil, jadi tidak tau,” kata Fikri.
“Memang Bapak pernah hamil?” tanya Nessa dengan polos sambil menatap Fikri.
“Loh kok, nanya saya pernah hamil? Saya kan laki-laki,” kata Fikri protes.
“Habis Bapak ngomongnya seperti pernah merasakan hamil,” ujar Nessa.
“Saya punya kakak perempuan. Saya lihat sendiri betapa repotnya mereka ketika sedang hamil,” jawab Fikri.
“Oh, ngomong dong dari tadi,” kata Nessa.
Mereka sarapan pagi bersama sambi bercanda dan tertawa. Hanna hanya diam mendengarkan candaan mereka. Ia menjadi pendengar yang baik.
Siang harinya staf-staf yang ditugaskan oleh Pak Warino sudah datang. Mereka adalah Yudit dan Bowo. Fikri langsung menyuruh mereka untuk memeriksa semua dokumen. Ia tidak ingin membuang-buang waktu.
Kejadian tadi malam rupanya benar-benar disembunyikan oleh para karyawan hotel. Mereka lebih takut kepada Fikri daripada kepada Pak Robin. Itu terlihat dari Pak Robin yang nampak santai tidak terlihat cemas.
Hingga akhirnya Bowo dan Yudit menunjukkan ada pengelembungan dana untuk belanja barang yang dibutuhkan oleh hotel. Bahkan ada biaya renovasi yang keluar, padahal tidak ada renovasi bangunan hotel.
__ADS_1
Fikri mendatangi ruangan Pak Robin dan membicarakan baik-baik dengan Pak Robin. Mula-mula Pak Robin tidak mengaku. Tapi ketika Fikri mengancam akan mengadukan kepada pihak yang berwajib akhirnya Pak Robin mengaku bahwa ia yang menggelembungkan dana pengeluaran hotel. Ia melakukan itu karena tuntutan dari istrinya. Istrinya hidup bermewah-mewah seolah-olah ia lah pemilik hotel itu.
Fikri tidak akan menyerahkan masalah ini kepada kepolisian, asalakan Pak Robin mengembalikan semua uang yang sudah ia ambil. Pak Robin minta waktu untuk menjual harta bendanya untuk mengembalikan semua uang yang sudah ia ambil. Walaupun ada itikad baik dari Pak Robin untuk mengembalikan uang perusahaan, Fikri tetap memecat Pak Robin dengan tidak hormat.
Masalah penyelewengan uang perusahaan sudah selesai. Tapi Masih ada masalah lainya yang harus Fikri selesaikan, Ia harus mencari pengganti Pak Robin. Tapi masalahnya kemana ia harus mencari pengganti Pak Robin? Setidaknya harus orang yang benar-benar bisa dipercaya. Kalau tidak kejadian seperti ini akan terulang kembali.
Fikri menelepon asisten Papahnya.
“Kang Prima, mau pindah kerja ke Bali?” tanya Fikri.
“Hah? Bali?” tanya Prima bingung.
“Iya, pindah ke Bali. Jadi general manager di hotel,” jawab Fikri.
“Manager hotel? Fikri beli hotel di Bali?” tanya Prima.
“Bukan punya Fikri. Tapi punya orang tua angkat Fikri,” jawab Fikri.
Mendengar Fikri punya orang tua angkat, Prima lebih bingung lagi.
“Sejak kapan kamu punya orang tua angkat? Papah kamu bisa marah kalau mendengar ini, ia merasa di duakan oleh anaknya,” kata Prima.
“Kang Prima mau tidak pindah ke Bali?” tanya Fikri sekali lagi.
“Kamu nyuruh Akang pindah ke Bali, Papahmu bisa tambah marah,” jawab Prima.
“Kalau tidak, tolong carikan general manager. Soalnya general manager di hotel Lee & Lee baru Fikri pecat. Dia korupsi besar-besaran. Dia anggap hotel milik dia sendiri, seenaknya saja dia mengambil uang perusahaan,” kata Fikri.
“Kalau bisa tolong carikan secepatnya, ya! Kalau sudah dapat suruh langsung ke Bali. Fikri tunggu di Bali,” kata Fikri.
