Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
batin yang tersiksa 1


__ADS_3

akhirnya akupun harus pulang, karena tidak mungkin bagi ku untuk menghindari terus.


karena hati ku begitu gundah maag ku mulai terasa lagi perihnya.


di perjalanan aku menelepon Dennis untuk memastikan bahwa ia berada di rumah, aku hanya merasa sangat takut untuk pulang ke sana bila tidak ada Dennis.



"hallo denn, kau ada di rumah?"



"yah, tentu sayang. ada apa?" tanya Dennis heran dengan ku



"aku, maagku sedikit perih denn aku sudah di perjalanan pulang, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu." ucapku sangat tidak tahan lagi menyimpan semua kekalutanku



"kau kenapa litta?" tanya Dennis dengan cemas padaku



"aku takut denn, aku bahkan hari ini tidak bekerja, hanya satu hari kau tidak ada di rumah mu bagaikan neraka bagiku" aku terisak isak


, airmataku membasahi pipi ku.



"kau sekarang berada di mana litta?" biar aku susul kau!" kata Dennis cemas setelah mendengar suara tangisan ku.



aku memberitahu dimana tepatnya keberadaanku. tak butuh lama Dennis sudah muncul di dekatku.



"tok..tok...


Dennis mengetuk kaca mobilku, dan aku menyuruhnya untuk masuk ke mobilku.



aku segera memeluk dan menangis sejadi jadinya padanya, Dennis mendekatiku seraya mengusap kepalaku.



"ada apa sayang?" apa yang sudah terjadi padamu?"



"kak Ina denn... kak Ina... " ucapku di tengah tangisanku.



"kenapa dengan kak Ina litta sayang?" apa yang telah ia lakukan padamu. tanya Dennis



"ia memfitnah ku denn, hari itu saat aku ke dapur aku melihat api yang begitu besar di atas tungku kompor. aku berjerit memanggil bi nem, namun yang datang mama erin dan kak Ina.


ya kami memang berhasil memadamkan api tersebut, tapi apakah kau tahu apa yang ia katakan pada mama?"


"ia bilang kalau aku yang memasak bubur Steve dan lupa dengan masakanku sehingga terjadi kebakaran itu, sedangkan sedari awal ia sudah bilang padaku biar ia saja yang memasak tapi aku memaksa". begitu katanya pada mama. belum sempat aku menjelaskan ke mama, mama sudah percaya padanya dan memarahi ku habis habisan. aku masuk ke kamar dan menangis, malam itu aku bahkan tidak makan malam. dan mama di depan pintu kamar Masih memarahiku denn, aku sakit den di perlakukan begini" ucapku seraya menepuk dadaku sambil menangis histeris, Dennis masih memelukku.


__ADS_1


"lalu di pagi harinya ketika aku mau berangkat kerja dia berdebat dengan ku soal kejadian semalam, lalu tiba tiba saja dia menampar dirinya sendiri dan mama erin muncul menarikku dan menamparku, ia bilang pada mama erin kalau aku yang menamparnya".


ia memainkan akting yang begitu baik den.



"bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi sayang?" tanya Dennis meragukan ku



"apa kau tidak percaya padaku den?"


tanyaku kembali pada Dennis



"bukan sayang, bukan aku tidak percaya. aku yakin ini hanya salah paham".



"salah paham bagaimana den? apa kau menganggap aku yang telah berbohong padamu?!" ucapku sedikit keras, batinku sakit, bagaimana mungkin Dennis tidak percaya padaku. ya Tuhan.. batinku menjerit



"kau lihat ice bag kompress ini, aku membelinya hanya untuk mengompres pipi dan mataku yang memar, apakah semua ini juga hanya akal akalanku bagimu?" ucapku pada Dennis, walau aku bohong soal ice bag yang Mike belikan tapi memang itulah kenyataannya. aku sudah di sakiti oleh mama Erina dan kak Ina.



