
Nessa sedang bercermin di depan cermin. Malam ini ia akan menemani bosnya makan malam dengan calon klien. Setelah pulang kantor Nessa pulang dulu ke tempat kosnya, karena pertemuan dengan klien pukul setengah delapan. Nessa punya waktu luang untuk pulang ke tempat kosnya. Tiba-tiba ada chat masuk di aplikasi ojek online.
Driver :
Teh, saya sudah berada di depan.
Nessa :
Tunggu sebentar.
Nessa mengambil tasnya lalu keluar dari kamarnya. Nessa berjalan ke depan tempat kosnya. Seorang supir ojek online sedang menunggunya.
“Mau kemana, Teh?” tanya Pak Sukri security di tempat kosnya.
“Ada janji dengan teman,” jawab Nessa.
Kalau bilang janji dengan teman lebih aman. Daripada bilang menemani bos makan malam, malah akan ditanggapi negative dengan semua orang.
Nessa menghampiri supir ojek.
“Teh Nessa?” tanya supir ojek.
“Iya,” jawab Nessa.
Supir ojek memberikan helm kepada Nessa dan Nessa memakai helm itu. Nessa langsung naik ke atas motor. Motor itu pun jalan meninggalkan tempat kos Nessa.
Motor ojek yang di tumpangi oleh Nessa berhenti di depan hotel Teras. Hotel bintang tujuh yang cukup ternama di kota Bandung. Nessa memberikan uang kepada supir ojek.
“Terima kasih ya, Bang,” ucap Nessa.
Nessa langsung masuk ke lobby hotel. Ia berjalan menuju lounge hotel. Nessa mengedar pandangannya mencari Fikri. Pandangannya tertuju pada laki-laki muda tampan yang menggunakan jas casual dengan kaos sebagai **********. Nessa mendekati laki-laki itu.
“Selamat malam, Pak. Bapak sudah lama menunggu saya?” sapa Nessa.
Laki-laki itu menoleh ke arah Nessa dan memperhatikan penampilan Nessa dari atas ke bawah. Nessa menggunakan dress yang casual serta menggunakan sepatu santai dengan hak tiga centimeter. Rambutnya dikuncir ekor kuda, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Boleh juga dandanannya, kata Fikri di dalam hati.
“Kenapa, Pak? Saya salah kostum, ya?” tanya Nessa merasa Fikri sedang memperhatikan penampilannya.
“Tidak. Begitu juga sudah cukup,” jawab Fikri.
“Ayo, kita sudah ditunggu,” kata Fikri.
Nessa mengikuti Fikri dari belakang. Fikri berjalan menuju ke restaurant Jepang yang berada di hotel tersebut.
“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa pegawai restaurant ketika mereka memasuki restaurant Jepang.
“Saya ada janji dengan Tuan Jack,” jawab Fikri.
“Mari saya antar,” kata pegawai itu. Pegawai itu mengantar Fikri dan Nessa ke meja Tuan Jack.
Seorang pria dengan perawakan tinggi dan wajah campuran antara China dan Amerika, berdiri menyambut Fikri.
“Pak Fikri, apa kabar?” Tuan Jack menyalami Fikri.
__ADS_1
“Baik, Tuan Jack,” jawab Fikri.
“Who is she?” tanya Tuan Jack sambil menujuk ke Nessa.
“She is my secretary. Her name is Nessa,” jawab Fikri.
Tuan Jack mengulurkan tangannya, Nessa menyalami tangan Tuan Jack.
“Senang berkenalan dengan anda, Nona Nessa,” kata Tuan Jack.
“Sama-sama, Tuan Jack,” jawab Nessa.
Tuan Jack mempersilahkan mereka untuk duduk. Tuan Jack dan Fikri membicarakan bisnis mereka sambil menikmati makan malam. Nessa hanya duduk dan menjadi pendengar yang baik. Terkadang ia mencatat yang ia anggap penting. Selama makan malam Tuan Jack sekali sekali melirik ke arah Nessa, namun Nessa tidak menyadari hal itu. Sampai akhirnya pukul setengah sepuluh malam perbincangan Tuan Jack dan Fikri pun selesai. Fikri pun pamit pulang.
“Barang kali Nona Nessa mau menemani saya minum-minum?” tanya Tuan Jack ketika mereka pamit pulang. Nessa kaget mendengarnya.
“Maaf Tuan, saya tidak bisa. Besok saya harus bekerja,” jawab Nessa.
“Baiklah, saya mengerti. Mungkin lain kali Nona Nessa bisa menemani saya makan malam dan minum-minum,” kata Tuan Jack.
Tuan Jack menyalami Fikri. Namun ketika dengan Nessa, Tuan Jack bukan menyalaminya namun ia mencium punggung tangan Nessa. Nessa langsung merinding ketika Tuan Jack mencium punggung tangannya.
