Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

pukul 10.00 pagi saat di kantor talita kembali merasakan bagian bawah perutnya tepatnya 5 cm di bawah pusarnya terasa sedikit sakit dan tentu saja membuat talita tidak nyaman, ia mulai merasakan sakit ini sejak ia keguguran tempo lalu.


talita memegangi area perutnya, matanya terpejam, raut wajahnya meringis sesekali, kulit wajahnya mulai pucatnya akibat menahan sakit yang ia rasakan.


ia berusaha menenangkan diri dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


namun tiba tiba saja tubuh talita kehilangan keseimbangan, kepalanya pusing berputar putar, ia merasakan seluruh tubuhnya sakit tak tertahankan. hampir saja ia terjatuh namun dengan cepat zenna menangkap tubuhnya.


"kak, apa yang terjadi padamu? apakah kau sakit? wajahmu begitu pucat kak".


"sepertinya begitu zen."


zenna memapahku menuju bangku tempat biasa aku duduk bekerja.


aku terduduk dengan tangan kanan memegang pelipis kepalaku, tangan kiri memegang perutku, merasakan pusing dan sakit di bagian perutku.


berharap sakit ini segera pergi agar aku bisa berkerja seperti biasa.


"kak, sebaiknya kau pulang saja. lihat wajahmu begitu pucat kak."


"ya zen, biarkan aku seperti ini sebentar saja. aku akan pulang bila rasanya aku sudah sanggup untuk menyetir."


"aku rasa sebaiknya kau meminta bang dennis untuk menjemputmu saja kak, di bandingkan kau harus menyetir sendiri. terlalu bahaya dengan kondisimu yang seperti ini."


aku mulai binggung, sebenarnya aku sangat enggan untuk meminta dennis menjemputku. sebab aku enggan untuk pulang ke rumah dennis seorang diri.


talita hanya diam tidak menjawab ucapan zen, ia sedang tenggelam dalam kekalutan hati dan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


"kak, kak lita, apa kakak baik baik saja?" tanyaku kembali pada kak lita.


aku mulai mencemaskan kak lita yang hanya diam dengan mata terpejam dan wajahnya yang semakin pucat.


jujur sebenarnya aku sedih melihat kak lita akhir akhir ini.


kak lita itu wanita yang sangat baik, pintar dan ceria. namun sejak menikah aku melihat kehidupan nya tidak berjalan lancar. sering kali aku memperhatikannya, wajahnya selalu di penuhi beban walaupun ia selalu berusaha tersenyum, tapi aku bisa melihat bahwa senyumannya itu hanya untuk menutupi kepedihan hatinya.

__ADS_1


beberapa kali ia menangis di kantor menceritakan kekejaman ibu mertua dan saudara iparnya. semua bermula sejak kehadiran kak ina, istri dari kak Danu.


tiba tiba saja kak lita berdiri dan berkemas.


"kak, apa kau sudah merasakan lebih baik?"


"tidak zen, tapi aku rasa aku lebih baik pulang. dalam keadaan seperti ini aku juga tidak bisa bekerja dengan baik. oh ya zen, tolong kau ambilkan surat izin ya."


"oh ya baik kak."


"terimakasih ya zen."


aku dengan cepat mengisi surat izin tersebut dan dengan segera menyerahkannya pada bagian HRD, dan kembali ke ruangan ku untuk bergegas pulang.


"zen, kakak pulang ya."


"ya kak, apa kakak bisa menyetir sendiri?"


"entahlah zen, akan kakak coba."


aku rasa mungkin lebih baik aku ikuti saran zenna, dan aku pun menelepon dennis


"hallo den, tolong jemput aku ya. aku mau pulang. aku sedang tidak enak badan den."


"kau sakit sayang?" baik lah aku segera menuju ke sana ya. kau tunggu aku."


tidak butuh waktu lama dennis sudah muncul di depan office. aku berpamitan dengan zenna dan berjalan menuju mobil dennis.


"kau kenapa sayang? wajahnya begitu pucat. sebaiknya kita ke dokter ya."


"entahlah, aku hanya merasa bagian perutku sakit dan kepalaku pusing saja den, serta rasanya seluruh tubuhku terasa sakit. "perut ku di sini (aku sambil menunjuk ke arah bagian yang sakit) memang sering sakit sejak keguguran itu den."


"sebaiknya kita pergi ke dokter kandungan dan mengeceknya lebih lanjut, terlebih lagi kau bilang sering sakit sejak keguguran."


dennis pun membawa ku ke RS untuk di periksa Dr.SPOG

__ADS_1


hasil pemeriksaan menyatakan semua baik baik saja. dokter bilang aku hanya terlalu lelah dan stress yang membuat hormon hormonku tidak stabil karena itu menyebabkan otot rahimku kram dan sakit.


di perjalanan sebelum dennis membawa ku kerumah mama erin. aku dengan segera angkat bicara.


"den, antar aku ke rumah orang tuaku saja ya, aku tidak mau pulang kerumahmu."


"loh, kenapa sayang?"


"ya pokoknya aku tidak mau pulang kerumah mu, mama erin akan menyiksaku. aku benci dengan mama erin, dia jahat!." umpatku begitu saja dan tentu membuat dennis sedikit marah.


wajah dennis sudah berubah bagaikan jeruk purut, ia tidak membalas lagi ucapanku.


ia hanya diam dan mengantar ku kerumah orangtua ku. dan ya dia menurunkan ku begitu saja dan pergi.


terang saja hatiku sakit, aku marah dan kecewa pada dennis.


namun lagi lagi aku harus mengenyampingkan semua rasa itu dan bersabar.


"ma... pa..." panggiku sembari mengetuk pintu.


tak lama mama membukakan ku pintu,


"loh, kau kenapa lita? wajahmu pucat sekali, apa yang terjadi padamu?" kau sakit sayang?"


"ya ma, lita tidak enak badan. lita numpang istrahat di sini ya."


"iya sayang, ayo masuk."


aku pun duduk di ruang tamu, sembari memejamkan mataku.


aku rasakan sakit secara jasmani maupun rohani, pikiranku kalut.


aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan, seperti rasa sakit yang luar biasa tubuhku bergerak seakan akan ingin meronta, jari jari tanganku menegang, emosiku memuncak tapi seperti bukan kemauanku.


tiba tiba saja aku menangis dan meronta ronta, dan terang saja membuat mama dan papa ku kaget.

__ADS_1


setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku.


__ADS_2