Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

aku membuka mataku, kupandangi seluruh isi ruangan dan aku ternyata berada di rumah orang tua ku.


sungguh aku tidak ingat apa yang terjadi, dan kenapa aku masih di sini. bahkan hari sudah mulai malam ku lihat jam dinding menunjukan pukul 20.00 wib.


mama membuka pintu kamar dan masuk.


"lita, kau sudah bangun nak? kau baik baik saja? apa yang kau rasa saat ini?"


"lita, rasanya lemas ma, maag lita terasa perih."


"apa sebaiknya kita ke dokter saja ya nak."


aku hanya diam tidak menjawab mama, aku merasa kosong.


tidak lama papa masuk.


"ayo kita ke dokter, papa juga kebetulan mau check rutin."


aku hanya mengikuti saja, perkataan papa dan mama. aku mengikuti mereka ke dokter.


di sana dokter memberiku beberapa kepingan obat, obat sakit kepala, obat maag, dan antibiotik yang di resepkan untuk di minum 1*3 perjenis selama 5 hari.


sebelum tidur aku meminum semua obat yang di resepkan, dan aku pun tertidur.


hari ketiga aku meminum obat dokter tersebut aku menemukan 3 bintik bintik berisi air di area bibirku, layaknya cacar air.


aku tidak menggubris nya. ku pikir aku di gigit serangga.


siang harinya bintik bintik berisi air itu telah memenuhi seluruh bibirku, aku berjalan menuju meja makan dan duduk di sana. aku sempat memperlihatkan bintik bintik di bibirku pada mama. bintik bintik berisi air itu cukup membuatku merasakan sakit panas dan perih di area bibirku.


beberapa saat tiba tiba saja aku rasakan bagian ulu hati dan maagku sakit sekali, lalu aku muntah muntah, kepalaku pusing luar biasa, badan ku panas dingin. dan tubuhku lemas.


"brakkkk.... suara tubuhku jatuh menghempas kursi plastik dan aku jatuh pingsan di lantai dan membuat semua orang di rumahku panik.


aku rasakan tubuhku sangat ringan, sekeliling ku putih tanpa pemandangan.

__ADS_1


aku tidak tahu di mana aku berada, aku seperti orang yang sedang kebingungan, aku tidak melihat apapun kecuali putih.


tapi aku bisa mendengarkan suara mama yang menangis histeris memanggil manggil namaku. suara papa yang terus juga memanggilku. suara kedua kakak laki lakiku dan suara adik perempuan ku yang juga memanggil sembari menangis.


aku sangat takut dan binggung, di mana aku?


kenapa semua hanya putih dan aku bisa mendengarkan suara mereka tapi aku tidak bisa melihat di mana mereka.


aku meringkuk ketakutan menundukan kepala dan memeluk erat kedua kaki ku yang terlipat dan aku menangis sejadi jadinya.


dalam hati aku berdoa.


"Tuhan, lita tidak tahu apa yang terjadi. litta takut Tuhan, tolong lita Tuhan. dimana litta berada pertemukan kembali litta pada keluarga litta Tuhan... litta mohon...Tuhan..."


aku terus berdoa dan memohon pada Tuhan, ketika aku mengangkat kepalaku,


aku melihat sebuah cahaya terang benderang, aku mengikuti nya.


aku terbangun, seperti terbangun dari sebuah mimpi, aku menemukan aku terbaring di atas ranjang dengan beberapa selang di tubuhku.


ku lihat tidak ada siapapun yang bersamaku, karena begitu lelah rasanya aku tertidur kembali.


ketika aku kembali membuka mataku, aku menemukan mama di sampingku.


mata mama sembab sepertinya mama menangis, aku tersenyum pada mama, aku ingin bilang sesuatu pada mama tapi aku lagi lagi tidak bisa berbicara, sebab ada sebuah selang yang terpasang melalui mulutku.


begitu banyak selang di tubuhku. sakit sekali rasanya tubuhku, tapi aku tidak mampu memberontak karena tubuh ku begitu lemah.


mama menatapku dengan wajah nya yang cemas, mata nya berkaca kaca.


dan aku pun ikut berkaca kaca, sebab dalam hati aku merasa begitu berdosa telah membuat mama dan seluruh anggota keluarga ku sedih.


dalam hatiku berucap "maaf ma, maafkan litta ya 😭


3hari aku opname namun tidak kunjung sembuh, aku ingin pulang saja.

__ADS_1


namun aku tidak bisa bicara, aku berusaha memberitahu mama, kakak, dan papa dengan kode ku.


akhirnya mereka paham bahwa aku ingin membicarakan sesuatu.


kakak ku memberikan ku sebuah pena dan buku untuk menulis.


ya aku masih sanggup menggerakan tangan ku, aku menulis : aku mau pulang saja, litta di rumah saja ya.


awalnya mereka tidak setuju.


namun akhirnya setelah konsultasi dengan dokter mereka menyetujuinya.


aku saat ini merasakan seperti hidupku sudah tidak lama lagi.


mama terus saja menangis melihat kondisiku. dan kulihat papa juga curi curi menangis, ia hanya berusaha tegar di depan semua orang.


selama 3 hari ini dennis hanya datang sebentar setiap malamnya mengunjungi ku.


walau pun ia tidak berkata sepatah katapun, tapi terlukis di wajahnya betapa kalutnya dirinya.


tapi tak pernah ia ungkapkan dengan kata kata.


jujur aku kecewa...


hai teman teman ikuti terus ya ceritaku


semoga suka ya 😄


jangan lupa klik tanda ❤️ dan klik 👍


dukungan kalian sangat berarti bagi ku.


maaf bila masih kurang kurang ya.


terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2