Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
kekacauan 1


__ADS_3

saat kami semua sedang bekerja, tiba tiba saja Dennis menelepon ku.



"sayang, izin lah pulang pada bos mu"


suara Denis parau dan lirih, aku mencium sesuatu yang tidak baik dari suaranya



"kenapa sayang? kenapa kau menyuruhku izin?"




"pa...pa... sayang... papa telah telah tiada "



terdiam mematung diriku memegang ponselku, seakan akan tersambar petir di siang bolong.


belum sempat ku mengeluarkan suara.



"sebentar lagi aku tiba di kantor mu sayang"



"iya... jawab ku tersadar dari kekosonganku.



aku buru buru meminta izin dengan segera membereskan barang barang ku, tak lama Dennis telah hadir di depan kantor ku.



ku masuk kemobil dan kulihat Dennis benar benar sedih, namun berusaha kuat menghadapi kenyataan, aku turut merasakan kehilangan walau beliau bukan ayah kandung ku.


tapi beliau sungguh sangat baik padaku.



semua anggota keluarga, sanak saudara, dan tetangga telah ramai hadir di kediaman kami. Mendoakan almarhum ayah mertuaku.



Meski Tak tampak airmata di wajah ibu mertuaku dan saudara saudara iparku, namun tetap saja mereka terpukul dengan kepergian ayah mertuaku.


Terlebih dengan Dennis ku lihat dia yang paling terpukul meskipun bibirnya tak berucap sepatah kata pun.



Aku hanya dengan setia menemaninya sehingga proses pemakaman selesai.



Malam hari setelah itu, di kamar Dennis termenung dengan wajahnya Yang senduh mata cipitnya yang sedikit memerah dan sembab.


Kudekati ia, ku duduk di samping nya tanpa berkata apapun.



Ia melihat ku dan memelukku dalam sunyi, tanpa berkata apapun.


Ya ku tahu betapa besar kesedihannya yang ia tahan karena ia seorang laki laki yang tidak boleh cengeng. Aku hanya mengelus punggung nya.



"Sabar ya sayang, yang kuat, sekarang papa sudah tidak sakit lagi, papa sudah bahagia"



1 bulan setelah kepergian papa mertuaku, perlakuan mama mertua dan kak Yuna pun sudah berbeda.


Mereka menjadi baik. Aku bahagia hidup di rumah keluarga Dennis.



Dan tak pernah ku pikir akan kebahagiaan itu akan berakhir



Sore ketika aku dan Dennis pulang dari kantor, kami melihat kak danuarta pulang bersama seorang gadis dan gadis itu menggendong seorang bayi laki laki.


Tentu saja kami binggung siapa gadis dan bayi itu.


Usia bayi itu kira kira sekitar 4 bulan.



Mama mertua dan kak yuna pun sama dengan kami tidak mengetahui siapa gadis dan bayi yang di bawa kak danuarta.



"Siapa ini nak?" Tanya mama Erina ibu mertua ku



"Biarkan kami masuk dulu ya ma, nanti Danu jelaskan ke mama"



Ketika semua telah di ruang tamu.


"Ini istri dan anak Danu ma"



Mama Erina terdiam seakan akan sangat shock dengan ucapan kak Danu. Mama seperti tidak ingin lagi berbicara di depan kami semua.


Beliau mengajak kak Danu masuk ke kamarnya


__ADS_1


Namun samar samar kami bisa mendengar apa percakapan mereka.



"Apa apaan kamu ini Danu!" Kamu menghamili anak perempuan orang bahkan kalian belum menikah, mama sungguh kecewa padamu Danu."


"Dahulu papa menyuruh mu segera menikah sebelum ajal menjemput nya, sekarang saat kuburan papa mu belum kering kau bawa gadis yang belum jelas asal usulnya, bahkan kau bilang anak itu anakmu" sungguh terlalu kamu Danu!"


Bentak mama



"Mama dengar dulu penjelasan Danu ma..."



"Tidak ada diskusi Danu, kau bawa pergi gadis itu beserta anaknya dari rumah mama ini, mama tidak mengakuinya, menantu mama cuma talita."


Dan kau Danu... Bila kau bersikeras kau juga pergi dan jangan anggap lagi aku ini mama mu!"


Ucap mama begitu keras



Sedangkan di luar sebelum kak Danu keluar dari kamar mama.


Kak Yuna menatap gadis itu dengan sinis bahkan sangat sinis di banding saat dulu kak Yuna tak menyukai ku.



Kak Yuna melontarkan berbagai pertanyaan pada gadis itu bertubi tubi.



"Siapa kamu?"


"Kenapa kamu dan kak Danu kemari?"


"Anak siapa itu?"


"Apa kau telah menipu kak Danu?"



