Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
13. Pergi Ke Bali


__ADS_3

Nessa sedang tidur-tiduran sambil membuka media sosial di ponselnya. Televisi di kamarnya dibiarkan menyala begitu saja tanpa dilihatnya. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponselnya.


Kang Boyke :


[Assalamualaikum]


Nessa:


[Waalaikumsalam]


Kang Boyke :


[Nessa sedang apa?]


Nessa :


[Sedang lihat medIa sosial]


Kang Boyke :


[Akang ganggu, ya?]


Nessa :


[Nggak ganggu.]


[Akang lagi apa?]


Boyke mengirimkan foto berupa gambar tangkap layar. Foto itu berupa foto layar laptop. Di layar laptop ada ketikan di word yang isinya tentang ilmu kedokteran yang tidak Nessa mengerti.


Nessa :


[Akang lagi mengerjakan tugas, ya?’]


Kang Boyke :


[Iya.]


[Akang minta maaf, kalau minggu ini Akang tidak bisa mengajakmu keluar.]


Nessa :


[Tidak apa-apa, Kang. Lagipula tadi ada sahabat Nessa datang dari Jakarta. Dia mengajak Nessa untuk bertemu. Jadi Nessa punya teman untuk mengobrol.]


[Oh, ya Kang. Tadi Pak Fikri mengganggu Nessa lagi.]


Kang Boyke ;


[Maksudmu mengganggu bagaimana?]


Nessa menceritakan semua yang terjadi di coffee shop.


Kang Boyke :


[Bos kamu benar-benar tidak ada kerjaan. Selalu saja mengganggu sekretarisnya.]


Nessa ;


[Pak Fikri malu-malui Nessa di depan semua orang.]


Kang Boyke ;


[Biarkan saja, jangan diladenin. Nanti juga dia cape sendiri.]


[Sudah dulu, ya. Akang mau mengerjakan tugas lagi.]


Nessa :

__ADS_1


[Iya, Kang.]


Kang Boyke ;


[Assalamualaikum.]


Nessa ;


[Waalaikumsalam.]


Nessa menutup aplikasi pesan. Lalu ia melanjutkan membaca media sosial.


***


Nessa sedang menulis jadwal Fikri. Tiba-tiba intercom di mejanya berbunyi. Nessa mengangkatnya.


“Ya, Yol?” tanya Nessa.


“Teh Nessa, ada telepon dari Mrs Lee di line dua,” kata Yolti.


“Tolong sambungkan,” kata Nessa.


Nessa mengangkat telepon di line dua.


“Selamat siang, Mrs. Lee,” ucap Nessa.


“Selamat siang, Nessa,” jawab Mrs. Lee.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Mrs. Lee.


“Nessa baik-baik saja,” jawab Nessa.


“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja,” kata Mrs. Lee.


“Bagaimana dengan anak saya? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Mrs. Lee.


“Anak anda baik-baik saja. Dia tambah nakal dan menyebalkan,” jawab Nessa.


“Dia selalu mengganggu kencan saya,” kata Nessa.


“Ah, anak itu. Benar-benar nakal. Akan kumarahi dia,” kata Mrs. Lee.


“Anda mau berbicara dengan Pak Fikri?” tanya Nessa.


“iya. Ayahnya ada perlu dengannya,” jawab Mrs. Lee.


“Baiklah, akan saya sambungkan,” kata Nessa.


Nessa menghubungi Fikri melalui intercom.


“Pak, ada telefon dari Mrs. Lee di line dua,” kata Nessa.


Nessa menutup kembali intercomnya. Ia melanjutkan lagi pekerjaannya.


Lama juga Fikri berbicara dengan Mr. Lee. Terlihat dari lampu line dua masih menyala. Sejam kemudian lampu line dua mati. Namun lampu line dua menyala kembali, sepertinya Fikri sedang menghubungi seseorang. Seperempat jam kemudian lampu line dua mati kembali dan Pak Fikri keluar dari ruangannya.


“Nessa, tolong pesankan dua tiket pesawat terbang ke Bali secepatnya! Dan kamu harus ikut saya ke Bali,” kata Fikri.


“Apa? Ke Bali? Bapak baik sekali mengajak saya ke Bali,” kata Nessa dengan senang.


“Kita ke sana bukan untuk jalan-jalan. Tapi untuk kerja. Ada masalah dengan hotel Mr. Lee di Bali,” kata Fikri.


“Siap, Pak. Akan saya laksanakan,” kata Nessa.


“Hotelnya, tidak dibooking juga?” tanya Nessa.


“Tidak usah. Mr. Lee menyuruh kita menginap di hotel miliknya,” jawab Fikri.

