
di mobil Talita bertanya pada Dennis.
"denn... tadi kau lihat si Ina? dia melihat ku seakan akan tidak suka dengan keberadaanku, aku sedikit kepikiran dengan tatapannya tadi sayang"
"aku tidak melihatnya sayang, mungkin hanya perasaanmu saja, sudah ah... jangan pikir yang tidak tidak."
dan akhirnya kami pun berpisah dan bekerja di kantor masing masing melakukan kegiatan seperti biasanya tanpa menghiraukan tatap Ina tadi pagi.
sore hari ketika pulang dari kejauhan ketika akan turun mobil aku kembali melihat Ina menatapku dengan sinis.
tapi aku tidak memperdulikannya, saat itu ada mama Erina yang sedang menggendong Steve berada di dekat Ina.
"sore ma, sapa ku ketika mendekat, sapaan ini biasa aku lakukan sedari aku baru menikah dengan Dennis hingga saat ini.
"sore kak Ina" tak lupa pula aku menyapa kak Ina, dan ia menjawab sapaanku dengan senyumnya yang ramah, tatapannya yang sedari tadi sinis seakan akan hilang begitu saja.
barang kali hanya pikiranku atau aku salah lihat dalam hati ku membatin.
"ih... Steve lucu ya ma, ucapku seraya memegang tangan kecilnya.
"nih, kau gendong biar cepat nular, tahun depan mama gendong cucu" ucap mama Erina seraya mengarahkan Steve padaku.
akupun mengambil Steve dari tangan mama.
Ina yang duduk di samping mama sekilas menatapku kembali seakan akan tidak suka pada ku, namun begitu ku tatap ia merubah tatapannya dengan sebuah senyuman dan seraya berkata:
"iya, kau gendong saja Steve siapa tahu segera menular padamu, bila perlu biarkan Steve mengompolimu " timpal nya dengan senyuman termanisnya
aku hanya membalas ucapannya dengan senyum, dan benar saja tidak lama Steve benar benar pipis, pipisnya membasahi celana kerja ku. dan Dennis menertawaiku.
kami semua pun tertawa bersama.
hanya Ina yang kulihat tertawa kecut menatapku penuh dengan kebencian.
namun ketika ku menatapnya seketika tatapannya padaku berubah penuh dengan senyuman manis. Dan aku hanya menyimpannya dalam hati, seakan akan memiliki feeling tidak baik akan Ina.
saat mendekati jam makan malam, aku kedapur untuk mengambil minum karena haus.
dan aku kanget melihat api yang begitu besar di atas kompor telah melahap panci kecil di atas tungkunya.
spontan aku berteriak memanggil bi nem.
yang muncul malah mama Erina dan Ina.
kami bertiga mematikan api tersebut dengan sebuah handuk yang di basahkan dengan air.
lalu tiba tiba saja Ina berkata:
"litta, kan tadi sudah ku bilang biar aku saja yang memasak bubur Steve tidak perlu kau yang turun tangan, kalau kau sudah lupa begini kan terjadi kebakaran bahaya litta"
__ADS_1
tentu saja aku sangat kaget dengan ucapan Ina.
belum sempat ku menjawabnya, mama Erina sudah memarahi ku habis habisan.
karena tidak pernah di bentak separah itu oleh mama Erina mataku pun mulai berkaca kaca.
"bukan litta ma... ucapku lirih
"Halah...mana ada maling yang mau ngaku!" jawab mama Erina
kulihat Ina dengan penuh senyum kemenangan menatapku, lalu ia pura pura menenangkan mama Erina.
"sudah la ma, litta mungkin lelah karena baru juga tadi pagi ia pulang dari Malaysia dan harus bekerja seharian pula"
aku merasa tertekan dengan situasi ini, aku berlari menuju kamar, di kamar aku menangis.
kucari Dennis dan ia tidak ada di kamar, ku telepon dia.
dan ternyata ia pergi kekantor saat aku ke dapur tadi. ia bilang ada keperluan mendesak.
aku menagis ðŸ˜, mungkin karena aku sangat kaget, takut, sedih dan juga stress bercampur satu
aku tidak keluar kamar untuk makan malam. karena tidak ada Dennis dan suasana hatiku juga kacau.
tok... tok...
"non...
panggil bi nem
aku tidak menjawab pura pura tertidur
sekitar 1jam kemudian mama mengetuk pintu ku dengan kasar.
TOK...TOK..TOK...!!!
"litta... keluar...!!
apa hanya karena beberapa ucapanku membuatmu tersinggung dan tidak mau makan. apakah seperti ini sikap dari orang yang sudah berbuat salah?"
karena aku tidak menjawab, mama Erina mengakhirinya dengan kata :
"dasar tidak tahu di Untung!"
aku hanya diam di kamar dan menangis sejadi jadinya tanpa suara.
malam itu Dennis tidak pulang karena ada masalah di kantor, dan aku tertidur tanpa makan malam.
esok paginya pukul 06.30 aku menelepon Dennis menanyakan jam berapa ia akan pulang.
__ADS_1
"hallo sayang, jam berapa kau pulang? sebentar lagi aku juga harus bekerja"
"hallo maaf sayang, aku tidak pulang, hari ini kau berangkat sendiri ya, sudah dulu ya sayang. bye" tutup Dennis
ya Tuhan ingin rasanya ku menangis, tidak sempat ku ceritakan apa yang baru saja menimpahku semalam Dennis sudah mematikan teleponnya.
aku bermaksud buru buru untuk pergi ke kantor tanpa sarapan.
saat aku keluar melewati ruang makan tiba tiba saja Ina memanggilku,
"pagi sekali litta, sudah habis melakukan kesalahan mau kabur ya?"
ucapnya dengan senyum licik
"aku tidak salah kenapa aku harus kabur?" aku ada urusan di kantor,
"oh ya?" kau bukan kabur dari kesalahan?"
"tentu tidak kak...semalam bukan ulah ku kak! ucap ku dengan hati yang sakit, kesal dan marah bercampur jadi satu namun tidak bisa aku luapkan.
tiba tiba saja Ina kembali memainkan akting nya, menampar pipinya sendiri dan
"aauu... ampun litta, ucapnya seraya memegang pipinya yang memerah akibat tamparannya sendiri
mama Erina muncul dari belakang ku, menarik dan menamparku dengan keras.
"apa yang kau lakukan litta?" berani kau sekarang main tangan ya?!" kau kira dirumah ini kau yang berkuasa?!"
kejadian semalam belum lagi ku perhitungkan denganmu, pagi ini kau sudah kembali membuat masalah!!"
aku memegang pipiku yang di tampar oleh mama Erina, "tidak ma, litta tidak menampar kak Ina, benar ma!" kak Ina melakukannya sendiri ma". ucapku berusaha meyakinkan mama Erina
"kau kira Ina gila menampar dirinya sendiri, kau jangan membual yang tidak masuk akal litta."
"kak tolong katakan pada mama yang sebenarnya kak, aku tidak melakukan apapun, bahkan hal semalam bukan ulahku" pinta ku pada kak ina
kak Ina malah menangis memeluk mama, "ma, aku takut pada litta ma, dia kasar padaku. tadi aku hanya menanyakannya apakah dia tidak sarapan pagi ini, kenapa begitu pagi sudah mau pergi...Ina hanya tanya itu ma, tapi tiba tiba litta bilang aku ikut campur urusan dia dan menamparku ma." ucap Ina dengan pura pura lirih dan menangis pada mama Erina
__ADS_1