
esoknya aku merasa ada sedikit baik, ya walaupun sangat sedikit setidaknya aku tidak begitu lesu seperti hari hari kemarin yang membuat ku ingin terus tidur.
hanya saja aku belum bisa makan dengan baik, ketika berhasil memasukan beberapa suap bubur maka aku akan memuntah muntahkan nya. entah apa yang salah dengan tubuhku.
seluruh anggota keluarga ku tentu saja sangat khawatir, terutama mama.
"litta, setelah ini kita cari dokter lain saja ya, mama lihat kamu masih kesulitan untuk mengisi perut mu. setiap kau makan beberapa suap kau terus memuntahkannya. mama cemas sekali dengan mu nak."
aku hanya mengangguk angguk, mengiyakan ucapan mama, sebab luka di bibirku masih perih dan aku cukup trauma dengan darah darah yang menguncur dari bibir ku saat aku berbicara tempo hari.
karena merasa sangat lemas sehabis memuntahkan semua isi perut ku, aku pergi menuju kamar hendak merebahkan diriku.
aku tidak tidur, hanya berbaring sembari memejamkan mataku.
samar samar ku dengar dari ruangan sebelah yang pas berbatas dengan dinding kamarku, papa yang sedang berbicara dengan mama.
ya papa bertanya tanya kenapa tidak seorang pun dari keluarga dennis yang kemari menjenguk ku setelah tujuh hari aku berada di sini. dan juga terlihat dari wajah dennis yang begitu kusut saat kemari. apa yang sebenarnya terjadi.
seperti itu lah pembicaraan mereka yang ku dengar.
aku memang tidak tahu apa yang dennis hadapi saat ini, saat dimana aku tidak menemani selama 7hari.
namun aku yakin pasti ada hubungannya dengan mama erina dan kak yuna.
terlintas dalam benak ku berbagai macam hal yang telah aku alami beberapa bulan ini di rumah dennis. rasanya cukup menyesakkan.
di dalam dada ku begitu sesak seakan akan ada sebuah batu besar yang sedang menghimpit ku. aku terus menguatkan diriku sendiri. bahwa semua baik baik saja, aku hanya perlu bersabar.
namun tidak bisa ku pungkiri bahwa aku cukup kecewa pada mereka, termasuk dennis.
siang harinya saat aku kembali muntah muntah, dennis datang bersama mama erina.
aku tidak begitu memperdulikannya.
__ADS_1
karena aku lebih tertuju dengan rasa sakit yang begitu hebat akibat terus memuntahkan isi perutku yang bahkan tidak mampu ku isi makanan apapun sedari kemarin kemarin.
di tengah kesakitan ku saat muntah, mama erin berbicara pada mama seakan akan begitu baik dan lembut padaku selama ini.
bahkan aku yang sedang muntah menjadi semakin ingin muntah ketika mendengarkan kata kata lemah lembut yang ia lontarkan pada mamaku.
kesal di kandung benci yang kurasa, namun semua itu harus ku simpan rapat rapat di dalam hati ku.
aku bermaksud untuk tidak memberitahu siapapun dari anggota keluarga ku tentang perlakuan yang kudapat di rumah dennis.
sungguh takkan seorang pun yang menyangka bahwa aku mendapat perlakuan buruk dari mama erin.
di luar sungguh sangat luar biasa ia berakting layaknya artis papan atas.
ia berkata pada mama dan papaku
"maaf besanku, aku tidak sempat datang menjenguk menantu kesayangan ku ini, di karena kan tempo lalu aku sendiri sedang tidak enak badan. pada hari ini tubuhku baru mulai membaik cepat cepat ku pinta dennis mengantarku kemari."
"ia, kami juga tidak mengerti dengan jelas awalnya ia hanya demam dan sakit maag setelahnya sudah membaik namun tiba tiba saja pada pagi itu timbul bintik-bintik berisi air di bibirnya, tak lama kemudian dia meronta kesakitan dan pingsan, kami pun membawa nya ke rumah sakit. di sana dokter mengatakan bahwa litta alergy dengan obat yang ia konsumsi."
"obat apa itu? memang litta mengkonsumsi obat apa?" tanya ibu mertua ku pada mama
"ya obat yang di resepkan oleh dokter juga bu besan. saat di vonis alergy itu bukan dengan dokter yang memberikan resep, tapi melainkan dokter yang berada di rumah sakit tempat talita di rawat kemarin."
"oh begitu, kenapa litta tidak di bawa ke dokter yang memberikan obat itu (obat yang dicurigai membuat alergy)? bagaimana bila sekarang kita bawa litta ke sana?"
mama hanna diam beberapa saat dan menyetujui ajakan ibu mertua ku.
"litta siap siap ya nak, coba kita kembali pada dokter yang pertama memberimu resep obat."
bukankah awalnya saat meminum obat itu kau merasa baikan? apa mungkin dokter yang di rumah sakit salah diagnosa?"
aku sempat menolak ajakan mama, tapi mama mertua ku memandangku dengan sinis di belakang mamaku.
__ADS_1
seakan akan mengisyaratkan turuti kataku atau awas kau nanti!
akhirnya aku pun dengan terpaksa menurut kemauan mereka semua.
dengan tubuh terbungkuk bungkuk aku menahan sakit maagku mengikuti mereka menuju mobil yang akan meluncur ke tempat praktek Dr.Hendarsym
sesampai di sana dokter tersebut tentu saja tidak terima kalau aku di vonis oleh dokter lainnya alergy dengan obat yang ia berikan.
ya memang sudah pasti tidak akan ada manusia yang mau di salahkan, bukan kah begitu?
Dr.hendarsym blg kalau bintik-bintik berisi air yang timbul itu adalah penyakit herpes.
beliau menyarankan ku untuk periksa darah dan bila hasilnya keluar berikan padanya untuk di analisis lebih lanjut.
maka mama, dennis dan mertuaku membawa ku ke laboratorium tempat pemeriksaan darah yang lokasinya tidak jauh dari tempat praktek Dr.hendarsym. setelah darahku di ambil sebanyak setabung suntikan. dennis menanyakan kapan hasilnya bisa di ketahui, petugasnya menjawab sore sudah bisa di ambil.
saat sore harinya dennis mengambil hasil tes darahku. ya walaupun kami awam dan tidak mengerti tentang hal tersebut. namun bisa di lihat bahwa hasilnya melebihi semua daftar normal pada umumnya.
tampaknya dennis cukup shock dengan hasil tes darah ku. bahkan seluruh keluarga ku cukup shock dengan hasil yang kacau tersebut.
namun aku tidak begitu perduli yang aku tahu saat ini, aku cukup sakit dengan segala yang kurasakan di tubuhku dan juga lelah baik secara fisik maupun batin.
malam ini mereka berencana membawaku kembali ke Dr hendarsym, namun aku menolak.
entah kenapa aku meragukan Dr.hendrasym.
dan aku tidak ingin kembali ke sana lagi.
dennis tampak pusing melihat aku yang terus menolak untuk pergi.
akhirnya ia membujuku untuk pergi ke Dr.Ardy saja, Dr.Ardy adalah sahabatnya di komunitas sosial yang ia ikuti selama ini.
aku pun mengikuti bujukannya untuk menemui Dr.Ardy.
__ADS_1