
pagi itu aku menemani Dennis ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab ayahnya, dan hasil yang keluar ternyata ayah Dennis mengidap kanker paru paru.
kami segera menemui dokter yang menangani ayahnya, dokter bilang hidup ayahnya tidak akan lama lagi karena sudah memasuki stadium akhir.
hanya keajaiban Tuhan la yang mampu memberi kesembuhan pada beliau.
mendengar pernyataan dokter tiba tiba Dennis jetlag dan hampir terjatuh, aku memapah Dennis untuk duduk.
dokter bilang sementara ini yang bisa di lakukan hanya memberi obat untuk mencegah penyebaran kankernya, dan lakukan lah apa pun yang ayahnya inginkan. bahagiakan beliau ketika Masih bisa.
ya kami mengerti apa yang dokter maksud.
sedih luar biasa rasanya bagi Dennis harus mendapati kenyataan yang demikian, baru saja ia berkumpul dengan ayahnya, kini hidup ayahnya sudah tak lama lagi.
Dennis terlihat sangat frustasi.
saat berada di mobil Dennis tak mampu lagi membendung kesedihannya, matanya berkaca kaca dan jatuhlah titik titik air mata yang membasahi pipinya.
hatiku turut merasakan kesedihan itu, tak terasa mataku pun ikut berkaca kaca, aku berusaha menguatkan Dennis
"denn... yang kuat ya, kita berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan papamu. "
"ketika segalanya bagi kita manusia mustahil maka bagi Tuhan tiada yang mustahil den, percayakan semua pada Tuhan, Tuhan tahu yang terbaik buat kita, buat papa dan buat semua orang den..."
Dennis menangis sembari memelukku.
"sudah tak mungkin litt, sudah tak mungkin, papa sudah stadium akhir, dokter saja sudah menyerah...
dennis menangis dengan air mata bercucuran
sungguh aku bisa merasakan sesaknya batin Dennis saat ini.
tak ada lagi yang bisa ku katakan, selain berusaha menenangkannya ku elus rambut dan pungungnya.
setelah tenang kami menuju rumah Dennis,
di depan taman rumahnya ibu Dennis sedang duduk. melihat mobil Dennis masuk ia segera berdiri.
kami menghampirinya.
"Tante... sapa ku
beliau hanya tersenyum padaku.
"bagaimana den, apa hasilnya?"
"papa, kanker paru stadium akhir ma..." ucap Dennis dengan lirih sembari menahan airmatanya.
ibunya jatuh terduduk dan menangis.
aku dan dennis berusaha menenangkannya,
__ADS_1
"ma... mama yang kuat ya buat papa..
"iya, Tante yang sabar ya.. ucapku antara lirih dan sedikit takut
ibunya hanya diam tak berkata apa apa..
selayaknya orang linglung yang kehilangan kesadarannya.
"denn... nak litta... tolong kalian jangan menyampaikannya pada papa ya, mama takut papa akan kaget dan semakin memperburuk keadaannya...
"iya ma..
"iya Tante...
namun tiba tiba saja ku melihat ayahnya Dennis dengan wajah muram berbalik berjalan menjauhi kami memasuki rumah, seakan akan ia telah mendengar hasil tes lab tersebut.
namun aku tidak berani mengatakannya pada Dennis ataupun ibu nya.
tak lama setelahnya dennis pun mengantar ku pulang.
esok malamnya dennis seperti biasa selalu hadir di rumahku, hanya sekedar duduk duduk bersamaku di teras rumah.
"litta, apakah kau siap bila ku nikahi?"
aku tertegun mendengar pertanyaan itu,
"sepertinya aku siap den...
lontarku dengan sedikit ragu
"ya, selagi papa ada aku ingin menikahi mu"
aku tak lagi berkata apa apa, pikiranku begitu kacau karena bagi ku ini semua datang terlalu tiba tiba.
berapa hari ini aku terus uring uringan, ibu dan ayah menyadarinya...
"nak, apa lagi yang telah terjadi?" kenapa kau begitu kusut " tanya ayah pada ku.
"iya ada apa gerangan dengan dirimu litta? timpal ibu
akhirnya aku menceritakannya pada ibu dan ayah.
"Dennis yah bu... ia ingin melamarku, aku sangat kacau dengan itu."
"ya... kau dan Dennis telah lama menjalin hubungan nak sudah sewajarnya ia ingin melamarmu, kalau saran ayah ya di terima niat baik nak Denni."
"cepat sekali ia ingin melamarmu, kau pikir kan lagi apakah kau sudah siap menjadi istri orang, apakah kau mampu merelakan kebebasanmu?"
timpal ibu yang cukup membuatku semakin kacau.
__ADS_1
"ibu, anak kita telah dewasa sudah sepantasnya ia menikah, terlebih lagi sudah lama mereka bersama" ucap ayah pada ibu
"iya yah, aku sebagai ibu hanya merasa tak rela kalau setelah menikah anak kita akan susah tak sebebas dan senyaman saat ini"
"ya sudah, jangan pusing anakku sayang, kalau menurut ayah sudah waktunya dan sepantasnya kau menikah, terimalah lamaran nya".
aku hanya diam dan berpikir keras
"hari sudah malam beristirahat la, besok kau harus berangkat kerja lagi"
ucap ayah yang tahu kalau putri kesayangannya sedang kalut
setelah berpikir semalaman, aku membulatkan tekad untuk menerima lamaran Dennis.
aku bekerja seperti biasanya, sore harinya dennis menjemputmu, di perjalanan ia kembali menanyakan perihal pernikahan
"jadi bagaimana sayang?" apa kau bersedia aku lamar? apa kau sudah siap?"
"iya den, aku siap.
satu Minggu setelahnya datanglah rombongan keluarga Dennis untuk melamarku.
menetapkan hari baik, proses pernikahan dan lain lainnya secara adat orang tua kami, yang tidak begitu kami pahami.
aku dan Dennis hanya mempersiapkan apa yang menjadi bagian kami.
seperti memilih gedung pernikahan, gaun pengantin, membeli perlengkapan yang dibutuhkan.
beberapa kali Dennis membawa ku kerumahnya untuk membicarakan tentang kepentingan pernikahan kami dengan ibu ayahnya, ayah dan ibu Dennis tidak banyak memcampuri urusan kami, namun sebaliknya dengan Yuna, ia sungguh seperti benci sekali pada ku.
ia selalu menyela dan memberi saran yang menurut ku tidak menyenangkan,
entah kenapa kesanku padanya tidak lah baik, ia selalu berusaha menindasku.
#####
hari dimana hari ini aku dan Dennis pergi untuk memilih sebuah gaun pengantin, tapi entah kenapa Yuna berada di sana.
aku sudah merasakan hawa hawa tidak menyenangkan dengan adanya Yuna di sana.
ketika memilih gaun, Yuna selalu memberi saran pada Dennis, ya dasarnya Dennis ini memang penurut ia malah membiarkan kak Yuna memilih gaun untuk ku, tentu saja hati ku sangat dongkol dan kesal.
sedangkan Dennis seperti biasanya tidak pernah peka dengan perasaanku.
disepanjang perjalanan aku dan Dennis bertengkar, akibat ulah Yuna.
aku turun dari mobil berlari masuk ke kamar dan menangis, sedangkan Dennis pulang begitu saja.
hatiku begitu sesak, aku menjadi ragu dengan keputusan ini
__ADS_1