“Busyet dah, minta dicariin general manager seperti minta dibeliin cilok. Gampang tinggal cari di setiap belokan sudah pasti ada,” sahut Prima.
“Cari GM susah. Tidak asal tunjuk aja. Jujur tidaknya, kita juga tidak tau,” kata Prima.
“Pokoknya tolong carikan sama Akang! Fikri tunggu kabarnya,” kata Fikri.
“Fresh graduate mau? Kalau mau pelamar kerja di sini akan Akang kirim ke sana,” kata Prima.
“Jangan yang fresh graduate! Belum ada pengalaman,” kata Fikri.
__ADS_1
“Kalau tidak, kirim deh salah satu manager di perusahaan Papah. Kirim yang kira-kira competen,” kata Fikri.
“Daripada harus mengirim manager dari sini, kenapa bukan manager hotel di angkat jadi GM? Cari lagi manager yang baru. Cari manager lebih gampang daripada mencari GM. Kriteria untuk menjadi manager lebih mudah daripada kriteria menjadi GM,” ujar Prima.
“Bener juga, Kang. Kenapa tidak kepikiran, ya?” kata Fikri.
“Jadi pengusaha harus pintar puter otak. Jangan mikirin cewek terus! Sudah dulu, Papahmu manggil Akang,” kata Prima.
“Terima kasih, Kang,” ucap Fikri.
Prima menutup teleponnya. Fikri bernafas lega, akhirnya ia mendapat jalan keluarnya.
Akhirnya Fikri mengangkat Leo menjadi general manager.
“Kamu saya angkat jadi GM di sini bukan berarti kamu bisa seenak-enaknya. Hotel ini tetap dalam pantauan saya. Kejadian Pak Robin jangan sampai terulang kembali!” kata Fikri.
“Baik, Pak,” jawab Leo.
“Ya sudah, kamu bisa menjalankan tugasmu menjadi GM,” kata Fikri.
“Terima kasih, Pak,” ucap Leo.
Setelah pengangkatan Leo, Fikri bisa santai. Sekarang saatnya ia dan Nessa menikmati liburan sebelum kembali ke Bandung untuk bekerja.
***
Setelah berlibur beberapa hari di Bali Fikri dan Nessa kembali ke Bandung. Setelah di tinggal seminggu, jadwal Fikri menjadi kacau. Sehingga Nessa harus mengatur ulang jadwal Fikri.
Waktu terus berlalu, Mamah Nessa terus saja menanyakan perkembangan hubungan Nessa dengan Boyke. Tadinya Nessa enggan menceritakannya kepada mamahnya, takut mamahnya akan marah kepada ua IIn dan ua Yusup. Namun karena mamahnya terus saja menanyakan, akhirnya Nessa menceritakan apa yang terjadi kepada mamahnya. Wal hasilnya mamahnya marah besar.
“Seenaknya saja Ceu Iin dan Kang Yusuf menjodohkan kamu ke pria yang sudah beristri. Memangnya kamu perempuan tidak laku? Seenaknya saja mereka menghinamu. Awas, Mamah sumpahin kamu dapat jodoh brondong, sholeh, ganteng, mapan dan kaya. Dan yang yang paling penting sayang sama kamu!” seru Mamah dengan suara yang menggelegar. Nessa sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. Kaarena suaranya sangat memekakkan telinga. Tapi ia sambil mendengarkan perkataan mamahnya.
“Mamah marah atau bagaimana? Kalau marah kenapa Nessa yang disumpahin?” tanya Nessa bingung.
“Heh dengerin! Kata Pak Ustad yang suka ceramah di masjid, orang yang terzolimi doanya makbul. Daripada Mamah doain ua Iin dan ua Yusup yang nggak-nggak. Lebih baik Mamah sumpahin kamu yang baik-baik. Siapa tahu doa Mamah terkabul,” jawab mamah.
“Terserah Mamah aja, deh,” kata Nessa.
“Heh! Jawabannya bukan terserah Mamah. Tapi aamiin ya robba lalamin,” sahut Mamah.
__ADS_1
“Iya. Aamiin ya robbal alamin,” jawab Nessa.