Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
53. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Hari terus berlalu toko Nessa laris manis, sehingga Nessa harus bulak balik Singapura Bandung untuk membeli barang-barang untuk koleksi tokonya. Kandungan Nessa juga sudah semakin membesar. Dokter melarang Nessa naik pesawat terbang setelah usia kandungan enam bulan. Terpaksa Nessa menetap di Singapura sampai ia melahirkan. Karena Nessa harus berbelanja barang di Singapura untuk kebutuhan tokonya.


Selama Nessa tinggal di Singapura Fikri pun ikut menetap di Singapura. Ia bekerja di perusahaannya di Singapura.


“A, ada orang yang bisa disuruh membuat passport untuk Ima?” tanya Nessa ketika mereka sedang bersantai di ruang keluarga.


“Untuk apa Ima dibuatkan passport?” tanya Fikri sambil fokus ke loptopnya.


“Nessa mau menyuruh Ima ke sini untuk bantu Nessa belanja,” jawab Nessa.


Fikri menoleh ke istrinya.


“Bukannya ada bibi yang biasa menemanimu belanja?” tanya Fikri.


“Bibi sedang tidak enak badan. Biar bibi istirahat dulu,” jawab Nessa.


“Nanti Aa suruh orang di kantor mengurus passport untuk Ima,” kata Fikri.


“Terima kasih, A,” ucap Nessa.


Nessa mencium pipi suaminya. Namun tiba-tiba bayi yang berada di kandungan Nessa bergerak dan mengenai badan Fikri.


“Eh, Ade mau cium Papah juga,” kata Fikri sambil mengusap perut istrinya.


“Kapan kamu check-up ke dokter?” tanya Fikri masih mengusap-usap perut istrinya.


“Masih lama beberapa minggu lagi,” jawab Nessa.


“Kalau sekarang nengok bayi boleh, nggak?” tanya Fikri.


“Boleh. Tapi pelan-pelan, ya,” jawab Nessa.


“Ayo kita ke kamar. Aa mau nengok bayi,” kata Fikri.


Fikri memapah istrinya menuju ke kamar mereka.


***


Setelah passport Ima selesai dibuat, Nessa langsung menyuruh Ima ke Singapura diantar oleh salah satu asisten Fikri. Namun ketika Ima tiba di rumah Fikri, alangkah kagetnya Nessa melihat siapa yang mengantar Ima.


“Loh kok, jadi Akang yang mengantar Ima? Kan Aa menyuruh assisten Aa yang mengantarkan Ima,” tanya Nessa kepada Prima.


“Nggak tau, Teh Nessa. Pak Prima yang bilang disuruh menganter Ima ke Singapura,” jawab Ima.


“Tidak apa-apa. Sama saja diantar Akang atau asisten Fikri,” jawab Prima.


“Jangan-jangan Akang Prima yang mengurus passport kamu?” tanya Nessa kepada Ima.

__ADS_1


“Iya, Teh,” jawab Ima.


“Ya sudahlah. Ayo masuk,” kata Nessa.


Ima dan Prima masuk ke dalam rumah Fikri.


“Kang, tolong antar Ima ke kamarnya. Soalnya Bibi sedang sakit,” kata Nessa kepada Prima.


“Siap, Nessa,” jawab Prima.


“Pilih saja mau kamar yang mana. Semuanya sudah Nessa bersihkan dan bereskan. Tapi ingat. Kamar Akang harus jauh dari kamar Ima!” pesan Nessa.


“Baik, Ibu Nessa,” jawab Prima.


Lalu Prima mengajak Ima menuju ke lantai atas.


Sore harinya ketika Fikri pulang dari kantor ia kaget melihat Prima ada di rumahnya.


“Loh kok jadi Akang yang mengantar Ima? Saya kan menyuruh Indra yang mengantarkan Ima,” tanya Fikri.


“Indra sibuk banyak pekerjaan. Bosnya lama di Singapura,” jawab Prima.


“Papah tau Akang di sini?” tanya Fikri kepada Prima.


“Tau. Pak Taufik mengijinkan Akang ke Singapura. Kata beliau biar sekali-sekali Akang refreshing,” jawab Prima.


“Hmm. bibi salah. Justru bibi mesti hati-hati sama Akang. Akang kan playboy cap badak,” ujar Fikri.


“Ima, jangan didengar omongan Fikri. Itu semua bohong,” kata Prima kepada Ima.


Ima hanya diam mendengarkan percakapan Prima dan Fikri.


“Nes, kamar mereka berjauhan, kan?” tanya Fikri kepada Nessa.


“Iya, A,” jawab Nessa.


“Baguslah,” kata Fikri.


“Sudah pasti berjauhan. Kamar yang tengah dikunci sama Nessa,” sahut Prima.


Mendengar perkataan Prima, Nessa nyengir.


“Nggak tau kenapa rasanya pengen Nessa kunci kamar tengah. Eh, benar saja Kang Prima datang,” kata Nessa.


“Ya Allah, Nes. Segitu curiganya kamu sama Akang,” ujar Prima sedih.


“Nessa cuma jaga-jaga. Kalau ada apa-apa sama Ima, pasti bibi menyalahkan Nessa,” jawab Nessa.

__ADS_1


“Sudah ah, Fikri mau mandi dulu,” kata Fikri lalu beranjak dari tempat duduknya.


“Biarkan saja Akang Prima di sini. Buruh angkut kamu jadi tambah satu lagi,” kata Fikri sebelum masuk ke dalam kamarnya.


“Hah?” tanya Prima kaget.


***


Keesokan harinya Nessa mengajak Ima belanja untuk membeli barang-barang yang akan dijual di toko Nessa. Mereka dikawal oleh Pak Sam dan Prima.


“Kang Prima, tolong diingatin tempat-tempatnya. Nanti kalau Nessa sudah melahirkan, Kang Prima dan Ima yang berbelanja ke sini,” kata Nessa sambil berjalan menyusuri pertokoan.


“Siap, Nessa,” jawab Prima.


Seharian mereka mengelilingi pertokoan, mencari barang-barang yang sedang trend dengan kualitas bagus namun harganya murah. Maklumlah namanya juga untuk dijual kembali. Prima dan Pak Sam mengikuti dari belakang sambil membawakan belanjaan.


Malam harinya Nessa mulai packing belanjaannya karena besok akan dikirim ke tempat pengiriman paket.


“Banyak sekali belanjaannya. Bagaimana cara membawanya?” tanya Prima ketika melihat Nessa packing barang dibantu oleh Ima.


“Akang tenang saja. Barang-barang ini bukan Akang yang bawa. Ini akan dikirim melalui paket. Jadi besok Akang tinggal melenggang tanpa membawa belanjaan,” jawab Nessa.


“Akhirnya bisa pacaran, deh,” ujar Fikri.


“Eh, tidak boleh. Harus jaga jarak! Halalin Ima dulu, baru pacaran,” seru Nessa.


“Dengerin tuh, apa kata ustadzah! Harus jaga jarak semester,” sahut Fikri.


“Jauh amat,” kata Prima.


.


.


.


Hai pembaca yang budiman,


Mampir yuk! Ke novel Deche yang baru yang berjudul "ISTRI PILIHAN ALIKA". Tadinya judulnya "CINTA SETELAH MENIKAH". Tapi berhubung CInta Setelah Menikah adalah tag novel di noveltoon, jadi ambyar deh novel Deche tidak muncul di pencarian.Terpaksa diganti judulnya menjadi "ISTRI PILIHAN ALIKA".


Jangan lupa mampir, ya!


ISTRI PILIHAN ALIKA


Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.


Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.

__ADS_1



__ADS_2