Wanita itu tersenyum licik,sekilas aku memiliki feeling dia bukan orang baik baik.



"Aku ini istri Danu yang juga kakak ipar mu, dan ini tentu saja anak Danu, apa perlu di pertanyakan lagi?"



"Sembarangan kamu bicara, kak Danu belum menikah bagaimana bisa punya istri dan anak. Jangan bercanda kau wanita gila"


Ucap yuna dengan marah



kak Danu keluar dari kamar, ia membawa gadis itu keluar rumah di teras rumah tepatnya.


kak Yuna segera berlari kekamar melihat keadaan mama. mama terduduk di sudut ranjangnya.


sembari menangis.



"bagaimana bisa Danu memiliki istri tanpa persetujuan mama, bahkan saat papa Masih hidup ia tidak pernah membicarakan soal wanitanya" mata mama Erina berkaca kaca dan merah tak lama airmata pun jatuh membasahi pipinya



aku tidak tahu harus bagaimana saat menyaksikan semua kejadian ini.



Dennis menenangkan mama Erina


"ma, coba mama tenang dulu ma. mama sudah mendengar penjelasan kak Danu?"


tidak biasanya kak Danu begini kalau bukan karena hal tertentu ma, ada baiknya kita coba dengarkan dahulu apa penyebabnya kak Danu demikian" usul Dennis



"kita usir saja wanita gila itu, aku tidak percaya itu anak kak Danu, pasti kak Danu di jebak siluman itu" ucap kak Yuna dengan marah



aku mendekati kak Yuna, memegang kedua pundaknya mengarahkannya duduk.


"ada baiknya kita semua tenang dulu kak, ma, seperti usul Dennis, litta rasa tidak akan selesai kalau kita emosi.



tak lama ponsel mama berdering dan ternyata kak Lusia



"ma, ada apa ma? Danu barusan menelepon Lusia menceritakan permasalahannya ma. Lusia tahu ma Danu sudah buat mama marah dan juga salah dengan perbuatannya membawa seorang wanita dan seorang anak yang tidak kita kenal.


tapi ma, menurut Danu Ia tidak bisa tidak menikahi gadis itu.


menurutnya itu memang anaknya ma"



"lebih baik kau cari waktu luang dan segera kemari lusia, mama pusing dengan semua ini. papa kalian baru saja berpulang dan sudah ada masalah seperti ini"



ternyata kak Danu Masih berada di luar, dan Dennis menghampirinya.



"kak... bisa kita bicara?


__ADS_1


"ya, tentu saja. ucap kak Danu



"kau tunggu disini ya. ucap kak Danu pada wanita yang ia bawa



"sayang, temani kakak ini disini ya. ucap Dennis padaku



"baik, sayang. jawab ku



Dennis dan kak Danu menuju lantai dua untuk membicarakannya. sebelum naik Dennis memintaku menyuruh bi nem membuatkan mereka minuman.



"kak tunggu ya, aku ke dapur sebentar, ucap ku seraya meninggalkan wanita itu.



wanita itu lagi lagi hanya tersenyum



"bi... antar minuman 2 ya ke atas buat den dennis dan den Danu, oh ya satu juga tamu di depan ya bi, pinta ku pada bi nem



bi nem itu pembantu rumah tangga di keluarga Dennis yang sudah mengikuti orang tua Dennis sejak muda dulu.



bi nem datang membawa minum untuk wanita itu,



"non... ini teh nya



"terima kasih ya bi, ucap ku



sedangkan wanita itu lagi lagi hanya tersenyum pada bi nem



aku pun binggung, boleh kah aku bertanya pada wanita ini?


dan akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara.



"mari, di minum kak tehnya, ucapku seraya tersenyum padanya



"iya... balasnya sambil tersenyum



"kakak asli orang pontianak? ucapku basa basi



"bukan, saya asli Padang.



"oh.. kenal kak Danu di Pontianak?"


tanyaku kembali



"iya, saya awalnya kenal sama mas Danu di Pontianak. mas Danu bos saya"



"oh... Kakak kerja sama mas Danu? tanya ku, bagian apa kakak di sana?"



"iya, saya hanya office girl di kantor mas Danu"



aku kanget mendengar pernyataannya, bagaimana bisa dia mendapatkan kak Danu?


namun aku kembali berpikir, ya bisa saja, cinta itu tidak memandang derajat, suku dan ras.


hanya saja aku berpikir akan semarah apa nantinya mama Erina, sedangkan aku yang begini saja dulu di pandang sebelah mata.



#####



hi... ikuti terus ya cerita ini, maaf bila ada salah kata atau pun bagian yang kurang baik.


mohon dukungannya.


terimakasih




__ADS_1


__ADS_2