Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
15. Hanna


__ADS_3

Kini Fikri mengerti mengapa Nessa tidak ingin menyakiti wanita itu. Tiba-tiba perut Fikri keroncongan.


“Sudah yuk, kita makan sekarang. Perut saya sudah lapar,” kata Fikri. Fikri dan Nessa menuju ke meja mereka.


Nessa dan Fikri membaca daftar menu.


“Pilih makanan yang bisa menghilangkan perasaan sedihmu,” kata Fikri sambil membaca daftar menu.


“Saya kalau sedih bisa mogbang,” jawab Nessa.


“Tidak apa-apa asalkan kamu sanggup menghabiskan makanannya,” kata Fikri.


Nessa membaca menu lagi. Ia mencari makanan favoritnya.


“Pak, disini tidak ada baso?” tanya Nessa.


Fikri memperhatikan daftar menu.


“Sepertinya tidak ada,” jawab Fikri.


Nessa berpikir sebentar sambil memperhatikan daftar menu. Tiba-tiba ia mendapatkan ide. Nessa menyebutkan satu persatu makanan yang ia pesan. Fikri membiarkan Nessa memesan makanan yang ia inginkan. Mereka harus menunggu lama makanan yang mereka pesan. Sebab restaurant sedang penuh olah pengunjung dari tamu yang menginap di hotel maupun tamu dari luar hotel.


Nessa memperhatikan ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Boyke. Nessa mengabaikan pesan tersebut.


Akhirnya pesanan mereka datang. Fikri memperharikan makanan yang berjejer di depan meja Nessa. Nessa memesan spaghetti, meatball, cream sop dan salad. Minumannya Nessa memesan ice lemon tea gelas besar. Fikri geleng-geleng kepala melihat makanan Nessa.


“Yakin kamu bisa menghabiskan semua makanan itu?” tanya Fikri.


“Tenang saja, Pak. Bapak tidak akan merasa rugi membelikan makanan ini. Karena saya bisa menghabiskan makanan ini sampai bersih,” kata Nessa dengan yakin.


“Baguslah. Yang penting kamu bisa ceria lagi, seperti semula. Karena kalau kamu terus bersedih, saya yang repot,” kata Fikri.


Mereka pun mulai makan malam. Dengan tenang Nessa menghabiskan makanannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia menghabis kan semua makanannya.


“Hebat!” puji Fikri melihat Nessa menghabiskan semua makannya.


Nessa mengelap mulutnya dengan menggunakan tissue.


“Ayo kita kembali ke kamar. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan,” kata Nessa.


“Kamu yakin maiu kembali ke kamar sekarang? Tidak mau beli camilan?” tanya Fikri.


“Tidak usah. Parut saya sudah kenyang,” jawab Nessa.


“Yakin, nih? Malam ini kita akan lembur sampai pagi, loh,” kata Fikri.


“Tidak ah, nanti saya tambah gendut,” jawab Nessa.


“Ya sudah, kita kembali ke kamar sekarang,” kata Fikri.


Fikri dan Nessa meninggalkan restaurant. Ketika mereka sampai di lantai kamar mereka, mereka melihat seorang laki-laki berdiri di depan kamar Nessa. Ia berdiri sambil memperhatikan ponselnya.

__ADS_1


“Siapa tuh, Pak?” tanya Nessa dengan ketakutan.


Fikri mencoba melihat laki-laki itu dari jauh.


“Tidak tahu,” jawab Fikri.


Mereka pun berjalan menuju ke kamar mereka. Lelaki itu menoleh ke arah mereka. Ternyata lelaki itu adalah Boyke.


“Mau ngapain dia ke sini?” bisik Nessa ke Fikri. Nessa berjalan di belakang Fikri.


“Saya tidak tahu,” jawab Fikri.


“Ada apa anda datang ke sini? Darimana anda tahu nomor kamar Nessa?” tanya Fikri.


“Saya ada perlu dengan Nessa. Saya ingin berbicara dengan Nessa,” jawab Boyke.


“Nes, bisa kita bicara sebentar?” tanya Boyke. Nessa mengangguk.


Dan sekarang mereka sedang berada di coffee shop yang berada di hotel itu. Namun Nessa meminta Fikri untuk ikut bersamanya, agar ia tidak terlihat seperti pelakor. Karena di dalam hati Nessa merasa kalau wanita itu adalah istri Boyke. Dan kegiatan seminar yang selama ini dikatakan Boyke adalah alasan saja. Yang sebenarnya terjadi Boyke sedang bersama dengan istrinya.


“Apa yang hendak Akang bicarakan dengan saya?” tanya Nessa langsung. Nessa duduk sambil melipat kedua tangan di depan dada dan duduk dengan kaki menyilang. Seolah ia sedang menghakimi Boyke.


“Akang minta maaf. Akang bisa jelaskan semuanya,” kata Boyke.


“Katakanlah,” kata Nessa.


