
sore harinya dennis menjemputku pulang kerja, dan pulang kerumah keluarga nya.
sesampai di rumah keluarga dennis, aku masuk ke kamar.
di kamar aku terus memikirkan apa yang pak haslan sampaikan padaku.
timbul berbagai macam pertanyaan di dalam kepalaku.
apakah benar yang di katakan pak haslan?
apakah pak haslan benar benar perduli padaku atau ada maksud lainny?
jujur saja aku takut. karena sebelum aku sakit di kantor pak haslan menempel beberapa lembar kertas mantra di mana mana.
bahkan ada desas desus bahwa pak haslan itu mengikuti persugihan. maka dari itu timbul curigaku pada pak haslan.
aku berpikir cukup lama, lalu aku putuskan untuk menelepon bu daniar.
"hallo dengan bu daniar ya?"
"iya hallo, ini litta ya?"
"iya benar bu, apa kabar bu?"
"kabar baik litta, kau sendiri apa kabar? bagaimana dengan pekerjaanmu? masih ikut pak haslan?"
"litta baru sehat dari sakit bu, masih bu, masih ikut pak haslan. oh ya bu, ini ada yang mau litta diskusi kan dengan ibu. ibu ada waktu?"
"ya diskusikan apa litta? bicara saja, ibu sedang tidak sibuk kok."
"seperti ini bu, bla...bla...bla..." aku menceritakan secara singkat pada bu daniar.
"oh begitu"
"iya bu, jadi ini litta mau minta pendapat ibu?" apa sebaiknya litta ikuti kata pak haslan ya? litta saat ini binggung bu."
"ibu tidak bisa minta litta ikut atau tidak, semua kembali pada diri mu litta, kalau kau percaya kau ikutilah. tapi bila kau tak percaya juga tidak apa apa litta, barang yang di berikan oleh pak haslan boleh kau bakar saja."
"oh begitu ya bu, tidak apa kalau misalnya litta bakar?"
"iya litta, tidak apa apa kok."
"baiklah bu, terimakasih ya atas masukan dari ibu."
"iya sama sama litta, semoga sehat selalu ya."
"amin, Makasi ya bu."
dan kami pun mengakhiri pembicaraan kami.
aku masih saja ragu ragu dan cukup binggung.
aku menyimpan barang yang pak haslan berikan pada ku ke dalam lemari meja hias ku. karena aku belum bisa memutuskan apa yang harus ku lakukan.
__ADS_1
malam harinya ketika aku tertidur lagi lagi antara sadar atau tidak sadar aku melihat seperti ada wanita yang sedang membelai kepalaku. ia duduk di samping atas kepalaku dengan pakaian putih dan berambut panjang.
aku ketakutan namun lagi lagi aku kembali tidak bisa bergerak, dalam hati aku berdoa.
dan sepertinya wanita itu bisa mendengarkan suara hatiku yang sedang berdoa.
lalu ia bilang padaku : "percuma kau berdoa, doamu tidak akan mempan untuk mengusirku." hihihi... tawanya demikian menakutkan.
"litta... litta... kau kenapa sayang?" tanya dennis padaku.
"entahlah den, sepertinya aku tadi bermimpi buruk."
dennis mendekapku dan menyuruh ku untuk tidur kembali.
tiga hari setelahnya, saat aku pulang kerja bersama dennis kembali ke rumah.
saat ingin memasuki kamar aku melihat bayangan hitam berlalu dengan cepat ke arah kamarku.
aku sempat kaget dan aku menceritakannya pada dennis.
namun sayangnya dennis tidak begitu percaya dengan apa yang aku ceritakan. ia bilang aku hanya banyak berpikir dan lelah.
aku pikir ada benarnya apa yang dennis ucapkan padaku. mungkin aku hanya terlalu lelah dan salah lihat.
malam hari saat ingin tidur aku kembali merasakan seperti melihat sesuatu di jendela kamarku.
namun aku berusaha berpikir positif bahwa itu semua hanya halusinasi ku saja.
mungkin seperti yang dennis bilang aku terlalu lelah dan banyak pikiran.
kira kira pukul 02.00 malam aku terbangun karena hasrat ingin berkemih.
aku pun dengan terpaksa berdiri menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar ku.
saat aku ingin membaringkan tubuhku, lagi lagi aku melihat sesuatu di jendela kamar ku.
aku sontak terkaget, kali ini seperti nya aku tidak salah lihat. yang aku lihat adalah sesosok pocong dengan wajah hitam bernoda darah dan mata putih melotot dengan ciri khasnya seluruh tubuh yang terbungkus kain kafan.
bulu romaku berdiri bergidik, aku berusaha tenang dan membangunkan dennis.
namun sayangnya dennis tertidur bak orang yang sedang dibius.
ia bahkan tidak bangun saat aku mengguncang guncang kan tubuhnya.
pocong itu tetap berada di balik jendela menatap kearah ku tidak bergeming sedari tadi.
itu membuatku semakin takut, aku dengan segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhku bahkan kepalaku,
di balik selimut sungguh sungguh aku sangat ketakutan, aku berharap pagi hari segera tiba.
sesekali aku mengintip apakah makhluk itu telah pergi tapi dia tidak kunjung pergi sedari tadi masih menatap kearahku dengan mata melotot.
terang saja aku tidak tidur karena takut, sesekali aku terus mengintip ke arah jendela berharap makhluk itu hilang. saat fajar mulai menyingsing, makhluk itu pun menghilang.
__ADS_1
aku menceritakannya pada dennis, dan dennis mulai sedikit percaya. namun ia terus berusaha menenangkan ku dengan mengatakan bahwa aku terlalu banyak berpikir dan berhalusinasi.
ketika aku berada di dapur dan akan berjalan menuju ruang makan aku lagi lagi kembali melihat sesosok bayangan hitam yang berlari dengan cepat kearah kamar ku.
aku sempat kaget dan ingin berjerit karena aku mulai sangat takut, tapi untungnya sebelum aku mengeluarkan suaraku dennis muncul tepat berada di belakang ku.
aku memeluk dennis dan kembali menceritakan apa yang barusan ku alami dengan cukup histeris.
dan mama erina mendengarkan apa yang aku bicarakan pada dennis.
lalu ia menjawab :
"sudahlah litta, mungkin hanya perasaanmu saja karena kau baru sembuh dari sakitmu. atau mungkin itu papa nya dennis yang sedang kembali melihat lihat keluarganya."
aku tidak memperdulikan apa yang mama erina ucapkan. yang aku tahu saat ini hanya aku sangat takut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
coba tebak, yang di lihat talita adalah makhluk yang berasal dari?
a. perbuatan pak haslan
b. indra talita yang terbuka sehabis sakit keras
c. kiriman dari orang yang iri pada talita
ikuti terus ceritakua ya, jangan luka klik favorit dan berikan jempolmu ya...
__ADS_1
terimakasih