Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
berlibur 3


__ADS_3

karena waktu cutiku telah hampir habis maka keberadaanku di bangkok pun akan segera berakhir.



aku sangat penasaran dengan Museum of Counterfeit Goods, yang infonya museum ini unik daripada museum pada umumnya.



maka aku dan Dennis pun bergegas menuju lokasi.



setelah sampai dilokasi ternyata benar benar unik adanya.


kalau pada biasanya Museum selalu identik dengan barang-barang bersejarah, namun berbeda dengan Museum of Counterfeit Goods. Di sini, kami justru akan menemukan ribuan barang bermerek tiruan alias palsu! Meski begitu, seluruh koleksi museum unik ini didapatkan dari barang bukti sitaan sejumlah perusahaan yang melanggar hak cipta dan merek dagang.



Ada 20 kategori barang yang dipamerkan di museum, mulai dari pakaian, sepatu, jam, alas kaki, parfum, kosmetik, obat-obatan, rokok, hingga barang elektronik. Menariknya, beberapa barang palsu tersebut diletakkan di samping yang barang asli, sehingga memberikan pengetahuan agar warga maupun pengunjung bisa membedakan barang asli dan palsu.



tentunya tidak lupa aku dan Dennis mengabadikan perjalanan kami di sini.



tiba tiba saja Dennis mendapatkan telepon dari kakak laki lakinya Danuarta.



"denn, dimana kau? cepat pulang papa sakit, sekarang sedang berada di rumah sakit melakukan pemeriksaan"



"aku sedang berada di bangkok kak, sakit apa papa? sebelum aku pergi papa baik baik saja"


ucap Dennis dengan wajah kaget dan cemas



"entahlah, aku juga tidak tahu ini den, papa tiba tiba saja tidak sadarkan diri, aku juga baru pulang dari Pontianak setelah mendapatkan kabar ini".



"cepatlah kau pulang Denn"



ya aku mendengar pembicaraan Dennis dan kakaknya di telepon secara samar samar.



"kenapa den? ada apa dengan papa mu?"



"entahlah sayang, kata kak Danu papa sakit sedang di rumah sakit saat ini, aku juga tidak begitu jelas, aku di suruh untuk cepat pulang"



"ya sudah kita bergegas pulang kalau begitu den"



kami pun bergegas ke hotel dan membereskan semua barang barang kami dan menuju airport sesegera mungkin.



setelah sampai dikota kami, Dennis segera mengendarai mobilnya bersamaku menuju rumah sakit tempat ayah nya di rawat.



sejujurnya aku takut dan malas untuk bertemu dengan keluarganya, namun aku terpaksa mengikuti Dennis karena keadaan ayah Dennis sepertinya cukup gawat.



sesampai di rumah sakit, kami menemukan keluarga Dennis yang sedang berkumpul.


__ADS_1


ada kak Lusia, Yuna, Danuarta dan ibunya.


aku menyapa mereka dengan senyum,



kak Lusia dan Danuarta balas sapaku dengan sopan.



ibu Dennis dan kak Yuna juga membalas sapaku hanya saja terlihat di wajah mereka tak begitu suka dengan kehadiranku.



pada saat itu ada sedikit perasaan tertekan pada diriku, namun aku mengabaikannya.



"ma, bagaimana keadaan papa?" tanya Dennis



"saat ini ia sedang istrahat di kamar, tadi telah melakukan pemeriksaan lab, menurut tim lab hasilnya akan di ketahui setelah satu Minggu kemudian"



"masuk dan jenguklah ayah mu nak, pinta ibu Dennis



Dennis menggandeng tangan ku, mengajakku untuk masuk ke dalam ruangan di mana ayahnya di rawat, saat kami masuk ayah Dennis terbangun.



"pa...


"om..


ucap kami serentak.




"pa, bagaimana keadaan papa?"



dengan nada lemah dan lirih, di sertai senyuman kecil ayah Dennis menjawab



"papa tidak apa apa nak, jangan cemas"



"papa sejak kapan merasakan sakit, kenapa tidak memberitahu Dennis pa?"


sampai sampai papa pingsan kata kak danuarta".



"Dennis dan Talita sangat cemas sehingga kami tergesa gesa dari Bangkok menuju kemari"



ucap Dennis pada ayahnya, dan aku hanya tersenyum kecil pada ayah Dennis.



ayah Dennis tersenyum pada kami berdua, ia meraih tangan Dennis dan memanggilku mendekatinya.



"kemarilah nak litta" ia melambaikan tangannya padaku seraya menginginkan ku berdiri lebih dekat pada nya.


dan aku pun mendekat, "ya om...."


__ADS_1


beliau menyatukan tanganku dan tangan Dennis, seraya berkata :



"nak litta, Dennis ini anak om yang paling om sayang, mungkin ada terkadang sifat dan sikapnya yang kurang, tapi om yakin nak litta tahu dengan jelas isi hati nya, om ingin nak litta bisa menjadi istri Dennis, mengasihi dan menyayangi Dennis, sejak kecil Dennis ini telah berpisah dari om dan Tante di besarkan oleh ibu angkatnya, om yakin nak litta telah mendengar ceritanya dari Dennis, mungkin dari itu yang menyebabkan Dennis terkadang tidak bisa mengungkap isi hatinya dengan baik, itu semua salah om dan Tante, nak litta jangan menyalahkan Dennis ya"



"iya om... jawab ku singkat


dan kulihat mata Dennis sedikit memerah, wajahnya seakan akan mengekspresikan sebuah rasa haru, sedih, dan takut.


ya aku paham apa yang Dennis rasakan.



"setelah om keluar dari rumah sakit maukah nak litta menikah dengan Dennis?"



aku tak mampu menjawab itu pertanyaan ayah Dennis, hanya terdiam membeku, bibir ku kaku seakan akan tak mampu untuk di gerakan.



"ayolah nak litta om takut, om tidak lagi bisa lebih lama lagi hidup di dunia ini"



"pa... pliss jangan bicara sembarangan pa, papa akan tetap bersama kami dan melihat Dennis menikah bahkan menggendong anak anak Dennis nantinya"



ayah Dennis hanya tersenyum,



"dan lagian papa aneh, kenapa harus Dennis yang menikah duluan, kak danuarta dan kak Yuna bahkan belum menikah pa" ucap Dennis.



"ya karena kau tahu sendiri kemungkinan kak danuarta menikah itu masih sangat lama, pasangan saja dia belum punya" ujar ayahnya seraya tertawa namun tertahan karena tubuhnya yang lemah



"sedangkan Yuna, wanita manja itu walaupun usianya lebih tua di banding kalian sifat dan sikapnya terlalu kekanak Kanakan, bagaimana dia bisa menjadi seorang istri dan ibu dari anaknya "



"nanti akan papa bicarakan juga dengan mama, papa yakin Dennis dan nak litta sudah siap membina rumah tangga"



lagi lagi aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa apa. perasaanku kacau sekacau kacaunya.




di luar sepertinya ibu Dennis mendengarkan apa yang ayahnya katakan pada kami.



saat Dennis dan saudaranya yang lain sedang berbicara dengan tim dokter, aku tinggal dan duduk di depan kamar rawat ayahnya bersama ibu erina, ya ibu erina adalah ibunya dennis.


aku duduk disini menemani beliau.


jujur saja aku sedikit takut, sebab selama ini beliau tidak pernah suka pada ku ya hanya karena statusku.



namun entah kenapa kali ini raut wajahnya kulihat beliau tidak begitu menampakan permusuhannya padaku





__ADS_1



__ADS_2