“Senang bertemu dengan anda Nona Nessa,” kata Tuan Jack sambil memandang wajah Nessa.
Nessa cepat-cepat menarik tangannya.
“Kami permisi dulu Tuan Jack,” pamit Fikri.
Fikri dan Nessa pergi meninggalkan restaurant tersebut. Ketika di dalam liff Nessa cepat-cepat mengelap punggung tangannya yang habis dicium oleh Tuan Jack dengan tissue basah.
Fikri memperhatikan Nessa yang sedang menggosok-gosok tangannya.
“Kelihatannya dia suka dengan kamu,” kata Fikri.
“Maaf saja, Pak. Kalau Bapak memperalat saya untuk mendapatkan proyek dari Tuan Jack, lebih baik saya resign,” kata Nessa.
“Saya sekretaris, bukan pela0cur,” kata Nessa dengan kesal.
Selama ia bekerja dengan Pak Fredy, ia belum pernah bertemu dengan klien seperti Tuan Jack. Pak Fredy sangat menjaganya dengan baik, sehingga tidak ada satupun klien yang berani kurang ajar padanya.
“Kata siapa saya memperalat kamu? Saya kan hanya bilang kalau kamu bisa memdapatkan proyek ini, kamu saya kasih bonus. Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Kita cari proyek yang lain,” kata Fikri.
Nessa hanya diam mendengar perkatan Fikri.
“Kamu pulang naik apa?’ tanya Fikri.
“Naik ojek online, Pak,” jawab Nessa.
“Saya antar kamu pulang. Ini sudah malam,” kata Fikri.
Liff berhenti di lantai basemant, tempat Fikri memarkirkan mobilnya.
Fikri menghentikan mobilnya di depan tempat kos Nessa.
“Terima kasih sudah menemani saya,” ucap Fikri.
__ADS_1
“Sama-sama, Pak,” jawab Nessa.
Nessa turun dari mobilnya. Nessa berdiri di depan kos, menunggu sampai mobil Fikri melaju meninggal tempat kosnya. Setelah itu Nessa masuk ke dalam tempat kosnya.
***
Nessa sedang menulis jadwal Fikri ketika Fikri datang. Hari ini Fikri tidak membawa perempuan ke kantor.
Alhamdullilah. Tidak aka nada drama, ucap Nessa di dalam hati.
Namun ketika menjelang makan siang datanglah seorang perempuan cantik yang gayanya bagaikan seorang sosialita.
“Pak Fikri ada?” tanya perempuan itu.
“Mbak siapa, ya?” Nessa malah balik bertanya.
“Saya Heni, tunangan Fikri,” jawab wanita itu.
“Tunggu dulu sebentar, Mbak. Saya hubungi Pak Fikri dulu,” kata Nessa.
Namun perempuan itu langsung membuka pintu ruangan Fikri dan masuk ke dalam. Nessa langsung berdiri.
“Mbak, jangan sembarangan masuk!” seru Nessa.
Tak lama kemudian Fikri keluar dari ruangannya.
“Nessa! Kenapa kamu biarkan orang lain masuk ke ruangan saya?” seru Fikri dengan nada marah
“Saya tidak menyuruhnya masuk, dia langsung menerobos masuk,” jawab Nessa.
“Fikri,” Heni mendekati Fikri lalu memegang lengan Fikri.
“Jangan dekat-dekat dengan saya! Saya jijik dekat-dekat kamu,” seru Fikri sambil menghempaskan tangan Heni.
“Fikri, maafkan aku Fikri. Aku mau balik lagi sama kamu. Aku masih cinta sama kamu,” kata Heni. Heni berusaha memegang tangan Fikri. Namun Fikri terus menghindar.
Nessa Cuma bengong melihat mereka berdua.
“Saya tidak mau sama kamu lagi! Saya jijik sama kamu!” kata Fikri.
“Nessa, usir orang ini! Saya tidak mau melihat dia di sini!” seru Fikri.
Nessa mendekati Heni.
“Ayo Mbak, pergi dari sini,” bujuk Nessa.
“Siapa kamu berani mengusir saya dari sini? Saya ini tunangan Fikri,” kata Heni.
“Kita sudah lama putus. Saya sudah tidak ada hubungan apa-apa sama kamu!” kata Fikri.
“Pokoknya usir orang ini atau kamu saya pecat!” seru Fikri.
“Ayo pergi, Mbak. Darpada nanti diusir security, nanti lebih malu lagi,” bujuk Nessa.
“Aku tidak akan menyerah. Aku akan kembali lagi,” kata Heni.
__ADS_1
Lalu Heni meninggalkan ruangan Fikri. Nessa pun bisa bernafas lega.