
Pak Taufik dan Ibu Dira turun dari pesawat terbang di bandara Changi. Seperti biasa mereka ditemani oleh Prima. Mereka datang ke Singapura untuk mengikuti pemakaman Mrs. Lee. Mereka datang menggunakan pesawat terbang pribadi. Fikri sengaja menyewa pesawat terbang untuk kedua orang tuanya agar orang tuanya dalam keadaan aman. Bahkan mereka dijemput oleh supir dan beberapa orang bodyguard.
“Pah, begini rasanya punya anak konglomerat di Singapura,” bisik Ibu Dira ketika di dalam mobil.
“Bukan begitu. Fikri melakukan ini semua untuk berjaga-jaga dari serangan keluarga orang tua angkatnya,” jawab Pak Taufik.
“Kenapa mereka sampai mewariskan semua hartanya kepada Fikri? Padahal Fikri adalah orang lain dan anak seorang pengusaha. Bukan anak dari keluarga miskin yang tidak mampu,” bisik Ibu Dira.
“Pasti mereka punya pertimbangan lain mengapa semua harta mereka diwariskan kepada Fikri,” jawab Pak Taufik.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah yang cukup luas. Ibu Dira terkagum-kagum memandangi rumah itu.
“Pah, ini rumah Fikri?” tanya Ibu Dira dengan tidak percaya.
“Iya. Ini rumah warisan orang tua angkatnya,” jawab Pak Taufik.
“Masyaallah. Besar sekali rumahnya? Ini lima kali dari rumah kita. Mamah tidak percaya Fikri bisa sekaya ini,” ucap Ibu Dira.
“Sudalah, ayo kita masuk,” kata Pak Taufik.
Rumah Fikri dijaga ketat oleh beberapa orang penjaga. Semenjak Mrs. Lee dinyatakan meninggal dunia Fikri langsung memperketat keamanan dirinya dan Nessa. Fikri menyewa beberapa orang penjaga rumah dan bodyguard. Untuk menjaga keamanan rumahnya serta mengawalnya dan Nessa kemanapun mereka pergi.
Pak Taufik dan Ibu Dira disambut oleh Bibi.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya,” ucap Bibi ketika membuka pintu.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Taufik dan Ibu Dira.
“Waalaikumsalam,” jawab Bibi.
Pak Taufik dan Ibu Dira masuk ke dalam rumah diikuti oleh Prima dari belakang.
“Fikri dan Nessa kemana?” tanya Ibu Dira.
“Tuan dan Nona sedang berada di rumah duka. Mereka pulang malam,” jawab Bibi.
“Mari saya antar ke kamar Tuan dan Nyonya,” kata Bibi.
Pak Taufik dan Ibu Dira mengikuti Bibi menuju ke kamar mereka. Rumah itu sangat besar namun interiornya sederhana tidak mencolok. Bibi membawa mereka ke lantai atas, lalu berhenti di depan kamar.
“Ini kamarnya, Nyonya,” Bibi membuka pintu kamar.
“Kalau itu kamar siapa saja?” Ibu Dira menunjuk ke kamar yang berada di sebelah kamar mereka.
__ADS_1
“Itu kamar Tuan Fikri dan di sebelahnya kamar Nona Nessa. Kamar yang di ujung untuk Tuan Prima,” jawab Bibi.
“Banyak sekali kamarnya,” ujar Ibu Dira.
“Silahkan Tuan dan Nyonya beristirahat dulu. Saya mau mengantar Tuan Prima ke kamarnya,” kata Bibi.
Pak Taufik dan Ibu Dira masuk ke dalam kamar mereka. Bibi mengantar Prima ke kamarnya.
Pukul setengah sepuluh malam Fikri dan Nessa pulang ke rumah. Mereka terlihat sangat letih sekali. Maklumlah karena banyak sekali relasi Mr. Lee yang datang melayat. Ketika mereka datang Pak Taufik dan Ibu Dira sudah tidur, sehingga Fikri tidak bisa menyapa orang tuanya.
Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati kopi dan roti. Sambil menunggu sarapan siap.
“Jam berapa pemakamannya akan dilaksanakan?” tanya Pak Taufik.
“Jam sepuluh, Pah,” jawab Fikri sambil mengunyah rotinya.
“Sekarang anak Mamah sudah menjadi konglomerat Singapura,” kata Ibu Dira.
“Tidak enak jadi konglomerat. Tanggung jawabnya berat,” jawab Fikri.
“Ya sudah, tinggal kamu tinggalkan saja semuanya. Berikan kepada keluarganya, Masalah beres,” ujar Pak Taufik.