__ADS_1


“Bapak tidak takut kalau tiba-tiba ada orang yang mau membunuh bapak?” tanya Nessa.


“Maksud kamu apa, ada orang yang mau ngebunuh saya?” tanya Fikri.


“Bisa saja ada yang mau membunuh Bapak. Bapak kan orang kepercayaan Mr. Lee,” jawab Nessa.


“Kamu tuh kebanyakan baca novel detektif, ya? Jadi pikiran kamu kemana-mana,” kata Fikri.


“Bapak kan orang kepercayaan Mr. Lee. Sedangkan hotel Mr. Lee sedang bermasalah. Bagaimana kalau mereka berusaha menyingkirkan Bapak? Karena Bapak bisa membongkar kejahatan mereka,” kata Nessa.


“Kamu ada-ada saja. Mana berani mereka membunuh saya? Melihat kamu berdiri di samping saya saja, mereka sudah takut,” kata Fikri.


“Emangnya saya gogog herder? Sampai ditakuti orang-orang,” kata Nessa kesal.


“Bukan begitu. Tampang wajah kamu judes, badan kamu tinggi dan tegap. Mereka mengira kamu bodyguard saya, bukan sekretaris saya,” kata Fikri.


“Memang tampang saya judes ya, Pak?” tanya Nessa.


“Lihat aja di kaca kalau tidak percaya,” jawab Fikri.


“Biarkan saja kalau dianggap bodyguard Bapak. Yang penting Bapak aman,” kata Nessa.


“Kita berapa lama di Bali?” tanya Nessa.


“Bisa sekitar seminggu, bahkan bisa lebih dari seminggu,” jawab Fikri.


“Asyik lama. Bisa senang-senang,” ujar Nessa dengan gembira.


“Ingat, kita ke sana untuk kerja, bukan untuk bersenang-senang!” kata Fikri.


“Siap, Pak,” jawab Nessa.


***


Keesokan harinya Fikri dan Nessa berangkat ke Bali pukul sembilan pagi. Di bandara I Gusti Ngurah Rai mereka dijemput oleh supir hotel. Sesampainya di hotel mereka disambut oleh manager hotel.


“Selamat datang di Bali, Pak Fikri,” ucap Leo manager hotel Lee & Lee.


“Terima kasih Pak Leo,” jawab Fikri.


“Kami sudah siapkan makan siang untuk Bapak dan assisten Bapak. Bapak mau makan di kamar atau di restaurant?” tanya Leo.


“Kami makan di restaurant saja,” jawab Fikri.


“Kalau begitu, biar pelayan kami yang menyimpan koper Bapak dan koper assisten Bapak ke kamar,” kata Leo.


Fikri diam sebentar. Ia jadi teringat perkataan Nessa kemarin. Tidak ada salahnya mereka harus berjaga-jaga. Bagaimanapun juga mereka sedang berada di tempat asing.


“Kami ke kamar dulu sebentar. Baru ke restaurant. Kebetulan ini sudah masuk waktu sholat dzuhur, kami mau sholat dzuhur dulu,” kata Fikri.


“Baiklah, nanti pelayan kami akan mengantar Bapak menuju ke kamar Bapak,” kata Leo.


Fikri dan Nessa menuju ke kamar mereka diantar oleh pelayan hotel. Mereka masing-masing mendapatkan kamar eksekutif dengan pintu penghubung ke masing-masing kamar. Sengaja Mr. Lee mengaturnya seperti itu, agar memudahkan mereka jika ada perlu satu dengan lain.


Setelah sholat dzuhur mereka menuju ke restaurant. Namun sebelum menuju ke restaurant, Fikri ke kamar Nessa terlebih dahulu.


“Nes, titip koper saya di kamar kamu,” kata Fikri.


“Loh, memangnya kenapa dengan kamar Bapak?” tanya Nessa bingung.


“Kamu sendiri yang bilang, kalau saya harus berhati-hati. Mereka bisa saja menjebak saya dengan memasukkan obat-obatan terlarang ke dalam koper saya. Sehingga saya bisa di grebek BNN,” kata Fikri.


Nessa berpikir sebentar.


“Ahah,” Nessa menuju ke kamar mandi. Ia melihat kunci kamar mandi menggantung di pintu kamar mandi.


Nessa membawa koper miliknya dan koper Fikkri menuju ke kamar mandi lalu mengunci pintu kamar mandi dari luar.

__ADS_1


“Beres,” kata Nessa sambil menunjukkan kunci kamar mandi kepada Fikri.


“Tidak sia-sia saya menggaji kamu dengan mahal,” kata Fikri.


__ADS_2