
akhirnya Mike tiba, ia dengan segera turun dari mobil dan mendekatiku yang sedang duduk terbungkuk memegangi perutku.
"apa yang terjadi litta?" wajahmu begitu pucat"
ucap Mike sembari memapahku menuju mobil dan dengan segera membawa ku ke rumah sakit.
dan tentu saja aku tidak menjawab pertanyaan Mike karena aku sedang merasakan sakit pada area perut ku, panggul, hingga ke arah kewanitaanku yang seakan akan sudah tidak tertahankan.
di perjalanan Mike terus berbicara padaku.
"apa yang terjadi litta?" kau membuatku takut, wajah mu sangat pucat, bahkan kau banyak mengeluarkan keringat".
tampang Talita saat ini cukup menakutkan.
wajahnya pucat, bibirnya memutih kering dan pecah pecah , matanya begitu sayu, keringat dingin bercucuran di tubuhnya. layaknya orang yang merasakan sakit yang luar biasa. ia membungkuk memegangi perutnya matanya terpejam seraya menahan sakitnya. rambutnya ikal nya tergerai sebagian basah akibat dari keringatnya.
"perutku sakit sekali Mike, aku seperti mau pingsan Mike, aku rasa aku tidak kuat lagi menahan sakit ini". ucapku meringis sembari memegangi perutku.
aku tahu Mike pasti sangat takut melihatku begini. namun aku sungguh tidak tahu siapa lagi yang harus kumintai tolong selain diri nya.
sungguh sangat luar biasa rasa sakit yang kurasa saat ini, pikiranku menjadi kacau sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku.
seluruh tubuhku semakin terasa dingin, perut, panggul dan area kewanitaanku begitu nyeri sakit tak tertahankan.
"litta... litta...kamu baik baik saja?" hei!! litta?"
kenapa kau tidak menjawabku,
__ADS_1
samar samar kulihat langit langit putih, ada cahaya lampu sepertinya aku berada di rumah sakit.
apa yang sudah terjadi padaku, tanyaku dalam hati. tapi tubuh ku begitu lemah dan aku merasa sangat lelah dan mengantuk, mataku tidak bisa terbuka sepenuhnya, lalu aku kembali memejamkan mataku.
entah di mana aku berada, banyak kabut asap di sekitarku lalu muncul seorang anak laki laki yang begitu tampan rupanya ia tersenyum dan ia pergi berlari meninggalkan ku, setelah cukup jauh ia berlari berbalik serta melambai lambaikan tangannya pada ku dengan senyum nya. menghilang begitu saja.
ketika ku buka mataku, kulihat Mike yang sedang duduk dan terlelap di samping tempatku berbaring.
"mmmmm..Miike...".
suaraku sedikit serak dan tertahan sehingga sulit bagi ku untuk memanggil Mike.
Mike tersadar dari lelapnya,
"liita... kau sudah sadar?"
"Hm... " gumam ku dengan lirih dan mata sayu serta bibirku yang terasa kering
Mike mengambil air minum untukku dan menyodorkan pipetnya kearah mulutku.
"apa yang terjadi padaku Mike?"
"apakah kau sudah merasa lebih baik?"
"hm... iya mike, aku saat ini hanya merasa sedikit sakit di bagian perutku saja, tepatnya di bawah pusarku. sakitnya sudah tidak sedahsyat tadi. Apa yang terjadi padaku Mike?"
"sebelum kukatakan padamu, aku ingin bertanya litta. apa yang sebenarnya terjadi padamu?" bisa kau ceritakan padaku?"
"maksudmu Mike?"
__ADS_1
"ya apa yang sebenarnya terjadi padamu?" apa ibu mertua atau saudara iparmu kembali menyiksamu?" tanya Mike dengan suara sedikit keras, bola matanya merah dan terlihat berkaca kaca.
"bisakah kau membantuku menaikkan posisi kepala ranjang ini sedikit Mike agar aku lebih nyaman untuk berbicara" pintaku pada Mike.
aku menceritakan pada Mike apa yang ku alami sore hari itu hingga malam harinya.
"keterlaluan mereka, terutama ibu mertua mu Litta. ia bahkan tega membunuh cucunya sendiri!"
"apa Mike? apa yang kau ucapkan barusan? membunuh cucunya sendiri?" maksudmu aku hamil dan sekarang aku keguguran?" apa itu maksud ucapanmu Mike?" aku mulai kacau, tidak bisa mengendalikan diriku. aku menangis histeris.
"sudah la litta, tenangkan dirimu. please... aku mohon tenangkan dirimu!" Mike memegang kedua bahu ku dan berusaha menenangkan ku.
"ibu macam apa aku ini Mike?" aku bahkan tidak bisa melindungi anakku...
apa...apa yang harus aku lakukan Mike? aku benci dengan diri ku sendiri? aku juga benci dengan dennis, dengan keluarganya. aku benci semua, Mike!" teriakku histeris sembari berlinangan air mata.
saat ini aku sungguh sangat kalut dengan perasaanku, pikiranku sangat kacau. aku tidak bisa berpikir dengan baik. aku sangat takut untuk memberitahu Dennis. aku takut ia akan tidak percaya padaku dan juga bagaimana, harus berapa lama aku berada di rumah sakit. aku tidak ingin orang tua ku tahu masalah ini.
aku juga tidak ingin mama Erina tahu, tapi disisi lainnya aku juga ingin dia tahu bahwa betapa kejamnya dia padaku hingga kejadian ini menimpahku.
aku benar benar sangat kacau seperti seorang yang kehilangan akal sehatnya.
"litta... litta... tenanglah tenanglah litta!" ingat kau masih punya keluarga litta, kau masih punya papa dan mama dan juga saudaramu. tenanglah oke?" yang terpenting saat ini kau tenang dulu. coba hubungi Dennis dan katakan lah yang sebenarnya pada nya litta".
aku mulai berusaha menarik dan membuang napasku perlahan dan berulang ulang guna untuk menenangkan diriku, lalu aku putuskan untuk menelepon Dennis. tapi sayang no ponselnya tidak aktif. aku tidak tahu aku harus bagaimana menghubunginya.
__ADS_1