“Tidak bisa begitu, Pah. Mereka memilih Fikri untuk menjadi pewaris harta mereka karena mereka percaya Fikri bisa diandalkan untuk meneruskan perusahaan mereka. Bisa saja ayah menjual perusahaannya. Tapi semua itu tidak ayah lakukan, karena ribuan karyawan yang bergantung pada perusahaan ini,” kata Fikri.
“Nessa ikut kemanapun Fikri pergi. Dia kan sekretaris pribadi Fikri,” jawab Fikri.
“Nessa sekretaris kantor, bukan sekretaris pribadi,” sahut Pak Taufik.
“Sekarang dia menjadi sekretaris pribadi. Untuk apa dia di Bandung, sedangkan bosnya ada di Singapura,” jawab Fikri.
“Terserah kamu saja, tapi kalau suasananya membahayakan, kamu harus menyuruhnya kembali ke Indonesia. Jangan bawa-bawa anak orang ke dalam masalah,” kata Pak Taufik.
“Iya, Pah. Kalau situasinya sudah membahayakan, Fikri akan menyuruh Nessa pulang,” jawab Fikri.
“Kamu juga ikut pulang ke Indonesia,” kata Pak Taufik.
“Tidak bisa, Pah. Masih ada yang harus Fikri kerjakan di sini,” jawab Fikri.
“Papah tidak ingin anak Papah mati konyol di sini,” kata Pak Taufik.
“Papah tenang saja. Fikri akan menjaga diri dengan baik,” jawab Fikri.
Nessa keluar dari dapur dan menuju ke ruang keluarga.
__ADS_1
“Pak, sarapannya sudah siap,” kata Nessa.
“Sekarang jam berapa? Sudah disuruh sarapan,” tanya Pak Taufik.
“Sudah hampir jam setengah delapan,” jawab Nessa.
“Sudah siang, ya,” kata Pak Taufik.
“Ini Singapura, Pah. Bukan Bandung. Sholat subuhnya saja sudah hampir jam enam,” kata Ibu Dira.
“Iya, Papah lupa,” kata Pak Taufik.
Mereka semua menuju ke ruang makan untuk sarapan.
***
Fikri duduk di kursi sambil melihati pemakaman ibunya. Ia didampingi oleh kedua orang tuanya dan Nessa. Di sekitar Fikri dijaga ketat oleh bodyguard agar tidak ada yang mengganggu Fikri selama upacara pemakaman sedang berlangsung. Air mata Fikri berlinang ketika peti jenasah Mrs. Lee diturunkan ke dalam makam.
Selamat jalan Ibu. Semoga ibu tenang di sana bersama ayah, kata Fikri di dalam hati.
Sebelum makam di tutupi tanah, para keluarga menaburkan bunga ke atas peti. Fikri berdiri dan menaburkan bunga diatas peti jenasah. Namun tiba-tiba kakinya terasa lemas dan tangisannya pun pecah.
“Ibuuuu,” Fikri bersimpuh di depan makam Ibunya sambil menangis.
Ibu Dira ikut bersedih melihat anaknya menangisi ibu angkatnya. Ia menghampiri Fikri.
“Sudahlah Fikri, ikhlaskan ibumu pergi,” kata Ibu Dira yang berjongkok di sebelahnya sambil mengusap punggung anaknya.
“Maafkan Fikri, Mah,” kata Fikri.
“Tidak apa-apa, sayang. Mamah mengerti perasaanmu,” jawab Ibu Dira.
Fikripun berdiri, namun Ibu Dira kesulitan untuk bangun. Fikri membantu mamahnya berdiri. Fikri membimbing mamahnya kembali ke tempat duduk. Makam Mrs. Lee mulai ditutupi dengan tanah. Setelah makam ditutupi para keluarga kembali menaburkan kembang di atas makam Mrs. Lee dan selesailah sudah proses acara pemakaman Mrs. Lee. Para pelayat meninggalkan area pemakaman. Namun keluarga Mr. Lee dan Mrs. Lee masih tetap di tempat, mereka hendak meminta hak waris mereka ke Fikri.
Ketika mereka mencoba mendekati Fikri para bodyguard langsung berjaga agar mereka tidak bisa mendekati Fikri.
“Tidak apa-apa. Biarkan mereka bicara,” kata Fikri.
Para bodyguard memberi mereka jalan. Namun para bodyguard tetap berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada Fikri.
“Kami menginginkan hak kami. Kami ingin warisan kakak kami diberikan kepada kami,” kata adik Mr. Lee.
“Bukankah hak waris kalian sudah diberikan oeh ayah saya? Semua bukti ada di pengacara ayah,” jawab Fikri.
__ADS_1