“Wanita itu adalah istri Akang. Namanya Hanna. Kami sudah setahun menikah. Hubungan kami tidak direstui oleh orang tua Akang karena…,” kata Boyke. (Diskip aja terlalu bahaya kalau disebutkan alasannya.)


“Ua Iin dan Ua Yusup tau Akang sudah menikah?” tanya Nessa.


“Mereka tau. Tapi mereka tidak mengatakannya kepada Mamahmu. Kalau sampai Mamahmu tau, beliau pasti akan marah besar,” jawab Boyke.


“Sudah pasti. Bagaimanapun juga Mamah menginginkan menantu yang masih singel, bukan suami orang,” kata Nessa.


“Sekali lagi Akang minta maaf, Akang tidak ada niat untuk menyakitimu. Kamu sudah Akang anggap seperti adik Akang sendiri,” ucap Boyke.


“Tidak apa-apa, Kang. Nessa mengerti posisi Akang. Hanya saja Nessa marah sama Ua Iin dan Ua Yusup, kok tega-teganya mereka berbuat seperti itu pada Nessa? Apa karena Nessa belum menikah lalu mereka memperlakukan Nessa dengan seenaknya?” kata Nessa dengan kesal.


“Bi Iin dan Mang Yusup disuruh oleh Mamah Akang,” kata Boyke.


“Mestinya mereka cari pelakornya yang masih muda dan cantik, bukan seperti Nessa yang sudah tua. Nggak bakalan mempan,” ujar Nessa.


“Kamu juga cantik. Buktinya Fikri senang mengganggu acara kencanmu,” kata Boyke sambil tersenyum.


“Dia memang usil. Nggak boleh lihat orang senang,” kata Nessa.


Nessa melirik ke Fikri. Fikri terlihat sedang serius memperhatikan layar ponselnya.


“Teh Hanna kemana? Kok tidak dikenalkan ke Nessa?” tanya Nessa.


“Sudah tidur, katanya cape. Ia titip salam untuk kamu,” jawab Boyke.

__ADS_1


Tiba-tiba Fikri langsung bangun dari tempat duduknya. Ia seperti orang yang terburu-buru. Ia menghampiri Nessa.


“Nes, kamu di sini dulu. Saya mau balik ke kamar. Ada orang yang masuk ke kamar kamu,” kata Fikri.


“Apa?” tanya Nessa kaget.


“Boyke saya titip Nessa. Jangan ditinggalkan sendiri!” seru Fikri.


Fikri pergi begitu saja dengan langkah terburu-buru.


“Pak Fikri! Saya ikut,” seru Nessa.


“Kang, saya harus menyusul Pak Fikri. Salam sama Teh Hanna,” kata Nesaa.


Nessa mengambil tasnya lalu pergi menyusul Fikri. Boyke bingung melihat mereka yang pergi dengan tergesah-gesah.


Nessa lari menghampiri Fikri. Fikri sedang menunggu lift yang belum turun. Fikri kesal karena liff belum ada yang sampai ke lantai dasar.


“Kamu kenapa menyusul?” tanya Fikri.


“Saya takut terjadi apa-apa sama Bapak,” jawab Nessa.


Akhirnya pintu liff pun terbuka. Merekapun cepat-cepat masuk ke dalam liff.


“Ayo cepat-cepat!” seru Fikri yang sudah tidak sabar. Ia memencet-mencet tombol liff agar pintu liff cepat tertutup.


“Sabar, Pak. Nanti liffnya malah macet,” kata Nessa.Akhirnya pintu liff tertutup dan liff pun naik ke lantai atas.


Akhirnya mereka sampai di lantai kamar mereka. Ketika mereka keluar dari liff, ia berpas-pasan dengan laki-laki yang berpakaian hitam-hitam dan mencurigakan,


“Nes, sepertinya itu orang yang masuk ke dalam kamar kamu,” bisik Fikri.


Nessa menoleh ke belakang, orang itu sedang menunggu liff.


“Maling!” teriak Nessa.


Mendengar teriakan Nessa, orang itu langsung lari menuju ke tangga darurat. Fikri dan Nessa leri mengejar orang itu. Namun sayang orang itu lari dengan cepat sehingga menghilang di lantai bawah.


“Nggak usah dikejar lagi, Pak! Percuma orang itu sudah menghilang,” kata Nessa sambil ngos-ngosan.


Mereka langsung duduk di tangga karena kecapean.


“Kita lihat, apa yang ia cari di kamarmu,” kata Fikri dengan nafas ngos-ngosan.


Fikri membuka ponselnya. Ia melihat rekaman CCTV di ponselnya. Ternyata orang yang masuk ke kamar Nessa menutupi kamera cctv dengan permen karet.


“Breng-sek!” seru Fikri dengan kesal.


“Benar-benar keterlaluian! Ini sudah tidak bisa ditoleri lagi,” kata Fikri yang marah.


“Ayo kita ke ruang cctv!” seru Fikri.

__ADS_1


__ADS_2