
aku menyetir sendiri, tidak tahu harus kemana aku pergi dengan rupaku saat ini.
mataku sembab akibat menangis semalam, pipiku memar dan memerah akibat tamparan mama Erina yang begitu keras, maagku perih akibat semalam sampai pagi ini belum makan.
aku tidak mungkin untuk ngantor ataupun pulang kerumah orang tua
dengan pikiran kacau tanpa tujuan aku menyetir, akhirnya tiba di sebuah taman kota.
aku menelepon zenna, "Zen, kakak absen ya tolong sampaikan ke Hrd. ucapku dengan nada lirih dan berat
"iya kak, kakak kenapa? apa sesuatu telah terjadi pada kakak?" apa kakak sakit? atau Kakak sedang ada masalah?" tanya Zena bertubi tubi padaku
"tidak apa apa zen"
jawab ku sekenanya
"kak, jangan bohong aku bisa mendengar ada yang berbeda dari kakak.."
ada yang kakak sembunyikan, ceritakan lah kak pada zenna, zenna akan menjadi pendengar yang baik dan membantu kakàk sebisa zenna"
zenna terus maksa dan bertanya padaku.
akhirnya tak terbendung lagi kesedihan yang kurasa, aku menceritakannya pada zenna dengan singkat.
"kakak sedang sedih dan kacau saat ini zen, kakak baru pergi 3 hari mama mertua Kakak telah kembali menjadi jahat, bahkan tadi pagi beliau menampar kakak karena kak Ina"
ceritaku dengan suara sedikit parau karena berusaha menahan tangis.
"siapa kak Ina kak?"
"kak Ina itu wanita yang kak Danu bawa pulang dan juga merupakan calon istrinya Zen, ceritanya panjang Zen, intinya dia calon ipar kakak juga atau mungkin lebih tepatnya memang ipar kakak karena ia sudah memiliki anak dengan kak Danu "
"waw... bagaimana bisa kak Danu sudah punya anak dan istri?" tanya zenna kebingungan
"iya Zen, panjang ceritanya, nanti bila ada waktu akan kakak ceritkan padamu." ucapku
"Kakak sekarang dimana? zenna susul saja ketempat kakak"
"tidak perlu zen kamu tolong sampaikan saja kakak izin hari ini".
"ayolah kak, di sini juga zenna sedang kosong zenna bisa keluar sebentar kok."
"Kakak di taman kota zen, tidak apa apa kakak sendiri saja. kamu kerja yang baik ya"
"sudah ya" bye"
aku memutuskan telepon ku dengan zenna.
dengan tatapan kosong aku merenungkan hal yang terjadi pada ku hanya dalam semalam semua berubah. aku bahkan di tampar oleh mama Erina ibu mertua ku, yang bahkan ibu kandung ku saja tidak pernah memukuli ku.
sedih sedih sekali rasanya sakit hatiku, tak terbendung lagi kesedihan ini, air mataku pun terjatuh membasahi pipiku.
__ADS_1
aku berusaha menelepon Dennis, tapi tidak ada jawaban.
ya mungkin dia sibuk dan ada masalah dengan pekerjaannya, tidak biasanya dia tidak mengangkat telepon ku.
20 menit aku duduk dengan tatapan kosong merasakan semua kekalutan di hatiku. aku begitu gamang. tiba tiba saja Mike muncul di hadapan ku, aku dengan segera membalikan badan.
dan ia kembali muncul dihadapan ku, rupanya ia sudah tahu bahwa itu aku.
"litta apa yang terjadi padamu? kenapa pipi mu memerah? siapa yang memukuli mu?"
apakah suamimu yang melakukan nya?"
akan ku hajar dia"
ucap Mike dengan geram
"sudah la Mike, ini semua bukan perbuatan suamiku."
ia bahkan tidak tahu apa apa soal ini." ucapku pada Mike
"bagaimana mungkin ia tidak tahu? lantas siapa yang melakukan hal ini padamu?"
