
Siang hari kak Danu menepati janjinya. Ia datang ke kantor untuk menemui ku.
"Hei den, apa yang ingin kau diskusi kan dengan ku?"
"Ya kak, kau sudah makan siang? Bila belum mari kita bicarakan sambil menikmati makan siang kita."
"Baiklah kebetulan aku juga belum makan siang."
Kami menuju sebuah restoran yang berada di dekat kantor.
Di sana aku berusaha mencari timing yang pas untuk berbicara pada kak Danu tanpa menyinggung nya.
"Kak, bagaimana dengan bisnis Kakak di Pontianak? Apakah semua berjalan dengan lancar?"
"Ya den, semua berjalan dengan lancar dan baik. Bagaimana dengan mu di sini? Apakah semua nya lancar?"
"Akhir akhir ini ada sedikit masalah kak, tapi sudah teratasi dengan baik."
"Oh, bagus kalau sudah teratasi. Lantas apa yang ingin kau diskusi kan dengan ku?"
"Hmmm... Begini kak, ada yang mengganjal di hatiku."
"Apa itu den?"
"Tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada kakak."
"Katakanlah den, kakak akan mendengar kannya dengan baik."
"Aku takut kakak akan tersinggung dengan ucapanku kak."
__ADS_1
"Katakanlah den, Kakak tidak akan memasukkan nya dalam hati."
"Hmmm... Begini kak, apakah kakak yakin kalau Steve anak kandung mu kak?"
"Ya awalnya aku juga ragu den, tapi hasil DNA benar menyatakan bahwa dia anakku den."
"Apa kakak yakin hasil DNA tersebut bukan hasil rekayasa ina dan keluarganya?"
"Hmmm....kakak rasa tidak mungkin seperti yang kamu katakan den."
"Baiklah kak, bila kakak menyakininya aku tidak akan bersikeras lagi, Aku hanya tidak ingin hidup kakak tidak bahagia setelah menikahi ina nanti. Lalu kapan kakak akan mendaftarkan pernikahan kakak secara hukum?"
"Secepatnya den, setelah ini kakak akan membawa Ina dan steve kembali ke Pontianak terlebih dahulu. Kakak akan mencoba hidup bersama mereka dan belajar mencintai Ina."
"Baiklah kak, aku doakan yang terbaik untukmu." Ucapku sembari menepuk pundak kak Danu, namun dalam hati aku khawatir kalau Ina dan keluarganya berniat jahat pada kak Danu. Tapi apa yang bisa aku lakukan dengan kak Danu yang telah yakin bahwa Steve adalah anaknya, pria mana yang tidak mencintai anaknya. Huh... Keluhku dalam hati.
mungkin bila aku menjadi kak Danu aku juga akan percaya bahwa Steve yang begitu lucu adalah anakku.
saat dokumen dokumen yang harus aku periksa dan tanda tangani selesai. aku duduk sambil memijat pelipisku, teringat akan cerita Talita yang ku tinggal selama satu bulan kemarin. terasa sesak dan sakit di dadaku ketika ku ingat bahwa Talita keguguran akibat perbuatan mama dan Ina.
rasa sakit ini tidak aku tunjukan pada Talita, ya aku memang bukan orang yang mudah menunjukan bagaiman tentang perasaanku. bisa saja Talita marah dan juga benci padaku karena tidak bisa melindungi dirinya dan anak kami.
"ahh... sudahlah memikirkan ini hanya membuat kepalaku menjadi semakin sakit."
ucapku sendiri dan aku kembali menyibukan diri dengan pekerjaanku.
hari semakin sore dan hampir saja aku lupa bahwa aku harus menjemput Talita, dengan cepat aku membereskan semua berkas berkas yang ada dan segera bergegas menuju kantor Talita.
sekitar 20 menitan waktu yang kugunakan untuk tiba di kantor Talita, ya aku cukup telat tiba ke kantor talita.
__ADS_1
dari kejauhan kulihat Talita sedang duduk di bangku halaman kantornya. Ada Mike yang berdiri di depannya dan Zen yang sedang duduk di samping Talita.
Mereka terlihat sedang berbincang bincang.
aku menekan klakson mobilku dan Talita tahu bahwa aku telah datang menjemputnya terlihat ia mengakhiri pembicaraan nya dengan Zen dan mike, ia berjalan menuju kemari.
"hallo sayang, maaf ya aku telat menjemputmu" ucapku
"ya tidak apa apa" jawab Talita singkat
"oh ya sayang, aku sudah membicarakan pada kak Danu soal Steve tapi sepertinya kak Danu tetap dengan keyakinannya bahwa Steve adalah anaknya"
"oh yah? kak Danu yakin bahwa Steve anaknya? yah.. wajar saja sih, siapa yang tidak suka pada Steve yang begitu lucu." ucap Talita dengan nada datar, terlihat bahwa Talita tidak begitu semangat
"bagaimana dengan perkerjaanmu hari ini sayang? apakah semua berjalan dengan lancar dan baik?"
"ya, semua berjalan dengan baik den". lagi lagi Talita menjawab dengan nada datar dan lesu
"kau kenapa sayang? apa kau sakit? kenapa kau terlihat tidak bersemangat?"
"ya den, perut ku di bagian bawah sedikit sakit dan tidak nyaman."
"sakit? perutmu? apa mau kedokter saja sayang?"
"tidak, aku rasa tidak perlu den. Mungkin aku hanya terlalu lelah saja. aku butuh istrahat den."
"ya baiklah, segera kita pulang dan beristirahat ya sayang."
setelah sampai di rumah aku dengan segera menyuruh Talita untuk mandi dan beristirahat.
__ADS_1
"sayang, pergilah mandi dan setelah itu tidur lah sebentar. nanti aku akan membangunkan mu saat mendekati jam makan malam."