"sudahlah sayang, tenangkan dirimu. ayo kita pulang, mungkin mama hanya salah paham.aku akan mencari waktu menjelaskan pada mama."



dalam hati aku kecewa pada Dennis, aku terpaksa mengikutinya untuk pulang karena memang tiada tempat lain bagi ku untuk pergi.



tahu tahu saja keesokan paginya, Dennis mendapat telepon dari manager kantor bahwa ada suatu kondisi di lapangan yang cukup gawat yang memerlukan Dennis untuk turun tangan langsung. dan lagi lagi lokasi itu bukan di kota ini, mengharuskan Dennis berangkat kesana setelah sarapan.




suasana ketika sarapan seperti biasanya, aku berusaha menjalani semua seakan akan tidak terjadi apa apa. aku dan Dennis menyelesaikan sarapan dengan cepat.



mama Erina tentu saja masih dengan sinis memandangku. sedangkan Ina selalu tersenyum licik menertawaiku yang terkena jebakannya. aku hanya menelan bulat bulat semua perasaan sakitku dan berusaha bersikap seperti biasanya.



kami berangkat ke kantor dengan mobilku, pagi ini aku yang mengantar Dennis karena Dennis akan berangkat keluar kota.


aku menuju kantor ku dan bekerja seperti biasanya.



di kantor zenna banyak bertanya padaku soal kemarin, dan aku menceritakan selengkapnya pada zenna.


zenna sangat simpati atas apa yang menimpahku, ia mengumpat Ina wanita jahat itu.


dalam pikirku pastilah kak Danu juga di jebak olehnya dan bisa saja Steve bukan anak kandung kak Danu.


tentu saja aku berharap kak Danu segera membawa wanita gila itu pergi dari rumah.



__ADS_1


tidak terasa sore hari mendekati jam pulang kantor, aku menghela napas panjang berharap jam tidak pernah berakhir. sungguh sangat berat bagiku harus pulang ke rumah tanpa ada Dennis.



"kak, Kakak yang kuat ya, yang sabar, semua pasti berlalu" ucap zenna menguatkan ku.



"ya Zen, jawabku dengan berat



aku pun pulang, mama ada di depan bersama Steve dan Ina.



"ma, kak Ina... sapaku seperti biasa



"oh, tahu pulang kau hari ini!? sindir mama pada ku, sedangkan kak Ina dengan senyum kemenangannya menatapku.



aku hanya diam tidak menjawab sindiran mama Erina, aku berlalu dan masuk ke kamar. aku mandi dan memakan makanan yang aku beli tadi di perjalanan pulang.


aku membeli makanan karena aku merasa aku lapar dan juga aku tidak ingin makan malam lama lama bersama mereka, sehingga nanti saat makan malam aku bisa makan sedikit dan dengan cepat pergi dari meja makan itu.



selesai aku makan, aku memasukkan sampah bekas makanan tersebut ke dalam kantong kresek dan memasukannya kembali kedalam tas kerjaku, sampah itu akan ku buang keesokan paginya di kantor untuk menghilangkan jejak kalau aku makan di kamar tidurku. dan tentu saja aku juga tidak lupa menyemprot pewangi di kamarku untuk menyamarkan bau makanan yang ku makan.



sudah saatnya jam makan malam, aku pun keluar untuk makan, aku tidak banyak bicara hanya diam berusaha tenang dan tidak takut menghadapi mereka.


aku hanya mengambil nasi sedikit dan lauk sedikit dengan cepat aku makan, tentu saja sebelum makan aku tetap memanggil semua anggota keluarga yang hadir untuk makan termasuk Ina.



mama Erina menatap ku dengan tajam dan lagi lagi ia melayangkan ucapan sindirannya pada ku.


"sedikit sekali kau makan?" apa tidak enak masakanku ini?!" pilih pilih ya kau makan rupanya, atau kau sengaja tidak mau memakan makanan yang ku masak!?"



aku tertegun mendengar ucapannya, biasa beliau tidak pernah masak, dan aku tidak tahu kalau hari ini menu masakan ini beliau yang masak. lalu aku hanya menjawab:


" maaf ma, litta sedang sakit maag, jadi litta tidak berselera untuk makan. tidak ada maksud litta untuk menyinggung mama. sekali lagi maaf ma"



"sudah la ma, litta sedang sakit. terlihat dari wajah litta ma, biarkan ia makan secukupnya dan segera beristirahat" ucap kak Lusia Yang masih sedang menginap di sini



bagiku kak Lusia adalah wanita yang cukup bijak, ia selalu berucap baik.


dan semoga saja selamanya kak Lusia selalu baik tidak berubah menjadi jahat.





__ADS_1




__ADS_2