"ibu mertua ku Mike, tapi ini semua akibat perbuatan seorang wanita jahat" ucapku kembali sedih teringat perbuatan Ina dan mama erin, tak terbendung lagi airmataku mengalir membasahi pipiku.
"bagaimana ceritanya dia bisa melakukan itu padamu?" tanya Mike
"entahlah Mike aku tidak tahu, bagaimana menceritakannya sangat kacau rasanya saat ini perasaan diriku."
"ya sudah jangan menangis lagi, tenangkanlah dirimu, aku pergi sebentar kau tunggu aku di sini oke? jangan kemana mana, ingat tunggu aku, aku akan dengan cepat kembali."
"ini gunakan tissu itu untuk menghapus air matamu litta, dan minum la air itu untuk menenangkan dirimu, juga ini kompress pipi dan matamu dengan ini agar memarnya berkurang"
aku tertawa, ya bukan tertawa bahagia tapi tertawa untuk diriku sendiri, betapa konyol Nya aku. di saat seperti ini bukan suamiku yang datang untuk memperhatikan ku tapi Mike lah yang hadir dan datang pada ku. padahal aku sudah menyakitinya.
"hei... tampaknya perasaanmu sudah lebih baik ya?" tanya Mike dengan senyum lebar
aku hanya tersenyum kecil
"ya Mike, terimakasih untuk semua Mike."
aku berusaha kuat untuk tidak menangis lagi sambil menghela napas panjang
mike Demi menghilangkan semua gundahku, ia melakukan berbagai hal konyol, seperti memutar mutar bola matanya dan menarik narik pipinya sendiri.
ya tentu saja aku tertawa dengan ulah konyolnya.
saat pandagan ku kosong menatap kedepan terlintas di hatiku dan ku ucapkan begitu saja :
"Mike, kalau saja aku bertemu denganmu lebih dulu, mungkin aku akan memilih mu, namun sayang Tuhan mengatur yang lain pada ku"
ucapku seraya menatap kosong ke depan dengan perasaan gamang
Mike memandangku dan berkata
"litta sampai kapanpun itu, seperti yang ku ucapkan sebelum nya, bahkwa aku akan selalu ada untuk mu, percayalah"
"terimakasih Mike, terimakasih untuk segala nya yang kau berikan padaku" ucapku
__ADS_1
tiba tiba handphone ku berdering dan Dennis yang menelepon ku
"hallo sayang, ada apa kau dan mama meneleponku berkali kali?" tanya Dennis
"kau sedang sibuk?" tanya ku kembali
"iya sayang, di kantor ada sedikit masalah dan tampaknya malam ini akan larut malam aku pulang."
"ya baik la, jawabku
"kau tidak mengapa?" tanya Dennis pada ku
"ya tidak apa apa"
"kalau begitu kututup ya sayang, ada hal yang harus ku urus lagi"
"ya, bye"
"bye"
aku mengakhiri panggilan Dennis
"kau tidak menceritakannya pada suamimu?"
"tidak Mike, biarlah, tampaknya perusahaan sedang ada masalah, lebih baik aku tidak cerita dulu padanya". ucapku pada Mike
"menurut ku sebaiknya kau ceritakan dengan segera padanya agar ia tahu, apa yang sudah terjadi, bagi pria itu tidak ada yang lebih penting daripada wanitanya litta"
"ya Mike, nanti akan ku ceritakan padanya bila ada waktu"
"saranku secepatnya la litt.... jangan terlalu lama"
"ya Mike" ucapku seraya menghela napas panjang
"kau tidak kerja Mike?"
"hari ini di kantor tidak ada hal yang penting, haslan juga tidak melarang ku untuk pergi kemana yang aku suka" ucapnya sembari tersenyum lebar menatap ke arah ku
"oh ya, aku lupa kau sahabat karib pak haslan " ucapku meledek
"syukurlah perasaanmu sudah membaik litta, aku bahagia melihatmu sudah bisa tersenyum dan tertawa"
"terimakasih Mike benar sangat berterimakasih padamu" ucapku dengan senyum kecil
__ADS_1